
Happy Reading!!!
Suasana nampak hening, Mikael menatap tajam kearah Pria berambut hitam yang duduk didepannya yang saat ini sedang membalas tatapannya dengan tajam juga.
Ghifari yang duduk disamping Beni merasakan jelas amarah dari Mikael temannya itu.
"..khemmm..." dehem Yuan.
"..dari pada kalian tatap-tatapan seperti itu, lebih baik kalian meluruskan kesalah pahamannya.." selanya ditengah-tengah suasana yang terasa tegang.
Beni menelan salvinanya yang kemudian menumpukan kaki kanannya keatas kaki kirinya.
Melihat Beni yang sudah bersikap santai. Mikael lantas bersikap santai juga dengan menyandarkan tubuhnya kesanadar sofa yang didudukinya.
Beni menarik nafas dalam lalu menghembuskan perlahan. Setelah itu dia mengeluarkan suaranya.
"..perkataan tanpa adanya bukti, tentu hanya bualan belaka.." ucapnya menatap mata Mikael.
"..tapi...lain cerita bila perkataan tersebut disertai bukti yang nyata. Apalagi bila bukti itu dilihat secara langsung.." lanjutnya.
Mikael hanya diam mendengar perkataan Beni, karna paham maksud ucapannya.
"..gua gak tau, lo dengar apa aja dan dari siapa berita tentang gua dan Al?"
"..intinya, yang lo lihat saat itu dan yang lo dengar tidak sesuai dengan faktanya!" jelas Beni.
Menanggapi ucapan Beni barusan, Mikael tersenyum tipis.
"..ucapan memang bisa berdusta, tetapi tidak dengan mata.."
"Secara langsung, gua lihat lo keluar dari apartemen gua hari itu. Apartemen yang berisi hanya kalian berdua.." ucapnya.
Beni menelan salvinanya, dugaannya tepat. Mikael beranggapan bahwa saat itu mereka hanya berduaan, padahal tidak.
Diarahkan matanya kearah dua Pria yang menemaninya. Dua Pria memberi kode pada Beni agar menceritakan kebenaran yang telah mereka ketahui lebih dulu.
###
Setelah mengantar keluar ketiga tamunya, Mikael kembali duduk di sofa ruang tamu apartemennya.
Tangannya nampak menggenggam erat gelang kayu ditangannya. Dirinya kembali mengingat percakapan tadi dengan tamu yang tak diundangan.
"..hehhh..gua gak nyangka ternyata mereka sudah saling kenal selama itu.." gumamnya.
"Pantas saat pertama kali bertemu mereka nampak sangat akrab.." batinnya mengingat prihal liburan mereka ke flores beberapa waktu silam.
Yaaa, Mikael sudah mengetahui segalanya. Awal pertemuan mereka, saat Al kelas 3 SMP. Beni yang merasa tertarik dengan kehebatan Al mengalahkan lawannya diperlombaan beladiri. Sehingga Pria itu mengajak Al untuk masuk kedalam klub beladiri yang diikutinya.
Mikael juga mengetahui prihal, Al yang hanya hidup berdua dengan Neneknya. Sampai keluarga satu-satunya itu meninggal, saat Al kelas 2 SMA.
Dirinya juga sudah mengetahui kebenaran prihal kesalah pahaman di apartemen. Serta gelang kayu yang difikirnya merupakan tanda hubungan mereka. Padahal gelang yang dilihatnya pada Beni hari itu merupakan gelang pemberiannya (ada di episode sebelum2nya) yang ternyata miliknya.
Tapi, walaupun dia sudah mengetahui kebenaran tersebut. Dia masih tetap enggan untuk bertemu Al.
Diletakkannya gelang kayu ditangannya kemudian merebahkan tubuhnya keatas sofa. Mikael seketika kembali terbesit akan perkataan Beni sesaat sebelum Pria itu pamit.
Pria itu mengatakan bahwasannya Al kuliah di kampus yang sama dengan dirinya.
"..pendidikan.." gumamnya mengingat jurusan Al yang dikatakan Beni.
***
Cahaya bulan menembus jendela, menampakkan sosok seorang Pria yang sedang tertidur diatas sofa.
Wajah Pria itu nampak tak tenang, dia terlihat gelisah serta tubuhnya di banjiri oleh keringat yang terus berkucurannya dari tubuhnya.
"..hahhh..hahhh..tidak Ma.." lirihnya.
"..ja..jangan tinggalkan El.." pintanya yang mengejar seorang Wanita cantik yang berjalan keluar rumah.
"..MA.." seketika teriakannya berhenti. Karna saat dirinya keluar pintu, yang didapatinya bukanlah sosok Ibunya, melainkan Wanita berhijab syar'i nampak menangis menatap kearahnya.
"..Al.." lirihnya. Dia terdiam sejenak melihat Wanita yang menangis itu. Dadanya terasa sesak, jauh lebih sesak saat melihat ibunya pergi meninggalkannya.
Saat tangannya ingin menggapai Wanita itu. Seketika dirinya terbangun...
