
Happy Reading!!!
Sore ini, udara terasa sejuk. Pak Ibnu menikmati setiap hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Dia duduk sambil memandang tumbuhan hijau yang daunnya bergoyang-goyang.
"Hahhhh.." helahnya.
Pria tua itu merasakan sepi, sehari-hari dia lebih sering sendiri. Apalagi setelah sahabatnya ikut ke tempat anaknya ke Kalimantan.
Cucunyapun sudah beberapa bulan tak mengunjunginya. Bisa saja dirinya yang mengunjungi cucu besarnya. Tetapi jika dia ke Jakarta, sama saja dia akan sering sendirian jika Mikael kerja.
"Bagaimana hubungan mereka sekarang ya?" gumam Pria tua itu.
Terakhir kali, dia mendapati kabar dari Pak Usman kalau cucunya dengan Istrinya masih pisah kamar. Tetapi Pria setengah baya itu juga mengatakan bahwa cucunya mulai bersikap manja, lembut dan perhatian pada Al.
"Aku tak sangka, akan butuh waktu yang sangat lama membuat Pria itu luluh.." ucapnya.
"..sampe sekarang saja, mereka masih pisah kamar.." lanjutnya.
Karna merasa haus, Pak Ibnu lantas berdiri dari tempatnya. Dia lalu berjalan kearah meja makan.
Usai minum, dirinya yang ingin kembali ke teras belakang mengurungkannya karna mendengar suara salam didepan.
"Wa'alaikumsalam.." balas Pria tua itu. Dia berjalan pelan kearah pintu depan.
'Cklek'
Pak Ibnu yang berjalan mendekat kearah pintu terkaget dengan sosok Wanita yang berada di ambang pintu yang terbuka.
Apalagi melihat sosok dibelakang Wanita itu. Dia merupakan cucunya, sosok itu sedang menenteng tas ditangannya.
Kedua sosok yang diambang pintu nampak tersenyum melihat kearah Pria tua itu.
Diikuti Pak Ibnu yang tersenyum lebar.
Malam hari
"Mikael, Kakek kira kamu sudah lupa dengan Kakek.." ucap sedih Pria tua itu sambil melihat kearah cucunya.
"Mana mungkin aku melupakan Kakek.." balas Mikael segera.
"Jika tidak lupa, kenapa kamu lama sekali tidak mengunjungi Kakekmu yang sudah tua ini.." ucap Pria tua itu yang memperlihatkan sosok lemahnya.
Mikael terdiam, dia nampak bingung jika kakeknya sudah berkata itu. Dirinya benar-benar lupa mengunjungi Kakeknya. Apalagi, setelah kejadian dia yang cemburu buta.
"Maaf Kek.." ucap Mikael tak enak.
Al yang melihat Mikael berwajah seperti itu hanya tersenyum. Dia tau persis, jika Pria tua itu hanya ingin melihat wajah bingung dan menyesal Mikael. Apalagi tadi Al sempat melihat Pria tua itu tersenyum senang melihat wajah cucunya.
Pria tua itu lalu mengalihkan matanya kearah Al yang tersenyum-senyum.
"..Kakek senang, kamu datang.." ucap Pria tua itu.
Al tersenyum bahagia membalas senyuman Pria didepannya.
Mereka bertiga lalu mengobrol bersama. Sampai-sampai tak terasa waktu terus berjalan yang sudah menunjukan pukul sembilan malam.
"Huuaammm.." nguap Al yang merasa matanya sudah berat.
"Baiklah, kita lanjutkan lagi besok. Kakek juga sudah mengantuk.." ucapnya yang segera bangkit dari duduknya.
Pria tua itu lalu berjalan kearah kamarnya.
Mikael yang juga merasa ngantuk dan cape, lantas ikut berdiri.
"Ayo kita tidur.." ajaknya kearah Al yang kembali menguap.
Al menganggukkan kepala mengiyakan. Dia lalu ikut beranjak dari kursi.
* * *
Al yang baru saja kembali dari kamar mandi, sehabis menyikat gigi dan berwudhu. Kembali ke kamar.
Saat membuka pintu, dia melihat sosok suaminya didalam.
Dia lalu menghampiri sosok itu kemudian duduk dipinggir ranjang.
"Kak El tidur disini?"
