Friends After Marriage

Friends After Marriage
Kejadian panas di Apartemen 2



Happy Reading!!!


'Ting Tong'


Suara bel berbunyi, pemilik apartemen lantas segera mengenakan pakaian luarnya lalu membuka pintu.


'Cklek'


Pintu terbuka menampilkan sosok Prempuan bercadar.


Si pemilik apartemen lantas kaget dengan sosok Wanita itu yang kedatangannya sangat cepat.


"Assalamu'alaikum.." salam Al kearah sahabatnya itu.


"..wa'alaikumsalam.." balasnya.


"..Al kamu naik apa kesini, kok bisa sampe cepat bangat.."


"..sepertinya kita baru berkirim pesan lima belas menit yang lalu.." ucapnya merasa kaget.


Al hanya tersenyum saja lalu berkata, "Tentu naik mobillah Via.." balasnya.


"...aku boleh masuk.." ucapnya yang belum diizinkan masuk oleh pemilik rumah.


"...aaa iya, maaf Al. Silahkan masuk!" balasnya yang membuka pintu lebar.


Via lalu mengajak Al ke ruang TVnya.


Via segera menyiapkan minuman dan cemilan untuk sahabat itu.


Disana mereka lalu ngobrol, sharing ilmu dan saling curhat satu sama lain.


Karna cukup lama mereka tak bertemu.


Di tempat lain, Mikael yang ditinggal sendirian di apartemen nampak bosan.


Dia menatap kearah berkasnya yang sudah selesai dikerjakan semuanya.


"Ahhhhh...Al kamu lama sekali.." gumamnya menghembuskan nafas panjang.


Sudah dua jam lebih, istrinya itu meninggalkannya sendiri di apartemen.


Ingin rasa dirinya segera menelpon Wanita itu untuk menyuruhnya segera pulang, tapi ketika mengingat wajah senangnya saat diizinkan ke rumah sahabatnya, rasanya tak tega jika menyuruhnya pulang.


"Aaahhhhh.." kembalinya menghela nafas panjang.


Pria itu lalu beranjak dari posisi duduknya. Diarakan kakinya ke kasur untuk merebahkan tubuhnya.


Saat akan memejamkan mata sejenak, seketika HPnya berbunyi. Menandakan masuknya telepon dari seseorang.


Diraih HPnya yang berada diatas meja kecil samping kasur, lalu melihat panggilan yang berasal dari Sekretarisnya Alula.


Mikael nampak diam sejenak lalu mengangkat panggilan tersebut


"..selamat siang Pak Mikael.." sapa lembut suara disebrang yang terdengar gugup.


"..maaf Pak mengganggu waktunya.." ucapnya kembali yang kembali terputus.


"...ini Pak, saya sudah mengatakan kepada kolega bisnis kita dari perusahaan X...kalau misalnya pekan ini Pak Mikael tak bisa diganggu, tapi beliau tetap ingin bertemu dengan Bapak sekarang.." beritahunya.


Mikael nampak diam sejenak memikirkannya, tak lama dia berkata, "Memangnya beliau ingin bertemu dimana?"


"..tempatnya di XXX.." jawab Alula.


Mikael mengetahui Cafe tersebut, tempatnya tak jauh dari apartemennya sekarang.


"Baiklah, saya akan kesana sekarang, jadi kamu beritahukan kepada kolega bisnis kita itu.." balasnya yang lalu menutup telpon.


Pria itu lantas segera bersiap-siap untuk ke tempat tujuannya tersebut.


###


Seorang Wanita jika sudah mengobrol, tentu tidak mengenal waktu.


Itulah yang dirasakan Al saat ini, tak terasa dia sudah meninggalkan suaminya di apartemen sebelah selama empat jam.


"..Al, ayo kita sholat asar, sudah waktunya.." ajak Via yang melihat bunyi tandanya masuk sholat dari HPnya.


Al terkaget, "...su..sudah asar.." balas Al tak percaya. Via menganggukan kepala mengiyakan.


Al lantas langsung segera mengambil HPnya dari tasnya, takutnya Pria itu sudah mengiriminya pesan.


Sayangnya, dia tak melihat Hp yang dicarinya.


"..pasti ketinggalan.." batinnya.


"..kenapa Al?" tanya Via melihat kerisauan Al.


"..ini, aku tadi niatnya sebentar kesini tapi jadi kelamaan.." balas Al.


"..sebelum kesini, kamu izinkan sama suamimu?" tanya Via kembali. Al menganggukan kepala.


"..yasudah, setelah sholat Asar kamu langsung pulang saja. InsyaAllah suamimu paham kamu pulang telat.." ucap Via. Al menganggukan kepala mengiyakan.


Kemudian, usai sholat Asar. Al segera berpamitan pulang pada Via.


"Al, benarnih kamu gak mau aku antar sampai bawah?" tanyanya memastikan.


"..iya, Vi..tidak usah.." balasnya yakin.


"..aku pulang ya, Assalamu'alaikum.." salamnya lalu Al keluar dari pintu rumah tersebut.


"Wa/alaikumsalam, hati-hati ya Al.." balasnya.


Keluar dari rumah Via, Al mendengar suara langkah kaki seseorang yang berasal dari arah lift.


Disana, dilihatnya sosok Pria muda mendekat yang terlihat blasteran karna perawakannya tinggi dan wajahnya terlihat campuran.


Al menebak-nebak, usia Pria itu sementara dengan Ahmad yang terlihat dari wajahnya.


Saat berhenti, didepan pintu kamar yang berada disebrang kamar Via. Pria muda itu menganggukan kepala kearah Al yang langsung segera dibalas Al dengan anggukan juga.


Setelah itu, Al lalu berbalik berjalan kearah pintu apartemen yang menghadap lift.


###


Cafe XXX


"Terimakasih atas waktunya, Tuan Mikael.."


"..saya senang berbisnis dengan anda.." ucap seorang Pria yang menjulurkan tangannya kearah Mikael.


Mikael mengembangkan senyum.


"Terimakasih, saya juga senang berbisnis dengan anda Pak.." balasnya yang juga menjulurkan tangan.


Bapak tua itu lalu bangkit dari tempat duduknya diiukti Mikael.


Pria itu lalu berpamitan pulang dengan Mikael dan juga Alula.


Seperginya Pria tua itu, Mikael kembali menduduki kursinya. Diikuti Alula yang juga kembali duduk.


"Pak Mikael, terimakasih sudah meluangkan waktunya hari ini.." ucapnya senang.


"..iya.." balasnya singkat.


"..kalau begitu Pak, saya izin pamit pulang juga ya.." ucap Alula yang beranjak berdiri kembali.


Mikael lalu melihat kearah Alula, kemudian berkata


"..terimakasih juga, Nona Alula.." ucap Mikael datar.


Alula tertegun mendengar ucapan makasih Bosnya yang sangat langka.


"..iya Pak, sama-sama.." balasnya senang.


Wanita itu lalu mengucapkan salam kemudian pergi meninggalkan Mikael.


Sesudah Alula pergi Mikael segera mengambil HPnya dari dalam jasnya. Dia langsung memeriksa pesan masuk.


Tapi sayangnya pesannya belum dibaca, tentu tak ada pesan dari orang yang di tunggunya.


"..aaahhhh.." helanya berat.


***


Seorang Wanita berambut pendek nampak melewati sebuah meja yang berisi, Pria berpakain jas yang duduk disana, dia seketika terdiam melihat Pria yang sedang duduk sambil memegang HPnya.


"...aaa kamu...suaminya Almasah kan?" tanyanya memastikan.


Mikael lalu mengalihkan pandangannya kearah Wanita itu.


"...? "


Mendapati tatapan yang seperti tanda tanya, Wanita itu kembali berkata.


"..saya temannya Almasah.."


"..kita pernah ketemu sekali beberapa waktu lalu, saat di Resto di XXX.." beritahunya.


Mikael mengingat-ingat wajah Wanita itu yang memang, nampak tak asing.


"....akh.." ingatnya, dia lalu menatap kearah Wanita itu yang nampak tersenyum menyadari dirinya telah mengingatnya.


###


Seorang Pria mudah masuk kedalam apartemennya, dia lantas segera berjalan kearah teman satu kuliahnya dengan tangan sambil menenteng sekantong belanjaan berukuran sedang berisikan cemilan.


"..nih snaknya.." berinya pada Pria yang usianya sebaya dengannya.


"Terimakasih.." balas Pria yang memegang leptop itu senang.


Pria yang memegang leptop itu lalu meletakkan leptopnya, kemudian mengambil kripik kentang lalu membukanya.


"..oh iya Fiq, gua masih enggak nyangka loh, kalau lo tetanggan sama Kakak ipar gua.." ucapnya lalu memasukkan keripik kentang kedalam mulutnya.


'Kraus kraus kraus'


'glek'


"..soalnya, selama ini gua gak pernah liat tentangga apartemen Bang Ilham, kecuali tentangga yang pintunya menghadap lift.." lanjutnya.


"..hhmmm..gua emang jarang tinggal disini. Makanya lo enggak pernah lihat gua.." balasnya santai.


"...ngomong-ngomong Ahmad, Kakak lo akrab bangat ya sama tetangga sebelah.." ucapnya.


"..maksud lo?" tanyanya tak paham.


"..tadi pas gua keluar dari lift, gua liat tetangga apartemen sebelah kelur dari apartemen lo.." jelasnya.


"..hahaha..mana mungkin Fiq, Kakak Prempuan gua tuh mana mungkin selingkuh sama tetangga sebelah.." tak percayanya.


"...? Emang gua bilang selingkuh? Gua cuman bilang kalau tetangga sebelah tadi, keluar dari apartemen lo. Lagi pula yang main seorang Wanita bercadar.." jelasnya pada Pria didepannya.


"..Wanita bercadar!" ulangnya kembali.


"..iya.." angguknya.


Ahmad lantas segera beranjak dari posisi duduknya kemudian berlari kearah pintu.


"...ehhhh lo mau kemana? Tugas kita belum selesai?" teriak Pria pemilik apartemen.


Ahmad terdiam sejenak lalu berbalik.


"Gua pulang sebentar.." ucapnya lalu keluar dari apartemen itu.


Setau Ahmad, Kakaknya hanya dekat dengan satu Wanita bercadar, yaitu Al.


Makanya dirinya ingin memastikan siapa yang datang.


Keluarnya dari apartemen sahabatnya itu, Ahmad segera masuk kedalam apartemen didepannya, dia mencari sosok Kakaknya.


"..Kak Via!" panggilnya, karna sosok tersebut tak dilihatnya.


"..Kak Vi..." panggilannya berhenti ketika melihat sosok tersebut keluar dari kamarnya.


"..ada apa Ahmad, kamu panggil-panggil Kakak kayak gitu.." ucapnya bingung.


"Harusnya, kamu ngucapin salam bukan teriak-teriak sperti tadi..." katanya mengingatkan.


"...maaf Kak.." balasnya.


"..Assalamu'alaikum.." salamnya yang telat.


"..wa'alaikumsalam.." balasnya.


"..ada apa, tadi kamu manggil-manggil Kakak?"


"..tadi, siapa Kak yang dari sini?" tanyanya to the point.


"...? Tau dari mana kamu ada yang datang kesini, bukannya kamu ke rumah temanmu?" tanyanya kembali.


"..aku emang di rumah temanku, tapi rumah temanku..tetangga apartemen ini. Tepatnya disebrang.." jawabnya.


"...ohhh rumahnya disini, pantas.." balas Via kaget.


"..akhmm..jadi tadi kamu nanya apa?" tanyanya kembali.


"..aku mau tau, siapa Wanita bercadar yang datang ke rumah, tadi?"


"..apa dia Kak Al?" tebabnya yang berharab salah.


Ahmad berharap jika yang datang tadi bukan teman akrab Kakaknya.


"..iya, memangnya kenapa?"


"..tidak, aku malah berharap itu bukan Kak Al..karna jika benar..laki-laki berambut gondrong itu merupakan suami Kak Al.." ucapnya.


Via mengerutkan dahi tak mengerti apa yang dikatakan adeknya.


"..maksudmu apa Dek, Kakak gak paham.."


"..jadi tadi, temanku saat keluar dari lift melihat Kak Al keluar dari apartemen Kakak. Setelah itu, Kak Al masuk kedalam pintu apartemen yang ada didepan lift.." jelasnya.


Via lantas terdiam, dia mengingat saat Al datang.


"..pantas dia cepat sampe, rupanya.."


"..Kak, bagaimana kalau kita memastikannya? Siapa tau temanku salah?" ajaknya.


"..baiklah, Kakak ganti baju terlebih dahulu.." balasnya yang lalu kembali ke kamarnya.


Via merasa, tanpa dibuktikan. Dia merasa ucapan adeknya benar, karna Wanita bercadar yang keluar dari rumahnya hari ini hanyalah Al.


###


'Tit' pintu apartemen ke buka setelah Al memencet pinnya.


"Assalamu'alaikum.." salamnya.


Diarahlan matanya ke selurih apartemen mencari sosok suaminya yang tak terlihat.


"..Kak El, mungkin di kamar.." ucapnya yang lalu berjalan kearah kamar.


Saat membuka kamar sama saja tak ada sosok suaminya.


"...oh iya HP.." gumamnya.


Diedarkannya pandangannya mencari HPnya yang ketinggalan.


Tapi sayangnya, dia tak menemukan HPnya yang ada di kamar.


"..dimana ya, aku meletakkan HP.." gumamnya.


Dia lalu mengingat-ingat terakhir memegang HP, saat sedang membaca buku di atas kasur.


Diarahkan kakinya kearah kasur lalu mengibaskan seprai, ternyata benar HP nya ada diatas kasur ditutupi selimut.


Diraihnya HP tersebut lalu membuka kotak pesan yang terdapat dari suaminya.


"..Al aku keluar, ada urusan mendadak. Kamu di rumah temanmu saja. Kalau sudah selesai, aku akan menghubungimu.." ucap pesan tersebut.


"..Kakak keluar ya.." batinnya.


Dia lalu melepas kerudungnya kemudian merebahkan tubuhnya diatas kasur.


'Ting tong' suara bel dari pintu depan membuat Al kembali mendudukan tubuhnya.


Diaraihnya kerudungnya yang diletakkan sembarang lalu menggunakannya.


Diarahkannya kakinya menuju pintu depan.


'cklek'


Pintu terbuka menampakkan sosok orang yang memencet bel.


Tamu maupun sipemilik rumah sama-sama terdiam.


'Glek' Al menepan slavinanya, dia kaget dengan tamu didepannya yang ternyata Via dan Ahmad.


Sedang dua orang yang ada didepannya lalu tersenyum terpaksa, saat mendapati kebenaran didepannya.


"Assalamu'alaikum Al, maaf ya aku dan adekku mengganggu.." ucapnya yang berniat pamit.


Tidak dengan Ahmad yang bingung dengan pikiran Kakaknya.


Al masih tetap diam memperhatikan sosok didepannya mulai berbalik.


Saat akan berjalan Al segera tersadar lalu berkata. "..wa'alaikumsalam.." jawabnya.


"..tunggu, kalian tidak ingin masuk dulu.." lanjutnya.


Kedua orang tersebut lalu menghentikan langkahnya kemudian berbalik.


Via nampak berwajah sedih, lalu melangkah kearah sahabatnya itu.


Wanita itu lalu memeluk sahabatnya kemudian berkata, "Kenapa kamu merahasiakannya?" ucapnya.


Al terdiam sejenak mengembangkan senyum tipis. Dia membalas pelukan sahabatnya itu lalu berkata, "Maafkan aku.."


Ahmad yang berada disana merasa seperti nyamuk, diantar dua Wanita itu.


"...aaa Kak maaf mengganggu, Ahmad balik kerja kelompok ya.."


Pamitnya yang lalu meninggalkan dua Wanita itu.


