Friends After Marriage

Friends After Marriage
Apartemen Mikael



Apartemen Mikael


Happy Reading!!!


Al memperhatikan wajah zaujinya, dari layar HPnya. Saat ini di sangat rindu untuk bertemu langsung. Sayangnya akhir minggu ini, lagi-lagi dia tak bisa bertemu dengan Mikael. Karena Mikael ada urusan kerjaan.


Ditambah minggu ini juga dia sama sekali tak bisa mengunjungi suaminya karna mendapati shift pagi.


Sepulang kerja. Al memilih ke kamarnya, untuk merebahkan tubuhnya. Tak sengaja matanya melihat kearah bingkisan yang ada diatas meja riasnya.


Dia berfikir sejenak melihat bingkisan itu. Lalu dilihatnya jam yang ada di dinding. Lantas dia segera beranjak menuju kamar mandi.


###


Usai bersiap-siap Al lantas kebawah menuju kearah Pak Usman yang sedang mengelap mobil.


"Pak.." panggil Al. Pak Usman lantas menengok kearah sampingnya. Dia memperhatikan Al yang sudah rapi dengan tas gemblok di punggungnya.


"Nyonya Al, mau kemana?" tanya Pak Usman.


"Al mau mengunjungi pemilik hadiah ini!" tunjuknya pada bingkisan yang di tentengnya.


Pak Usman melihat kearah tentengan Al. Dia tersenyum lalu segera beranjak dari duduknya.


"Ee.., Pak Usman mau kemana? Kok berdiri?" tanya Al.


"Bapak akan mengantarkan Nyonya Al.." ucapnya. Lantas Al segera menggerakkan tangannya yang bebas.


"Tidak usah Pak, Al sendiri saja kesana.."


"Tidak apa-apa. Lagi pula Bapak juga sudah lama tidak berjumpa dengan beliau.." balasnya.


"Nyonya, tunggu sebentar ya. Pak Usman akan bersiap-siap.." ucapnya. Setelah Al menganggukinya kepala, Pak Usman pergi ke kamarnya.


Setelah bersiap-siap. Mereka terlebih dahulu memberi tahu Bi Hilda dan Pak Mamat akan kepergian mereka.


###


Minggu pagi, Mikael melajukan mobilnya menuju kearah rumahnya. Sampai didepan pagar Pak Mamat langsung membukakan pintu pagar.


Setelah itu Mikael turun sambil membawa bingkisan yang dibelinya. Diarahkan matanya kearah Pak Mamat yang sudah menutup pagar.


"Pak, koper saya ada di bagasi dalam. Nanti tolong bawakan ke kamar saya ya, Pak.." pintanya.


"Baik Tuan.." balas Pak Mamat.


Mikael segera melangkah kearah pintu rumah. Dia sangat tak sabar untuk masuk ke rumah dan menerima sambutan dari seseorang didalam.


Saat mendorong pintu untuk memasuki rumah. Lagi-lagi tak ada sosok yang selalu menyambutnya, yang ada hanyalah sosok Bi Hilda yang sedang membersihkan debu yang ada di ruang tamu.


"Tuan Mikael.." ucap Bi Hilda. Dia segera menghampiri Mikael yang ada didepan pintu. Mikael hanya berdehem menjawab sapaan Bi Hilda.


Mikael menyerahkan satu bingkisan dari tangannya kearah Bi Hilda. "Dimana Pak Usman?" tanyanya setelah menyerahkan bingkisan. Karna biasanya saat Mikael datang Pak Usman selalu menghampirinya.


"..Pak Usman sedang mengantar Nyonya Al, Tuan.." jawab Bi Hilda.


"Hemm.." balasnya lalu pergi ke kamarnya.


Di kamar Mikael lantas meletakkan tasnya. Dia menatap bingkisan berwarna biru yang dipegangnya. Lalu segera diletakkan bingkisannya itu dibawah meja yang ada disamping tempat tidur. Disamping bingkisan lain.


Mikael seketika teringat akan persentasinya besok hari. Sedangkan berkasnya berada di apartemennya.


Diambilnya HPnya dari dalam tasnya lalu mencari kontak Pak Usman.


Setelah 3 kali bunyi, orang sebrang langsung mengangkatnya.


"Iya, Tuan.." balas suara disebrang.


"Pak Usman, Bapak sekarang ada dimana?"


"Saya dalam perjalanan pulang, Tuan.."


"Saya Sekarang berada di rumah, sedangkan berkas yang untuk persentasi tertinggal di apartemen saya. Pak Usman bisa tolong ambilkan di apartemen saya.."


"Bisa Tuan, tetapi mungkin saya akan lama sampai rumah.." ucap Pak Usman.


"Iya tidak apa-apa, Pak.." balas Mikael.


"..."


"Tuan, apakah ada yang lain?" tanya Pak Usman karna tak ada percakapan kembali dari sebrang.


"Tidak, sudah ya Pak, saya ingin beristirahat.."


"Iya Tuan.." Mikael lalu mematikan HPnya. Dia lantas beranjak dari posisi duduknya menuju kamar mandi.


###


Al yang baru saja kembali dari menjalankan ibadah sholatnya, segera menghapiri Pak Usman yang sudah menunggu di parkiran depan mesjid.


Pak Usman yang sudah selesai menerima telpon dari Tuannya lalu menyadari kehadiran Al yang berada tak jauh dari tempatnya.


Al melihat Pak Usman sudah selesai teleponan lantas menghampirinya.


"Nyonya, kita mampir sebentar dulu ya.." ucap Pak Usman setelah Al didekatnya.


"Iya Pak, tapi mau mampir kemana?" tanya Al. Karna dia merasa tak biasanya Pak Usman akan mampir-mampir.


"Mampir ke apartemen Tuan.." jawab Pak Usman.


Secara spontan bibirnya Al menyunggingkan senyum. "Benar Pak! Wah senangnya!" gumamnya.


Pak Usman hanya tersenyum mendengar kegembiraan Al.


###


Sekitar jam sepuluh, akhirnya mereka sampai di apartemen Mikael. Dari luar Al memandang apartemen yang begitu mewah.


Al melangkah maju bersama Pak Usman masuk lalu menuju pintu yang ada di dekat meja resepsionis. Saat akan melewati pintunya Pak Usman terlebih dahulu menempelkan kartu.


Saat pintu terbuka, dibaliknya terdapat 4 lift. Al lalu memencet tanda keatas pada tombol yang didekatnya. Setelah salah satu lift terbuka mereka segera masuk.


Pak Usman lalu menekan angka 20 pada nomor yang tertera. Tak berapa lama lift sampai di lantai yang di tuju.


Sampainya di lantai yang di tuju, Pak Usman membimbing Al menuju kamar Mikael. Sedangkan Al memperhatikan sekitar lantai yang hanya ada 5 kamar.


Pak Usman lalu berhenti didepan pintu berwarna coklat keemasan yang berada di ujung. Di pencetlah pin kamar itu lalu terbuka.


"Silahkan Nyonya!" ucap Pak Usman mengizinkan Al masuk.


"Terimakasih Pak.." Al lantas masuk.


Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah lemari berukuran kecil didekat pintu masuk. Masuk kedalam Al disajikan ruang tamu yang menjadi satu dengan ruang TV. Sedang disisi lain terdapat ruang makan dan juga dapur.


"Wahh luas sekali apartemennya!" gumam Al.


Selama Al memandang-mandang Pak Usman lantas pergi ke kamar Mikael mengambil berkas yang di mintanya.


Selesai mengambil berkas. Di dapatinya Al yang sedang duduk di balkon yang pintunya ada di ruang tamu.


"Apa Nyonya ingin minum sesuatu?" tanya Pak Usman.


"Iya, Al haus.." ucapnya.


"Saya akan mengambilkan minuman, Nyonya tunggu disini.." Pak Usman yang akan mengambil minum segera dicegat oleh Al.


"Tidak perlu Pak, Al yang akan mengambilnya. Pak Usman istirahat terlebih dahulu.." ucap Al. Dia menunjuk kearah bangku yang ada disamping Al.


Al lalu menuju kearah kulkas yang ada didapur. Dibukanya kulkas lalu mengambil 2 botol air mineral dan 1 kaleng minuman ion.


Al lalu kembali ke balkon. "Pak ini minumannya!" Al memberikan minuman kaleng tersebut pada Pak Usman


"Terimakasih Nyonya!" serunya sambil menerima minuman tersebut.


"Sama-sama, Oh iya Pak Usman sudah mengambil sesuatu yang diminta Kak El?"


"Sudah Nyonya.." ucap Pak Usman sambil menunjukan map berwarna merah yang ada diatas meja sampingnya.


"....Pak, Al pengen liat kamar Kak El. Boleh gak?"


"Hahaha silahkan Nyonya. Kamar Tuan, pintu kedua yang ada di ruangan sebelah.."


"Makasih Pak!" ucap Al. Setelah meminum airnya Al lalu menuju kamar Mikael.


Al berjalan kearah ruangan yang tadi diucapkan Pak Usman. "Ini pintu pertama dan ini dia!" tunjuk Al pada pintu disebelahnya.


Warna putih dan abu-abu memenuhi seisi ruangan. Al lantas segera menuju masuk lalu menuju ke kasur.


Dia duduk dipinggir ranjang sambil memperhatikan kamar itu.


"Polos sekali!" gumam Al.


Karna di kamar Mikael tak ada pajangan apapun. Yang bertengker di tembok hanya jam.


Setelah puas memandang Al lantas mengingat sesuatu. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, Setelah meletakkan benda itu didalam laci meja yang ada disamping ranjang. Kemudian Al beranjak, meninggalkan tempat itu.


Saat ingin kembali ke tempat Pak Usman. Al melihat kamar yang dilewatinya. Lantas dia penasaran lalu membuka kamar yang ada disamping kamar Mikael.


Ketika dibuka, di rungan tersebut terdapat satu kasur ukuran single ditengah ruangan. Sedangkan di pojok ruangan terdapat benda yang tak disangka-sangka Al.


Dia lantas segera berjalan ke benda itu lalu memegangnya. "Sudah lama sekali aku tidak memegang ini!" gumamnya. Setelah memegang benda itu dia lalu keluar menuju ke tempat Pak Usman.


Al kembali ke tempatnya tadi duduk yang bersebrangan dengan bangku Pak Usman.


"Nyonya sudah selesai.." ucap Pak Usman saat menyadari kehadiran Al.


"Iya Pak..oh ya tadi aku buka kamar sebelah kamar Kak El. Disana ada samsak! Aku tak menyangka jika Kak El punya benda seperti itu.." kata Al lalu meneguk minumannya.


"...khem..iya itu milik Tuan. Tuan memilikinya untuk sekedar olahraga di kala senggang.." ucap Pak Usman. Al membulatkan bibirnya mendengar perkataan Pak Usman.


"Kak El, pasti sangat tempat sekali jika sedang menggunakan benda itu.." batin Al yang membayangkan Mikael yang sedang memukul samsak.


Setelah istirahat kurang lebih setengah jam lebih mereka lalu menuju ke parkiran untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah.


###


"Pak Usman, tolong berhenti!" pinta Al.


Pak Usman segera menghentikan mobilnya lalu menengok kearah Al. "Iya, ada apa Nyonya?"


"Saya ingin mampir sebentar karna ada yang ingin saya beli.." ucap Al.


"Baiklah, saya akan menunggu di sini Nyonya.." ucap Pak Usman.


"Jangan Pak, Al nanti jalan saja. Bapak langsung saja pulang. Lagi pula jaraknya tak begitu jauh.." ucapnya


"Benar Nyonya!" ucap Pak Usman mematIkan.


"Iya!" balas Al yakin.


Setelah mendapat jawaban Pak Usman lantas meninggalkan Al. Al lalu langsung masuk kedalam apotik.


Sejak pulang dari apartemen Mikael, Al merasakan perutnya seperti di lilit. Oleh karna dia berniat membeli obat sakit perut dan juga vitaminnya yang sudah abis.


###


Mikael membuka matanya. Di pejamkan matanya lalu diliriknya jam yang menunjukan pukul 12 lewat. Dia lantas duduk dari posisi tidurnya lalu merenggangkan kedua tangannya kesamping.


Setelah itu dia segera beranjak dari kasur menuju jendela untuk membuka horden. Tadi sebelum tidur Mikael sengaja menutupnya agar tidak silau.


Dia bukanya jendela untuk membiarkan udara masuk. Diarahkan matanya ke arah luar rumah.


Matanya mendapati dua sosok yang sedang berdiri didepan pagar. Mereka bercakap-cakap dengan sangat akrab.


Tak berapa lama kemudian Wanita itu membukakan pagar. Kemudian seorang Bapak datang membantu wanita itu membukanya.


Setelah pagar terbuka mereka masih tampak bercakap-cakap. Mikael mendapati Wanita itu yang tertawa dan juga wajah Pria itu yang tersenyum malu-malu.


Mikael tak tau apa yang mereka bicarakan. Dimatanya terlihat sosok akrab mereka. Melihat kejadian itu Mikael merasakan hatinya yang memanas.


