Friends After Marriage

Friends After Marriage
Dimulainya...



Happy Reading!!!


Bagi orang-orang yang berada diluar, mungkin mereka berfikir perusahan nampak terlihat tenang. Tapi ketika masuk kedalam, terlihat jelas para karyawan yang sedang sibuk. Kelihatan dari gerak gerik mereka yang cepat dan wajah mereka yang serius.


Dari arah gerbang perusahaan, sebuah mobil ceper nampak masuk kedalam lalu berhenti tetapat didepan pintu geser perusahan tersebut.


Mengetahui siapa yang ada didalam mobil. Satpam yang berada didepan lantas mendekat lalu membukakan pintu tersebut.


Pria yang berada didalam lalu keluar dari dalam mobil itu lalu berjalan masuk kedalam perusahaan dengan elegan.


Para Karyawan yang melihat Pria itu langsung memberikan tanda hormat dengan menyapa Pria itu.


Didalam, lift Pria itu menghembuskan nafas panjang. Sejak pagi dia sudah nampak sibuk karna pekerjaannya.


Ketika lift terbuka, dia langsung melangkahkan kakinya kearah ruangannya. Dia berjalan lurus masuk kedalam ruangan, tanpa melirik kearah seseorang yang berdiri dimeja sekretarisnya.


Mendapati Pria yang baru melewatinya mengabaikannya, Wanita itu kembali duduk di kursinya.


Tak lama pintu lift kembali terbuka kembali menampilkan sosok cantik dengan rok selutut dan rambutnya di sanggul memperlihatkan leher jenjangnya.


Wanita tersebut menghampiri Wanita yang sedang duduk disingganya.


"Nona Al, maaf ya aku lama. Soalnya tadi musholla di lantai 3 rame betul.." ucap Wanita itu yang merasa tak enak.


"Tidak apa-apa kok, Nona Alula.." balas Wanita bercadar itu ramah. Wanita itu lalu berdiri dari tempatnya agar Wanita yang baru datang tersebut bisa menduduki tempatnya kembali.


"...oh ya Nona Alula. Tadi saya melihat para Karyawan nampak sibuk. Memangnya sedang ada apa?"


"..itu Nyonya, sebentar lagi kita akan mengadakan event launcing produk baru bersama perusahaan lain. Makanya para Karyawan sangat sibuk. Termaksud Tuan Mikael yang sejak pagi melihat perkembangan di tempat event yang akan diadakan besok.." jelas Alula.


"Ohh..pantesan.." gumam Al pelan.


"Kenapa Nyonya?" tanya Alula yang samar mendengar perkataan Al.


"Ahh..tidak apa-apa.." jawab al segera.


"Memangnya besok dimana acaranya?"


"Acaranya di XXX.." jwabnya.


Mendengar tempat acaranya, Al langsung tau itu tak jauh dari tempat kerjanya. Hanya sekitar satu jaman.


"Besok seharian pasti sangat sibuk.." ucap Al.


"Tidak seharian kok Nyonya Al. Hanya sampai siang saja.." balasnya. Al membulatkan bibirnya.


"Oh ya Nona Alula, kalau begitu saya pulang ya.." pamit Al.


"..Nyonya Al langsung pulang? Bukannya Nyonya ingin bertemu dengan Tuan Mikael?"


"Mendengar perkataan Nona Alula, pasti Kak El nampaknya sangat sibuk, aku tidak ingin mengganggunya. Salam saja ya pada Kak El.." ucap Al yang lalu pergi berjalan kearah lift setelah mengucapkan salam.


Alula menganggukan kepala mengiyakan.


###


Hari esokpun datang. Sungguh suatu kebetulan hari ini Al mendapat shift sore, membuatnya bisa menyiapakan makan siang untuk dibawakannya pada suaminya.


Dari yang didengarnya dari Pak Usman, karna acara tersebut. Suaminya sampai-sampai makan saja harus diingatkan, jika tidak selama seharian Pria itu bisa tidak mengingat yang namanya makan.


Oleh karna itu hari ini Al memasak makanan kesukaan suaminya dan juga lauk lainnya sebagai penggugat selera.


Selangkah demi selangkah Al mendekati gedung besar yang area depannya dipadati orang. Orang-orang tersebut nampak keluar dari gedung berwarna gading tersebut.


Digerakkannya tangannya yang bebas untuk meraih HPnya yang ada didalam tas. Saat mendapati HP tersebut. Dia langsung menyalakannyan untuk melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul setengah tiga siang.


Dia tak menyangka perjalanannya dari rumah kemari membutuhkan waktu lebih dari dua jam.


Diarahkannya matanya mencari sosok Pria yang dicarinya. Tapi melihat dari banyaknya orang dan luasnya tempat tersebut, kecil kemungkinan untuknya menemukan suaminya.


Kalaupun bertanya pada Alula, Al tak enak hati. Karna Wanita itu pasti sedang sibuk.


Mau tak mau dia harus menunggu dan mencari tempat sejuk untuk berteduh dari terik matahari yang amat menyengat.


Diarahkan matanya, mencari tempat yang tak terpapar matahari. Seketika tatapannya berhenti pada sebatang pohon berukuran sedang. Pohon tersebut berdaun rindang.


Al lantas menuju kearah pohon tersebut. Dia berdiri disana sambil memperhatikan kearah pintu masuk gedung.


Samar-samar pendengaran Al mendengar suara dari arah samping. Saat menengok dia melihat wajah yang sangat dikenalnya.


Orang tersebut merupakan Ghifari. Dia sedang duduk diatas rumput sambil bermain game dengan seriusnya.


"Kak Ghifari!" seru Al yang kaget melihat sosok tersebut.


Pria tersebut tak bergeming sedikitpun, dia masih nampak fokus dengan permainan yang dimainkannya.


Al yang tak berniat mengganggu orang tersebut, lantas kembali menatap luruh kedepan. Dia berharap melihat suaminya diantara kerumunan itu.


Ternyata harapannya menjadi kenyataan. Matanya mendalati sosok Pria tampan berpakaian formal dengan rambut dicepol. Pria tersebut nampak keluar dari gedung bersama Pria-pria lain yang berbakaian serupa dengannya.


Tanpa sadar Al memanggil nama suaminya dengan keras.


"Kak Elll.." dilambaikannya tangan kanannya yang bebas.


Sayangnya hal tersebut tak bekerja. Karna suaranya tertutup dengan suara para Wanita yang tiba-tiba sudah kembali mengerubungi pintu masuk.


Ghifari yang sedang bermain gamenya merasa kesal karna kembali kalah.


Lantas di angkat kepalanya untuk mengistirahatkan sejenak matanya.


Matanya kemudian terhenti pada sosok Wanita berpakaian ninja. Seketika Wanita yang dilihatnya menoleh kearah Ghifari yang sedang menatapnya.


"Kak Ghifari, sudah selesai main gamenya?" tanya Wanita itu.


Seketika matanya melebar dan bibirnya berkata. " Al!"


Wanita itu menganggukan kepala yang artinya yes.


###


Baru sejenak mengalihkan pandangan, Pria yang dicarinya tak terlihat kembali. Membuatnya kembali melihat kearah Pria yang sedang duduk itu.


"Sedang apa kamu disini Al?" kagetnya.


"Apa Mikael tau kalau kamu disini?"


"Aku kesini membawakan ini.." tunjuknya kearah rantang yang dibawanya.


"Kak El tak tau aku kesini, karna aku kesini tanpa memberitahunya.." jawab Al santai.


"Terus, dari mana kamu tau tempat ini?" tanya kembali Pria itu layaknya wartawan.


"Dari Nona Alula.." jawab Al.


"Jadi kamu jauh-jauh kesini hanya untuk memberikan makanan ini.." ucap Ghifari yang langsung diangguki Al.


"Baiklah, kamu ikut denganku. Aku akan mengantarmu ke Mikael.." ucap Pria itu yang lantas bangkit dari duduknya.


"...maaf Kak, Al titip saja makanan ini. Soalnya Al harus berangkat kerja.." hentinya.


Al lantas menyodorkan rantang yang dipegangnya.


"Kamu yakin tidak ingin melihat Mikael terlebih dahulu?" tanyanya memastikan.


"Tidak Kak, lagipula tadi aku sudah melihatnya walaupun sebentar.." balas Al. Yuan lantas menerima rantas tersebut dari tangan Al.


"Kalau begi Al pamit, Kak. Assalamu'alaikum.."


"Walaikumsalam," jawab Ghifari.


Ghifari menatap kearah rantang yang dipegangnya lalu berjalan kearah pintu masuk gedung.


Pria itu mengedarkan pandangannya mencari sosok Mikael yang tak ditemukannya.