"..ini jauh lebih baik, dari pada disana aku hanya sebagai nyamuk. Penjelasannya nanti bisa kutanya, pada Kak Via.." batinnya yang berjalan kearah pintu apartemen teman kuliahnya.


###


"..jadi kamu juga baru diajak sama suamimu, kemarin.." ucap Via setelah mendengar penjelasan Al.


"..iya, aku baru diajak suamimuku kemarin.." balasnya memberikan senyuman.


"..walaupun aku taunya sudah lama, tapi Kak El baru memberitahunya sekarang.." batinnya.


"..terus, kenapa kamu selama ini selalu menyembunyukan wajah suamimu dariku.." ucapnya kembali.


"...aku takut.." balasnya.


"...? Takut apa?" tanyanya kembali.


"..takut kalau kamu jatuh cinta sama Kak El.." canda Al.


Via lantas berwajah masam,padahal dirinya sudah serius, tapi Wanita didepannya masih saja bercanda.


"...aku serius, Al.." balas Via.


"..hehehe sorry, aku sebenarnya tidak ada alasan khusus.." balas Al.


Akhirnya setelah mereka lalu kembali mengobrol lagi, sampai bel pintu Al kembali berbunyi.


'Ting tong'


"..suamimu ya Al.." ucap Via.


"..aku tidak tau Vi, sepertinya bukan. Kalau memang Kak El, dia tak mungkin memencet bel.." balas Al.


Dua Wanita itu lalu beranjak dari posisi duduknya kemudian berjalan kearah pintu.


###


'Tap tap tap' suara langkah kaki memenuhi lantai basement.


Nampak seorang Pria berjalan dengan terburu-buru kearah lift.


Saat memasuki lift, dirinya memencet berkali-kali lantai yang ditujunya.


Akhirnya sampailah Pria itu dilantai yang ditujunya, dia seketika terdiam ditempatnya ketika pintu lift terbuka.


Pria itu nampak kaget mendapati pemandangan yang membuat dadanya yang panas semakin memanas.


Dilangkahkan kakinya dengan pasti kearah pintu apartemen yang terbuka, yang disana terdapat sosok Wanita yang tak lain istrinya dan si Pria yang tak lain sahabatnya yaitu Beni.


Suara langkah dari sepatu Mikael, membuat dua sejoli itu menengok kearah sumber suara.


Melihat siapa yang datang, dua orang itu tersenyum pada si pemilik suara sepatu.


Tapi...saat pemilik sepatu dekat, seketika dia melayangkan tinjuannya kearah si Pria yang menyambutnya.


'Bugh' terdengar suara keras berasal dari tonjokan tangan Mikael mengenai wajah Beni, mengakibatkan Pria itu mengeluarkan darah dibagian sudut bibir.


'...bugh...bugh..' belum saja yang dipukul bernafas. Dua pukulan sudah melayang kembali di daerah perutnya.


'..aaakkhhh..khuk..khuk..' erang Beni yang merasa sakit didaerah wajah dan perutnya.


Al yang melihat kejadian itu membulatkan mata kaget, dia melihat sosok suaminya yang tak pernah dilihatnya sama sekali.


"...aaahhhh..aahh.." Mikael menghembuskan nafas kasar, dia memperhatikan Beni yang tersungkur dilantai, tapi dia merasa tiga pukulan tidak cukup untuk Pria itu.


Dilayangkannyalah kembali tangan yang sudah mengebal, tetapi saat akan mengenai Pria itu tangannya seketika berubah haluan mengenai tembok, membuat tangannya terasa sangat sakit karna memukul tempok apartemen yang keras.


Dialihkan matanya kearah sosok yang mengalihkan tangannya yang tak lain adalah Al.


Mikael menyunggingkan senyum yang terlihat merendahkan.


Mikael lantas segera berdiri lalu melihat kearah tangannya yang memerah, kulit tangannya sedikit terkelupas.


Dialihkan matanya kearah Al yang juga berdiri lalu mendekat kearahnya.


"..Kak El, maaf.." ucapnya yang menjulurkan tangannya kearah Mikael untuk melihat tangan Pria itu.


'Plak' tepis Mikael dengan kasar, membuat punggung tangan Al juga memerah.


