
Happy Reading!!!
Dua mobil nampak memasuki halaman yang tanah bangunannya seluas 350 m2.
Setelah memarkirkan mobilnya tepat didepan bangunan itu. Orang yang berada didalam lantas keluar.
Dari mobil ceper berwarna hitam, keluat seorang Wanita yang keluar nampak terpanah dengan bangunan itu.
Pria yang ada disamping Wanita itu lalu memegang tangan Wanita itu yang masih diam ditempatnya.
"Ayo masuk!" tariknya lembut. Dia mengajak Wanita berkerudung besar itu masuk kedalam bangunan berwarna coklat yang ada didepan.
"..ah iya, Kak.." kagetnya yang tak menyangka Pria yang semobil dengannya memegang tangannya.
Para Pria yang berada dibelakang pasangan itu tersenyum simpul, melihat tindakan dari si Pria.
Mereka merasa senang melihat perubahan sikap Pria itu yang semakin lembut kepada Wanita yang digandengnya.
Pria berambut pirang yang merupakan Ghifari menolehkan kepala, kesamping kirinya. Dirinya mengerutkan dahi melihat wajah Yuan yang nampak kesal.
"..kenapa lo Yuan? Muka lo kelihatan bete bangat.." tanyanya.
"Gak papa, gua cuman kesal aja liat kemesraan mereka.." jawabnya masih dengan pandangan kedepan.
"..jangan-jangan lo kesal karna masih suka sama Al.." sangkanya.
Pria bernama Yuan itu lantas melihat kearah Pria yang menuduhnya itu.
"Tenang aja, gua udah gak ada perasaan lagi sama Al. Hanya saja.." jelasnya yang terhenti.
"Gua kesal karna mereka bermesraan didepan gua yang jomblo ini.." lanjutnya dengan tatapan tajam kearah orang yang dimaksud. Lantas Pria berambut pirang tertawa melihat wajah Pria disamping yang terlihat sangat lucu baginya.
Pria berambut hitam pendek yang ada disamping kedua Pria itu juga ikut tersenyum. Karna perkataan Yuan.
"..makanya nikah, jangan kerjanya jadi play boy yang mainin cewe aja.." ledeknya.
Ucapan itu malah membuat Pria berambut pirang kembali tertawa.
Pria bernama Yuan itu mendengus kesal. Tapi, dia juga membenarkan perkataan Pria itu yang mengatakan dirinya yang serinh bermain main dengan para Wanita.
Masuknya kedalam bangunan itu, Kedua pasangan yang gandengan itu disuguhnya dengan para Pria beroti sobek.
Hal tersebut membuat si Wanita segera menundukan pandangannya sedang si Pria langsung berdiri didepannya.
Melihat pemilik bangunan itu masuk si Pria berambut gondrong berkata.
"Dimana privat roomnya!" serunya.
Pria yang ditanya itu menunjuk kearah atas dengan kepalanya.
Lantas pria berambut gondrong dan Wanitanya mengikuti, Pria berambut hitam menuju kelantai dua.
###
Al terlihat menatap seisi ruangan yang berisi alat olahraga seperti samsak, target dan alat lainnya.
Tak lama para Pria yang tadi izin untuk mengganti pakai lalu keluar dengan baju kaos berlengan pendek.
Mereka berjalan ketengah ruangan untuk melakukan pemanasan agar otot-otot mereka tak kaget saat melakukan olahraga berat.
Usai pemanasan ringan selama 5 sampai sepuluh menit dimulailah latihan mereka dengan meninju dan menendang ke udara.
Setelah melakukan gerakan ringan lainnya. Beni pergi mengambil sesuatu yang disimpan dilemari. Dia mengambil alat pelindung dan handwrap.
Setelah membagikannya, dimulailah olahraga mereka secara berpasangan, Ghifari dengan Yuan sedangkan Mikael dengan Beni.
###
'Bug bug pak pak'
suara pukulan dan tendangan memenuhi ruangan yang berisi lima orang tersebut.
"Hahhhhahh..hahhh.." suara nafas Yuan dan Ghifari nampak memburu.
