Friends After Marriage

Friends After Marriage
Al



Setelah melihat sosok itu menuruni tangga. Yuan dan Ghifari menatap kearah Mikael yang tampak masih memainkan benda persegi di tangannya.


"Mikael.." panggil Yuan yang sudah kepo dengan Wanita tadi.


'Mikael.." panggilnya kembali. Sedangkan Mikael hanya berdehem menanggapi panggilan itu.


"Wanita tadi siapa? Lo ketemu dia dimana? Kok bisa lo temenan sama dia? Seumur-umur, ini pertama kalinya gua ngeliat lo punya teman cewe!" cerocos Yuan. Dia meluapkan semua pertanyaan yang sedari tadi sudah berputar-putar di otaknya. Begitu juga dengan Ghifari yang sepakat dengan perkataan Yuan.


Mikael mengalihkan iris matanya kearah Yuan. Lalu dia meletakkan HPnya diatas meja. Kemudian melipat tangannya didepan dada sambil bersender di sandaran kursinya.


"Kalo lo mau nanya satu-satu. Jangan nyerbu kayak gitu. Gua jadi malas jawabnya.." ucap Mikael yang ogah-ogahan menjawab kumpulan pertanyaan tadi.


"Oke deh maaf ya.." kekeh Yuan.


"Pertama-tama gua mau nanya, Wanita tadi siapa?"


Mikael mengalihkan matanya kearah langit yang berwarna biru muda, dengan awan yang tipis.


"Dia Wanita yang terpaksa gua nikahin 2 setengah bulan yang lalu.."


Yuan dan Ghifari menautkan alis mereka mendengar jawab Mikael. Setau mereka hanya satu Wanita yang dinikahi oleh Mikael dengan terpaksa.


"Jadi dia istri lo!" seru Yuan dan Ghifari berbarengan. Mereka kaget dan tak menyangka jika itu istrinya Mikael.


"Gua gak nyangka dia istri lo! Soalnya pas lo nikah dia tidak menutup wajahnya!" seru Ghifari.


"Benar tuh!" setuju Yuan. Mikael hanya diam dengan tatapan masih pada tempat yang sama.


"Terus kok lo bisa temanan sama dia?" tanya Ghifari kembali. Dia dan Yuan semakin penasaran akan cerita Mikael yang layaknya di FTV.


Dialihkan matanya dari langit-langit. Menatap kedua sahabat didepannya bergantian. Mikael kemudian menceritakan perihal tersebut dari awal sampai akhir. Sebenarnya Mikael malas untuk menceritakannya. Tetapi jika dia tak menceritakannya pasti kedua sahabatnya ini akan merong-rong dirinya.


###


"Hahaha.." tawa Yuan dan juga Ghifari memenuhi lantai dua resto yang hanya ada beberapa pengunjung.


Mikael mendelik mereka secara bergantian dengan wajah dinginnya. Membuat mereka terdiam.


"Sorry..gua cuman gak nyangka aja dengan permintaan istri lo yang lain dari pada yang lain.." ucap Yuan yang masih sedikit cekikikan. Begitu juga dengan Ghifari.


Mikael menghembuskan nafasnya kasar.


"Oh Iya, gua kemarin nelpon Beni. Dia bilang, dia masih di Jepang.." Mikael menatap Pria didepannya tajam. Dia meletakkan tangannya kearah depan.


Seketika cengengesan mereka berhenti. Mereka paham betul maksud dari gerakan Mikael.


"Oh iya, gua ke kamar mandi dulu ya!" seru Ghifari yang tak kuat merasakan tekanan dari Mikael.


Tak berapa lama setelah Ghifari pergi, Yuan yang juga tak kuat dengan atmosfer Mikael, memilih mengikuti Ghifari ke toilet.


Selang 15 menit. Mereka kembali dari toilet berbarengan. Mikael yang melihat kehadiran mereka segera beranjak dari bangkunya menuju kearah tangga.


Ghifari dan Yuan mengambil HPnya terlebih dahulu yang diatas meja. Setelah itu baru mengikuti Mikael.


Mikael menuju kearah kasir untuk membayar makanan yang mereka makan tadi.


Pelayan Wanita yang memakai pakaian layaknya orang kantoran, terlihat terkesima dengan aura Mikael yang memikat setiap gadis yang melihatnya.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu!" ucap Pelayan Wanita itu dengan menebar senyuman manisnya.


"Saya ingin membayar makanan yang ada di meja nomor 12 yang ada dilantai 2.."


"Maaf Tuan, meja yang tadi Tuan tempati telah di bayar.." ucapnya.


Mikael lantas melihat kearah dua sahabatnya yang berada dibelakangnya, kemudian melihat kembali kearah pelayan didepannya. "Baiklah," ucapnya lalu pergi meninggalkan meja kasir.


Ghifari dan Yuan yang menyadari Mikael telah meninggalkan meja kasir kembali mengekor. Tetapi sebelum itu seperti biasa Yuan mengoda pelayan cantik itu.


"Thank you Beautiful.." ucap Yuan. Pipi pelayan itu bersemu merah.


"Terima kasih.." ucapnya pelan.


###


Saat perjalanan kembali ke kantor. Mikael masih tetap diam. Sedangkan mereka berdua juga tak berani bercakap. Seperti biasa Yuan yang mulutnya tak bisa diam kembali berucap.


"Tadi makanannya enak ya.." ucapnya dengan sedikit kekehan. Tetapi tak ada yang menyahuti perkataannya.


Yuan melirik kearah Mikael yang sedang menatap kearah luar jendela dengan wajah yang sudah terlihat lebih santai.


"Mikael, makasih ya teraktirannya.." ucap Yuan kembali. Yuan menyenggol Ghifari agar menimpali perkataannya.


"Gua juga makasih ya.." ucap Ghifari.


Mikael menatap kearah kaca spion depan yang matanya bertemu dengan Yuan.


"Kalian gak perlu bilang makasih, karna gua gak neraktir kalian.." ucap Mikael. Ghifari dan Yuan mengerutkan dahi bersamaan.


"Bukannya tadi lo ke kasir mau bayar makanan pesanan kita?" tanya Yuan.


"Awalnya begitu, tapi kata pelayan itu kalau makanannya sudah dibayar.." jelas Mikael.


Yuan melirik kearah Ghifari yang masih fokus menyetir.


" Ghifari, lo ya yang bayar makanan kita tadi?"


"Bukan gua! Tadi Kan lo tau sendiri kita bareng mulu.." Ucap Ghifari dengan tatapan tertuju kedepan.


"Kalau bukan Gua, lo, sama Mikael. Sapa dong yang bayar?"


"...atau jangan-jangan yang bayar Wanita bercadar tadi!" tebak Yuan.


"Istri Lo, Mikael!" sambungnya.


Mikael hanya terdiam mendengar dugaan Yuan yang tentu pasti benar. Karna diantara dua sahabatnya ini tak ada yang membayar. Tentu hanya tinggal satu opsetion yaitu Al yang ikut makan bareng mereka.


(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini πŸ‘, comment πŸ‘dan Reting 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih