Friends After Marriage

Friends After Marriage
Kegundahan atau kebahagian



Happy Reading!!!


Al mengerjapkan matanya. Dia terdiam sejenak merasakan kepalanya yang jauh lebih ringan.


Dialihkan matanya dari atap kearah dinding yang terdapat jam disana. Al memperhatikan jam menunjukan pukul setengah empat lewat.


"..." Al membulatkan mata, dirinya teringat bahwa dia belum sholat isya. Al lantas segera mendudukan tubuhnya.


Saat duduk sepenuhnya, Al diam terpaku mendapati sosok Pria yang duduk sambil tertidur, Pria tersebut menyandarkan kepalanya keranjang yang Al tiduri lalu tangannya...


Al memperhatikan tangannya yang digenggam Pria itu.


Segurat senyum mengembang dibibir mungil Al.


Diarahkan tangannya yang bebas lalu mendekat kearah wajah Pria yang tertidur sangat pulas itu.


Saat ingin menyentuhnya, Al segera mengurungkan niatnya.


Dia segera melepas pelan tangannya yang digenggam, kemudian turun dari ranjang secara perlahan.


Usai mengambil air wudhu, Al segera menjalankan solat Isya yang dilanjuti oleh solat tahajud dua rakaat.


Selesai itu, Al kembali keranjangnya. Dia duduk disana sambil memperhatikan wajah suaminya yang tertidur.


Dada Al terasa sesak, dia tak bisa menahan rasa rindunya pada sosok itu.


Tapi, hatinya bertanya-tanya mengapa Pria yang menghindarinya selama dua bulan ini tiba-tiba berada disini.


Dijulurkan tangan kanannya, dia menyentuh pipi Pria itu lalu mengelusnya dengan lembut.


Dari pipi, Al melanjutkan menyentuh mata, hidung dan kemudian berakhir di bibir tipisnya.


Disaat itulah, Mikael terbangun dari tidurnya. Dia mendongakkan kepalanya, membuat matanya bertatapan langsung dengan mata Al.


Al yang menyadari suaminya terbangun, segera ingin menarik tangannya dari bibir Pria itu, tapi saat akan menariknya, Pria itu menahan tangannya


Mikael memegang lembut tangan Al yang jarinya masih menempel dibibirnya. Dia kemudian mencium dengan lembut jari Al yang ada di bibirnya.


"...Kak.." ucap Al yang seketika suaranya lolos dari bibirnya.


Ciuman di jarinya tadi, layaknya sengatan listrik diseluruh tubuhnya. Nafasnya tercekat seketika. Dadanya berdetak lebih cepat. Hatinya bergetar mendapat perilaku lembut dari suaminya. Pipinya terasa memanas.


Mikael memperhatikan wajah Al yang nampak gerogi, dia lalu mengangkat kepalanya dari ranjang.


"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.


Matanya menatap lembut kearah Wanita didepannya dan tangannya masih memegang lembut Wanita itu.


"..." Al merasa gugup mendapat tatapan tersebut dari suaminya, dia lantas menelan salavinanya.


"..alhamdulillah Al sudah sangat baikan, Kak.." balasnya.


Batin Al bergejolak, ingin rasanya dia memeluk Pria didepannya. Tapi sayangnya...dia harus menahan perasaan itu.


"..."


Hening menyelimuti mereka, dua sejoli itu fokus dengan fikiran masing-masing.


Al kembali memperhatikan suaminya yang juga sama diamnya dengan dirinya, tapi Pria itu masih tetap mengenggam tangannya.


Dalam hatinya, Al bertanya-tanya mengapa suaminya ada disini dan bukannya Pria itu sedang marah padanya dan tak sudih bertemu apalagi bersentuhan?


Dengan memberanikan tekad Al lantas ingin membuka suara duluan.


"..ayo Al!" serunya dalam hati menyemangati diri sendiri.


"..Kak..Al.." ucap Mikael dan Al berbarengan.