"Kemana aja lo?" kaget seseorang dari arah belakang Ghifari. Seketika dadanya bersebar mendapat kejutan suara tiba-tiba dari belakangnya.


"Mi..Mikael lo mau buat gua jantungan.."


"Dari tadi lo kemana aja?" tanya Mikael kembali tanpa memperdulikan ke.kagetan Ghifari.


Pri yang ditanya itu yang wajahnya kaget kemudian berubah menyengir. "Hehehe tunben lo nyariin gua, kangen ya.."


"...?" Mikael menampakkan wajah serius yang mengartikan tak ingin bercanda.


"..tadi gua bosan. Makanya gua keluar.." nyerahnya masih sambil menyengir.


"..lain kali lo gak boleh keluar seenaknya. Karna posisinya hari ini lo mewakilkan Om (bapaknya Ghifari) yang tidak bisa hadir.." kata Mikael mengingatkan.


"..iya.." balasnya.


"Yasudah, kalau lo udah paham. Gua duluan karna masih ada yang harus gue kerjakan.." ucap Mikael yang diokekan Ghifari.


Pria itu lalu pergi, begitu juga dengan Ghifari yang berjalan menuju parkiran mobilnya. Dia melupakan tujuan awalnya yang ingin menyerahkan rantang yang masih digenggamannya.


Didalam mobil, HPnya tiba-tiba berbunyi menandakan telpon masuk.


Diraihnyalah HP tersebut, lalu menekan tanda telpon terbuka.


"Ghifari lo dimana sekarang?" tanya suara telpon diseberang.


"Gua masih di gedung XXX di Jakarta.." balas Ghifari yang mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Ohhh, lo cepat kesini. Gua tunggu didepan cafe XXX.."


"Iya.." balas Ghifari yang lalu meletakkan HPnya yang sambungan telponnya telah terputus.


Pria itu lali melajukan mobilnya meninggalkan are parkir.


Sampainya ditempat tujuan si penelpon. Ghifari mendapati orang yang sedang menelpon sedang duduk menunggu sambil ngobrol dengan seorang gadis.


"Kumat lagi kebiasaannya, tuh orang!" seru Ghifari menggelengkan kebiasaan sobatnya


'Tin tin tin' Ditekannyalah klakson untuk menandakan dirinya telah datang.


Pria yang sedang menggoda itu, lantas menengok kearah brisik yang mengganggu PDKTnya.


Mengetahui siapa yang mengelakson, Pria itu berdecih lalu pamit dengan lembut ke Wanita yang digodanya.


Pria itu melangkah kearah mobil, lalu membuka pintu bagian penumpang.


'Clek'


"Lo lama bangat sih..." ucapnya yang terpotong karna melihat sesuatu di tempat duduk penumpang.


"Ini rantang siapa yang lo ambil?"


Ghifari seketika membulatkan mata kaget. Dia benar-benar lupa prihal rantang tersebut.


"Gua lupa itu titipan Al untuk Mikael!"


"...jadi ini masakannya Al dong!" seru Pria itu.


"Iyalah,"


"Gua gak ada waktu kalo ke tempat tadi, paling Mikael juga sudah pulang.." tolaknya.


"Kita makan saja mendingan, mumpung gua belum makan.."


"Bukannya tadi lo dari Cafe ketemu rekan bisnis?"


"Tadi gua cuman minum cofi. Udah cepat gih jalan.." perintahnya.


"Gua gak mau tau, Yuan. Nanti pokoknya lo yang balikin tuh rantang ke Al.." ucap Ghifari yang tak mau tau.


"Iya-iya.." balas Pria itu.


###


Usai event tersebut, Mikael tak semerta-merta langsung bersantai. Tetapi dia memantau akan pemasaran produk baru tersebut. Apa saja tanggapan masyarakat akan produk tersebut.


Setelah mendapat tanggapan baik, baru fia bisa bernafas lega dan sedikit bersantai.


Hari semakin larut. Seoran Pria nampak berjalan pelan memasuki kediamannya.


Dari dalam rumah seorang Pria setengah baya menghampiri Pria tersebut yang hendak ingin menaiki tangga.


"Tuan, ingin saya siapkan air hangat untuk mandi?"


"Tidak, Pak.." jawabnya pelan yang kemudian kembali melanjutkan menaiki tangga.


Sampainya dikamar, Pria tersebut langsung menaruh tasnya diatas meja lalu berjalan kearah kamar mandi.


