
Happy Reading!!!
Ajakan
"Leganya!" seru Al.
Dilepas cadarnya yang menutupi wajahnya, lalu membasahi wajah itu agar jauh lebih segar.
Dia menatap wajah basahnya di kaca besar didepannya.
"....kenapa tadi aku ngomong begitu?" sesalnya mengingat perkataannya pada Mikael tadi.
"...padahal kamu tau Al, kalau kejadian waktu itu bukan karna keinginannya.." gumamnya mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu.
"Contohnya saja, Kak El tidak pernah membahas hal tersebut.." batinnya.
Sebenarnya Al juga tak ingin mengingat kejadiam malam itu, tapi dia penasaran akan perasaan Mikael setelah malam itu.
Wanita itu menghembuskan nafasnya, lalu mengenakan cadarnya kembali kemudian menuju kearah kasir tempat Mikael membayar belanjaan yang dibelinya.
Didepan meja kasir, seorang Pria sedang mengetik pin untuk pembayaran yang dilakukannya menggunakan ATM.
"Tuan, ini belanjaannya sudah dibungkus dengan rapi.." ucap pegawai kasir sembari menyerangkan godi bag berukuran sedang.
Pria yang rambutnya dikuncir itu menerima godi tersebut dan juga kartu ATMnya yang telah digesek oleh pegawai Wanita itu.
Tak jauh dari tempat Pria itu berdiri, seorang Wanita menghampirinya.
"Sudah, Kak.." ucap Al.
"Iya," sahutnya menunjukan belanjaan yang dipegangnya.
Mereka lalu keluar dari toko tersebut beriringan.
Mata para pegawai dan customer tertuju pada pasangan yang keluar itu. Dalam hatinya mereka takjub dengan pasangan yang terlihat harmonis.
###
Mobil yang dikendarai Mikael memasuki daerah perumahan mewah. Rumah-rumahnya terlihat bagaikan istina yang megah dengan pilar-pilar besarnya.
Al kagum melihat rumah besar yang dilewatinya. Perumahan yang dimasuki Al kali ini sangat berbeda dengan perumahan tempatnya tinggal, karna perumahan disekitar tempat tinggalnya masih banyak tanah kosong yang diisi rumput dan rumah-rumahnya setandar seperti rumah orang kaya biasanya.
Tujuan rumah yang didatangi Al, mengarah pada bangunan berwarna silver dengan pagar berwarna emasnya yang terbuka lebar.
Diarahkannya mobil itu masuk kedalam halaman luas yang didalamnya terdapat taman dan perkarangan bunga, oleh Pria yang duduk disamping Al.
Pria itu lalu menghentikan mobilnya tepat didepan pintu yang terbuka lebar yang didepannya disambut oleh Pria muda.
"Turunlah terlebih dahulu!" perintahnya pada Al. Wanita itu menganggukinya lalu segera turun dari mobil.
Tak lama Pria itu ikut turun dengan sudah menenteng godi bag yang berisi kado tersebut.
Tak jauh dari tempatnya berdiri, datang Pria setengah baya menghampiri pasangan itu. Dia menerima kunci mobil dari si padangan Pria untuk diparkirkan.
Pasangan itu lalu melangkahkan kaki kearah pintu bewarna putih tersebut. Alunan musik lembut seperti menyambut kedatangan Al dan Mikael ketika menginjakkan kaki kedalam rumah.
Di tengah ruangan, Mikael mendapati pemilik acara nampak mengobrol. Dia pun mengurungkan niatnya memberikan hadiah yang dibawanya.
"Akhirnya datang juga lo!" seru suara Pria yang tiba-tiba nongol dari belakang Al dan Mikael.
Pria itu melihat kearah pemilik acara yang sedang ngobrol dengan orang dengan usia yang sama.
"Ayah sama Ibu gua masih sibuk nyambut sobatnya. Mending kalian ikut gua aja!" ajaknya. Pasangan itu mengiyakan perkataan Ghifari.
Mereka lalu mengikuti anak pemilik rumah kehalaman samping rumah, yang disana terdapat tempat duduk besi dan juga gazebo.
Ghifari mengajak dua orang tersebut mendekati gazebo yang terdapat Yuan yang sedang menyesap sesuatu yang kemudian mengeluarkan asap dari bibirnya.
"Sudah puaskan!" seru Ghifari lalu menyambar benda yang dipegang Yuan.
