Friends After Marriage

Friends After Marriage
Alasan yang Rahasia



Alasan yang Rahasia


Happy Reading!!!


Tampak seorang Pria tampan dan rupawan, dengan setelan jas biru laut, kemeja putih dan celana biru yang senada warnanya dengan jasnya. Keluar dari mobil ceper nya yang berwarna putih susu. Rambut sebahunya yang terurai menutupi tengkuknya membuat kesannya misterius.


Saat berjalan ketukan sepatu birunya yang tanpa kaos kaki menjadikan setiap orang yang mendengarnya akan menengok. Kemudian mereka akan terpukau dengan pesona pria itu yang terlihat cool.


Dia jalan memasuki pintu berdaun dua yang berwarna coklat keemasan yang dibuka oleh seorang pelayan pria yang juga terpukau akan pesonanya.


Di edarkan nya pandangan mencari sosok orang yang dikenalnya. Dari kejauhan tampak dua pria melambaikan tangan kearahnya.


Di langkahkan kakinya melewati meja-meja yang berisi orang-orang yang akan memandangnya ketika dia ingin mendekat sampai dia melewati meja tersebut.


"Heii bro udah lama kita gak ketemu!" sapa pria berambut bule lokal. Mikael hanya senyum tipis lalu membalas jabatan tangan pria itu.


"Gimana kabar lo?" tanya Pria berambut coklat. Dia lalu menjulurkan tangan kearah Mikael yang di sambutnya.


"Gua baik!" balasnya datar. Dia lalu duduk di bangku yang ada didekat jendela.


Tidak berapa lama pelayan datang mencatat pesanan Mikael. Sedang pesanan kedua sahabatnya telat dicatat sebelum Mikael datang.


"Gua gak nyangka lo nerima ajakan makan kita.." kata Pria berambut coklat membuka percakapan.


"Betul bangat! Biasanya lo seringan nolak ajakan makan di luar! Ada angin apa lo ikut?" timbal Pria berambut bule lokal.


Mikael menatap malas kedua sahabatnya sejak kuliah mereka selalu ingin tau hal pribadinya. Dia lalu menyenderkan tubuhnya disandaran kursi yang tampak empuk lalu menyilang kan kaki kanannya ke kaki kirinya. Lalu melipat tangannya didepan dada.


"Gua hanya kangen dengan kalian!" jawabnya tanpa ekspresi.


Lantas perkataannya itu membuat kedua sahabatnya tertawa.


"Lo kangen sama kita! Hahaha!" seru Pria berambut bule lokal yang tak hentinya tertawa. Begitu juga Pria berambut coklat.


"Palingan juga lo...ngehindar dari istri lo, iya kan?" katanya dengan sedikit air mata disudut matanya.


Dalam sekejap tawa mereka berhenti karna tatapan layaknya pembunuh dari Mikael.


Mikael memeng jarang berkata, tapi jika dia tidak suka. Dia akan menatap orang itu. Mengekspresikan apa yang ingin dikatakannya.


Mereka terbatuk-batuk lalu mengambil air putih yang telah disajikan saat mereka datang.


"Hahaha kita cuman bercanda sob!" dalih Pria berambut bule lokal setelah meminum air. Dia lalu menyenggol lengan Pria berambut coklat. "Iya kan!"


"Hahaha...benar kita cuman bercanda! Kayak baru kenal kita aja!" timpal pria berambut coklat yang mendapat intimidasi dari tatapan itu.


Pelayan wanita yang datang membawa makanan, menyelamat mereka dari tatapan membunuh Mikael.


Saat pelayan wanita memberikan makanan pesanan Mikael. Dia sangat gugup ketika melihat wajah Mikael yang sangat memukau kaum hawa.


"Silahkan menikmati! Mas handsome!" serunya melihat kearah Mikael. Dia lalu pergi sambil tersenyum-senyum malu.


"Kita di bilang ganteng, Gung!" kata pria berambut coklat yang terpana akan kecantikan pelayan wanita tadi.


"Iya kita di bilang ganteng. Tapi matanya kearah Mikael!" balasnya yang melihat wajah Mikael yang sudah tidak sedingin tadi.


Mereka menyantap makanan dalam diam. Biasanya kedua pria itu akan terus meracau dalam keadaan makan maupun tidak. Tapi karna tau kebiasaan Mikael yang tidak suka makan saat berbicara di tambah kejadian tadi. Mereka lebih memilih diam.


"Alhamdulillah kenyangnya!" Al mengelus perut datarnya. Dia terlihat tersenyum kearah Bi Hilda yang membalas senyumannya.


Al yang masih mengelus perutnya. Mengingat sesuatu yang sangat ingin ditanyakan tetapi selalu lupa.


"Bi! Ela boleh tanya sesuatu?" katanya menegakkan tubuhnya yang tadi melorot dari kursi.


"Tentu saja boleh, memang Nyonya Ela mau bertanya apa?"


"Eee...Bibi udah kerja disini berapa lama?"


"...Bibi baru kerja sebulan Nyonya! Memang kenapa Nyonya?"


Al menggembungkan mulutnya. "Al kira Bibi udah kerja lama!" dia lalu menundukkan kepalanya kearah meja. Lalu tiba-tiba mengangkatnya kepalanya kembali sambil tersenyum. "Bibi tau gak siapa yang kerja sebelum Bibi disini?"


Bibi diam sejenak melihat kearah Al. "...kata Pak Usman, yang bekerja di rumah sebelumnya para cleaning service, yang di panggil hanya untuk membersihkan rumah. Sampai sekarang mereka juga datang, tetapi lebih jarang.." jelas Bi Hilda. "Kalau soal makanan. Pak Usman yang sebelumnya memasak. Masakan Pak Usman sangat lezat!" lanjut Bibi dengan senyum mengembang. Al ternganga mendengar Pak Usman pandai memasak.


"Wah Pak Usman multi talent dong Bi!" Bibi hanya tersenyum membalas pernyataan Al.


Al kembali menundukkan kepalanya ke meja. Dia terlihat berfikir sejenak lalu kembali mengangkat kepalanya semangat.


"Kenapa Nyonya?" tanya Bibi melihat tingkah Al yang telah berubah. Al terlihat menyengir kearah Bi Hilda.


"Tidak Bi. Hehehe"


###


Selesai makan, Mikael tampak lebih santai. Saat ini dia terlihat sedang mengotak atik HPnya.


Kedua pria yang ada satu meja dengannya masih terlihat membungkam mulutnya. Terutama Pria berambut coklat, yang susah memfilter mulutnya saat berbicara.


"Kenapa kalian diam saja. Biasanya kalian akan berceloteh layaknya anak bayi!" seru Mikael pada mereka berdua. Matanya masih fokus menatap benda berbentuk persegi.


"Kita udah boleh ngomong?" seru Pria berambut coklat yang merasa senang. Karna sejak tadi mulutnya sudah gatal akan keheningan.


"Tentu saja. Itu mulut kalian tentu hak kalian!" Mikael lalu mematikan HPnya, kemudian memasukkannya kedalam kantung jasnya. Dia mengeluarkan dompetnya kemudian mengambil uang lembaran seratusan. "Gua balik duluan! Ini bayaran untuk makan malam ini!" serunya lalu meletakkan uangnya diatas meja, lekas pergi meninggalkan mereka.


Pria berambut coklat terlihat menghembuskan nafas berat. "Hah...sejak dulu sikapnya tak pernah berubah!"


Pria berambut bule lokal tampak menyandarkan tubuhnya karna sejak tadi tubuhnya selalu duduk dalam keadaan tegap. "Walaupun kita sudah berteman 10 tahun. Sampai sekarang gua masih bingung. Dia gak pernah sekalipun menceritakan tetang keluarganya pada kita. Terutama alasannya membenci wanita.." serunya menatap lurus kearah luar jendela. Sedang Pria berambut coklat hanya menganggukkan kepala.


"Episode selanjutnya siap-siap ya. Tindakan berani yang di lakukan Al pada Mikael"


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih