Friends After Marriage

Friends After Marriage
Bosan



Bosan


Happy Reading!!!


Selama seminggu ini setiap pulang kerja Mikael selalu melihat keramaian disamping kamar apartemennya.


Entah itu kedatangan paket atau apapun itu. Awalnya dia berfikir baru saja ada orang yang pindah, tetapi kata resepsionis yang ada di lantai satu jika lantai tempat Mikael sudah ada orangnya sejak sebelum Mikael pindah.


Jadi intinya selama beberapa bulan dia tinggal disana. Dia sama sekali tak menyadari ada tetangga apartemennya.


Mikael keluar dari kamarnya. Pagi ini dia akan berangkat kerja. Hari ini dia melihat rumah tetangga apartemennya jauh lebih rame.


Dia melewati pintu apartemen yang terbuka lebar itu. Mikael tak penasaran dengan orang yang menjadi tetangganya, jadi dia hanya berjalan lurus ke depan.


Jumat sore, jam lima Mikael bersiap-siap untuk pulang.


Mikael sampai saat hari sudah gelap. Ketika membuka pintu dia tak mendapat sambutan dari Al.


Dia lantas masuk kedalam mencari sosok wanita itu. Sampainya di ruang makan yang dia temui adalah Bi Hilda yang sedang menata meja makan.


Mikael meletakkan tas kerjanya lalu duduk di kursi meja makan.


"Tuan ingin langsung makan malam.." tanya Bi Hilda.


"Tidak Bi, nanti saja.." jawabnya. "...Bibi memasak makanan ini semua.." ucap Mikael menunjuk kearah Udah pedas, sayur bayam dan juga perkedel.


"Nyonya yang memasak, Tuan.." jawabnya.


"Apa Tuan ingin makan sesuatu yang lain?"


"..tidak, Bi.." jawabnya. Dia lalu pergi ke kamarnya.


Setelah membersihkan diri kemudian mengganti pakaiannya. Dia kembali ke ruang makan.


Disana lagi-lagi dia tak melihat sosok Wanita itu disana. Mikael duduk ditempatnya biasa.


Tak berapa lama Bi Hilda datang membawa segelas kopi kearah Mikael. Dia lalu meletakkannya didepan Mikael.


"Kopinya Tuan,"


"Terimakasih.." balasnya. "...Bi, Al tidak makan malam.." ucapnya sambil menyendok kan nasi ke piringnya.


"Tidak Tuan, Nyonya sedang pergi.."


"Pergi?"


"Iya Tuan, Nyonya pergi ke rumah temannya yang akan mengadakan acara pernikahan besok.." jawabnya.


"...ohh.." balasnya lalu mengambil lauk yang ada didepannya.


Usai makan malam dia pergi ke kamarnya. Mikael meraih buku yang dibelinya seminggu yang lalu.


Baru saja membaca 2 lembar. Dia kembali menutup bukunya. Dia memejamkan paksa matanya yang tak mengantuk.


Lambat laun alam mimpi menyambutnya. Dia pun tertidur.


###


Al memencet be, saat pintu terbuka dia kaget melihat seorang Wanita berpakaian gamis berwarna keemasan menyambutnya.


Al yang baru saja mengucapkan salam langsung di tarik tangannya oleh Wanita itu. Dia membawanya kedalam rumah menuju kamar.


Didalam kamar tampak Via yang sedang dikenakan pacar ditangannya. Al yang masih bingung malah di sodornya pakaian oleh Wanita itu.


"Al, pakaian ini.." ucap Wanita itu. Al menganggukkan kepala dengan bingung lalu pergi ke kamar mandi menganti bajunya.


Setelah memakai bajunya Al keluar. Nampak wajah Via dan Wanita tadi yang menariknya terkagum melihat kecantikan Al begitu juga dengan Wanita yang sedang memakaikan Via pacar. Apalagi saat ini Al tak mengenakan kerudungnya.


"Kamu cantik sekali nak.." ucap Wanita itu yang berpakaian serupa dengan Al. Al hanya tersenyum malu mendengarnya.


"Benar Al kamu cantik bangat.." timpal Via.


"Kamu bisa aja.." balas Al. "Tapi baju ini untuk apa?" tanya Al.


"Tentu untuk di pakai kamu besok.." balas Via geregetan.


"Jadi ini untuk aku dong, terimakasih.." ucapnya tersenyum. Via juga ikut tersenyum begitu juga dengan Wanita itu yang tak lain emaknya Via.


Besoknya pagi-pagi. Tampak riuh dikediaman apartemen tersebut. Mereka tampak bersiap-siap menuju kedung pernikahan.


Al dan anggota keluarga lain nampak sudah rapih mengenakan pakaian serupa lain hal dengan Via yang masih mengenakan gamis biasa, karna pakaiannya yang ribet untuk berjalan.


Sampainya disana. Via menuju kamar ganti untuk mengganti pakaiannya dan juga didandani.


Kali ini Al tak bertugas apa-apa. Dia hanya menikmati pesta dan membantu serta menemani mempelai ketika mengganti pakaian.


###


'puk' Mikael menutup bukunya. Tidak seperti biasanya dia bosan saat ini. Dia lalu berjalan kearah jendela melihat kearah halaman belakang.


Biasanya dari sini dia melihat sosok Al yang sedang membaca buku, jika tidak Wanita itu sedang menyiram tanaman atau melakukan hal lainnya.


Di segera membalikkan tubuhnya lalu meraih HPnya yang ada diatas meja. Setelah menekan tanda telpon pada nama yang dipilihnya, tak berapa lama orang tersebut menjawab.


"Halo.." ucap suara di sebrang.


"Hari ini lo sibuk gak?"


"...kenapa emangnya?"


"..lo jawab aja pertanyaan gua!" perintah Mikael.


"..gua sibuk!" serunya yang terdengar kesal.


Mikael yang mendengar kata sibuk lantas segera mematikan HPnya. Dia lalu menelpon nomor lainnya.


"Ghifari, hari ini lo sibuk gak?"


"Gua gak sibuk hari ini. Cuman nanti jam 11, gua akan pergi ke acara nikahan teman SMA gua. Emangnya kenapa?"


"Gak papa, gua cuman bosan di rumah. Kalau gitu habis dari acara itu lo temenin gua di cafe tempat biasa ya.." ucap Mikael.


"...mending lo ikut bareng gua. Lagi pula tempat nongki itu dekat dengan acara nikahan yang gua datangin.."


"...ngapain gua datang, kenal yang nikah aja enggak.." ucap Mikael.


"Hahaha, enggak papalah.."


"Nanti gua tunggu di cafe biasa!" ucapnya lalu memutuskan panggilan.


###


Tak ada pertemuan antara tamu undangan Pria dan Wanita karna dipisah oleh tirai panjang. Agar mereka tak bercampur baur. Tamu undanganpun makan sambil duduk.


Ba'da dzuhur Al menemani mempelai Wanita mengganti baju berikutnya. Setelah itu dia mengantar kembali mempelai tersebut.


Saat Al menemani Via diatas panggung, karna orang tua yang menemaninya sedang ke kamar mandi. Dari sebrang tirai terdengar percakapan antara mempelai pria dengan pria lainnya.


"Mempelai lo mana, Ham?"


"Istri aku ada disebelah.." ucapanya menunjuk kearah tirai disamping.


"Kok kaliah pisah. Kenapa memangnya? Bukannya ini malah ribet.." tanya pria lainnya.


"Karna aku ngikutin aturan Islam, soalnya Islam melarang antara laki-laki dan prempuan berikhtilat (bercampur baur) makanya kami memutuskan tamu undangan pria disini sedang tamu Wanita disebelah.." jawabnya.


Mereka hanya bengung mendengar perkataan mempelai pria itu. "Oke deh. Selamat ya buat pernikahan lo sama istri lo.." ucapnya lalu pergi.


Al dan Via yang mendengar percakapan Ilham dengan temannya tampak tersenyum senang. Karna Ilham bisa menjelaskan prihal pemisahan tersebut.


###


Suara alunan musik clasik menemani seorang Pria berambut hampir sebahu dengan kaos hitamnya serta celana lepis panjangnya disertai sepatu santai.


Dia duduk sambil menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Dari kejauhan 2 orang pria dengan jas dan celana bahan menghampiri Pria itu.


"Udah lama nunggu ya.." ucap Pria berambut bule lokal.


"Ya, sekitar satu jaman.." balasnya. Pria berambut sebahu lalu menjabat tangan dua pria itu.


Saat menjabat tangan pria berambut coklat dia berkata. "Lo juga ikut, katanya sibuk.."


"...jadi lo gak suka gua datang.." ucap pria itu yang hendak berdiri.


"Hahaha, Yuan lo gak perlu marah.." kata Pria berambut bule lokal menenangkan. Yuan lalu duduk dengan wajah kesal.


"Jadi kenapa lo, tiba-tiba minta kita temenin?" tanya Ghifari.


"Gak papa, gua cuman bosan di rumah.." balasnya.


Kedua Pria tersebut mengkerutkan dahi. Mereka tak percaya pria didepannya bisa bosan di rumah, karna selama ini pria itu selalu lebih memilih di rumah dari pada keluar rumah hanya sekedar nongki-ningki gak jelas.


"Kalian pesanlah apa yang kalian inginkan nanti gua yang bayar.." ucapnya. Dua pria itu menganggukan kepala.


###


Acara pesta berakhir. Al membantu Via menuju kamar untuk mengganti pakaian dan juga make upnya.


"Akhhh akhirnya selesai juga.." ucap Via yang merasa mukanya jauh lebih enteng dan juga tubuhnya yang jauh lebih nyaman dengan pakaian biasanya.


Dia lalu melihat Al yang masih mengenakan pakaian yang dipakainya sejak pagu. "Kamu tidak mengganti pakaian Al?"


"..sepertinya baju gantiku tertinggal di apartemenmu, Via.." ucapnya yang sejak tadi mencari bajunya didalam tak gembloknya.


Akhirnya Al pulang masih dengan pakaian yang terlihat sangat gerah itu. Al sebenarnya ditawarkan untuk diantar, tapi dia menolaknya jadi dia pulang menggunakan taksi.


Sampai di rumah Pak Mamat kaget dengan penampilan Al yang lain dari biasanya. Begitu juga dengan Pak Mamat dan Bi Hilda.


Sampainya didalam Al langsung menuju dapur. Mengambil mengisi gelasnya lalu meneguknya.


Didapur Al meminta Pak maaf pada Pak Usman karna memintanya menunggu diluar bersama Pak Mamat.


Setelah Pak Usman keluar, Al segera melepas kerudungnya. Dia duduk di ruang TV dengan Minuman yang diambilnya dari dapur.


"Bajunya gerah sekali ya Nyonya.." ucap Bi Hilda yang menghampiri Al. Dia membawa air jus jeruk dingin.


"Iya Bi," balas Al.


"Makasih ya Bi.." ucapnya menunjuk kearah minuman tadi. BI Hilda menganggukkan kepalanya.


Al masih duduk di ruang tamu. Padahal dia bisa langsung keatas tapi karna masih merasa lelah dia memilih duduk terlebih dahulu.


Al memejamkan mata sambil menyandarkan tubuhnya. Dia sangat mengantuk saat ini karna semalam, Via membangunkannya karna tak bisa tidur.


###


Mikael baru saja sampai rumah. Setelah mematikan mobil dia langsung masuk kedalam rumah.


Sampainya di ruang TV, dilihatnya TV yang menyala. Lantas dia menghampirinya, saat akan mengambil remote yang ada di meja didepan kursi panjang. Mikael kaget dengan sosok Wanita yang sedang tidur diatas sofa.


Dia memperhatikan Wanita itu yang ternyata Al. Mikael melihat Al yang tak biasanya ketiduran di sini, apalagi dia tak mengenakan kerudung. Apalagi saat ini Al masih dengan pakaiannya yang berbordir dan berenda.


Al masih nampak pulas tidur sambil meringkuk. Melihat tersebut tanpa sadar Mikael mendekatinya.


Dia menjulurkan tangannya mendekati wajah Al. Tapi seketika...tangannya berhenti karna melihat Al yang membuka sedikit matanya.


"..Eee.." gumam Al serak. Mikael masih terpaku di tempat dengan tangan masih menjulur. Dia segera menarik tangannya lalu kembali berdiri tegak.


Al yang masih setengah sadar lantas duduk perlahan. Dia mengarahkan matanya melihat kearah jam yang tergantung di ruang TV. Al lantas membelalakkan matanya karna jam menandakan pukul setengah lima. Sedang dia belum sholat.


Al lantas segera beranjak dari bangku lalu berlari menuju kamarnya. Mikael masih terdiam ditempatnya, dia kaget melihat Al yang tiba-tiba berlari menaiki tangga.


Saat Mikael hendak menaiki tangga. Dilihatnya Al yang terburu-buru kembali kearah tangga.


Seketika gerakan Wanita itu pelan saat matanya bertemu dengan sosok Mikael yang berdiri diujung tangga.


"Kak El.." sapa Al sambil tersenyum gugup.


"..Ah..iya.." Mikael mengerutkan dahi melihat Al yang kembali turun.


"Al, kebawah dulu ya.." izinnya lalu perlahan berjalan kearah meja.


Mikael melihat Al yang menuju kearah meja. Disana Al mengambil gelas kosong lalu membawanya kearah dapur.


Tak lama sosok Al kembali terlihat. Mikael lantas segera menaiki tangga.


Dari dapur Al kembali ke ruang TV mengambil tasnya. Dilihatnya diatas sofa ada kain yang berwarna seperti pakaian yang dikenakannya.


Seketika Al memegang kepalanya yang tak mengenakan kerudung. Al menepok jidatnya karna dia lupa sejak tadi tak mengenakan kerudung.


Lantas dia segera lari kelantai 2. Disana dilihatnya Mikael masih berjalan menuju kamarnya. Dia segera memperlambat jalannya dan mengikuti dibelakang Mikael.


Didalam kamar Al kembali mengaca, dia melihat dirinya yang tampak aut-autan dengan muka bangun tidur, bau keringat dan juga rambut yang berantakan.


"Ahhh..malunya.." gumam Al. Ini keempat kalinya Mikael melihat sosok Al yang memalukan bagi Al.


Thank you for reading....


Tinggalkan Like, coment dan share jika suka cerita ini...


Supaya SMIM juga semangat membuat cerita...