Friends After Marriage

Friends After Marriage
Gugup



(Jangan lupa beri vote dan ucapan ya.)


Happy Reading!!!


Angin malam yang dingin menerpa wanita cantik yang raut wajahnya terlihat khawatir. Sejak pagi wanita itu duduk di balkon, layaknya menunggu seseorang yang tak kunjung datang sambil membaca buku dan Al-Qur'an.


Wanita itu menangkap suara yang sangat familiar ditelinga nya. Dia menoleh kearah meja samping bangkunya yang terdapat HPnya. Diraihnya HP itu. Beberapa detik kemudian raut wajah wanita itu seketika berubah cerah. Dia segera membereskan buku yang dibacanya saat ini yang berjudul "Tugas utama Istri" lalu masuk kedalam kamarnya.


@@@


Sejak siang Mikael sudah nampak di kantor. Dia terlihat sedang sibuk membolak-balik berkas tetang kerja samanya dengan perusahan lain yang baru diajukan oleh perusahaan tetangga setelah pernikahannya.


Siang tadi saat Mikael datang ke kantor. Karyawan mengira, menikahnya Mikael akan membuat wajah dinginnya berubah menjadi teduh. Sayangnya tidak, wajah dinginnya tetang sedingin es kutub. Membuat orang yang awalnya ingin mengajak bicara mengurungkan niatnya karna wajahnya beserta tatapannya yang tajam menatap lurus kedepan.


Seperti tadi pagi saat Mikael keluar dari lift lantai atas. Alula yang sedang disibukkan dengan kerjaannya melihat Bosnya keluar dari lift. Ingin rasanya Alula menggoda Bosnya yang baru saja menikah. Tetapi hal itu diurungkannya saat melihat wajahnya dan tatapan tidak bersahabatnya.


Sore ini terlihat Mikael masih sibuk dengan berkas-berkasnya.Entah membacanya atau menandatangani persetujuan kerjasama.


"Tok tok tok," suara ketukan pintu.


"Bos ini Alula. Saya masuk ya!" seru sekretarisnya dari luar ruangan. Alula yang tidak mendapat tanggapan dari Bosnya lekas membuka pintu dan melihat kearah meja Bosnya yang saat ini terdapat Bosnya sedang menatapnya.


Alula bergidik ngeri melihat tatapan Bosnya yang seperti menusuk ia pun tanpa sadar langsung menundukkan kepalanya. "Pak sudah waktunya pulang. Saya pulang ya Pak," izinnya. Dia melirik kearah bosnya.


Mikael hanya membalas dengan anggukan kepala lalu kembali menatap kertas yang dipegangnya. Alula yang sudah mendapat jawaban segera menutup kembali pintu Bosnya.


Alula berjalan cepat meninggalkan ruangannya Bosnya menuju lift. "Huuff, seperti biasa, ada gak ada orang selalu saja tidak pernah menjawab. Tapi tadi tatapannya serem bangat!" gumam Alula pelan lalu memasuki lift yang kosong.


Mikael sudah selesai dengan kertas-kertasnya lekas bersiap pulang. Saat ke Luar dari ruangan kantornya. Tampak Pak Usman sedang berdiri didepan meja sekretarisnya.


"Pak.." sapa Pak Usman sambil menundukkan kepalanya.


Mikael hanya diam lalu melewati Pak Usman. Dari belakang Pak Usman segera mengikuti Mikael.


Sampainya di tempat parkiran. Pak Usman segera membukakan pintu mobil untuk tuannya. Setelah Mikael masuk dia segera kembali kebangku mengemudinya.


Seperti biasanya hening tanpa percakapan sama sekali. Mikael yang sibuk dengan HPnya sedang Pak Usman sibuk dengan setirnya.


Sore hari, tentu jalan dipenuhi oleh kendaraan beroda empat, dua dan beroda lainnya. Ada yang baru pulang kerja, sekolah, atau hal lainnya.


Pak Usman melirik Mikael dari kaca. Dia melihat Mikael masih sibuk dengan HPnya. Dia kembali menatap kedepan ketika melihat kendaraan didepannya mulai berjalan.


Saat mobil yang dikendarainya berhenti karna mobil didepannya juga berhenti. Pak Usman memberanikan diri berbicara dengan Mikael.


"Tuan..." panggil Pak Usman dengan mata melihat kerah kaca. Sedang orang yang di panggil hanya berdehem tanpa melihat kearahnya.


Pak Usman kembali melihat kedepan lalu menjalankan kendaraannya perlahan, karna adanya jarak dengan kendaraannya maupun kendaraan didepannya.


"Tuan, Nyonya setiap hari menanyakan kabar anda yang tak kunjung pulang selama seminggu ini.." Pak Usman lalu melihat sekilas kearah Mikael yang masih fokus dengan benda di tangannya.


Tidak ada jawaban sama sekali dari Mikael. Dia hanya diam mendengar perkataan Pak Usman.


Pak Usman yang curi-curi pandang melihat Mikael yang masih setia dengan diamnya. Setelah hening beberapa saat Pak Usman melihat Mikael mulai mematikan HPnya lalu memasukannya kedalam jas hitamnya. Dia lalu menyenderkan kepalanya kemudian memejamkan matanya.


