Friends After Marriage

Friends After Marriage
Pengakuan



Happy Reading!!!


Ini sudah tiga kalinya, Al menelpon nomor Pria yang diberikan Pak Nasi. Tapi sampai sekarang telponnya masih belum diangkat juga.


Al menatap HPnya bingung, "Apa nomornya sudah tidak aktif? Tapi nada telpon tersambung!" batinnya.


"Maaf Nyonya Al, kita sudah sampai.." ucap Pria yang duduk dibangku didepannya.


Wanita itu lalu melihat keluar yang tanpa disadarinya dia sudah berada didepan gedung besar suaminya.


"..ahhh maaf Pak.." balasnya sambil terkekeh.


"..makasih Pak, assalamu'alaikum.." salamnya yang lalu keluar mobil.


Dia lalu melangkahkan kakinya kedalam gedung itu. Sosok Al yang lumayan lama tak muncul mendapat sambutan dari Pak Satpam.


"Assalamu'alaikum Nyonya.."


"Wa'alaikumsalam Pak.." balasnya menganggukan kepala pelan.


Dirinya kembali melanjutkan langkah kearah lift.


Setelah menunggu beberapa saat akhirnya terbuka, dia lalu memmasuki kemudian menekan lantai tujuannya.


Tak butuh waktu lama lif kembali terbuka, mendapati sosok Wanita cantik dengan kuncir kuda nampak bekerja dengan serius.


'Tap tap tap'


Al melangkahkan kakinya mendekati sosok itu.


Saat berada didekatnya, sosok itu mengangkat kepala. Dia terkaget melihat Wanita didepannya.


"Nyonya Al!" seru Wanita itu yang segera berdiri.


"Assalamu'alaikum Nona Alula.." sapa Wanita itu ramah.


"..wa'alaikumsalam.." balasnya tanpan menatap mata Wanita didepannya.


Wanita bercadar itu menatap kearah Alula yang terlihat tak nyaman.


"Nona Alula kenapa?"


Alula mengerakkan iris matanya kearah Al, saat matanya bertemu dia kembali mengalihkannya.


"..tidak apa-apa, Nyonya.." balasnya.


"..apa Nyonya kesini ingin mencari Pak Mikael.." ucapnya.


Al menganggukan kepala, "Iya.." balasnya ramah.


Alula terlihat tak tenang, dia bingung harus berkata apa pada Wanita didepannya. Sedang Bosnya belum mengatakan apapun.


"..tunggu sebentar ya Nyonya!" serunya yang mengambil HPnya diatas meja lalu berjalan kearah belokan yang terdapat WC disana.


Al yang ditinggali, hanya melihat bingung kearah Alula. Dia lantas memilih duduk dibangku yang ada didepan meja Alula.


'Cklek'


Suara pintu terbuka, menunjukan sosok pemilik ruangan.


"Assalamu'alaikum Kak El.." sapa Al. Dia lalu mengangkat rantang ditangannya.


Pria itu tersenyum mendapat sosok Wanita yang ditunggunya.


"Wa'alaikumsalam, ayo masuk! Aku sudah menunggumu!" serunya lalu membuka pintu lebar.


Mikael lalu melihat kearah belokan kearah WC, dia melihat sosok Alula yang berjalan dari sana.


Al yang mendapati suaminya melihat kebelakangnya lalu mengalihkan badan kearah belakang yang terdapat sosok Alula.


"Aku masuk dulu, terimakasih Nona Alula.." ucap Al.


Wanita itu menganggukan kepala dengan bingung.


Usai Al masuk, Mikael melirik kearah Alula kemudian berkata, "Mulai sekarang, jika Al datang langsung saja suruh masuk!" perintahnya.


"..baik, Pak!" balas Alula yang masih dengan wajah bingungnya.


Pria didepannya lalu masuk kedalam ruangannya kemudian menutup pintu.


Alula yang ditinggali sendiri menghela nafasnya berat. Dia merasa bingung dengan bosnya.


Tapi dirinya juga bersyukur, jika Bossnya tidak keluar tadi. Bisa-bisa dirinya berbuat jahat kembali pada Wanita bercadar itu.


Didalam ruangan, Al segera meletakkan rantangnya diatas meja lalu menyusunnya.


Mikael yang sudah menutup pintu lantas segera duduk di sofa, perutnya sudah terasa sangat lapar.


Tangannya yang memegang HP lantas diletakkan disamping rantang.


"Kakak mau dibuatkan teh, kopi atau air mineral?" tanya Al usai menyusun rantang.


"..kopi.." ucapnya.


Al lalu beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan kearah meja yang terdapat tepat menyeduh minuman.


Usai membuat dua minuman, dia kembali kemeja membawanya. Kemudian menyabtap hidangan.


* * *


Tak butuh waktu lama masakan yang dibawa Al, seperti orek tempe, nasi, udang balado dan tumis kangkung sudah berpindah ke perut mereka.


Al menepuk rantang kotor itu yang diatas meja.


Saat akan mengangkatnya, tangan besar Mikael segera menyambarnya.


"Aku saja yang cuci!" ucapnya dengan senyuman menghiasi wajahnya.


Al tersenyum mengangguki perilaku baik suaminya.


"Terimakasih, Kak.." cengirnya kemudian.


Sambil menunggu suaminya, Al membuka HP. Dia mengecek pesan yang dikirimnya pada Pria bernama seperti suaminya.


"...belum dibalas juga.." gumam Al menghela nafas.


Dia lalu melirik jam yang masih menunjukan pukul satu kurang sepuluh menit.


'🎶🎶🎶🎶🎶'


'Dreeet dreeet dreeet'


Al terdiam dia memperhatikan kearah HP yang ada diatas meja yang bergetar kemudian terdengar suara rinton musik yang pelan.


Dirinya terdiam, memperhatikan HP yang diletakkan suaminya tadi. Tapi Al sangat mengenal HP suaminya yang sering digunakan jika di rumah. Dia belum pernah melihat HP ini.


Dengan perlan Al memajukan tubuhnya yang bersandar, dijulurkan tangannya meraih benda pipih.


Al membalikkan HP yang terbalik itu lalu melihat tanda telepon masuk dari nomor tak dikenal.


Sekali lihat saja Al tahu, jika nomor yang tertera itu adalah nomornya.


Al segera mematikan sambungan telponnya dan tentu HP itu berhenti berdering. Dia lalu meletakkan HP itu kembali dengan posisi semula.


Dari arah kamar mandi, Mikael keluar membawa rantang yang sudah bersih dan kering.


Pria itu lalu meletakkan rantang diatas meja lalu.


Tatapan mata Al masih tetap kearah suaminya, membuat Pria itu mengalihkan tatapannya kearah Wanita didepannya.


"Ada sesuatu yang ingin kamu katakan?" tanya Pria itu.


Al masih diam memperhatikan Pria didepannya. Perasaanya yang awal menduga itu suaminya, ternyata benar. Yang masih membuatnya bertanya-tanya, mengapa Pria didepannya bersikap biasa saja?


Mikael nampak bigung, dia mengerutkan alisnya melihat istrinya yang menatapnya tanpa berkedip.


Sedang Al masih terus berfikir, bagaimana caranya mengatakan hal ini atau dia diam saja.


Al mengepalkan tangannya memberanikan diri.


"..Kak, makasih.." ucapnya menatap dalam Pria didepannya.


Mikael tersenyum, mengerti maksud tatapan Istrinya yang berterima kasih karna dibantu mencucikan rantang.


"..sama-sama.." balasnya tersenyum.


"..bukan masalah, hanya mencuci rantang saja.." lanjutnya.


Al segera menggelengkan kepala pelan, dengan tatapan mata mengatakan tidak, membuat Pria itu kembali bertanya akan sikap Istrinya.


"..iya, Al berterimakasih sudah di bantuin mencucikan rantang.." ucapnya yang memang ingin berterimakasih akan hal itu.


"..dan juga...membayarkan uang kuliah, Al.." lanjutnya.


Wajah Mikael yang awalnya bertanda tanya, sekarang paham. Dia beranjak dari depan Al lalu berjalan kearah sofa panjang yang diduduki Wanita itu saat ini. Dia lalu duduk disamping Wanita itu.


Al mendapati wajah suaminya biasa saja, tidak ada guratan marah. Tapi setidaknya Al harus meminta maaf akan hutang yang disembunyikannya.


"..Al minta maaf ya, Kak.." ucapnya lirih.


"..karna menutupi hutang itu.." lanjutnya.


Pria didepannya masih diam mendengar Wanita yang tepat disampingnya berbicara.


"..Kak.." ucap Al kembali, dia menunggu balasan suaminya.


Mikael membuka mulutnya kemudian berkata, "Selain tunggakan kuliahmu, ada sesuatu lagi yang kamu tutupi?" tanya Pria itu.


Al segera menggelengkan kepala, "Tidak ada tunggakan lain kok Kak, hanya uang kuliah saja.."


Mikael menatap mata Istrinya, "..kalau begitu, kenapa kamu tidak membayar uang kuliahmu menggunakan uang yang aku berikan?"


"..aa..karna itu uang Kak El.." ucap Al yang membuat dahi Pria didepannya berkerut.


"..Kak El memberikannyakan untuk kebutuhanku bukan untuk membayar tunggakanku.." lanjutnya.


"..dan tunggakanku tidaklah sedikit.." ucapnya kembali.


Mikael memperhatikan Al yang berkata sambil menatap matap. "..kalau begitu, kenapa kamu tidak memintanya padaku?" tanyanya kembali.


"..Al tidak ingin menyusahkan Kak El.." jawabnya pelan.


Itulah alasan utama Al tak mentakannya pada suaminya.


Mendengar jawaban dari istrinya Mikael mengerutkan dahi.


"..kenapa kamu berfikir, kalau itu akan menyusahkanku!" serunya.


"Kamu Istriku, tentu tanggung jawabku. Apapun masalahmu, itu tidak akan menyusahkanku.." ucapnya menatap dalam mata Al.


"..dan juga...uang yang aku berikan kepadamu adalah hakmu, kamu gunakan untuk apapun seterahmu.." lanjutnya.


Perkataan suaminya membuat hatinya senang, tak terasa airmatanya jatuh membasahi pipinya.


Melihat itu Mikael gelagapan, dia tak menyangka jika Al akan nagis. Pasalnya Wanita didepannya ini sangat jarang menangis.


Padahal dia tak memarahi Wanita didepannya.


"..Al kenapa kamu nangis..apa wajahku terlihat marah atau matanya yang menatapmu tajam.." ucapnya sambil menghapus air mata Al.


Al tersenyum melihat tingkah gugup suaminya. "..he..Al mengis karna senang mendengar perkataan Kak El.." ucapnya menenangkan Mikael.


Mendengarnya Mikael bernafas lega, tetapi tetap saja itu membuat hatinya sakit melihat Wanita didepannya menangis.


Mikael kembali menghapus air mata Al yang kemudian memeluk Wanita itu.


Al lantas membalas pelukan suaminya.


Usai acara tangis-tangisan


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...


Salam hangat SMIM


Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.


Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...


PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.


Padahal sudah mau ending hahaha...