Matanya yang terbuka lebar, nampak mengeluarkan air mata serta nafasnya sedikit memburu.
Diarahkan tangannya kearah matanya yang terasa basah lalu mengusapnya.
Sedang tangan sebelahnya memegang dadanya yang masih berdegup sedikit lebih cepat.
Perasaannya terasa bercampur aduk. Tetapi rasa takut lebih mendominan menyelimuti hati.
Kembali teringat akan wajah Al yang sangat sedih serta berlinang air mata.
Mikael kembali memejamkan matanya, dirinya tak mengerti. Mengapa sosok Ibunya yang pergi meninggalkannya seketika berganti dengan sosok menangis Al.
Mikael kembali membuka matanya lalu mendudukan tubuhnya. Tak sengaja matanya mendapati benda bulat yang terdapat diatas meja.
Diraihnya benda itu lalu melihat ukiran bertuliskan Al.
Digenggamnya erat gelang kayu itu sambil memejamkan mata. Dirinya terngiang akan perkataannya pada Al hari itu.
"..bagaimana bisa aku mengatakan perkataan itu.." sesalnya.
Walau dirinya sudah mengetahui kebenarannya, tetapi rasa takutnya akan ditinggalkan kembali membuatnya masih belum percaya sepenuhnya.
###
Via Apartemen
"Kamu kenapa, Vi?" tanya Ilham pada istrinya yang sedang duduk termenung.
Dia menyandarkan tubuhnya istrinya pada tubuhnya.
"..aku.." ucapnya yang terputus.
Via terdiam, dia belum sama sekali menceritakan kejadian hari itu. Dimana Al menangis. Dia hanya menceritakan kalau apartemen tetangga merupakan suami Al.
"..kenapa?" tanyanya kembali dengan tatapan lekat kearah istrinya yang terdiam.
"..aku kangen Al.." ucapnya.
Ilham menganggukkan kepala paham. "..apa kamu ingin mengunjunginya? Bukannya katamu suaminya tetangga kita.." ucap Ilham.
"..iya..tapi.." balas Via yang kembali terputus.
Memang Pria disebelah tetangganya, tetapi dirinya tak pernah melihat Pria itu dan hanya sesekali bertemu Al yang entah akan masuk atau keluar apartemen.
Tapi setiap kali diajak ke rumahnya Wanita itu selalu menolak.
Yang membuatnya paling khawatir adalah, bibirnya selalu tersenyum, tetapi tidak dengan matanya yang mengguratkan kesedihan.
"..tapi kenapa?" tanya suaminya kembali.
"..aku takut, jika mereka tak ada di rumah.."
Ilham tersenyum mendengar jawaban istrinya. "Kenapa kamu harus takut! Takut itu sama pencipta kita, Allah!" balas suaminya.
"..hehe iya Mas.." kekehnya yang merasa salah ngomong.
"Klek"
"Assalamu'alaikum.." salam Ahmad yang baru masuk kedalam rumah.
"Wa'alaikumsalam.." balas Via dan Ilham berbarengan.
Ahmad lalu menghampirinya Kakaknya dan juga Kakak iparnya yang duduk diruang TV.
Dia memperhatikan wajah Kakaknya yang nampak lesu.
"Kak Ilham, kenapa Kak Via lemas begitu?"
"..Kakakmu katanya kangen dengan Al.." jawabnya.
"...kangen sama Kak Al!" gumam Ahmad.
"Kalau kangen, Kakak ke apartemen sebelah saja. Tadi aku satu lift sama suaminya Kak Al.." ucapnya.
"..sungguh!" katanya memastikan.
"Iya.." balasnya meyakinkan.
Via lantas bangkit dari posisi duduknya, dia lalu berlari kearah kamarnya.
Tak lama dia kembali keluar dengan pakaian gamis dan kerudungnya.
"Mau kutemani, Vi?" tawar suaminya.
"Tidak apa-apa, Mas. Aku sendiri aja.." tolaknya lembut dengan senyum manis.
"Bagaimana, kalau aku aja yang temani?" pinta Ahmad menunjuk kearah dirinya sendiri.
Via menggelengkan kepala menolak tawaran Ahmad juga, membuat Pria muda itu memanyunkan mulutnya.
"Aku pergi ya Mas, Dek. Assalamu'alaikum.." pamitnya.
"Wa'alaikumsalam.." balas dua Pria itu berbarengan.
Sepergi Kakaknya, Ahmad lalu beranjak dari posisi duduknya.
"Kak, aku ke kamar dulu ya.." izinnya. Ilham menganggukan kepala mengiyakan.
###
Tap tap tap
Dipandangnya seluruh ruangan yang sudah lama tak dikunjunginya.
Tak terasa sudah 2 bulan lebih dirinya tak menginjakkan kaki ke apartemennya ini.
Diarahkan tangannya kearah meja makan yang ada didekatnya.
"Sreeettt" jari telunjuk telunjuknya mencolek meja itu dengan asal.
Jarinya tak merasakan apa-apa seperti debu, melainkan meja itu terasa licin.
Diedarkan pandangannya keseisi ruangan yang nampak rapi dan bersih. Seperti ada orang yang membersihkannya.
"..apa Pak Usman menyuruh seseorang membersihkan apartemen ini?" batinnya bertanya.
Di langkahkan kembali kakinya kearah kamar.
Saat membuka pintu, dia mendapati warna yang berbeda pada seisi kamarnya.
Seperti horden dan tempat tidur yang saat ini berwarna gelap, padahal terakhir kali dia meninggalkan kamarnya, warna horden dan seprainya berwarna cerah.
Saat menatap seprai, tatapannya lalu berhenti pada ranjang besar didepannya.
Seketika, dia kembali teringat akan kejadian panas dua bulan lalu diatas sana.
"..." Mikael menelan salavinanya.
Dia lalu segera berjalan keluar dari ruangan itu.
Inilah yang terjadi setiap kali mengingat kejadian diatas ranjang bersama istrinya. Hasratnya pasti selalu muncul dan menggebu.
Padahal saat bertemu, Wanita-wanita lain yang berbaju seksi, dirinya biasa saja. Sedikitpun tak muncul perasaan seperti saat ini.
Tapi jika dia membayangkan istrinya yang memakai pakaian seksi itu. Dalam hitungan menit, dirinya sudah menegang.
Jika saat ini sosok Al ada didepannya, Mungkin Mikael sudah menerkam Wanita itu lalu melampiaskan rasa rindunya.(kalau begitu, turunkan egomu lalu hampiri Al. Jangan maunya dihampiri hehehe)
Mikael menarik nafasnya dalam lalu mengeluarkan perlahan, dia menenangkan gejolak yang dirasakannya saat ini.
Setelah tenang, dirinya lalu teringat kembali akan niat awalnya kemari hanya sekedar mengecek apartemennya.
Dilangkahkannya kembali kakinya kearah pintu masuk.
"Klek"
Saat membuka pintu, Mikael tertegun mendapati sosok Wanita didepan pintu apartemennya.
"..assalamu'alaikum..Kak.." salam Wanita itu dengan tangan didepan dada lalu kedua telapak tangannya menempel.
Mikael terdiam, sesaat tadi dia terbayang melihat wajah Al.
"...wa'alaikumsalam.." balasnya.
Wanita didepan Mikael saat ini adalah Via, dia terlihat nampak canggung, karna ini pertama kalinya dia bicara dengan suami sahabatnya.
"..saya Via, sahabat Al.." ucapanya.
"..saya juga tetangga...Kakak.." tunjuknya kearah pintu apartemennya.
Mikael lalu melihat kearah yang ditunjuk oleh jempol Via.
"..ohhh iya.." pahamnya.
"..aaa apa saya boleh ketemu Al?" tanyanya to the point.
Mikael terdiam, dia menatap kearah Wanita didepannya dengan pikiran melayang.
"Bukankah seharusnya Wanita ini tau prihal kejadian hari itu?" tanyanya.
"..atau dia pura-pura tidak mengetahuinya. Jika iya pasti dia tidak sudih bertemu denganku yang telah menyakiti perasaan sahabatnya.." batinnya.
"..Kak?" panggil Via menyadarkan Mikael.
"..." Mikael lalu tersadar.
"..Ahhh Al, dia tidak ada disini. Saat ini dia...ada di rumah.." jawabnya santai. Walau sesaat tadi dia sempat bingung menjawab dimana keberadaan Al.
Mendengarnya, raut wajah Via terlihat sedih. "...tidak ada ya.." gumamnya.
"..kalau begitu, terimakasih Kak.." balas Via yang berniat segera pamit.
Saat melihat Wanita didepannya akan pamit, Mikael segera berkata, "..kamu sudah lama kenal dengan Al?" tanyanya tanpa basa basi.
Seketika melihat temannya ini, dia merasa ingin bertanya prihal Al padanya
Via nampak diam, yang kemudian dia berkata, "..apa Al tidak pernah menceritakan sesuatu tentang saya?" tanyanya kembali.
Mikael menggelengkan kepala, "Tidak, Al cerita tentang kedekatan kalian kok.."
"Tapi, Al tak pernah mengatakan kapan awal kalian bertemu.." lanjut Mikael.
Via lantas tersenyum, dia senang Al menceritakan persahabatan mereka.
"..awal kami bertemu, saat kami sama-sama semester 3. Kurang lebih sejak saat itu, kami sudah bersahabatan selama 4 tahun.." balas Via senang.
"..sejak semester tiga! Sudah lama juga ya!" serunya.
"..jika kalian baru ketemu saat semester 3. Berarti kalian bukan dijurusan yang sama?" tanyanya kembali sekedar basa-basi, karna dia tahu kalau jurusan mereka tak sama.
Via menganggukan kepala. "..iya jurusan kami tidak sama.."
"..Al jurusan pendidikan sedang saya jurusan keperawatan.." jelasnya.
"..karna suatu kejadian, aku mulai mengenalnya dan tambah lama semakin akrab.." beritahunya.