"Apaan sih lo!" kesalnya yang kemudian mengambil kembali alat yang dipegangnya tadi.
"Gua masih.." ucapnya yang terputus ketika melihat sosok bercadar yang hadir.
"..ehh Al," ucapnya yang diangguki Wanita itu.
Ghifari tersenyum, seketika kejahilannya muncul. "Woiii..Mikael juga ada kali, ngapain lo cuman nyebut Al doang.." ledeknya.
Yuan segera mendelik kearah Ghifari. "Gua juga tau Mikael ada. Hanya saja gua gak nyangka Al ikut datang.." balasnya sarkas.
Yuan lalu setengah berdiri menjabat tangan Mikael. Mereka lalu duduk sambil mengobrol bersama, sesekali obrolan diselingi candaan Yuan yang memang goyonannya muncul kembali. Al hanya sebagai pendengar setia para lelaki itu.
###
Merasa kantung kemihnya penuh akibat terlalu banyak meminum air mineral. Al melirik kearah Ghifari yang masih mengobrol.
"..maaf, Kak Ghifari.." panggilnya. Para Pria yang mengobrol menengok kearah Al.
"Iya, Al?"
"..kamar mandi dimana ya, Kak?" ucapnya malu.
"Ohh..kamar mandi ada di..." jawabnya sambil menjelaskan arahnya.
"Makasih, Kak.." balasnya yang lalu bergegas berdiri.
"Mau diantar?" tawar Ghifari yang menghentikan Al melangkah.
"Tidak apa-apa. Al bisa sendiri.."jawabnya yang lalu melenggang pergi.
Melihat Al sudah pergi alat yang tadi disimpan Yuan kembali dikeluarkan.
"Dasar, Al gak ada alatnya lo keluarin lagi.." ucap Ghifari.
"Iyalah, guakan tadi cuman ngehormatin dia sebagai Wanita muslimah.." sahutnya.
"Lo juga pasti begitukan Mikael.." ucapnya melirik Mikael.
Pria itu malah menggelengkan kepalanya. "Kalau gua pengen yang gua hisap. Kalau enggak ya enggak.." sahutnya.
"Jadi lo pernah ngehisap benda ini didepan Al!" seru Yuan. Mikael mengangkat alisnya sambil bersura mengiyakan.
"Wahhh...benar-benar si Mikael.." ucapnya menggelengkan kepala.
Memang benar, Mikael pernah menghisap benda itu didepan Al. Tapi itu dilakukannya jika hanya diruangan privasinya tak seperti Yuan diruangan terbuka. Karna begitu-begitu juga tau tempat yang cocok.
"Gaya lo ngomong gitu. Biasanya juga lo ngehisap benda ini ditempat terbuka.." sahut Ghifari.
"Itu kalo Prempuannya enggak kayak Al!" serunya.
"...Yuan," panggil Mikael yang mendapat deheman dari Yuan karna sedang menghisap alat ditangannya.
"Lo bawa kado apa buat orang tua Ghifari?" tanyanya.
"...gua beliin tas buat Tante dan sepatu buat Om.." jawabnya.
"Emang kenapa? Tumben lo nanya.." tanyanya balik.
"...enggak papa, gua cuman ngerasa kalau lagi dikerjain seseorang.." deliknya kearah Ghifari.
"Maksud lo?"
"Tadi gua nanya sama Ghifari, buat kasih kado apa? Tapi dia malah ngusulin kasih lingeria.." ucapnya jujur.
Mendengar perkataan Mikael, Yuan membulatkan mata lalu tertawa dengan kerasnya mendengar hadiah yang diberikannya.
"...wahhh parah lo, Ghifari...masa Tante sama Om lo kasih...begituan.." ucapnya sambil menahan tawa.
Mikael yang kesal karna seperti dikerjai, malah semakin kesal mendengar tawa sahabatnya itu.
Sedangkan Ghifari hanya diam menanggapi tawa Yuan. Dia lalu mengarahkan iris matanya menatap Yuan.
"Memangnya kenapa? Bukankah tak masalah memberikan kado itu!" ucapnya.
"Gua cuman mau ngasih hadiah terbaik aja buat Ayah gua yang jarang liat Ibu gua pake lingeria. Lo tau sendirikan Ibu gua gak suka baju jenis begitu.." jelasnya.