Mikael yang mendengar pertanyaan Istrinya nampak bingung. "..kok kamu bertanya seperti itu? Tentu saja aku tidur disini, aku kan suamimu.."
"..maksud Al. Kakek kan belum tau tentang hubungan kita. Kalau kakek melihat Kak El keluar dari kamar ini. Bisa-bisa kakek kaget.." Jelas Al.
Mikael yang mengerti maksud Istrinya tersenyum. "..tenang saja, tidak perlu khawatir. Lagi pula waktu itu juga kita pernah tidur di kamar ini bersama.." ucapnya.
"Yasudah, sekarang kita tidur.." ajaknya sambil menepuk ranjang.
Al menganggukkan kepalanya. Dia bingung sendiri melihat sikap suaminya.
"Apa Kak El ingin memberitahu Kakek?" batin Al.
* * *
Udara pagi yang dingin menyeruak dari celah-celah kayu.
Seorang Pria yang sedang asik dalam buaian mimpi harus terbangun karna panggilan alam yang mendesak.
Dibukalah matanya yang mendapat suasana ruangan yang gelap, tetapi masih bisa melihat sekitar karna cahaya dari celah atas pintu.
Saat akan bangun, tubuhnya merasakan tangan yang melingkar diperut sixpack nya.
Dialihkan kepalanya kearah sosok disebelahnya yang tertidur dengan pulas nya.
Pria itu menyunggingkan senyum, dia lalu mengangkat pelan tangan sosok disebelahnya lalu menaruh pelan keatas kasur.
"Tunggu ya, aku nyetor dulu.." ucap Pria itu lembut lalu segera beranjak dari kasur.
Tak lupa dirinya sebelum keluar, menyelimuti sosok di kasur sampai ke pundaknya terlebih dahulu.
"Ahhh.." desahnya yang merasa ingin hasrat segera dituntaskan.
Saat keluar dari kamarnya, dia mendapati sosok Kakeknya berada didepan kamar.
Pria tua itu yang ingin masuk kamarnya terhenti melihat sosok yang keluar dari kamar sebelahnya.
"..El.." ucap Pria tua itu.
"..aahhhh iya Kek, El mau ke kamar mandi dulu ya.." ucapnya buru-buru meninggalkan sosok itu.
Sepergi cucunya, Pria tua itu yang ingin memasuki kamar tersenyum mengetahui semalam cucunya tidur disebelah. Tapi seketika senyumnya hilang, Pria tua itu nampak diam.
* * *
Mikael yang sudah lega karna sudah menunaikan hajatnya lantas kembali ke kamarnya.
Saat akan membuka pintu kamarnya, dia terhenti mendengar suara dari belakangnya.
Pria itu lantas menengok kearah sumber suara yang berasal dari Kakeknya yang duduk di kursi depan kamarnya.
"..Kakek, belum tidur.." ucapnya yang menghampiri Pria tua itu.
Dia lalu duduk di kursi yang ada disampingnya.
"..tadi Kakek lihat kamu ingin masuk ke kamarmu.." ucap Pria tua itu.
"Iya Kek, tapi emang kenapa?" tanya Pria itu tak paham.
Pria tua itu kembali terdiam mengamati ekpresi cucunya yang nampak bingung.
"..bukankah di kamarmu ada teman Wanitamu, Al.." ucap Pria tua itu menyadarkan.
Mikael terdiam sejenak, memahami pembicaraan Kakeknya.
Seketika Mikael paham, maksud arah tujuan pembicaraan itu.
Pria tua itu mengamati ekspresi cucunya yang nampak biasa saja. Tidak ada sikap grogi atau gelegapan saat dirinya mengatakan perkataan tadi.
Mikael yang tak ingin kelamaan berada diluar karna dirinya mengantuk dan ingin kembali ke pelukan Istrinya lantas tersenyum kearah Kakeknya.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Pak Usman.." ucapnya santai.
"Jadi, kita bicarakan nanti pagi ya Kek. Aku mengantuk.." ucap Mikael yang lalu beranjak dari duduknya kembali ke kamarnya.
Pak Ibnu yang ditinggal, mengerutkan dahinya.
"Sudah mendengarnya dari Pak Usman?" gumamnya yang seketika matanya membulat.