Via mengingat akan kenangannya, yang pertama kali saat bertemu Al. Hari itu dirinya pulang malam dari kampus karna ada tugas praktek.
Setelah pisah dengan temannya, dirinya menunggu akutan umum. Dia melihat 2 Pria seperti preman lewat, dia lantas diganggu oleh mereka.Tak sengaja saat itu Al yang sedang naik motor lewat, dia lalu membantunya dengan bergaya seperti pacar Via.
Sejak itu Via selalu mendekati Al dan ingin bersahahat dengannya, walau melihat penampilan Al malam itu seperti anak lelaki, tapi saat bertemu di kampus penampilannya berubah dengan pakaian rapi ala guru Prempuan.
"..ohhh.." angguk Mikael.
"..berarti Al dan kamu, sama-sama sudah lulus?" tanya Mikael, karna dirinya penasaran juga.
"..alhamdulillah, saya sudah lulus.." balasnya.
"..kalau Al.." ucapnya yang terhenti.
"..apa Al, belum menceritakannya pada Kak..." ucap Via menunjuk kearah Mikael.
"Panggil saja Mikael.." sahutnya.
"..jadi Al belum menceritakan prihal dirinya yang kuliah pada Kak Mikael?" tanya Via.
"..belum.." jujurnya. Walau sebenarnya dia sudah tau Al kuliah, tapi itu bukan dari Al melainkan dari perkataan Beni.
"..." Via nampak bingung harus menceritakannya atau tidak. Dirinya benar-benar salah ngomong sejak awal.
"..kenapa?" tanya Mikael yang melihat Via diam.
"..maaf Kak Mikael...aku tak bisa menceritakannya, karna Al juga belum mengatakannya pada Kakak.." balasnya tak enak.
Mikael tersenyum tipis, "..sudah kuduga, dia akan mengatakan itu.." batin Mikael.
"..tapi kalau Kak El ingin mengetahui alasannya, Kakak bisa ke Universitas XXX. Langsung ke prodinya.." ucap Via.
"..hhmmm baiklah.." balas Mikael
"...saya pamit ya Kak.." ucap Via yang merasa tak enak, dia lalu mengucapkan salam.
Usai melihat Via masuk kedalam apartemennya. Mikael lalu menutup pintu apartemennya.
Setelah itu dia berjalan kearah lift.
Niat awalnya, setelah dari tempat ini. Dia ingin ke apartemen satunya lagi untuk beristirahat.
Tapi karna sangat penasaran prihal ucapan Via, Mikael lantas mengganti tujuannya ke kampusnya.
###
Didepan kampus XXX
Mikael melihat kearah jam ditangannya yang menunjukan pukul setengah tiga siang.
Dilanjukan mobilnya masuk ke area kampus, mencari prodi pendidikan Wanita tersebut.
"..." Pria itu lalu terdiam sejenak. Dia memang tau Wanita itu jurusan pendidikan, tetapi dia tak mengetahui Wanita itu mengikuti pendidikan apa.
Diberhentikannya mobilnya di selasar jalan, dia merutuki sikap teledornya.
Ingin rasanya dia menelpon Beni, untuk menanyakan jurusan Al. Tapi dia mengurungkannya, karna tak ingin menghubungi terlebih dahulu.
Sebenarnya, jika ingin bertanya pada bagian pendidikan saja, bisa. Tetapi dia harus memberikan bukti KK (kartu keluarga) mereka. Sedang Mikael tak membawanya.
"..ehh.." seketika Pria itu mengingat seorang Pria yang dikenalnya yang kerja di kampus ini.
Diarahkannya segera mobilnya kearah tempat Pria itu.
Sampainya di gedung besar tempat administrasi, Mikael segera memarkinkan mobilnya kemudian turun.
Di langkahkan kakinya dengan pasti masuk kedalam gedung itu. Nampak suasana di gedung itu lenggang. Hanya ada beberapa mahasiswa yang keluar masuk mengurus pembayaran.
Sampainya didalam dilihatnya Pria setengah baya sedang membalikkan papan yang bertanda "Close"
"Sudah tutup, Pak.." sahut Mikael saat didepan meja administrasi.
"Iya, sudah tutup. Besok lagi datangnya ya.." balas Pria itu sambil merapikan mejanya.
Saat mendongakkan kepalanya untuk melihat orang didepannya, Pria itu terdiam yang kemudian tersenyum senang. "Mikael!" serunya.
Mikael ikut tersenyum, "Bagaimana kabarnya Pak?"
"Hahaha Bapak baik-baik aja. Kamu gimana?"
"Mikael baik kok Pak.." balasnya.
"..hahaha..kebetulan bangat kamu disini, Bapak sebenarnya mau telpon kamu. Ingin membicarakan hal biasa.." ucap Pria itu.
Mikael tersenyum, paham akan maksud Pria itu.
"..wisudanya bulan depan, tetapi Bapak harus mengabarkannya dari sekarang. Biar kamu bisa luangin waktu.." ucap Pria itu dengan candaan.
"..santai saja.." balasnya.