"Arahkan mobilnya kearah rumah. Malam ini aku akan tidur disana!" perintahnya yang langsung diangguki Pak Usman.


Sampainya di depan rumah berwarna putih bercampur krem. Pak Satpam yang bertugas menjaga rumah Mikael lekas membuka pagar yang berwarna hitam pekat.


Pak Usman segera keluar dari mobil lalu membuka pintu kursi penumpang. Dengan pelan ia membangunkan Mikael yang tertidur dengan nyenyaknya.


Mikael membuka matanya yang berat karna dibangunkan oleh Pak Usman. Dia menunggu sesaat didalam mobil sambil memijt pelipisnya.


Sampai di Ruang tengah, istrinya sedang berjalan menghampiri Mikael. Dia terlihat senyum dengan lembut menyapa suaminya. Tidak Mikael yang menanggapinya dengan cuek. Biasanya dia akan menanggapi dengan dingin, karna masih setengah sadar, kadar wajah dinginnya tidak dapat di proses.


"Mas, mari saya bawakan tasnya!" pinta Wanita itu lembut meraih tas digenggaman Mikael.


Karna rasa kantuknya masih ada Mikael tidak melawan. Dia membiarkan wanita itu menyentuh barang miliknya.


Mereka lalu berjalan kearah tangga. Sampai didepan pintu kamar Mikael lalu membukanya. Aroma semerbak kamarnya masih tetap sama seperti 3 minggu yang lalu saat dia pergi keluar Negri.


Alula menaruh tas suaminya diatas meja samping ranjang. Dia hampiri suaminya yang duduk di pinggir ranjang.


"Mas.." kata wanita itu menyodorkan tangannya.


Mikael menyipitkan mata memahami maksud wanita didepannya. Setelah paham maksudnya, dia mengeluarkan kartu ATMnya dari dalam dompet yang ada di saku celananya lalu memberikan ketelapak tangan wanita itu.


Seketika wanita itu mengingat kejadian seminggu yang lalu saat menyodorkan tangan. Suaminya juga memberikan kartu itu padanya.


Wanita itu tersenyum lembut lalu mengambil punggung tangan suaminya kemudian menciumnya. Dia lalu menyerahkan kembali kartu yang dipegangnya ke tangan suaminya.


Mikael seketika sadar saat bibir wanita itu yang hangat menyentuh punggung tangannya. Dia lalu merubah ekspresi wajah cueknya menjadi dingin.


"Mas mau mandi pake air hangat atau biasa? Biar Al siapkan!" tanya wanita itu menatap hangat mata suaminya yang melihat tajam kearahnya.


Wanita itu kaget seketika melihat tatapan tajam dan wajah dingin suaminya yang menghiasi wajahnya. Tapi senyum lembut dan tatapan hangatnya tidak luntur lantaran hal itu.


Mikael tidak menjawab apa-apa. Dia lekas berdiri meninggalkan Al yang berdiri dengan lututnya diatas lantai.


Didalam kamar mandi. Mikael lekas mencuci tangannya. Dia lalu melepas baju yang dikenakannya kemudian membasahi tubuhnya.


Sekitar setengah jam Mikael berada di kamar mandi. Dia lalu keluar menggunakan baju kamar mandinya.


Diluar Al masih setia menunggu Mikael. Mikael lalu menatap wanita itu yang saat ini akan menghampirinya.


Mikael melihat kegugupan pada wanita itu, yang dikiranya karna tatapan menusuknya.


"Mas... Al tadi ingin mengambil pakaian Mas, tapi saat membuka lemari...Al malah melihat langsung pakaian dalam mas. Jadi... Mas mengambil sendiri ya pakaiannya.." wanita itu menundukkan wajahnya yang terlihat merona. Mikael terlihat mengerutkan dahi mendengar perkataan wanita itu. Sebelah alisnya terangkat melihat rona wajah Al.


"...jadi Al hanya bisa menyiapkan sajadah untuk sholat Isya saja," lanjutnya. Al memberanikan diri menatap wajah bingung suaminya. "Al keluar dulu ya Mas.." izinnya lalu meninggalkan Mikael yang masih terpaku ditempat.


Setelah keluarnya Al dari kamar, kesadarannya pulih kembali. Dia bingung melihat wanita didepannya tadi. Malu dan gugup hanya karna melihat pakaian dalamnya. Bagaimana jika dia melihat langsung milik Mikael? Apa wanita itu akan pingsan?


Mikael tidak memperdulikan hal kecil itu. Dia malah bersyukur. Atas kebodohan wanita itu, barang miliknya tidak disentuh.


Mikael terlebih dahulu mengeringkan rambutnya, kemudian membuka lemari mengambil pakaiannya. Dia lalu mengenakan kaos tanpa lengannya yang memperlihatkan otot-otot lengannya dan menggunakan boxer. Inilah pakaiannya ketika di rumah lebih nyaman dipakai.


Saat akan keluar kamar. Diliriknya sajadah yang sudah dikembangkan Al untuk sholatnya. Dia segera mengalihkan pandangannya lalu keluar dari kamarnya.


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih