
Happy Reading!!!
3 minggu yang lalu
"Ckrek!!"
Terlihat seorang pria keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan sehelai handuk putih untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Tubuhnya yang terpampang memperlihatkan roti sobek yang begitu menggiurkan, bagia kaum Hawa yang melihatnya.
Samar-samar pendengarannya menangkap suara yang tidak asing ditelinga nya. Dilangkahkan kakinya menuju meja kecil disamping ranjang yang ternyata terdapat HP nya yang sedang bergetar dan tidak berapa lama getarannya pun berhenti tanda orang yang menelpon memutuskan panggilannya.
Sudut matanya melihat sosok lain yang sedang bergelut dari balik selimut tebal putihnya yang menutupi bagian bawah tubuhnya dan mempertontonkan bagian atasnya yang tak kalah berotot. Tampak orang tersebut sedang tidur dengan pulas nya walaupun sekarang matahari sudah menampakkan senyumnya.
Saat melihat layar HP tertera panggilan sebanyak 3 kali dari nomor yang sama yaitu sekretaris kantornya Alula.
Pria itu tidak menelepon sekretaris kantornya kembali, tetapi dia malah duduk di sopa panjang dikamar itu. Dia naikkan kaki kanannya keatas kaki kirinya lalu menyenderkan tubuhnya kesadaran sofa.
Beberapa saat memejamkan mata datang kembali telepon dari nomor yang sama dengan kesal pria itu mengambil HP nya lalu mengangkat tanpa bersuara.
"Pak Mikael, Bapak ada dimana sekarang? Perusahaan sedang di hebohkan dengan berita bapak!" tampak jelas suara gusar dari sebrang telpon.
Di kantor Alula tampak bingung dengan berita yang tiba-tiba muncul dan cepat menyebar menghebohkan seisi perusahaan.
Mikael mengerutkan alisnya karena tidak mengerti apa maksud sekretaris yang baru setahun bekerja dengannya ini.
Alula merupakan sekretaris baru di perusahaan Mikael karena sekretaris lamanya yang merupakan kakaknya Alula yang bernama Azam dipindahkannya untuk mengelola perusahaan Mikael di daerah lain.
Mikael awalnya menolak untuk menerima Alula karena dia tidak terlalu suka bekerja sama dengan perempuan yang sedikit-sedikit bawa perasaan (baper). Apalagi sebagai sekretarisnya harus siap mental dengan sikap tempramen Mikael yang berhubungan dengan perusahaan tentu juga sikap dinginnya khusus pada lawan jenisnya. Tetapi karena melihat kemampuan Alula yang bisa dibilang setara dengan Azam, dia terpaksa menerimanya.
"Maksudmu??" tanyanya tegas.
"Gini pak. Jadi tiba-tiba saja perusahaan digegerkan dengan foto bapak yang sedang merangkul seorang pria memasuki kamar hotel! Foto tersebut tersebar di blog perusahaan" jelas Alula dengan suara pelan walaupun sudah berada didalam ruangan bosnya.
"Foto??" gumamnya dalam hati.
"Saya akan mengirim fotonya ke HP bapak. Bapak cepat ya ke perusahaan, saya bingung dengan pertanyaan orang-orang perusahaan.." pintanya lalu Mikael langsung mematikan HP memutuskan pembicaraan Alula yang masih menggantung.
Pria itu lalu membuka pesan dari sekretarisnya dan melihat foto yang membuatnya tercengang.
Tampak foto yang sedikit buram tapi jika diperhatikan dengan cermat, teliti dan seksama sudah dipastikan ini merupakan foto Mikael yang180 derajat berbeda jauh ketika berada di perusahaan.
"Bukannya ini foto yang diambil saat gua pergi ke Bali. Tapi bagaimana bisa mereka mengenalinya padahal gua udah merubah penampilan gua??" gumam pria itu kesal. Dia mencengkram kuat-kuat HP di genggamanmnya. (Mas bro walaupun berubah penampilan tetap aja orang kenal kecuali mas bro berubahnya total).
Dengan cepat dia mengambil pakaiannya yang berada di pinggir ranjang lalu mengenakannya.
"Lo udah mau pulang?" tanya pria dibalik selimut dengan suara serak. Mikael tidak merespon pertanyaan pria itu.