Mikael lalu teringat akan tujuannya.
"Pak, Mikael boleh minta tolong?"
"..mau minta tolong apa?"
"..mencarikan Mahasiswi.." ucapnya.
Mendengarnya, pria itu lalu nampak bersemangat.
"Kamu naksir dengan mahasiswi sini? Siapa namanya atau jurusannya apa?" tanyanya kepo.
Pria setengah baya itu sangat kenal dengan Mikael, dia tau betul bagaimana Mikael masa kuliah sampai saat ini. Pria itu sangat dingin pada Wanita.
"..namanya.." ucapnya yang terputus. Dia tak ingat dengan nama panjang istrinya. (wah wah wah parah betul si El...)
"..kamu tak tau namanya?" tanya Bapak itu bingung.
"...tau Pak, tapi aku tak ingat nama panjangnya.." balas Mikael.
"..yaudah, panggilannya saja sama jurusannya. Siapa tau Bapak tau.." ucap Bapak itu.
"..namanya Al..Almasah jurusan Pendidikan.." ucap Mikael.
Pria itu lalu terdiam, mendengar nama Wanita yang disebutkan Mikael.
"Bagaimana Pak, Bapak kenal dengan mahasiswi itu?"
"..kalau boleh Bapak tau, Mikael bagaimana bisa tau dengan Nak Al?" tanya Bapak itu, pasalnya perbedaan angkatan mereka yang lumayan jauh.
Mikael nampak diam, dia bingung menjawab apa. Masa dia mengatakan kalau dirinya suami Al.
"..saya suka melihatnya beberapa kali bersama temannya yang seorang perawat, kata temannya itu, dia berkuliah disini.." balasnya.
"..benar dugaan Bapak, yang kamu maksud Ufairah Almasah Basimah, jurusan PGSD.." ucapnya.
"..jadi Bapak kenal dengannya?"
"..iya, tentu Bapak sangat kenal dengannya.."
Pria setengah baya itu nampak bingung, harus menceritakan sesuatu tentang Wanita itu atau tidak, tapi ini kali pertamanya Pria itu meminta tolong padanya ditambah Pria itu juga tertarik dengan Wanita bernama Almasah. Dia juga terkenal baik, mana mungkin mempermainkan Wanita.
"..tidak enak jika kita ngobrol disini, bagaimana kalau kamu masuk.." tunjuknya kearah ruangannya.
Mikael lantas menganggukkan kepala, lalu masuk kedalam ruangan administrasi tersebut.
###
Sekeluarnya dari ruangan administrasi, Mikael berjalan dengan pelan keluar dari gedung itu. Dirinya masih tak percaya akan yang didengarnya tadi.
Dia tak menyangka, jika klub yang memberikan Al beasiswa sepicik itu dan tak mau rugi.
Saat didalam mobil, tanpa ba bi bu. Dia segera melajukan mobilnya meninggalkan gedung administrasi.
Pikirannya saat ini, ingin segera bertemu Istrinya.
Dengan kecepatan tinggi, Mikael membelah keramaian jalan kota Jakarta. Dia layaknya pembalap, menyalip setiap kendaraan yang menghalangi jalannya.
Tanpa waktu lama, dia sampai ke perumahannya. Dia segera melakukannya, masuk kedalam.
Sampai didepan rumahnya, Mikael sekali memencet klakson dan langsung dibuka gerbang sebelahnya oleh Pak Mamat.
Saat mengetahui dirinya yang datang Pria itu segera membuka lebar gerbang dengan cepat.
Pak Mamat awalnya bingung, siapa yang datang. Saat melihat mobil hitam yang dikenalnya itu, Pria itu segera membuka pagar.
Dia kaget yang datang ternyata Tuannya yang sudah lama tak pulang.
Usai menutup pagar, dia segera menghampiri Tuannya yang akan membuka pintu.
"Biar saya saja Tuan yang matikan mobilnya.." ucap Pak Mamat saat pintu Mikael terbuka.
Mikael mengiyakannya dan segera keluar dari dalam mobil. "..baiklah Pak, saya masuk kedalam dulu ya.." balasnya yang berjalan meninggalkan halaman.
Saat membuka pintu rumah, seketika Mikael merasa takut jika Al tak ingin bertemu dengannya. Mengingat perkataan kejamnya yang mengatai Al Wanita murahan.
"..Mikael lo udah sampai sini, gak mungkinkan lo pergi lagi.." batinnya.
Lantas dengan langkah mantap, Mikael masuk kedalam rumah. Dia segera berjalan kearah tangga lalu menuju ke kamar Al.
Didepan kamar Al, dijulurkan tangannya lalu mengetok pintu itu pelan.
'Tok tok tok'
Setelah beberapa saat Mikael kembali mengetok pintu itu, tapi sama saja tak ada jawaban dari si pemilik kamar.
Dijulurkan tangannya kembali kearah gagang pintu lalu membukanya.
Didapatnya kamar itu nampak gelap dan sepi.
'Cklek'
Dinyalakan saklar yang ada didekat pintu, menerangi kamar tersebut yang tak ada orang sama sekali.
Lantas Pria itu segera menutup pintu kembali, dia kemudian berjalan kearah bawah.
###
Bi Hilda yang mengetahui Tuannya pulang dari Pak Mamat lantas segera membuatkan minuman untuk Pria itu.
Sesudah membuatnya, Wanita setengah baya itu berniat mengantarkan minuman tersebut ke kamar Mikael, tapi saat dirinya ingin menaiki tangga Wanita itu melihat Mikael yang ingin menuruni tangga.
"Bi, minumannya taruh disana aja.." tunjuknya kearah meja ruang TV.
Bi Hilda menganggukkan kepala lalu berjalan kearah meja yang di tunjuk.
Sampainya dibawah Mikael segera duduk di sofa ruang TV. Dia lalu menyesap teh yang dibuatkan Bi Hilda.
"..apa Tuan ingin di masakan sesuatu? Atau masakan Nyonya Al?" tanya Bi Hilda
Mendengar masakan Al, tanpa berfikir Mikael segera berkata, "..memangnya Al memasak apa, Bi?"
"Nyonya tadi memasak, tumis kangkung dan sambal kentang dan ikan teri.." jawab Bi Hilda.
"..oke Bi, saya makan masakan Al saja.." balasnya.
Mikael nampak tersenyum senang, dia tak sabar menyantap masakan Al. Walau hanya makanan kampung biasa, tapi itu cukup sedikit mengobati perasaan rindunya.
"Saya akan menyiapkannya, Tuan.." senyum Bi Hilda yang kemudian pamit kebelakang.
Seperginya Bi Hilda Mikael baru teringat tujuannya kebawah, ingin bertanya prihal keberadaan Al.
* * *
Tak butuh waktu lama, Bi Hilda sudah menghidangkan makanan tersebut diatas meja makan.
Dia lalu berjalan kearah ruang TV memanggil Tuannya.
"..Tuan, makanan sudah siap.." beritahunya.
"Iya, Bi.." balas Mikael.
Saat duduk dimeja makan, Mikael menatap senang kearah makanan yang terhidap, dia nampak tak sabar ingin segera menyantapnya.
Dalam waktu kurang lebih lima belas menit, Mikael sudah memindahkan makanan yang di atas meja kedalam perutnya, terutama dua menu tadi yang sudah ludes tak tersisa.
Bi Hilda yang sejak tadi memperhatikan Mikael makan nampak senyum, karna Pria itu makan nampak sangat lahap. Alasan lainnya, karna Al pasti senang mengetahui suaminya memakan masakannya.
Mikael yang melihat Bi Hilda senyum-senyum saat membereskan piring kotornya lantas bertanya, "Kenapa, Bi?"
"..tidak apa-apa Tuan, Bibi hanya tak sabar memberitahu Nyonya Al jika Tuan Mikael memakan masakan Nyonya dengan lahap. Pasti Nyonya akan sangat senang mendengarnya!" ucapnya dengan senyum senang.
"...sangat senang?" katanya mengulang perkataan Bi Hilda.
"Iya Tuan, hampir tiap hari Nyonya Al selalu memasak untuk Tuan.." jelasnya.
"..tapi, karna Tuan tak pulang-pulang. Saya dan Pak Mamat yang selalu memakannya.." lanjutnya.
Hati Mikael terenyuh mendengar ucapan Bi Hilda,
"..tapi, aku tak melihat Al, Bi.." ucapnya pura-pura melihat kearah lain.
"..iya Tuan, Nyonya sedang tak ada di rumah. Tadi sekitar jam 3 sore, Nyonya pergi.." beritahunya.
"..pergi! Kemana?" tanya Mikael kembali.
"..maaf Tuan saya tak tau. Saat Nyonya pergi tadi, saya sedang keluar.." jujurnya.
"..tapi saya merasa khawatir dengan Nyonya Al.." ucap Bi Hilda kembali.
Mikael lalu mengarahkan matanya kearah Bi Hilda. "Maksudnya, Bi?"
Bi Hilda nampak bingung, dia berkata prihal keadaan Nyonyanya atau tidak. Tapi dia sungguh khawatir dengan Nyonyanya.
"..selama Tuan tak pulang dua bulan ini, Nyonya Al nampak sangat murung dan tak ***** makan. Jika di rumah Nyonya pasti selalu menyendiri duduk di bangku belakang, tatapannya selalu tertuju kearah jendela ruang perpus Tuan Mikael.." ucap Bi Hilda.
"..tapi yang membuat saya khawatir, seminggu ini Nyonya nampak kurang sehat. Terutama hari ini, wajahnya nampak sangat pucat.." jelas Bi Hilda.
Mikael nampak kaget mendengar penuturan keadaan Al selama dia tak pulang. Dia pikir Wanita itu pasti baik-baik saja, tapi itu tak sesuai bayangannya. Pria itu lantas segera mengeluarkan HPnya dari dalam kantong celananya lalu mencari nomor Al kemudian menelponnya.
