Friends After Marriage

Friends After Marriage
Menunggu Pengakuan



Happy Reading!!!


"🎶🎶🎶🎶🎶"


Lantunan musik terdengar memenuhi ruangan.


Al yang baru saja masuk ke kamar, mendengar suara musik yang berasal dari HPnya. Segera dilangkahkan kakinya mengarah ke meja yang ada didekat jendela.


Dilihatnya panggilan berasal dari Pria yang ia kirim pesan tadi sore.


"..ada apa ya, Pak Burhan telpon?" batinnya bertanya.


Digesernyalah layar HPnya ketanda telepon diangkat.


"Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam..Al, apa Bapak ganggu kamu?" tanyanya, pasalnya dia sudah menelpon ketiga kalinya.


"Tidak, Pak Nasi.." balas Al segera.


"Begini Nak Al, Bapak telpon kamu karna ada yang mau disampaikan. Ini mengenai biaya administrasi kamu.." ucapnya.


Al terdiam, dia tiba-tiba merasa takut jika kampusnya mengeluarkannya karna belum bisa melunasi pembayarannya.


"Iya Pak, Kenapa?"


"..gini..penunggakan uang kuliahmu yang tersisa dua puluh juta, telah dilunasi oleh seorang Pria.." beritahunya.


"...? Siapa!?" tanya Al segera.


"...Bapak kenal dengan orangnya, tapi Bapak tidak bisa menjelaskannya lewat telpon, kalau kamu sempat kamu datang ke kampus temui Bapak.." ucapnya.


"..baik, Pak.." pasrah Al.


"Bapak tunggu kedatanganmu ya!" seru Pria itu.


"InsyaAllah, Pak besok Al datang.." balas Al.


"Baiklah, Assalamu'alaikum.." ucapnya.


"Wa'alaikumsalam.." balas Al.


Teleponpun terputus. Al lalu meletakkan HPnya. Dia terduduk di kursi dengan pikiran melayang.


"Siapa yang membayarnya? Bukannya tidak ada yang tahu prihal ini kecuali aku dan Pak Nasi.." gumamnya.


Saat sedang berkutat dengan fikirannya, pintunya terbuka menampakkan sosok suaminya.


"..kamu belum ganti pakaianmu?" tanyanya melihat Al yang masih mengenakan mukenah.


"...ahhh iya Kak, maaf.." balas Al yang segera berdiri lalu membuka mukenahnya.


# # #


Jam sudah menunjukan pukul setengah sepuluh pagi, Al lantas segera keluar dari kamarnya.


Dia berjalan kearah bawah dengan pakaian rapi dan dibahunya terselempang tas.


"Tap tap tap"


Al melangkah kearah halaman rumah, disana dia melihat Pak Usman dan Pak Mamat sedang bercakap-cakap.


Pak Usman yang melihat Al nampak rapi lantas menghampirinya.


"Nyonya sudah mau berangkat kerja? Bukannya Nyonya masuk kerja nanti siang!?"


"..iya Pak, saya masuk kerja nanti siang.." balasnya.


"Sekarang saya ingin pergi dulu.." lanjutnya.


"Mau kemana Nyonya? Ayo Bapak antar!"


"Tidak usah Pak!" ucapnya segera.


"...Al ingin pergi sendiri aja.." ucapnya.


"..aaa..sebenarnya, Bapak mengizinkan saja, hanya saja nanti Tuan Mikael marah jika mengetahui saya tak mengantar Nyonya ketempat tujuan.." balasnya.


"Kemarin, Tuan memberi tugas saya mengantar dan menjemput Nyonya Al, mulai sekarang.." jelasnya.


"..Baiklah Pak, saya mau diantar.." pasrahnya. Jika dia tak mengikutinya bisa-bisa suaminya memarasi Pak Usman.


Pak Usman tersenyum mendengar Nyonyanya setuju.


"Saya ambil kunci mobil dulu ya.." ucapnya yang lalu segera berlari kedalam.


Usai mengambil kunci, Pria itu segera membuka mobil lali menyalakan mesinnya.


Al lantas masuk kedalam mobil, dia duduk dikursi belakang.


"Nyonya ingin pergi kemana?" tanya Pak Usman saat akan keluar dari gerbang.


"..saya ingin ke kampus XXX.." beritahu Al.


"...kampus XXX yang ada di XXX.." ucap Pak Usman menjelaskan lokasi kampus tersebut.


"Iya Pak.." angguk Al.