Pria itu lalu duduk dan memperhatikan Mikael yang sedang terburu-buru mengenakan pakaian.
"Gua udah ngirim uangnya ke rekening lo!" seru Mikael dengan wajah dingin lalu melangkahkan kakinya menuju pintu kamar kemudian keluar setelah menutup pintu dengan keras.
Pria yang berada di tempat tidur tampak bingung dengan sikap Mikael yang tiba-tiba saja berubah, tapi dia tidak menghiraukannya. Pria itu mengambil HPnya lalu mengecek saldo di rekeningnya yang sudah bertambah beberapa digit angka. Saking senangnya, pria itu berguling-guling di ranjang dengan sangat bersemangat.
Kembali ke Mikael yang terburu-buru jalan menuju tempat parkiran.
Sebelum mengendarai mobilnya dia menelpon pak Usman pelayan pribadinya terlebih dahulu untuk mengantarkan baju kantornya ke parkiran perusahaan.
Dengan kecepatan tinggi dikendarainya mobil menuju perusahaannya. Sayangnya kota yang ditempatinya merupakan kota yang terkenal akan kemacetan jalan rayanya di jam sibuk seperti sekarang ini. Dengan wajah yang sudah berurat, dia jalankan mobilnya layaknya siput.
Perjalanan yang seharusnya di tempuh 30 menit dengan kecepatan rata-rata harus ditempuhnya selama 1 jam 19 menit. Dia akhirnya sampai di parkiran bawah tanah perusahaannya.
Dia memarkirkan mobil tepat di samping mobil pelayannya yang sudah menunggunya.
"Tuan, ini pakaiannya!" Pak Usman memberikan kantung pakaian yang berisi setelah jas dan box sepatu Mikael.
Setelah setengah jam bergelut di mobil akhirnya Mikael keluar dengan dandanan biasanya yaitu setelan jas, kemeja putih, sepatu pantopel dan rambutnya yang sudah diikat di atas seperti lingkaran.
"Kau sudah mendengar kabar tentangku di blog perusahaan?" tanya Mikael dengan wajah serius. Dia berjalan dengan cepat menuju lift diikuti pelayan setianya yang sudah mengikutinya selama 8 tahun.
Pak Usman berjalan lebih cepat lalu menekan tombol lift yang suda ada didekatnya.
"Belum tuan!" jawabnya sambil menundukan kepalanya tanda hormat.
"Ting!" pintu lift terbuka Mikael langsung memasuki lift begitu juga Pak Usman yang langsung memencet lantai paling atas.
"Sekarang kamu cari tau siapa yang menyebarkan dan mengirim fotoku bersama Beni saat memasuki kamar hotel!" perintahnya dengan tatapan tajam melihat kearah depan.
"Baik tuan!" jawabnya patuh.
Alula yang sejak tadi mondar-mandir bagaikan setrikaan yang menunggu Bosnya dengan gusar. Saat melihat pintu lift terbuka dan terlihat wajah bosnya yang sudah dikabuti aura kegelapan. Dengan rasa takut dia langsung menghampiri Bosnya dengan wajah kebingungannya.
Mikael yang keluar dari lift lalu berkata sambil berjalan menuju kantornya. "Segera kumpulkan semua karyawan ke aula setelah jam makan siang!" perintahnya yang langsung diangguki Alula. Dia langsung segera menuju ruang siaran suara.
Semua karyawan yang saat ini sedang menyantap makan siang mendengarnya melalui speaker yang ada di kantin perusahaan dengan tanda tanya besar.
Di ruangan Mikael.
Mikael tampak memandang luar jendela dengan tatapan tajam tetapi wajahnya terlihat santai bagai tak ada masalah.
"Apa tuan sudah menyiapkan perkataan yang akan tuan katakan di Aula?" tanya Pak Usman sopan.
Mikael hanya diam tanpa menjawab. Wajahnya tidak tampak bingung layaknya orang mempunyai masalah. Dia terlihat biasa saja dengan wajah santai. Tetapi mata tidak berbohong. Dia menatap keluar jendela dengan tatapan tajam sambil tangan meremas satu sama lain.
"...saya akan berkata jujur!" ucapnya seketika memecahkan keheningan di ruangan tersebut.
Pak Usman mengangkat kepalanya. Dia hanya melihat kepala bagian belakang Mikael.
"Apa Pak Mikael serius?" tanyanya kembali.
"Hemm.." Mikael hanya berdehem untuk memastikan keputusannya.
Pak Usman tampak bingung. Jika berita benar-benar di buktikan melalui mulut bosnya langsung bisa-bisa partner kerjanya akan menarik semua kerja samanya yang dapat berakibat kerugian besar bagi perusahaan.
Sedangkan ini merupakan perusahaan yang di rintis oleh Mikael dari 0.
Tampak Mikael mulai mengangkat tubuhnya karena waktu makan siang sudah habis. Tentu sekarang para karyawannya sedang menuju ke Aula di lantai satu.
Mikael melewati Pak Uman yang sedang menunduk. Tetapi tiba-tiba langkahnya berhenti ketika mendengar perkataan Pak Usman.
"Tuan, sebenarnya saya memiliki solusi! Dan solusi ini tidak akan mempengaruhi kerja sama perusahaan!" kata Pak Usman gugup.
Mikael langsung membalikkan badan menatap Pak Usman.
"Memangnya apa solusimu?" tanyanya.
???
Usai jam makan siang semua karyawan berombongan menuju Aula yang berada di lantai 2.
Aula saat ini dipenuhi oleh hiruk piruk tentang gosip yang tersebar. Para karyawan ada yang menganggap bahwa gosip itu benar ada juga yang mengganggap itu hanyalah omong kosong untuk menjatuhkan perusahaan.
Beberapa saat Mikael masuk. Dalam seketika hiruk piruk sirna ketika melihat atmosfer Mikael yang sungguh mengekang karyawan. Apalagi terpampang wajah kutub selatannya yang membuat setiap orang yang melihatnya takut.
Mikael lalu duduk didepan. Semua mata tertuju kepada Mikael meminta jawaban atas foto yang tersebar tanpa izin.
"Baiklah sebelum itu saya ingin mengucapkan terimakasih atas waktu yang telah kalian luangkan.."
"Saya juga meminta maaf telah mengganggu waktu kerja dan fokus kalian karna foto yang tersebar pagi ini.."
".....Jadi saya ingin menjelaskan bahwa foto yang tersebar di blog perusahaan memang saya!" Ucap Mikael dengan tegas. Semua yang berada di Aula langsung heboh dengan ungkapan tersebut.
Tapi kehebohan hanya bertahan dalam beberapa detik karena tatapan tajam dari Mikael yang memperhatikan semua karyawan.
"...Jadi orang yang saya rangkul merupakan teman saya yang tinggal di kamar itu..."
"...dan berita tentang saya yang seorang homo dan tidak tertarik dengan wanita itu salah.." karyawan yang mendengarnya mengangguk-angguk kepala. Menandakan mereka yakin bahwa bosnya mana mungkin sorang homo.
"Untuk itu..." Mikael diam sejenak lalu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan dari bibirnya.
"Saya mengumpulkan kalian ingin mengatakan perihal pernikahan saya yang akan saya laksanakan 3 minggu lagi.." jelasnya yang membuat ricuh kembali seisi Aula.
Terlihat wajah lesu karyawan wanita yang masih lajang. Sedang beberapa karyawan yang awalnya tidak percaya sekarang percaya bosnya akan menikah yang berarti, dia tertarik dengan lawan jenisnya.
Selesai menyampaikan semua dia keluar dari aula terlebih dahulu baru semua karyawannya mengikutinya.
Dia pergi menuju parkiran. Lalu menaiki mobilnya meninggalkan perusahaan.
Flashback on
"Menikah?" tanyanya kembali karena tidak menyangka usul yang tidak sedikitpun terbesit dibenaknya.
"Iya tuan. Jika tuan menikah tentu berita heboh itu hanya dianggap sebagai bualan," jelas pak Usman menunduk.
Mikael menatap Pak Usman lekat-lekat dan memikirkan perkataan Pak Usman yang tentu menjadi kunci atas permasalahannya atau bisa menjadi awal dari permasalahan baru.
Mikael lalu membalikkan badannya ke arah pintu keluar. Memunggungi Pak Usman yang masih menunduk.
Setelah berfikir beberapa saat dia akhirnya memutuskannya.
"Baiklah saya akan mengikuti solusimu. Tapi... Carilah wanita yang hidup sebatang kara!" ucapnya lalu membuka pintu kantornya.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Terimakasih.