Friends After Marriage

Friends After Marriage
Acuh



Happy Reading!!!


Setelah Pengumuman tentang pernikahannya yang menghebohkan seisi perusahaan. Sejak itu rumor tentang Mikael yang tersebar hanya dianggap bualan semata.


Seminggu kemudian


Pagi ini Mikael seperti hari biasanya. Dia sudah tampak terlihat rapi dengan setelan jasnya.


Sesekali Mikael terlihat menyesap kopi yang di buat oleh Bu Hilda. Ditangannya tampak dia memegang lembaran kertas yang dibaluti oleh map merah.


Dari kejauhan Pak Usman datang menghampiri Mikael.


"Tuan, mobil sudah siap!" seru Pak Usman sambil menundukkan kepala.


Mikael yang mendengarnya langsung mengangkat tubuhnya lalu melangkahkan kakinya menuju mobil yang mesinnya telah menyala.


Dengan sigap Pak Usman membuka pintu mobil. Mempersilahkan tuannya memasuki mobil lalu menutupnya pelan.


Dalam perjalanan menuju Bandara hanya keheningan yang menemani mereka. Pak Usman yang sibuk dengan setirnya begitu juga Mikael yang sibuk dengan berkasnya.


"Pak Usman jam berapa sekarang dan jam berapa pesawat saya berangkat!" seru Mikael membuka keheningan.


Pak Usman yang mendengar pernyataan tuannya langsung melihat jam yang saat ini menunjukan pukul setengah delapan.


Paham maksud dari pernyataan tuannya dia langsung menaikkan kecepatan mobilnya yang tadi berjalan santai.


Pak Usman lalu melirik dari kaca untuk melihat Mikael yang masih sibuk membaca.


Sampainya di bandara tempat keberangkatan. Pak Usman segera membuka pintu mobil Mikael lalu membuka bagasi belakang untuk menurunkan koper dan tas Mikael.


"Tuan ini tasnya!"


Mikael memasukan terlebih dahulu berkasnya kedalam tas lalu menerimanya.


"Terimakasih,"


"Sama-sama Tuan..."


Saat akan melangkahkan kaki, Pak Usman mencegatnya lalu menyodorkan kertas yang sejak tadi berada di sakunya.


"Tuan, saya telah menemukan wanita yang akan menjadi istri anda!"


Mikael diam memperhatikan Pak Usman. "...apa dia memiliki keluarga?"


"Tidak tuan. Dia seorang wanita tanpa keluarga maupun saudara..." balas Pak Usman masih menundukkan kepala.


"Yasudah kalau begitu. Kamu yang urus semua perihal pernikahan. Saya hanya akan terima jadinya saja!" perintah Mikael tanpa perduli lalu melanjutkan langkahnya.


Pak Usman yang melihat Mikael berjalan mengikuti langkahnya dibelakang. "Apa tuan tidak ingin melihat biodatanya?" Pak Usman kembali menyodorkan kertas yang ada di pegangannya.


"Tidak perlu. Lagi pula ini hanya akan bertahan sementara," jawabnya lalu pergi meninggalkan Pak Usman di tempat pemeriksaan tiket.


Selama 2 minggu Pak Usman sibuk menyiapkan hal-hal tentang pernikahan dari gedung, hotel yang akan ditempati, dekorasi ruangan, baju mempelai, undangan yang akan disebar seminggu sebelum pernikahan dan berbagai hal lainnya.


Sementara Mikael hanya sibuk dengan rekan bisnisnya di luar Negri. Tidak pernah sekalipun menanyakan perihal pernikahan maupun berbau pernikahan.


Kalaupun Mikael menelpon Pak Usman. Dia paling hanya ingin menanyakan kondisi perusahaan yang di tinggalkannya. Setelah mendapat jawaban tentang perusahaannya dia akan langsung mematikan telponnya.


Di bandara Pak Usman sudah menunggu di tempat kedatangan sejak setengah jam yang lalu.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang. Dari kejauhan Pak Usman dapat melihat Mikael berjalan sambil mendorong kopernya dengan pelan.


Pak Usman langsung menghampiri Mikael dan membantu memegang kopernya.


Sampainya ditempat penjemputan mobil. Pak Usman izin pada Mikael untuk mengambil mobil yang tadi diparkirkan olehnya.


Dalam perjalanan Mikael hanya diam sambil memejamkan matanya di bangku belakang.


Pak Usman yang sejak tadi ingin mengajaknya ngobrol merasa enggan membangunkan tuannya. Sedang Mikael yang menyadari lirikan Pak Usman dari kaca bertanya.


"Ada yang ingin anda katakan Pak Usman!" seru Mikael masih memejamkan mata.


Pak Usman yang mendengarnya langsung melirik Mikael yang masih menyandarkan tubuh dan mata tertutup.


"...iya Tuan," jawabnya. "...besok hari pernikahan Tuan. Jadi saya sekarang akan membawa tuan ke hotel tempat menginap, karna besok Tuan akan melakukan perawatan supaya tuan merasa lebih rileks..." jelasnya.


"Seterah Pak Usman saja! Sekarang saya hanya ingin tidur,"


Sampainya di hotel Pak Usman segera mengantar Maikael ke kamar yang telah dipesan. Di sana pakaian Mikael telah disediakan oleh Pak Usman. Sedangkan kopernya yang berisi pakaian kerja yang berada di mobil dibawa Pak Usman kembali ke rumah.


Di kamar, Mikael membersihkan dirinya terlebih dahulu, setelah itu dia membaringkan tubuh di kasur. Dalam sekejap alam mimpi sudah menyambutnya.


Di kamar lain. Terlihat seorang wanita sedang duduk menghadap kiblat dengan mukena putih menutupi auratnya. Wajahnya yang cantik terlihat basah diarea pipi. Bibirnya yang mungil berwarna merah nampak bergerak melantunkan ayat suci Al-Qur'an.


Pagi hari


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Mikael yang masih terhayut di alam mimpi terpaksa memutuskan mimpinya. Dengan wajah kesal dia turun dari kasur lalu membuka pintu.


Di balik pintu tampak seorang pelayan perempuan muda merasa takut dengan wajah Mikael yang terlihat tidak bersahabat.


"...maaf Tuan mengganggu anda. Saya disuruh oleh Pak Usman membangunkan anda.."


Mikael hanya berdehem lalu menutup pintu kamarnya kembali. Pelayan yang didepan pintu terlihat takut. Dia lalu pergi meninggalkan kamar Mikael.


Setelah beberapa menit akhirnya Mikael keluar dengan baju olahraga. Dia menuju kearah GYM untuk berolahraga terlebih dahulu.


Mikael berolahraga kurang lebih dua jam, karna merasa lelah dan keringat sudah bercucuran membasahi pakaian yang dikenakannya. Dia lalu beristirahat sambil meminum Aqua yang dibelinya.


Dari kejauhan nampak Pak Usman menghampiri Mikael dengan pakaian formalnya yaitu jas, kemeja dan celana bahan.


"Tuan sudah waktunya menuju tempat merilekskan tubuh!" kata Pak Usman mengingatkan Mikael.


Mikael hanya berdehem. Setelah beberapa menit dia baru beranjak dari tempat duduknya mengikuti Pak Usman.


Selama lima jam. Mikael berada di sana. Segar dan rileks dirasakan Mikael saat ini.


Tubuhnya yang awal pegal-pegal sudah tidak pegal lagi. Kulitnya yang awal terlihat kering menjadi lembab kembali.


Sebenarnya ini bukan kali pertama bagi Mikael ke salon tetapi ini kali pertama Mikael di salon selama 5 jam. Biasanya paling lama Mikael hanya 1 atau 2 jam.


Mikael kembali ke kamar dengan langkah ringan. Saat memasuki lift tampak seorang wanita ingin memasuki lift juga dengan gentle Mikael menahan pintu lift menunggu wanita itu masuk.


"Terimakasih!" seru wanita itu lembut sambil menundukkan kepalanya. Mikael hanya berdehem menyahutinya.


Sampailah Mikael di lantai tujuannya. Dia keluar dari lift begitu juga wanita yang bersamanya di lift.


Mikael merasa risih karna wanita yang berada di lift bersamanya tadi, mengikutinya dibelakang. Sampai akhirnya Mikael berhenti didepan pintu kamarnya. Wanita itu lalu melewati Mikael dan berhenti di pintu kamar sebelah Mikael.


Mikael menatap wanita yang hanya terlihat matanya saja. Sedang wanita itu menundukkan kepalanya lalu masuk kedalam kamarnya.


Sampai di kamar Mikael langsung merebahkan tubuhnya.


Tepat setelah magrib penata rias datang ke kamar Mikael membatunya memakai pakaian dan sedikit merias wajahnya.


Nampak Pak Usman memasuki kamar dan melihat Mikael yang terlihat sangat tampan dengan pakaian serba putihnya.


"Anda sangat tampan tuan!" seru Pak Usman menatapnya dengan wajah bahagia.


"Terimakasih Pak," balasnya dengan senyum tipis.


Mikael keluar kamar dengan dibantu Pak Usman menuju mesjid yang ada di hotel.


Di sana hanya sudah ada beberapa saksi dan ustad yang akan menikahinya.


"Tuan, calon istri tuan telah datang!" serunya melihat kearah belakang.


Terlihat seorang wanita berjalan anggun dengan berpakaian putih menutupi tubuhnya, yang terlihat hanya tangan dan matanya saja.


Mikael seketika kaget. Dia tidak menyangka akan menikah dengan wanita yang terlihat alim seperti ini.


"Bagaimana tuan?" tanya Pak Usman meminta pendapatnya.


"Biasa saja. Lagi pula pernikahan ini hanya sementara," jawabku dingin dan sekenanya.


Selesai mengucapkan ijab kobul. Para mempelai kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya hanya hanya di pakai beberapa saat saja.


Mikael menyuruh penata riasnya memanggil Pak Usman yang untuk menghampirinya.


"Iya ada apa tuan!"


"Suruh wanita itu melepas cadar yang menutupi wajahnya saat resepsi!" perintahnya.


Pak Usman menganggukkan kepala lalu meninggalkan Mikael bersama penata rias.


(Jangan lupa like, vote dan share ya)


Baca juga novel pertama saya UHIBBUKI.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.