"..hahahaha..rupanya dia sudah tau.." katanya sambil tertawa pelan.
"Pantas sikapnya santai.." lanjutnya yang lantas berdiri untuk kembali ke kamar.
# # #
Di halaman belakang, nampak dua Pria duduk sambil menikmati teh panas yang berada ditangannya.
Pak Ibnu, menyesap tehnya yang terasa tawar lalu meletakkannya kembali keatas meja yang diikuti Mikael yang juga meletakkannya.
"Kamu pasti sangat marah, saat mengetahuinya.." ucap Pria tua itu membuka percakapan.
Tanpa dijawab pun, Pria tua itu tau jawabannya karna melihat keheningan cucunya dan juga sifat kerasnya.
"Sejak kapan kamu mengetahuinya?"
Tanya Pak Ibnu, dia melihat kearah cucunya yang masih diam.
Pria tua itu mengartikan ekspresi diam cucunya. Dia tak mendapati guratan kemarahan dari ekspresi itu.
Seketika, Mikael melihat kearah Kakeknya. Pria itu lalu tersenyum tipis. "Bukankah, seharusnya Kakek yang menjawab pertanyaanku!" serunya menatap iris coklat terang didepannya.
Mendengar ucapan cucunya, Pak Tua itu kembali menyunggingkan senyum.
Lalu senyum itu menghilang memberikan tatapan tajam.
Mikael yang paham mimik Kakeknya itu lantas menelan salivanya. Senyum kemenangannya seketika memudar. Dirinya bingung, mengapa Kakeknya yang marah? Padahal dirinya yang dibohongi.
"..kenapa Kakek marah? Bukankah seharunya El, karna Kakek yang sudah membohongi El.." ucap Pria itu.
Pria tua itu masih menampakkan guratan yang sama. "Kamu jawab dulu pertanyaan Kakek tadi.." ucap Pria tua itu yang ingin jawabannya dijawab terlebih dahulu.
Mendengar ucapan Kakeknya, Mikael menghela nafasnya.
"Sudahlah Kek, jangan berwajah seperti itu. Itu tak pantas untuk Kakek.." pinta Mikael yang tak nyaman.
Pria tua itu seketika tertawa sampai gigi gerahamnya terlihat. Itulah sikap Kakeknya yang kadang membuat Mikael menggeleng kepal. Jika saja dia bukan cucunya pasti dia akan mengira Pria tua itu marah padahal tidak, Pria tua itu sangat suka jahil. Apalagi pada cucu kesayangannya.
"Sebelum Kakek menjawab pertanyaanmu, kamu jawab dulu pertanyaan Kakek.." ucap Pria tua itu.
"Baiklah.." balas Mikael.
T
E
L
L
"Sudah lama juga kamu mengetahui prihal ini.." ucap Pria tua yang diangguki Mikael.
"Aku sudah mengetahuinya, tetapi aku masih penasaran. Bagaimana bisa Kakek menyebarkan rumor, bahwa aku gay.
Pria tua itu hanya tersenyum, seperti tak merasa bersalah.
"Kamu juga, Kakek memintamu menikah. Tapi kamu tak kunjung menikah.." belanya pada diri sendiri.
"Kakekkan tau sendiri, kalau aku takut jika Wanita yang nanti aku nikahi seperti Ibu.." ucapnya yang masih merasa takut.
Pria tua itu paham persis perasaan cucunya yang di tinggal oleh Ibunya.
"Tapi, tak semua Wanita seperti itu bukan.." ucap Kakeknya.
"Seperti Al, dia selama ini sabar menerima sifat dingin dan kasar mu.." lanjutnya.
Mikael membenarkan ucapan Kakeknya. Dia tak menyangkalnya sama sekali.
"Jadi, apa Al sudah tau. Kalau kamu sudah mengetahuinya?" tanyanya kembali.
Mikael menggelengkan kepala pelan.
"Tidak, dia sama sekali tak mengetahuinya.."
"Setidaknya, kamu harus memberitahukannya. Karna dia juga merasa bersalah, sudah membohongimu.." saran Pria tua itu.
###
My reader, sorry ya sampe sini ceritanya.
SMIM sedang tak enak badan. Jadi hanya dapat segini.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...
Salam hangat SMIM
Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.
Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...
PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.
Padahal sudah mau ending hahaha...