Mata mereka lalu bertemu, membuat kedua sejoli itu segera memalingkan mata mereka kearah lain.


Al lalu kembali melihat kearah suaminya yang kemudian berkata, "..Kak El ingin mengatakan sesuatu.."


"..." Mikael kembali terdiam, Pria itu bingung ingin berkata apa dan mulai dari mana.


Melihat dari keadaan Al yang baru sembuh, tak mungkin dirinya tiba-tiba memberikan rentetan pertanyaan yang saat ini numpuk di kepalanya.


Al menundukan kepalanya.


Melihat suaminya hanya diam, membuat Al merasakan takut. Takut membuka suara, yang dapat menyembabkan kesalah pahaman.


Kebungkaman Al, membuat Mikael melirik kearah Wanita itu yang menundukan kepala, dia terlihat menggigit bibir bawahnya.


Mikael bisa merasakan,Wanita itu nampak takut dari wajahnya.


"..jika ada yang mau kamu katakan, katakanlah.." ucap Mikael memecah keheningan.


Al lantas mengangkat kepalanya, matanya langsung bertemu dengan mata Mikael. Wanita itu lalu tersenyum lembut, mendapati mata Pria itu yang masih menatapnya lembut.


Dimulailah penjelasan Al prihal kesalah pahaman hari itu.


# # #


Selama bercerita, Al selalu menatap kearah mata suaminya.


Pria itu diam mendengarkan runtutan cerita Al. Dia dapat melihat kejujuran dari mata Wanita itu dan dia menceritakannya, benar-benar sangat detail dari awal dia izin pamit untuk ke rumah sahabatnya, Via yang mengetahui kalau ternyata Mikael suami Al lalu Beni yang datang berkunjung kesana sampai dirinya kembali pulang kerumah.


Usai cerita panjang kali lebar, Al menarik nafasnya panjang.


Akhirnya hal yang dia pendam tersampaikan. Seketika sebagian beban hati terangkat.


Al diam menunggu tanggapan dari suaminya tapi Pria itu hanya diam.


"..Kak.." panggil Al.


Pria itu masih tetap diam, membuat Al merasa takut jika dirinya tadi salah bicara.


Tapi...Al memperhatikan wajah suaminya yang tak memperlihatkan gurat kemarahan.


"..ternyata sahabatanya baru tau.." batin Mikael yang mengingat Via menghampirinya. Dia kira sejak awal Al sudah cerita tentang dirinya.


"..." Mikael kembali berfikir, mendengar ceritanya tadi kembali muncul pertanyaan baru.


"..Kak El.." panggil Al kembali yang menyadarkan Mikael.


"..iya.." balasnya yang kemudian membalas tatapan Al yang terlihat khawatir.


"..tenang saja, aku sudah tidak marah kok.." ucapnya menenangkan hati Al.


Kemudian kembali hening, Al melirik kearah jam yang menunjukan pukul setengah 5 yang menandakan waktu subuh sebentar lagi.


"Kak..ayo kita siap-siap sholat.." ajaknya.


"...ayo.." balasnya senyum mengiyakan Wanita itu.


# # #


Diruangan Pemeriksaan


"Bagaimana perasaannya Bu?" tanya Dokter Wanita berusia 40 tahun itu.


"Alhamdulillah Dok, sudah sangat baik.." jawab Al.


"Masih tidak nafsu makan dan terasa mual?"


"..alhamdulillah tidak, tadi saja saya makan lumayan banyak dan sama sekali tak terasa mual.." balas Al yang mengingat tadi pagi makan bubur dengan lahapnya tanpa merasakan neg sama sekali.


"..alhamdulillah, kalau begitu saya masih kasih obat, tapi diminumnya saat mual saja.." ucap Dokter itu. Al menganggukan kepala paham.


"..dan saya juga memberikan obat vitamin agar menjaga kekebalan tubuh" ucapnya kembali yang diangguki Al.


Usai menulis resep obat, Dokter Wanita itu melihat kearah Al.