Tidak dengan pasangan tanding Beni dan Mikael yang nafasnya masih stabil.
"..Hahh..hahh..Ghifari, ..gua udah gak kuat!" serunya terengah-engah.
"..hahhhh..hahh..sama gua juga.." balasnya.
Mereka lalu melepaskan alat pelindung dikepalanya kemudian merebahkan dirinya dikarpet, sambil mengatur nafas yang sejak tadi memburu.
Merasa kasihan dengan kedua Pria itu, Al mengambil dua botol air minum yang ada di dekatnya lalu membawanya kearah Pria yang menelantangkan tubuhnya itu.
"Kak, minum dulu!" serunya memberika dua botol tersebut.
Yuan yang melihat, segera duduk lalu mengambil dua botol tersebut. "Terimakasih, Al.." ucapnya.
Dia lalu meneguk air itu untuk membasahi tenggorokannya dan juga mengganti mineral ditubuhnya yang hilang.
Setelah meneguknya sampai setengah, dia memberikan botol satunya pada Ghifari yang masih tiduran dengan mata tertutup.
Ghifari membyka matanya.
"..ahhh.." ucapnya menerima air botol itu.
"Itu minum buat lo, diambilin sama Al.." ucapnya.
Ghifari lalu melihat kearah Al. "Terimakasih.." katanya dengan senyum tipis karna masih kelelahan. Al kembali menganggukan kepalanya, dia lalu kembali ketempat duduknya.
Wanita bercadar itu melanjutkan melihat Beni dan suaminya yang sedang tinju meninju dan tendang menendang.
Dia memperhatikan gerakan Beni yang sedikit lebih cepat dibanding suaminya. Tapi untuk ketepatan memukul dua-duanya sama.
Apalagi saat memukul, dia tak menyangka tenaga suaminya cukup kuat. Bisa membandingin Beni yang merupakan atlit karate.
"...?" Al memperhatikan gerakan Pria berambut hitam pendek. Dia merasa gerakan Pria itu mulai melambat dan tak ada perlawanan.
'Bak bug pak bug'
Mikael menyerang Beni dengan bertubi-tubi. Pria itu memojokkan Beni yang mulai kewalahan.
"..stop! Stoooppp..hahhahhh.." Beni terduduk diatas karpet olahraga itu. Dia tak kuat untuk menyanggupi serangan Mikael yang bertubi-tubi.
Melihat Pria itu terduduk dan nafasnya sudah tak stabil sama dengan dirinya. Mikael menghentikan serangannya, dia mengikuti Pria itu duduk.
Dengan inisiatif, Al mengambil dua botol air kembali dan juga handuk kecil milik Mikael yang tadi dititipi padanya.
Setelah itu, dia baru berjalan kearah Beni dan Mikael.
"Kak, ini minumnya!" serunya menyerahkan minum pada Beni yang dilewatinya.
"...terimakasih..Al.." ucapnya menerima sebotol air.
"Sama-sama, Kak.." balasnya yang lalu berjalan kearah Mikael.
Al lalu duduk tempat disamping Pria itu yang saat ini sedang melepas pelindung dikepalanya.
"Kak, Minum.." ucapnya memberikan botol yang telah dibuka tutupnya.
"..terimakasih.." ucapnya yang menerima minum itu lalu segera menegaknya.
Melihat banyak keringat yang berkucur dari dahi suaminya, Al mengeluarkan handuk kecil yang dipegangnya lalu mengelap dahi, wajah dan leher Pria bergondrong itu.
Yuan yang melihat pemandangan itu, lantas mendekati Ghifari yang ada disampingnya.
"Ghifari!" panggilnya kencang membuat orang yang ada diruangan itu menengok kearahnya.
"Lapin keringat gua juga dong, kayak pasangan disana.." pintanya sambil menunjuk kearah Al yang saat itu sedang mengelap keringat Mikael dibagian lehernya.
Ghifari yang paham akan maksud Yuan langsung menimpalinya.