'Tuut tuut tuut' nampak telponnya tersambung dengan tujuannya.
Mikael terlihat menunggu mendengar salam Wanita itu.
"...kok tak diangkat?" batinnya. Dia lalu melihat kearah HPnya yang masih terdengar nada sambungan.
Setelah panggilannya berhenti karna tak diangkat, Mikael kembali menelponnya, tapi sama saja tak ada balasan. Begitu juga dengan seterusnya.
* * *
Mikael nampak gusar, di kamarnya dia mondar mandir menelpon HP Al.
Ini sudah ke sepuluh atau sebelas kalinya dia menelpon, tapi sama saja tak ada jawaban dari yang ditelpon.
Mulai timbul fikiran bermacam-macam, seperti Al yang kenapa-napa, atau Al yang sengaja mengabaikan telponnya karna marah.
Tapi jika mendengar ucapan Bi Hilda tadi, Wanita itu tak terlihat marah padanya.
"..Aaaggghhhh..." erangnya.
"Al...kumohon angkat!" pintanya.
Mikael kembali menekan tombol telpon, ini ketiga belas kalinya dia menelpon, dia berharap ada yang mengangkat telpon tersebut.
"..halo.." ucap suara di sebrang.
Mendengar suara dari sebrang, Mikael lantas segera berhenti dari aktivitas mondar mandirnya.
"..Al.." lirih Mikael. Hatinya seketika tenang mendengar ada yang menjawab telpon itu.
"..maaf, ini suami dari Ibu Al?!" ucap kembali suara di sebrang.
Saat mendengar suara diseberang, Mikael bertanya-tanya. Suaranya tersebut tak terdengar seperti suara Al. Ditambah ucapannya barusan.
"..iya, saya suami dari Al.." balas Mikael.
"Bagaimana HP istri saya ada pada anda? Dimana Al?"
"..Bu Al saat ini sedang tidur.." jawabnya.
"..tadi sore Bu Al dibawa dari pemakaman XXX ke Klinik XXX.." jelasnya.
Bagaikan sambaran petir, Mikael terdiam mendengar hal tersebut.
"..Pak? Apa Bapak masih disana?" tanya suara di sebrang.
"...iya.." ucapnya pelan.
"..lalu bagaiman keadaan Istri saya?" tambahnya.
"..Bu Ufairah, baik-baik saja. Sekarang Ibunya sedang tertidur di Klinik.." balasnya.
"..saya akan kesana, tolong kirimkan alamat lengkap Klinik ya.." ucap Mikael.
"Baik, Pak.." balas suara di sebrang lalu mematikan HP.
Dengan langkah gontai, Mikael berjalan kearah ranjangnya. Dia lalu duduk disana, dengan tatapan lurus menatap kearah HPnya.
Tak lama pesan masuk dari nomor Al, yang memberikan google maps lokasinya saat ini.
Segera mungkin Mikael pergi ke lokasi tersebut. Walau tadi dia mendengar jika Al tak papa. Tapi perasaannya masih tak tenang jika belum benar-benar melihat kondisi Al benar baik-baik saja.
###
Di pemakaman XXX
Al nampak sedang menggerakkan bibir, didepan tumpukan tanah yang terdapat nisannya. Dia berucap dengan pelan melantunkan surat yasin serta tahlil.
Ya saat ini, Wanita itu sedang ziarah ke kuburan orang tuanya serta Neneknya yang merawatnya sejak orangtuanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas saat dia kelas lima SD.
Al berada diantara dua tumpukan tanah, yang sebelah bertuliskan nama Bapaknya, sedang sebelahnya lagi bertuliskan nama IBu dan Neneknya yang dikubur di lobang yang sama. (tentu di tahun yang berbeda)
Dirinya sudah lama tak ziarah kubur. Walau lokasi sama-sama di jakarta, tapi tempat kuburan keluarganya ini di daerah perkampungan yang padat penduduk. Tentu jauh dari rumah suaminya.
Terakhir dia ziarah, adalah sehari sebelum lebaran. Jika di hitung-hitung itu sudah berbulan-bulan yang lalu. Tapi, walau dia jarang ziarah, Al tak pernah lupa setiap harinya mengirimi Al-Fatihah dan doa.
Usai menyirami air dikedua makam, Al segera meninggalkan kuburan tersebut.
Saat berjalan, kepalanya yang sejak awal sudah berat semakin berat. Lantas dengan lunglai dia berjalan ke arah pagar untuk bersandar.
Dia terdiam disana sejenak, memejamkan mata dan berharap kepalanya segera membaik.
Tapi apalah daya, tubuhnya yang lemah tak sanggup lama-lama berdiri Al lantas perlahan terduduk di selasar jalan sambil bersandar.
Penggali kubur Wanita, yang tadi membetulkan tumpukan tanah makam keluarga Al, lantas menghampiri Al yang terduduk.
"..Bu.." ucap Wanita itu.
Al tak menjawab perkataan Wanita itu, bibirnya kelu tak bisa berucap, matanya sayu.