Al menatap kaget kearah suaminya. "..Kak El kenapa? Kenapa Kakak.." ucap Al yang terputus melihat tatapan suaminya yang jijik melihat kearahnya.


"..kenapa?" cemohnya.


Ditatapnya Al dengan tatapan merendahkan dari atas sampai bawah secara berulang.


"..sudah berapa kali, lo tidur dengannya?" tanya Mikael yang menunjuk kearah Beni yang masih terduduk.


Al membulatkan mata penuh, mendengar perkataan suaminya.


"...aku.." ucapnya yang kembali terputus karna melihat suaminya tiba-tiba mendekati Beni.


Pria itu menarik kasar tangan kiri Beni yang memegang perutnya. Mikael menatap penuh amarah kearah benda yang melingkar ditangan Pria itu.


"...hahaha..ini sudah membuktikannya.." cengirnya.


Pria itu lalu kembali melihat kearah Al yang terdiam tak Paham maksud perkataan Mikael barusan.


Dengan pelan Pria itu melangkah mendekat kearah Al, saat jarak mereka sangat dekat Mikael berkata, "WANITA MURAHAN!" serunya yang lalu meninggalkan Al yang terpaku.


Disisi lain, Via merasa lega dengan perutnya yang terasa pelong usai menunaikan hajatnya.


Dia mencari sosok Al yang tak ada di ruang TV, lantas dilangkahkan kakinya kearah pintu yang terbuka lebar yang disana terdapat Al yang berdiri.


"..sedang apa kamu?" ucap Via mendekat kearah Al yang tak bergeming.


Ketika dirinya sepenuhnya berada diambang pintu, dia kaget melihat sosok Beni yang terduduk dilantai dengan wajah yang sudut bibirnya terdapat darah.


"..Kak, Kakak kenapa?" tanyanya dengan raut wajah kaget dan takut.


"..a..aku..gak papa.." balasnya yang merasa nyeri didaerah perut.


Via lalu berjalan kedepan Al yang masih terbengong melihat kedepan.


Dia terdiam melihat wajah sahabatnya yang pucat pasi dengan bibir bergetar.


"..Al.." ucapnya. Dia lalu melihat kembali kearah Beni.


"Kak, kenapa dengan Al?" tanya Via khawatir.


Beni nampak terdiam. Dirinya tau pasti sahabatnya satu ini akan bertanya, tapi dia bingung menjelaskan kedudukan perkara yang belum dipahami sepenuhnya.


Yang dia tau hanya satu, Mikael mengira dirinya selingkuh dengan Al.


"..Kak Beni.."panggil Via kembali dengan suara yang dinaikkan volumenya.


"..akhmm..aku gak bisa menjelaskannya padamu. Mungkin kami bisa menanyakan sendiri pada Al.." balasnya yang lalu melihat kearah Al.


"..mungkin setelah, dia siap menceritakannya.." lanjutnya.


"..intinya, ini berkaitan dengan..masalah rumah tangganya.." jelasnya.


Mendengar kata rumah tangga, Via tak bisa menuntut Beni ataupun Al untuk menjelaskannya. Dia hanya bisa diam, menahan rasa penasarannya.


Diarahkan tubuhnya mengarah Al kembali lalu memeluknya earat.


Via mengelus lembut punggung Wanita itu.


Dalam seketika isak tangisan Al pecah.


***


Via menatap kearah Wanita yang nampak berbaring diatas kasur usai menunaikan solat magrib.


Dia menutup pelan pintu, agar si Wanita tak terbangun.


Diarahkan kakinya kearah ruang TV lalu duduk disana. Wanita itu terdiam, dia kembali mengingat perihal sore tadi saat sahabatnya menangis.


Itu pertama kali, dirinya melihat sosok sahabatnya yang manangis seperti itu. Selama ini dirinya selalu melihat sosok tegar Al.


Dia sangat penasaran prihal kejadian yang terjadi pada sahabatnya, sampai seperti itu.


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...


Salam hangat SMIM


Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.


Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...


PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.


Padahal sudah mau ending hahaha...