"...ohh mau dilapin ya. Sini gua lapin pake baju gua.." katanya yang ingin melepas kaosnya yang sudah basah dengan keringat.
"Ogah!" serunya. Dia segera menjauh dari Ghifari.
"Romantisan dikit ngapa kayak mereka.." balas Yuan.
Ghifari hanya menyengir membalas dumelan Yuan. Begitu juga dengan Al dan Beni yang ikutan tertawa pelan tidak dengan Mikael yang hanya tersenyum tipis.
"Ben, ayo mulai lagi!" ajak Mikael yang ingin mengenakan pelindungnya kembali.
"..enggak deh Mikael, gua gak sanggup lagi.." balasnya mengangkat kedua tangannya.
"..mending lo lanjut sama Ghifari dan Yuan yang udah istirahat daris tadi.." tunjuknya kearah dua cowok yang masih bercanda disana.
Ghifari dan Yuan yang sedang bercanda lantas terdiam. Mereka melihat kearah Beni yang tersenyum.
"Ben, kenapa jadi kita yang lawan Mikael.." ucap Ghifari.
"Benar, bisa-bisa sebelum mulai kita udah bonyok!" timpal Yuan.
"Tenang aja kalian enggak vakal bonyok, lagi pula kalian kan pake pelindung.." ucapnya menunjuk kearah pelindung milik mereka yang tergeletak dikarpet.
Mikael nampak diam, lalu melihat kearah dua sahabtnya yang tak mau melawannya.
"Baiklah!" setuju Mikael.
"Ayo Yuan, Ghifari kita mulai!" serunya yang sudah berdiri.
"..? Guakan belum setuju!" seru
"Gua juga!" timpal Ghifari. Mereka masih nampak duduk tak mau memakai pelindung kembali apalagi bergerak.
"Sebaiknya kalian mau sekarang, sebelum tenaga gua balik lagi. Siapa tau kalian bisa menang.." ucap Mikael.
Yuan berfikir sejenak. Dia lalu mendekatkan bibirnya kearah kuping Ghifari.
"Ghifari, benar juga noh. Siapa tau kita menang.." bisiknya.
"Lagipula kita berdua.." lanjutnya.
"...bukannya lo tau sendiri kemampuan Mikael. Beni aja yang atlit kalah, gumana kita?" balasnya. Yuan membenarkan perkataan Ghifari.
"Tapi, kita coba dulu. Siapa tau kita menang beneran.." ucapnya kembali. Yuan lalu tersenyum.
"Kalian bisik-bisik apaan sih, lama bener!" seru Beni.
Yuan lalu mengarahkan matanya kearah Beni. "Rahasi!" seru Yuan.
Selanjutnya dia melihat kearah Mikael.
"Oke kita setuju!" serunya kembali yang lantas mengambil pelindung segera memasannya dikuti Ghifari.
Al yang mengetahui mereka akan mulai kembali, lantas kembali kebangkunya, dia membawa kembali minum milik suaminya dan handuk kecil.
Ketiga Pria itu sudah mengenakan pelindung masing-masing dan sudah berdiri saling berhadapan.
"Kalian siap! Satu, dua, mulai!" hitung Beni yang segera menghindar agar tak kena tendangan Yuan yang langsung dilayangkan.
Dia menggelengkan kepalanya melihat Yuan dan Ghifari bekerja sama menyerang Pria gondrong itu.
Diarahkan matanya kearah Al yang menatap kearah ketiga orang itu. Dia lalu berjalan kearah bangku yang diduduki Al. Dia duduk berjarak dua bangku dari Wanita bercadar tersebut.
"..apa kamu juga ingin ikut bermain?" tanya Beni tiba-tiba.
Al segera menengok kearah suara lalu tersenyum sedikit kemudian melihat kedeoan kembali.
"Aku sudah hampir setahun tidak melakukannya.."
Pria berambut hitam pendek itu terdiam. Dia lupa jika Wanita itu sudah keluar dari klub sejak setahun yang lalu.
"..Al aku senang bisa melihatmu kembali!" seru pelan Pria itu.