"Awalnya gua yang mau ngasih pakaian seperti itu. Tapi, setiap gua beliin Ibu gua selalu memberikan baju itu pada teman arisannya. Makanya gua minta Mikael yang kasih. Pasti Ibu gua pake dan bakal disimpan. Ya lo tau sendiri Ibu gua senang sama Mikael.." ucapnya.
Yuanpun menghentikan tawanya, dia merasa kasihan melihat sahabatnya itu.
"Maaf ya, tak masalah memberikannya.." ucapnya.
"Tapi...gua masih gak nyangka lo ngasih usul itu dan yang bikin gua gak nyangka Mikael mau.." lanjutnya dengan cengiran.
Ghifari dan Mikael kemudian mendiamkan Yuan yang masih terus menyengir. Dalam hatinya mereka kesal dengan sahabat satunya ini.
###
Al celingak-celinguk mencari kamar mandi yang diarahkan oleh Ghifari.
Sampai akhirnya dia melihat Wanita setengah baya berbaju pelayan dengan menggunakan kerudung hitam.
"Maaf B7," panggil Al. Wanita setengah baya itu menghentikan langkahnya. Dia menatap kearah Al yang penampilannya menarik.
"saya mau nanya, dimana ya WC?"
"WC ada di ujung sana dekat dengan Musholla.." jawanya.
"..Bu, saya sekalian mananya jam berapa sekarang? Soalnya saya daris tadi tidak melihat jam. Terus saya juga tak membawa HP.."
"Ohhh sekarang sudah jam lima, Nona.." beritahunya.
Al terlihat kaget mendengar waktu yang diucapkannya, padahal dirinya belum sholat.
"Terimakasih, Bu.." katanya menundukan kepala dengan sopan.
"Sama-sama.." balasnya lalu pergi.
Begitu juga Al yang bergegas pergi menunaikan panggilan alamnya dan juga panggilan penciptanya.
###
Ghifari yang sedang meminum minuman berwarna yang dipegangnya, teringat akan sesuatu.
"Mikael, tadi malam lo kemana?" tanyanya menengok kearah Mikael.
"Soalnya, gua keluar kamar mandi lo udah ngilang aja.." lanjutnya.
"..oh itu, semalam gua pulang.." balasnya santai.
"Pulang! Malam-malam gitu. Tumben!"
"Hmmm..tiba-tiba pengen pulang aja. Gua bosan di apartement.."
"..ngomong-ngomong soal apartemen. Gua baru sadar lo punya tetangga apartement yang cantik.." ceritanya.
Mendengar kata cantik, Yuan langsung tersenyum. "Seriusan lo, tetangga dia ada yang cantik!" serunya menyengir senang.
Ghifari mengangkat kedua alisnya bersamaan sambil tersenyum. "Serius, tapi sayangnya...udah nikah.."lanjutnya tersenyum jahil. Yuan seketika berwajah bete.
"Kok lo bisa tau?" tanya Mikael karna dia juga belum pernah melihat Wanita tetangganya. Jika benar, Wanita itu pasti teman yang dimaksud Al.
"Semalam pas gua mau pulang, gua ngeliat tetangga samping apartement lo. Dia lagi keluar sama adek...cowoknya buat buang sampah.." jawabnya. Ketika ngomong adek cowok dia melirik sekilas kearah Yuan.
"Jadi kita bareng turunnya lewat lift.." lanjutnya.
"Kalian tau, penampilannya mirip betul dengan Al. Hanya saja dia tak mengenakan cadar.." tambahnya menceritakan.
"Udah Ahh..gua gak semangat ngomongin Wanita yang udah menikah.." ucap Yuan yang lalu menghisap kembali benda ditangannya.
"Mending kita ngomongin hubungan sahabat kita sama Istrinya.." lanjutnya melirik Mikael.
"Wahhh betul tuh.." timpal Ghifari yang juga tertarik kemajuan hubungan sahabatnya.
"Jadi gimana kabar hubungan lo sama Al? Apa lo udah ngakuin perasaan lo sendiri?" tanya Yuan beruntun melirik kearah Mikael.
Orang yang ditanya hanya menggelengkan kepala. "Belum, gua masih mau nyembunyiin perasaan gua.." balasnya kembali dengan santai.
Kedua orang yang mendengar kesantaian Mikael seketika kesal.
"Mau sampai kapan lo nyembunyiin perasaan lo?" tanya Yuan geregetan. Mikael hanya menjawabnya dengan mengangkat kedua bahunya berbarengan.