Kepala Al terasa mengawang-awang, dia hanya merasakan bawah dirinya dibopong oleh para Wanita kesebuah tempat yang tak dirinya ketahui.
* * *
🎶🎶🎶🎶
Terdengar suara melodi berulang kali, pegawai di Klinik kecil tersebut mencari sumber suara yang ternyata berasal dari ruang rawat inap.
Dia lalu berjalan kedalam ruangan tersebut yang didapatinya hanya Wanita yang berkerudung panjang sedang tidur dengan lelapnya.
Dia lalu menghampiri asal suara yang berasal dari tas Wanita di ruangan itu.
"Pasti ponsel Ibu ini bunyi!" serunya.
Dia nampak bingung harus mengambilnya dalam tas atau tidak, jika tidak diambil takutnya dia (Al) dan pasien Klinik lain yang sedang berobat akan terganggu oleh suara ponsel yang sejak tadi berbunyi tanpa hentinya.
Dengan memberanikan diri, Wanita Muda itu mendekati tas tersebut. Dia lalu melihat kearah Wanita yang masih tertidur pulas.
"Bu, saya izin buka tasnya ya.." ucapnya.
Lalu tangannya membuka resleting tas itu, kemudian mengambil HP yang bergetar tersebut.
Dilihatnya layar HP tersebut yang panggilannya bertuliskan 'Suamiku (Kak El)'
"...suamiku!" gumamnya.
"Ini pasti, suaminya Ibu Al. Dia pasti Khawatir dengan keadaan Bu Al.." dengan memberanikan diri dia memencet tanda mengangkat telpon.
# # #
Mikael menghentikan mobilnya didepan Kilinik XXX. Dia memperhatikan Klinik yang nampak kecil, hanya berukuran dua rumah kontrakan tiga petak.
Dirinya nampak bingung harus parkir dimana, lantaran Klinik tersebut tak memiliki halaman yang cukup untuk memarkir mobilnya.
Ditengoknya kearah sebrang yang terdapat area pemakaman, dialihkan mobilnya ke sebrang untuk menumpang parkir disana yang sesuai dugaannya terdapat parkiran yang cukup lebar.
Petugas penjaga pemakaman yang melihat sebuah mobil masuk ke parkiran pemakaman lantas menghampirinya.
"Selamat malam, Pak.." sapa penjaga tersebut saat Mikael membuka pintu.
"Bapak ingin berziarah.." ucapnya kembali.
"..tidak Pak, saya hanya ingin ke Klinik di sebrang.." ucapnya.
"Tidak papakan Pak, saya parkir disini.." lanjutnya.
"Ohhh ke Klinik didepan, tentu tak papa.." balasnya.
"Terimakasih.." ucap Mikael yang lalu berjalan meninggalkan area parkir.
Dia lalu menyebrangi jalan kemudian masuk kedalam area Klinik.
Seorang Wanita muda yang berjaga malam ini melihat seorang pengunjung memasuki pagar, lantas dia beranjak dari posisi duduknya.
Saat melihat siapa yang memasuki Klinik, Wanita muda itu tak mengerjapkan matanya dalam beberapa detik. Dia nampak terpaku dan terpesona dengan sosok yang masuk.
Mikael yang baru saja masuk kedalam Klinik melihat seorang Wanita muda sedang berdiri. Dia lalu menghampiri Wanita itu.
"Permisi Ba.." ucap Mikael menyadarkan si Wanita muda itu.
"...ahhh iya Mas, ada yang bisa saya bantu.." jawab Wanita muda itu gugup.
"..saya suami dari Wanita bernama Al.." ucap Mikael.
Wanita muda itu membulatkan mata. "..suami..dari Bu Al.." ulangnya untuk memastikan pendengarannya.
"Iya, saya ingin melihat Istri saya.." katanya yang tak sabar untuk melihat wajah Istrinya.
"..baiklah, mari saya antarkan.." balas Wanita muda itu.
Dia lalu keluar dari tempatnya kemudian berjalan kearah belakang Klinik yang terdapat kamar.
'Cklek' di bukanya pintu tersebut yang terdapat sosok Wanita yang tertidur.
Mikael segera masuk ke dalam menghampiri sosok yang tertidur dengan sangat pulas.
"..Pak, Bu Al baru saja tidur kembali sehabis minum obat.." beritahunya.
Mikael menganggukkan kepala paham, dia tahu maksudnya perkataan Wanita itu.
"..baiklah Pak, kalau begitu saya permisi.." pamit Wanita muda itu.
Sebelum Wanita muda itu menutup pintu, dia melihat kearah Mikael yang menatap lurus kearah Wanita didepannya. Nampak jelas di wajah Pria itu ke khawatiran.
Usai menutup pintu, Wanita muda itu kembali berjalan ke tempatnya.
"..tentu suaminya akan ganteng, Bu Al saja cantik dan imut.." bantinnya.
Dia mengingat kembali ke kejadian tadi, saat dirinya mengantar obat untuk diminum Al seusai memakan bubur.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...
Salam hangat SMIM
Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.
Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...
PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.
Padahal sudah mau ending hahaha...