###


Al yang sedang berjalan, melihat ada mobil yang berhenti tepat didepan pagar rumahnya. Dilihatnya seorang pria turun dari dalam mobil tersebut.


Saat menyadari siapa yang turun Al lantas mempercepat jalannya menghampiri Pria itu.


"Assalamu'alaikum Kak Furqon.." sapa Al.


"Wa'alaikumsalam.." balasnya lalu memutar tubuhnya melihat siapa yang menyapanya.


"Kakak ingin mencari Kak Mikael ya?" tanya Al.


Furqon lantas diam memperhatikan Wanita bercadar yang ada didepannya. Dia sama sekali tak mengenal siapa Wanita didepannya.


"Anda siapa?"


"...saya Al, Kakak lupa?"


Furqon memperhatikan dengan seksama Wanita didepannya. "Al istrinya Mikael? Tapi setau ku istrinya tak menggunakan cadar. Jadi Al siapa?" batin Furqon. Tetapi seketika Furqon mengingat kembali pada Wanita bercadar yang menyelamatkan Ayahnya.


"Ohhh Al.." ucapnya senang.


"Iya saya Al.." ucap Al.


"Oh iya, tau dari mana kamu kalau saya mencari Mikael?" tanya Furqon.


"Karna Kakak beherti didepan rumah Kak El.." balas Al.


"Kak El?" batin Furqon kembali. "Apa mereka seakrab ini?" ucapnya dalam hati.


"Ayo Kak silahkan masuk! Biasanya jam segini Pak Mamat sedang sholat dzuhur makanya tidak menyadari kehadiran Kak Furqon.." ucap Al. Furqon tambah bingung mendengar perkataan Wanita didepannya.


Al lalu membuka slotnya kemudian mendorongnya agar mobil Furqon bisa masuk.


Dari dalam rumah Pak Mamat segera berlari melihat Nyonyanya sedang mendorong pagar.


"Nyonya biar saya saja.." ucap Pak Mamat lalu membantu Al mendorong pagar.


Furqon tambah bingung mendengar penjaga rumah Mikael memanggil Wanita bercadar itu Nyonya.


"Al.." panggilnya. Al lantas menengok kearah Furqon.


"Kamu Al yang datang ke rumah sakit untuk mengunjungi Ayahku atau Al istrinya Mikael?" tanyanya dengan wajah bingung.


Al yang mendengarnya lantas tertawa karna pertanyaan dan wajah bingung Furqon.


"..Saya Al dua-duanya, Kak.." balas Al.


"Jadi kamu, yang menyelamatkan Ayahku.." ucapnya kembali.


"Bukan menyelamatkan tapi hanya memberi pertolongan pertama.." balas Al.


"Tapi setauku Al istrinya Mikael tak mengenakan cadar?"


"Iya, kadang saya memakainya kadang tidak.." balas Al.


"Kakak tidak jadi memasukkan mobilnya?" tanya Al.


"Oh iya, saya lupa.." ucap Furqon yang tersenyum malu. Dia lalu kembali kedalam mobil untuk memasukkan mobil kedalam rumah.


Pak Mamat yang tadi mendengar percakapan mereka tak memperdulikannya. Setelah mobil masuk dia kembali menutup pagar.


Al dan Furqon lalu masuk kedalam rumah. Furqon dipersilahkan duduk di ruang tamu sedang Al berniat memanggil Mikael.


Sebelum ke kamar Mikael, Al lantas menuju dapur terlebih dahulu untuk memberitahu Bi Hilda untuk menyiapkan minuman.


Setelah itu, dia menuju ke kamar Mikael. Didepan kamar Mikael dada Al berdegup kencang. Dia gugup, karna sudah sebulan lebih dia tak melihat sosok suaminya.


Saat akan mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka menampakkan sosok Mikael yang berwajah dingin.


Al segera memberikan senyuman manisnya pada suaminya.


"Kak El, di tunggu Kak Furqon dibawah.." ucapnya.


Tanpa berkata, Mikael langsung melewati Al kemudian menutup pintu kamarnya. Dia meninggalkan Al yang diam terpaku didepan pintu kamarnya.


Al terlihat bingung mendapati sikap suaminya yang jauh lebih dingin dibanding biasanya. Walaupun selama ini Mikael selalu mengabaikan dan bersikap dingin padangan tapi saat ini Al bisa merasakan aura marah disekitar Mikael.


(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini πŸ‘, coment πŸ‘dan Reting 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Saya baru saja menulis cerita baru, jangan luoa baca ya...


Terimakasih