Karna kesal Yuan mengalihkan matanya kesembarang tempat. Tak lama setelah itu dia kembali melihat kearah Mikael.
"Kalau lo gitu terus, bisa-busa istri lo diambil orang.." ucap Yuan menunjuk kearah seseorang yang nampak ngobrol tak jauh dari tempat mereka duduk.
Mikael mengalihkan mata kearah yang ditunjuk Yuan. Dia terdiam mengabaikan hal itu. Tapi dia seketika beranjak, saat melihat adegan berikutnya.
"Gercep juga dia.." ucap Ghifari yang melihat gerakan langkah Mikael. Yuan kembali menggelengkan kepala dengan tingkah sahabatnya.
###
Tap tap tap
Sehabis menunaikan panggilan alamnya, Al melangkahkan kakinya kembali ke halaman belakang.
Saat ingin berwudhu, dia ingat suaminya juga belum menunaikan ibadah. Makanya dia kembali ke tempat nongkrong para Pria itu.
Tetapi kemudian dia berhenti ketika Pria tersebut menyebutkan warna pakaiannya dan juga cadarnya.
Al lantas berbalik, "Iya?"
"Nona yang tadi dari WC yang ada didekat Musholla.." ucapnya. Al menganggukan kepala.
"Iya, Kenapa Pak?"
"Ini milik Nona.." Pria itu menunjukkan bros yang dipegangnya.
Al melirik kearah kerudungnya yang sudah tak mengenakan bros. "Iya Pak, itu milik saya.." ucapnya lalu menerima bros tersebut.
"Terimakasih, Pak.." ucapnya senang.
Pria itu menganggukan kepala lalu masuk kembali kedalam rumah.
Al yang hendak berbalik, dikagetkan dengan kemunculan Mikael dibelakangnya.
"Kak El.."
Mikael menatap kearah Al yang sedang memegang sesuatu ditangannya.
"Apa itu?" liriknya kearah benda yang dipegang Al.
"Ahh ini bros Al, Kak. Bapak tadi memberikan bros yang tadi tertinggal di WC.." jawabnya dengan mata yang sedikit menyipit.
Pria itu membulatkan mulutnya. "Ayo balik kesana!" ajaknya menuju kembali ke gazebo.
"Tunggu, Kak!"
"Al kesini mau ajak Kak El sholat.." ucapnya.
"Sholat!"
"Iya," ucapnya. Dia menatap kemata Mikael berharap Pria itu mau.
"...baiklah.." balasnya. Mata Al seketika berseri.
"Ayo!" ajak Mikael kedalam rumah.
"Kak Ghifari sama Kak Yuan, Gimana?"
"Mereka bisa pergi kesana sendiri.." balasnya yang lalu memegang tangan Al masuk ke rumah. Hal ringan tersebut membuat Al mengembangkan seyum.
###
Para tamu undangan yang datang mulai berpulangan, meninggalkan kediaman yang mewah itu.
Dua Pria masih nampak duduk di gazebo sambil menunggu dua orang lainnya yang tak kunjung datang.
"Kemana mereka berdua, kok gak balik-balik?" ucap Yuan. Dia melohat kearah sekeliling taman yang sepi.
"...mungkin mereka sedang ngobrol bersama Ayah dan Ibu.." gumam Ghifari yang langsung beranjak berdiri.
###
Di Musholla, Mikael duduk menunggu Al yang masih memakai kaos kakinya.
"Sudah!" seru Al yang nampak berdiri.
"Udah Kak.." balasnya menunjuk kearah kaos kaki dan sepatu yang terpasang rapi.
Mereka lalu berjalan kearah ruang tengah. Disana ruangan mulai lenggang.
Didapatinya yang merayakan ulang tahun sedang duduk bersama sambil menyantap makanan.
Dilangkahkan kaki mereka mendekati sosok yang duduk tersebut.
Saat mata orang yang duduk melihat kedepan, mereka seketika tersenyum.
"Om, Tante.." sapa Mikael terlebih dahulu sedang Al menganggukan kepala dengan sopan.
"Mikael, akhirnya kamu datang.." ucap Pria setengah baya itu.
"Iya, akhirnya kamu datang juga. Tante daris tadi nungguin kamu loh.." timpal Wanita yang berumuran sama dengan Pria disampingnya.
"..Mikael sudah sampe sejak tadi, hanya saja tadi diajak Ghifari ke halaman samping.." jelasnya.