"..kalau boleh tau Ibu Al minum susu apa, mungkin itu faktor Ibu mual.." ucap Dokter itu.


"..saya minum susu Ultramilk, tapi itupun jarang-jarang.." balas Al.


"...? Maksud saya, dua bulan ini Ibu minum susu apa?" tanya kembali Dokter itu.


Bu Dokter itu nampak bingung mendengar jawaban Wanita didepannya. Ibu itu memperhatikan wajah Al yang nampak polos.


"...apa Ibu ingat kapan terakhir kali datang bulan?"


"..." Al nampak berfikir, dia mengingat ingat terakhir datang bulan. Dia benar-benar lupa kapan terakhir dia menerima tamu itu.


"..maaf Dokter, saya lupa. Tapi seingat saya bulan ini saya belum.." jawabnya.


Mikael yang sejak tadi mendengarkan percakapan mereka ikutan bingung. Tapi saat Dokter itu menanyakan Al kapan terakhir datang bulan dan dijawab oleh Wanita disebelahnya, seketika Mikael paham maksudnya.


Dia lalu melihat kearah Dokter didepannya kemudian berkata, "..Dok, apa janga-jangan Istri saya sedang hamil!"


Dokter itu melihat mearah Mikael. Dia lalu tersenyum kemudian menganggukan kepala mengiyakan. Sedang Al yang mendengar ucapan suaminya lantas terdiam.


"...sepertinya Ibu Al baru sadar sedang hamil.." ucap Dokter itu melihat Al yang kaget.


"..Alhamdulillah, kandungan Ibu sudah masuk sepuluh minggu.." lanjut dokter tersebut.


Al memegang perutnya yang rata. Dia sama sekali tak sadar jika dirinya hamil.


"..memang belum terlihat, karna usianya masih kecil..tapi Alhamdulilkah kandungannya sehat.." ucapnya kembali.


Al melihat kearah suaminya hati-hati, dia takut jika Pria didepannya berfikiran aneh tetangnya.


Pria disebelahnya nampak diam menatap lurus kearah Dokter didepannya. Tak ada senyuman diwajah Pria itu.


Dokter lalu melihat kearah Al dan Mikael bergantian. "Ada beberapa faktor yang menyebabkan tak nafsu makan pada Ibu hamil. Mungkin faktor Ibu Al, bukanlah karna bayi, tetapi karna fikiran, jadi sebisa mungkin jangan terlalu banyak fikiran untuk Ibu Al.." kata Dokter itu mengingatkan.


"..baik, Dok.." jawab Al.


Al tak memungkira perkataan Dokter itu.


Kemudian, Dokter memberikan resep vitamin dan obat mual. Setelah itu Al dan Mikael pamit keluar setelah mengucapkan terimakasih.


Saat berjalan keluar dari ruangan Dokter, dia melihat kearah suaminya yang masih diam.


"..Kak.." panggil Al.


Mikael menengok kearah Al lalu menyuruh Wanita itu duduk. "..duduklah! Aku akan ke kasir.." ucapnya yang lalu pergi ke kasir yang tak jauh dari tempat duduk Al.


Usai membayar tagihan, dia kembali mendekat kearah Al lalu mengajaknya keluar dari Klinik.


Saat menyebrang jalan Pria itu memegang tangan Al, setelah menyebrangi jalan dia kembali melepas tangan Wanita itu.


Al melihat tangannya yang dilepas oleh suaminya. Dia lalu melihat kearah suaminya yang berjalan kearah mobil.


Dia lalu berjalan mendekat kearah suaminya yang ingin masuk kedalam mobil.


"..Kakak tidak ingin bertanya mengapa aku ketempat ini.." ucap Al.


Mikael yang hendak masuk lalu mengurungkan niatnya. Dia lalu melihat kearah Al.


"..ayo masuk!" serunya.


Yang kemudian Mikael kembali masuk kedalam mobilnya lalu menutup pintu itu.


Al masih diam berdiri di depan pintu mobil suaminya. Tangannya mengerat, dadanya sakit merasakan perilaku abainya.