Tak lama, dia kembali keluar dengan wajah yang lebih segar dengan handuk yang hanya menutupi bagian bawahnya.


Pria itu berjalan kearah almarinya untuk mengambil celana boxernya dan kaus tanpa lengannya.


Setelah memakainya, Pria itu berjalan kearah tempat tidur lalu membaringkan tubuh lelahnya.


Dipejamkan matanya yang terasa lelah. Seketika udara panas menyergap.


Lantas diraihnya remote AC miliknya yang ada diatas meja samping ranjang.


Seketika matanya yang terpejam kembali terbuka. Dia langsung melihat kearah sisi ranjang lainnya yang tak ada seorangpun.


"Kemana Wanita itu?" tanyanya.


"Apa dia..." tebaknya.


Pria itu segera bangkit dari posisi tidurnya kemudian berjalan kearah kamar Al.


Didepan kamarnya Mikael membuka pelan pintu kamar yang tak dikunci itu. Suasana gelap menyambutnya. Walau begitu dia bisa melihat Wanita didalam melalui cahaya lampu yang ada diluar kamar.


Dilangkahkan kakinya menghampiri Wanita yang yang nampak tertidur dengan lelapnya.


Matanya memperhatikan Wanita itu dari atas sampai kebagian bawah tubuhnya yang memperlihatkan paha mulus Wanita tersebut.


'Glek' Pria itu menelan slavinanya dengan susah.


Padahal beberapa hari ini dia melihat banyaknya paha-paha bertebaran, tapi paha-paha tersebut tak menggugah selerasanya. Beda dengan paha Wanita yang terlelap didepannya.


Rangsangan mulai terasa dibagian bawah dirinya. Padahal baru minggu kemarin mereka melakukannya, tapi Pria itu merasa sudah lama baginya.


Lantas dialihkan badannya dari Wanita itu lalu berjalan keluar. Kemudian kembali ke kamarnya dengan perasaan menggejolak.


###


Suasana nampak cerah pagi ini. Dengan langkah ringan Al melangkah kearah dapur, tempat dimana saat ini seoarang Wanita setngah baya sedang memasak.


"Bi, mari Al bantu.." ucapnya lalu mengabil alih memotong sayuran yang ditelantarkan Bi Hilda karna sedang mengaduk makanan yang ada dikuali.


"Eehh Nyonya Al.." kaget Bi Hilda.


"Iya Nyonya, terimakasih.." balasnya.


"Hari ini Bibi mau masak apa?"


"Bibi mau masak sop, teriyaki, dan perkedel.." ucapnya sambil melirik sekilas kearah Al sekilas.


"..Nyonya sudah melihat Tuan Mikael?" tanya Bi Hilda kemudian.


Al menghentikan gerakan memotongnya.


"..Kak El! Belum, Bi! Memangnya Kak El sudah pulang?" ucapnya menatap kearah Bi Hilda.


"Sudah Nyonya! Semalam sekitar jam satuan, Tuan Mikael sampe rumah.." jelas Bi Hilda.


Mendengar suaminya ada di rumah. Bibir mungilnya bengembangkan seyum.


"Aku tak sabar melihat Kak El.." batinnya.


###


'Tok tok tok' suara ketukan pintu mengalihkan tatapan pemilik kamar yang baru saja terbangun.


"Masuk!" seru suara pemilik kamar yang terdengar serak.


'cklek'


"Tuan sudah bangun!" kaget Pria setengah baya itu. Pikirnya, Pria tersebut masih terlelap.


"Hemm.." balasnya.


Pria setengah baya itu lalu berjalan melewati ranjang Tuan. Dia lalu membuka jendela kamar tersebut, agar cahaya pagi yang menyegarkan masuk.


Pria itu mengusap wajahnya yang masih amat mengantuk. Semalam tidurnya sangat tak pulas karna harus menahan kebutuhan batinnya.


Ditambah perasaan tak tenangnya karna pesan yang dikirmnya pada Kakeknya tak kunjung dibalas.


"Pak Usman.." panggil suara itu yang membuat langkah Pria setengah baya itu terhenti.


"Iya, Tuan.."


"Apa Pak Usman tau, mengapa Kakek tak membalas pesan Mikael?" dialihkan matanya yang menunduk kearah Pria setengah baya.


"Kemarin aku mengirim pesan pada Kakek, tapi tak kunjung dibalas sampai sekarang.." beritahunya.


Pak Usman nampak terdiam. Dia menelan slavinanya kemudian baru berkata.


"..bukannya Kakek Tuan Mikael jarang memegang HP. Mungkin saja Kakek Tuan belum melihat pesannya.." jawabnya.


Mikael terdiam sejenak, kemudian baru menganggukan kepala membenarkan prihal Kakeknya yang memang sangat jarang memegang HP.


"Tuan, Bapak keluar dulu ya.." pamitnya.


"Iya, Pak.." balas Mikael yang lalu kembali menguap karna rasa kantuknya.


###


Hidangan makan pagi menjelang siang nampak sudah rapi di meja makan.


Al nampak tersenyum kepada Bi Hilda begitu juga Wanita setengah baya itu.


"Nyonya duduklah! Bibi akan memanggil Tuan Mikael untuk makan.." kata Wanita itu.


"..Bi, Al saja yang memanggil Kak El.." kata Al mengajukan diri yang lalu pamit menuju lantai dua.


Didepan kamar suaminya, Al dia sejenak baru mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali.


'Tok tok tok'


'Cklek!' pintu terbuka menampakkan wajah pemilik kamar yang terlihat segar karna baru selesai mandi.


Melihat sosok itu, wajahnya yang sudah tersenyum semakin melebarkan senyumnya karna senang.


"Kak, makanannya sudah siap.." beritahunya.


"..iya.." balas Pria itu yang lalu melangkah keluar kamarnya kemudian menutup pintu kamarnya kembali.


Al melangkahkan kaki mengikuti suaminya. Dia memperhatikan punggung tegak suaminya yang berjalan lurus kedepan.


Sampai di meja makan, Mikael langsung mengambil posisi duduk biasanya.


Al yang duduk disampingnya meletakkan buah dipiring kecil laku menyodorkannya kearah Mikael.


Usai memakan buah, baru mereka mulai memakan makanan pokok mereka.


Al kembali menyendokkan nasi dan juga lau ke piring Mikael.


Pria itu menyantap makanan tersebut dengan lahap. Dia menghabiskan makanan tersebut dalam cepat.


Melihat suaminya nampak lahab dan pringnya sudah bersih. Al berkata. "Kak El, tambah!" seru Al yang berniat menyendokkan kembali nasi ke piring Suaminya.


"Tidak," jawabnya segera karna perutnya yang sudah kenyang.


Al menganggukan kepala lalu melanjutkan kembali makannya.


Selesai Al makan, dia mrngambil piring bekas suaminya lalu menumpukkannya diatas piring kotor bekasnya.


Saat akan hrndak mengangkatnya ke tempat cuci piring. Pria disampingnya mengentikannya.


"Mengapa kamu tidak tidur di kamarku?"


Al mengarahkan tubuhnya kearah Pria itu. "Maaf Kak, Al.." ucapnya yang terpotong oleh ucapan Mikael.


"Apa kamu tidak suka tidur dikamarku?"


Mendengar itu Al segera menggelengkan kepalanya kuat sambil memandang mata suaminya.


"Bukan, Kak!" sanggahnya.


"Al suka tidur dikamar Kak El.." beritahunya.


"Terus kenapa kamu tidak tidur disana?"


Al menundukan kepalanya. "...karna tak ada Kak El.." jawabnya jujur.


"Hahhh..?" Mikael mengerutkan dahi menatap Al, kemudian dia paham maksud perkataan Al ketika melihat wajahnya yang merona.


"...jadi kalau ada, kamu mau tidur di kamarku.." ucap Mikael sedikit merasa gugup karna sikap Al yang manis menurutnya.


"Iya.." Al mengalihkan kepalanya kearah Mikael lalu membalas tatapan Pria itu.


"..Kalau begitu, bagaimana kalau mulai sekarang kita tidur bersama?"


Tanpa sadar bibir Al mengembangkan senyum dan kepalanya mengangguk dengan semangan. "Tentu, aku mau Kak.." setujunya.


Diam-diam disisi lain, nampak Pak Usman dan Bi Hilda yang mendengarkan pembicaraan mereka.


Pria setengah baya itu mengembangkan senyum senang melihat semakin majunya hubungan Tuan dan Nyonyanya. Setidaknya dia merasa usaha seseorang tersebut membuahkan hasil.


Thank you for Reading


jangan lupa tinggalkan tanda


Selamat membaca