"Ohh pantesan Tante tidak melihatmu.." ucapnya.
Dua orang tua itu lalu melihat kearah Wanita disamping Mikael.
"Dia pasti istrimu!" seru si Wanita kearah Al.
"Pasti bukan Bu, seingat Ayah, istri Mikael tidak mengenakan cadar.." ucap Pria disamping Wanita bersanggul itu. Lantas Wanita bersanggul itu binggung mengenai Wanita didepannya.
"Wanita ini istri Mikael, Om, Tante.." beritahunya.
"Dia aslinya memang mengenakan cadar, hanya saja saat pernikahan saya memintanya melepaskannya.." jelasnya. Orang tua didepannya membulatkan mulut paham.
"Maaf ya, Tante enggak tau. Soalnya pas kamu nikah Tante lagi urusan bisnis keluar. Jadi yang bisa hadir cuman Om.." sesal Wanita bersanggul itu.
"Tidak apa-apa, Tante.." balas Mikael.
"Namamu siapa?" tanya Wanita itu kembali.
"Saya Al, Tante.." jawabnya.
"Al! Baiklah tante akan mengingatnya.."
"Oh iya, kalian sudah makan?"
"Belum," jawab Mikael.
"Yasudah, ayo kita makan terlebih dahulu.." ajaknya kesisi lain dari rumah tersebut.
Mereka lalu diajak ke ruangan yang terdapat meja makan yang besar.
Al dan Mikael dipersilahkan duduk. Mereka lalu duduk bersebelahan.
Begitu juga pemilik rumah yang Wanita berhadapan dengan Mikael sedang yang Pria duduk disisi yang bangkunya sendiri.
###
Yuan dan Ghifari melangkahkan kakinya kedalam rumah yang sudah sepi.
Disana Pria berambut bule lokal itu mengedarkan pandangan mencari sosok yang dicarinya. Sayangnya hasil nihil.
Melihat pelayan dirumahnya lewat lantas dia bertanya.
"Bi," panggil Ghifari pada pembantu yang berusia sama dengan Ibunya.
"Iya Tuan Ghifari.."
"Bibi, liat Ayah sama Ibu?"
"Iya, Tuan muda. Saya melihat Tuan dan Nyonya mengajak Tuan Mikael dan Wanita yang bersama Tuan Mikael kearah meja makan.." jawabnya.
"Oke, terimakasih Bi.." ucapnya pada Wanita yang sudah lama bekerja dirumahnya itu, lalu berlalu kearah meja makan.
Di meja makan, sesuai dengan perkataan Bibinya orang tersebut memang sedang berada disana. Mereka makan dengan nikmatnya.
Dihampirinyalah orang yang makan itu.
"Ditungguin darus tadi, ternyata orangnya lagi makan.." ucap Ghifari menatap Mikael. Orang yang ditatap terlihat santai dan tak memperdulikan perkataannya.
"Sshhhhttt..kalian ikut makan gih, baru setelah itu lanjut ngobrol.." ucap Ibunya Ghifari.
Kedua orang yang berdiripun ikut duduk dan menyantap hidangan yang telah tersedia dimeja.
Usai makan, mereka sholat magrib terlebih dahulu karna adzan sudah berkumandang setelah itu mereja baru bercakap-cakap di ruangan keluar.
Percakapan mereka tentang bisnis, liburan kemaren dan awal pertemuan Al dan Mikael yang berakhir pada jenjang pernikahan.
"Coba Al ceritain ke Tante, bagaimana kamu bisa dapetin hati Mikael, sampai bisa menikah dengannya?" tanya Wanita setengah baya itu.
Al hanya terdiam dengan mata yang menyipit karna senyum. Dia bingung berkata apa.
"...Al sama sekali tak mengenal Kak El, karna awal pertemuan Al dengan Kakak sehari sebelum pernikahan.." ceritanya melirik kearah Mikael yang juga mendengarkan.
"Selama ini Al hanya mengenal Kak El dari Pak Usman, itu membuat Al tertarik dan setuju menikah. Mungkin ini seperti ta'aruf, Tante.." senyumnya.
Suami istri setengah baya itu menganggukan kepala paham. Mereka tentu tahu, Wanita seperti Al yang paham agama tak akan pernah mencoba yang namanya pacaran seperti anak jaman sekarang yang sebagian besar pacaran terlebih dahulu baru menikah.
Tapi hati mereka masih penasaran, awal Al bisa didodohkan dengan Mikael.
Ghifari yang melihat Ibunya, semakin kepo lantas mengingatkan kado yang dibawa Yuan agar segera di serahkan pada Wanita itu.
Yuan mengangguki Ghifari, lalu mengeluarkan kado yang ditaruhnya dibawah.
"Tante!" panggil Yuan. Wanita itu lalu mengurungkan niatnya berkata kemudian melihat kearah Pria berambut coklat itu.
"..ini kado pernikahan Tante dan Om.." Yuan memberikan godi bag berukuran besar pada Wanita itu.
"Wahhh terimakasih, Yuan.." ucap Wanita itu senang. Begitu juga dengan suami si Wanita yang mengucapkan terimakasih.
Tak sabar Wanita itu mengeluarkan isi dalam godi bag yang berupa tas expensive (mahal) dan sepatu dengan harga yang waw juga.
Ghifari lalu mencolel Mikael agar memberikan kadonya juga, tetapi Pria itu hanya menggelengkan kepala.
"Mikael, plisss!" mohonnya agar Pria itu memberikan kadonya.
Melihat wajah sahabatnya itu, mau tak mau dia memberikan kadonya dengan enggan.
"...ini kado untuk Tante.." katanya memberikan godi bag sedang kepada Wanita itu.
"..Tante bukanya nanti malam ya, saat di kamar.." ucapnya yang diangguki Wanita itu. Mikael lalu beralih pada Pria disampingnya.
"..Om maafin Mikael yang hanya membawakan kado hanya untuk Tante.." ucapnya.
"Tidak, apa-apa. Lagi pula nanti malam Om berharap akan menerima hadiah darimu.." balas Pria itu. Wanita disampingnya hanya bersikap biasa saja karna tak begitu paham maksud perkataan suaminya.
Mendengar ucapan Pria setengah baya itu, Mikael menatap kearah Ghifari yang tersenyum.
"Hehehe maaf ya, sebenarnya hadiah itu juga usulan dari Ayah.." bisiknya.
Mikael menghembuskan nafas. Dia tak menyangka awal yang mengusulkan adalah Ayahnya Ghifari.
Malam semakin larut, Mikael akhirnya pamit pulang.
"Kalian sebaiknya menginap, ini sudah sangat malam.." ucap Wanita itu.
"Kalau untuk masalah baju tak perlu khawatir!" serunya.
Mikael yang masih diam didekati oleh Ghifari.
"Lo terima aja, dengan syarat Ibu gua mau pake hadiah dari lo malam ini.." bisiknya.
"Lo gak kasian apa sama Ayah gua yang berharap.." lanjutnya.
Mikael melihat kearah Pria tua itu yang tersenyum lembut padanya. Melihat itu Mikael tak tega, tapi dia juga seperti menghiananti Wanita setengah baya itu yang juga baik padanya.
"..." Mikael hanya diam tak menjawab perkataan Ghifari.
"Baiklah Tante, Mikael dan Al akan menginap.." setujunya.
Wanita setengah baya itu nampak senang.
"Kalau begitu Tante akan ke kamar mengambilkan pakaian untuk Al.." ucapnya lalu melihat kearah anaknya.
"Ghifari kamu juga ambilkan pakaianmu untuk Yuan dan juga Mikael!" perintahnya yang lalu pergi.
"Baik, Ma.." sahut Ghifari. Lalu dia kembali menatap Mikael.
"Kenapa lo gak bilang ke Ibu gua, buat pake pemberian lo malam ini.." ucapnya sedikit kesal.
Mikael hanya diam lalu melihat kearah Ayahnya Ghifari. "Maaf ya, Om.." ucapnya menundukan kepala.
"Tidak apa-apa kok. Memang seharusnya Om tak memaksa kehendak jika Tante tak ingin menggunakannya.." balasnya dengan senyum yang lalu pergi.
"Hahhh, gua kasih sama Ayah gua.." ibanya.
Al yang paham maksud perkataan para Pria didepannya hanya diam. Secara Pribadia dia juga enggak suka pakai pakaian seperti itu. Tapi kalau suaminya menyuruhnya dia tak akan menolak, karna dia tahu ada pahala bagi Istri jika menyenangi hati suaminya.
Thank you for reading.
Jangan lupa commen berkaitan cerita, suapa SMIM semangat.
Dan tinggalkan tanda dan jika suka cerita share ya...
Syukron
Hatta ilal liqo...