Didalam mobil Mikael menggenggam setirnya erat, dia tak tau mengapa dirinya bersikap seperti itu pada Al.


Dilihatnya Al yang masih setiap berdiri diluar.


Diturunkannyalah kaca mobilnya, "Apa yang kamu lakukan? Ayo masuk!" perintahnya.


Al masih tak bergeming dari tempatnya. Palanya yang tertunduk lalu diangkatnya menatap wajah suaminya.


"..Kakak pulang duluan saja! Aku ingin mampir terlebih dahulu.." ucap Al.


"..Al permisi, Assalamu'alaikum.." ucap Al yang pergi meninggalkan suaminya.


Mikael menggenggam setirnya erat, hatinya saat ini masih bingung harus bersikap bagaimana. Dia masih bimbang harus senang atau tidak, karna sedikit perasaannya belum siap memiliki anak.


Tangannya makin erat mencengkram setir, saat ini dia dibimbangkan mengejar Wanita itu atau tidak.


Karna merasa tak tenang, Pria itu segera keluar dari mobilnya. Dia berlari kearah jalan mencari sosok Al.


Mikael mengokkan kepalanya ke kanan dan kiri, tapi sosok Wanita itu tak ada.


"Dimana kamu Al!" serunya was-was.


Lantas Mikael kembali lagi ke parkiran makam, untuk mengambil mobilnya mencari Al.


Tapi saat akan membuka pintu mobil, penjaga makam menghampiri Mikael.


"Pak!"


"..iya.." balasnya yang mengok kearah suara.


"Bapak mencari Wanita bercadar yang bersama Bapak tadi!"


"..iya..Bapak melihat kemana Istri saya pergi?" ucapnya segera.


"Iya, saya melihatnya masuk ke area pemakaman.." tunjuknya kearah pintu masuk makam.


"..terimakasih Pak.." balas Mikael yang segera berjalan cepat kedalam area pemakaman.


Matanya segera menelusur area pemakaman yang masih terlihat sepi karna pagi hari.


Dia lalu mendapati sosok Wanita yang sedang duduk membelakanginya. Wanita itu duduk di kelilingi oleh makam-makam.


"..siapa yang di ziarahinya?" batin Mikael bertanya.


Lalu Mikael teringat akan Al yang memiliki seorang Nenek yang telah meninggal.


"..jangan-jangan.." gumamnya yang segera menghampiri Wanita itu.


Sampainya dibelakang Al, dia melihat dua batu nisan yang mengapit Al.


Sebelah kanannya bernama Ibnu bin fulan, sedang sebelah kirinya bertuliskan dua nama Fatimah binti Fulan dan Maisaroh binti Fulan.


Al yang menyadari akan sosok orang dibelakangnya, dia lalu menengok kearah Pria itu.


"Mari kita berdoa'a bersama Kak.." ajaknya.


Mikael menganggukan kepala lantas berjongkok, mereka lalu membaca Al-Fatihah dan tiga surat terakhir.


Selesai itu, Al bangkit dari posisi duduknya. Dia mengeluarkan botol minum berukuran 500 ml lalu menyiramkan air didalam botol itu ke dua makam yang ada disisinya.


Usai menyiramnya masing-masing sekali dia memberikan air yang tersisa setengah kearah suaminya.


"Giliran Kakak!" sodornya.


Mikael lalu menerimanya kemudian meyiramkan air tersebut.


# # #


Selama perjalanan Al hanya menatap kearah jalan raya. Dia tak berbicara sama sekali. Begitu juga dengan Mikael yang sibuk drngan pikirannya.


Sampainya didepan kama Al lalu menghadap suaminya yang ada dibelakang.


"..aku masuk dulu ya, Kak El.." ucapnya menundukan kepala lalu masuk kedalam kamarnya.


Mikael diam ditempatnya menatap pintu Al yang tertutup.


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...


Salam hangat SMIM


Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.


Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...


PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.


Padahal sudah mau ending hahaha...