Al kembali menengok sekilas kearah Pria disebelahnya lalu kembali melihat ke depan.
###
Mikael melirik kearah Al. Dia memperhatikan Wanita disebelahnya yang terdiam sejak tadi.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Mikael, saat mobil meninggalkan halaman.
"...ah tidak apa-apa kok, Kak.." balasnya menatap kearah Mikael sejenak lalu kembali melihat kedepan.
Mikael kembali melirik sekilas kearah Al yang menyandarkan kepalanya ke bangku yang didudukinya. Pria itu lantas diam tak bertanya kembali.
Sebenarnya masih ada pertanyaan yang ingin ditanyakan, seperti saat dirinya sedang melawan Ghifari dan Yuan.
Ketika melawan dua sahabatnya tadi, dia melihat Al dan Beni sedang bercakap-cakap walau mata mereka melihat kearah depan. Tetapi bibir mereka nampak sedang berbicara satu sama lain.
###
Sampailah mobil yang dikendarai Mikael dihalaman rumahnya. Pasangan pasutri itu lantas turun dari mobil kemudian melangkah kedalam rumah.
"..Kak El ingin makan dulu atau beristirahat.." ucap Al saat masuk kedalam rumah.
"..sepertinya aku akan beristirahat dulu.." balas Pria itu.
Kemudian hening kembali. Kedua orang itu melanjuti menaiki tangga kearah kamar.
Tepat didepan kamarnya Al berhenti begitu juga Mikael yang ikutan berhenti.
"Kak El, terimakasih ya sudah mengajak Al keluar hari ini.."
"..tidak masalah, kenapa berhenti disini? Kita tidak ke kamar.." ucapnya sambil menunjuk kearah kamar miliknya.
"..Al ingin mengganti baju dulu. Soalnya baju Al bau keringat.." balas Wanita itu.
"..oh..kalau begitu aku duluan.." ucap Pria itu yang melangkah ke kamarnya.
Melihat suaminya meninggalkannya, Wanita itu segera masuk kedalam kamarnya. Dia meletakkan tas yang dipegangnya keatas kasur lalu merebahkan dirinya yang bagian tubuh atas diatas kasur sedang bagian bawah tubuhnya mengambang.
Ditatapnya langit-langit kamarnya. Fikirannya kembali melayang ke pembicaraan dirinya dengan Pria berambut pendek hitam tadi.
Flashback On
Beni kembali melirik Al yang masih menatap lurus kedepan.
"Kenapa kamu tak mengatakan prihal dirimu saat pertama kali kita bertemu?"
Wanita itu terdiam sejenak lalu menundukan kepalanya.
"..saat itu aku belum siap.." balasnya.
"..karna aku tak menyangka kalau Kak Beni juga berada disana.." lanjutnya yang kemudian mengangkat kepalanya kembali.
"Apa kamu masih marah denganku?" tanyanya melihat kearah Al.
Wanita itu lalu menengokkan kepalanya kearah Pria disebelahnya.
"..aku tidak marah kok, Kak.." jawabnya, tapi Pria itu bisa melihat jelas kekecewaan dimata coklat itu.
Al kembali mengarahkan wajahnya kedepan melihat duel suaminya dengan kedua sahabatnya.
Walau tatapannya kedepan, tapi pikirannya saat ini berkelana.
"Maaf!" seru Pria itu kemudian.
"..Kakak tak perlu meminta maaf, Kakak sama sekali tak salah. Yang salah Al yang saat itu terlalu ketergantungan pada Kakak.." balasnya.
Pria itu lantas terdiam, wajahnya nampak mengguratkan penyesalan. Mengingat kejadian setahun silam yang dimana dia mengabaikan panggilan Wanita itu dan kemudian mengemolinya.
Padahal dirinya sendiri yang berjanji akan menjaga Wanita itu, tapi dia malah meninggalkannya.
Dari kejauhan Mikael yang sedang tanding dengan Ghifari dan Yuan, nampak tak konsen. Terlihat dari matanya yang selalu melihat kearah Al dan juga Beni.
"Bug!" suara terjatuh terdengar jelas.
Al yang melihat itu lantas segera berdiri lalu berlari kearah Pria itu yang masih terduduk.
"Kak El, tak papakan?" tanyanya.
Pria yang ditanya diam, dia memperhatikan gestur tubuh Wanita itu yang saat ini sedang melihat luka ditubuhnya.
Saat matanya bertemu dengan mata Wanita didepannya terlihat jelas sirat ke khawatiran di iris coklat tersebut.
"Aku tidak apa-apa kok.." balas Pria itu kemudian.
Mendengarnya Al berbafas lega, karna dia sendiri juga tak menemukan lebam diwajah suaminya. Padahal dia sendiri melihat Pria itu terkena pukulan di wajah dan perutnya.
"Tenang saja Al, Mikael tak akan terluka hanya dengan pukulan pelan tadi!" seru Beni yang jalan mendekat.
Ghifari dan Yuan berdecih kesal, karna pukulan mereka dibilang pelan.
Al lalu melihat kearah Mikael yang tersenyum tipis sambil menganggukan kepala.
Perkataan Beni betul, dengan pukulan lemah tadi, Mikael tak mungkin terluka.
Sebenarnya bisa saja tadi dia menghindar sepenuhnya pukulan itu, tapi hanya saja matanya sedang melihat kearah Wanita disebelahnya, membuatnya terkena sedikit pukulan dan terjatuh karna kakinya tak seimbang.
"bagaimana? Lo mau lanjut lagi?" tanya Yuan pada Mikael yang masih terduduk.
"Gua up! Kali ini gua ngaku kalah sama kalian!" serunya.
Ghifari dan Yuan nampak tak percaya, posisinya saat ini mereka yang jauh kelelahan dibanding Pria yang sedang duduk itu.
Tapi mereka menyetujuinya karna Pria itu sendiri yang mengaku nyerah.
"Berarti kita menang!" seru Yuan. Mikael mengangguk pelan.
Yuan tersenyum senang, begitu juga Ghifari. Walau ke menangan mereka bukan karna mengalahkan Mikael tak masalah yang penting menang, batin mereka.
Mikael lalu berdiri dibantu dengan Al.
"Gua mandi duluan ya!" seru Pria itu.
"..gua juga ikut, badan gua udah lengket bangat.." balas Yuan.
"Gua juga.." timpal Ghifari. Pria itu lalu melihat kearah Beni.
"Lo enggak mandi?"
"..gua mandi kok, tapi setelah merapikan peralatan ini.." jawabnya.
Ketiga Pria itu lalu pergi meninggalkan Al dan Ghifari di ruangan besar itu.
Al yang tahu, jika bukan dengan mahromnya tak boleh berduaan, karna takutnya orang ketiga adalah setan, lantas berjalan kearah pintu.
Beni yang melihat Al menjauh segera memanggilnya, "Al, kamu mau kemana?"
Wanita itu lalu menengok, "Aku mau keluar, Kak.." balasnya.
"..ada yang ingin aku bicarakan.." ucapnya.
"..kalau begitu, bagaimana kalau kita ngobrol di luar.." ucap Al menunjuk kearah pintu keluar.
"Baiklah, aku merapikan ini terlebih dahulu.." ucapnya yang diangguki Al lalu keluar pintu.
Usai merapikan alat pelindung dan handwrap yang diletakkan sembarang oleh ketiga temannya, Pria itu lalu berjalan keluar ruangan tersebut.
Dia mencari sosok Al yang terlihat duduk dibangku yang ada didekat tangga.
Pria itu berjalan menghampiri Wanita itu. "Maaf ya lama.." ucapnya lalu duduk dengan beberapa jarak dari Al.
"Tidak kok, Kak.." balasnya.
"..." Beni nampak befikir ingin berkata apa. Dia benar-benar merasa bersalah dengan Wanita disebelahnya.
"..sekali lagi aku mau minta maaf prihal perkataanku setahun silam.." balasnya.
"..dan mengabaikan panggilanmu.." lanjutnya.
Al masih nampak diam tak berkata.
"..aku memiliki alasan karna bersikap seperti itu.." ucapnya.
Mendengar ucapannya, Al lalu menengok kearah Beni yang nampak tertunduk.
"..saat hari dimana kamu menelpon, saat itu aku mendapat kabar..bahwa aku tak bisa menjadi atlit kembali.." ceritanya.
Al nampak kaget membulatkan mata tak percaya.
"..ke..kenapa, Kak?" tanyanya gugup.
"..karna cedera ringan di kaki yang kuanggap remeh, ternyata itu berakibat fatal.." balas Pria itu.
Beni lalu menjelaskan tentang cedera di kakinya yang ternyata merupakan saraf kejepit akibat jatuh dari motor, karna hal tersebut dia tak bisa ikut bertanding.
Walau sekarang penyakit itu telah sembuh, tetapi dia tak bisa kembali, karna tubuhnya yang sudah kaku dan pola hidupnya yang sudah tak sesehat dulu.
Al terdiam mendengar runtutan cerita yang diucapkan Beni.
Awalnya dia berfikir jika Pria disebelahnya, merasa kesal karna dirinya selalu bergantung. Ternyata alasan sebenarnya karna hal tersebut.
Dia juga menceritakan prihal dirinya yang sangat depresi, sampai-sampai membuang kartu HPnya agar tak ada orang yang bisa menghubunginya. Alhasil semua kontaknya hilang termasuk kontak nomor Al.
"Setelah mengetahuinya bahwa aku tak bisa menjadi atlit. Rasanya duniaku hancur dan gelap yang kurasakan. Cukup lama aku seperti iti, sampai Mikael datang menghampiriku dan menceramahiku dengan macam-macam perkataan. Agar aku mau berobat dan melanjutkan hidupku.." katanya. Dia lalu mengembangkan senyum mengingat motivasi dari Pria itu.
Mendengar nama suaminya, berarti Pria disebelahnya nampak sudah lama kenal. "..jadi Kakak sudah lama kenal dengan, Kak El?" tanyanya.
"..yahhh sekitar dua tahunan.." jawabnya.
"..kami bertemu secara tak sengaja. Saat itu ada pencurian, di sebuah cafe. Aku yang saat itu berada di Cafe melawan pencuri itu seorang diri. Ternyata Mikael berada disana juga, dia lalu memintaku menjadi teman sparring dengan bayaran perdatang.." cerita awal pertemuan dengan Mikael.
"Ahhh.." angguk Al paham.
Beni lantas kembali mengingat, hal yang ingon ditanyakan pada Al.
"Oh iya Al, setahun yang lalu apa yang sebenarnya kamu katakan. Aku tak begitu mendengarnya karna saat itu pikiranku mengambang?"
Al nampak diam, lalu berkata, "...bukan apa-apa, Kak. Hanya masalah kecil.." balas Wanita itu.
Dia merasa tak perlu menceritakan hal lalu yang malah akan mengingatkannya pada kenangan buruk.
"Benar, seingat Kakak saat itu kamu menangis karna suatu hal.." ucapnya.
"..mungkin, Kakak salah ingat.." balas Al sambil menyengir.
Flashback Off
"Maaf Kak, aku tak ingin menjadi bebanmu kembali.." gumam Al yang lalu mengangkat bagian tubuh bawah atasnya keatas kasur.
Wanita itu lalu meringkukkan tubuhnya kemudian memejamkan mata.
###
'Cklek' pintu terbuka menampaklan sosok Mikael. Dia melihat kearah kasur yang terdapat isteinya disana.
Ditutupnya kembalilah pintu tersebut lalu berjalan mendekat kearah ranjang.
Mikael lalu merendahkan tubuhnya dengan menopang diatas lutut, ditatap wajah istrinya yang memejamkan mata.
"Bisa-bisanya kamu tertidur tanpa mengganti pakaian terlebih dahuli.." gumamnya tersenyum lembut.
Jangan lupa tinggalkan tanda untuk menyemangati SMIM.
karna tandamu sangat berharga.
salam hangat SMIM