"..itu bukannya kampus yang sering didatangi Tuan Mikael, ada apa Nyonya kesana?" batinnya. Pasalnya Pak Usman dalam setahun beberapa kali kesana mengantar Tuannya.


# # #


Akhirnya, setelah perjalanan kurang lebih satu setengah jam. Mobil yang ditaiki Al, sampai di area kampus.


Al menatap sepanjang jalan area yang dilewatinya, rasanya sangat rindu.


Terakhir, dia menginjakkan kaki disana. Saat wisuda Via, itu terjadi sudah beberapa bulan yang lalu.


"Pak, didepan belok kanan ya!" serunya menunjukan jalan.


"Baik, Nyonya.." balasa Pak Usman.


Sampailah mobil itu, didepan sebuah gedung berukuran besar. Itu merupakan gedung yang didatangi semua mahasiswa untuk mengurus masalah bayar membayar.


"Saya turun disini aja, Pak!" pintanya.


"..disini?" tanya Pak Usman, pasalnya mereka masih di selisir jalan.


"Iya, saya akan ke gedung itu!" tunjuknya kearah gedung disebrang.


"Bapak bisa mermarkirkan mobilnya, disana.." tunjuk Al kemudian ke gedung sampingnya.


"...? Kenapa tidak didepan gedung itu aja?" tanya Pak Usman, pasalnya halaman gedung yang Al datangi masih kosong.


"..tidak apa-apa, disana aja.." ucap Al.


"Nanti Al samperi ya, kalau audah selesai.." katanya segera.


"Assalamu'alaikum.."


"..wa'alaikumsalam.." jawab Pak Usman yang tak paham alasan Nyonya.


Al berjalan pelan kearah gedung, dia memiliki alasan mengapa tak ingin memarkirkan mobil didepan gedung tujuannya.


Alasannya karna mobil suaminya sangat mencolok, membuat mata mahasiswa lain yang juga mempunyai mobil melihat kearah mobil itu. (maklum ya...mobil horang khaya yang di pakai Al)


# # #


Di meja administrasi, nampak Pria setengah baya sedang melayani mahasiswa yang mengantri didepan meja.


Al melangkah pelan mendekat kearah Pria itu, yang nampaknya masih sibuk.


Dia tak langsung menghampiri Pria itu, tapi Wanita itu menunggu sampai mahasiswa yang mengantri selesai.


Sambil, menunggu Al duduk dibangku yang ada didepan administrasi. Dia membuka tasnya mengambil bukunya yang berjudul 'Prophetic Parenting'


Buku tersebut berisi cara nabi mendidik anak. Inilah persiapan Al agar bisa mendidik anaknya dengan baik.


Al sangat menyukai membaca buku tentang Islam sejak berteman dengan Via, dia merasa buku itu sangat menarik dan membuatnya mengetahui banyak hal.


Itu juga merupakan tahap awal persiapan pembentukan karakter anak. Walau sebenarnya Al telat tetapi tidak ada kata telat bagi orang yang ingin belajar dan mengetahui sesuatu yang benar.


Saking fokusnya membaca, tanpa Al sadari barisan antrian mahasiswa didepannya telah tak ada.


Pak Nasi yang melihat seorang Wanita bercadar duduk didepan, nampak menduga-duga itu Wanita yang dikenalnya atau bukan.


"Nak Al!" serunya memastikan.


Al masih tak bergeming, dia masih fokus membaca tanpada disadarinya dia dioanggil oleh orang didepannuya.


"Nak Al!" panggilnya kembali lebih keras.


Wanita itu mengangkat kepalanya, dia melihat kearah Pria yang memanggilnya.


"..maaf Pak Nasi.." ucapnya yang lalu beranjak dari duduknya menghampiri Pria itu. Tak lupa bukunya segera dimasukkannya kedalam tas.


"...haahhh..benar dugaan Bapak!" ucapnya.


"..Al enggak ganggukan, Pak?" tanyanya, melihat tadi dia sangat sibuk.


"Tidak, lagipula sudah tak ada yang datang.." ucapnya menunjuk hanya mereka berdua tak ada mahasiswa lain yang mengantri.


"..gini Pak, Al mau tau kelanjutan pembicaraan kemarin.." katanya penasaran.


"Iya, jadi seminggu yang lalu seorang Pria datang. Dia menanyakan prihal Nak Al.." beritahunya.


"Dia bilang kalau dirinya sering melihat Nak Al.." ceritanya.


"Lalu Bapak menceritakan tentang tunggakan kuliah saya!" seru Al.


"Bapak benar-benar tak menyangka, jika dia membayarnya. Awalnya Bapak menolak uang itu, tapi dia mengatakan serius tertarik dengan Nak Al.." jelas Pak Nasi.


Al terdiam, dia bertambah bingung. Pasalnya dia tak kenal dengan Pria yang membayarkan. Ditambah, tidak masuk akalnya Pria itu hanya sekedar teratarik dengannya.


Setahunya, setertariknya seseorang, pasti tidak akan memberikan uang sebesar itu dengan cuma-cuma.


Takutnya, sebagai ganti uang itu. Dirinya harus menikah dengan Pria itu, sedang dia sudah memiliki suami dan sedang hamil sekarang.


Kalaupun dirinya memang belum menikah pasti tak segampang itu dia memilih Pria itu.


"..kalau begitu, boleh saya tau Pak nomor telpon. Saya ingin menghubungi orang tersebut.." ucapnya.


"Tentu saja.." ucap Pak Nasi.


Dia segera mengambil HPnya lalu mencari kontak dari Pria tersebut.


"Ini Nak Al sudah Bapak sambungkan!" serunya memberikan HPnya.


"...terimakasi Pak" balasnya merasa tak enak, pasalnya Pak Nasi sampai meminjamkan HPnya. Padahal Al hanya minta nomornya untuk ditelpon menggunakan HPnya sendiri.


"Tuuut Tuuut Tuuut"


Telepon tersambung, tapi belum terdengar suara disebrang sampai telepon itu berhenti.


"Tidak diangkat, Pak!" serunya menyerahkan kembali HPnya.


Pak Nasi melihat kearah jam yang menunjukan pukul setengah dua belas.


"..mungkin masih sibuk, Nak Al. Soalnya dia Bos di perusahaan lumayan besar.." balasnya.


"..Bapak, sangat kenal Pria itu?" tanya Al.


"Tentu, Bapak sangat mengenalnya. Dia merupakan alumni kampus sini juga. Setiap wisuda, dia merupakan salah satu alumni yang di panggil untuk memberi sambutan.." beritahunya.


"Sambutan!?"


"Iya..tidak hanya itu dia juga suka di panggil untuk memberikan motivasi untuk Mahasiswa jurusan Ekonomi. Karna diusianya yang masih muda dia sudah memiliki perusahan sendiri dengan omset yang besar.." jelasnya.


"..oh begitu, MasyaAllah keren ya Pak.." balas Al.


"Namanya siapa, Pa?" tanyanya kemudian.


"Bapak sejak tadi belum memberitahu namanya.." ucapnya yang digelengi Al.


"Namanya Mikael.." beritahunya.


"Tek"


Al terdiam mendengar nama itu.


"Mikael! Ini yang dimaksud Kak El?" batinnya bertanya.


Pak Nasi yang melihat Al terdiam lalu menjentikkan jari didepan wajah Al.


"Nak Al!" panggilnya.


"..ahhh..iya Maaf Pak.."


"Boleh saya minta nomornya, Pak?"


"Tentu saja, Nomornya 081388XXXXXX" tutur Pak Nasi yang segera diketik di HPnya.


Saat semua nomor itu sudah tercatat sepenuhnya, dia melihat tak ada nomor tersebut didalam kontaknya.


"..ternyata bukan.." batinnya.


"Jika memang Kak El, pasti Kakak sudah bertanya.." ucapnya menenangkan diri. Walau sebenarnya hatinya masih memikirkannya.


"Ohhh ya Nak Al, bukannya kamu sudah selesai skripsi. sebaiknya kamu segera mendaftar sidang sebelum sidangnya ditutup.." Katanya mengingatkan.


"..iya Pak, InsyaAllah.." balas Al.


"..kalau begitu saya pamit ya, terimakasih kasih waktunya Pak. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam..hati- hati ya.." ucapnya.


Al lalu keluar dari gedung tersebut, perasaannya masih terasa ada ganjalan.


Dia lalu berjalan kearah gedung sebrang yang dimana Pak Usman memarkirkan mobil.


# # #


Jam sepuluh malam lewat lima menit, Al sampai rumah.


Tubuhnya terasa cape hari ini karna pasien Klinik sedang ramai.


Dilangkahkan kakinya kedalam dengan gontai. Di ruang TV dilihat suaminya yang sedang duduk sambil meminun sesuatu.


"Assalamu'alaikum Kak.." salamnya saat berada didekat Pria itu.


Pria itu mengalihkan matanya dari arah TV ke Al. Bibirnya tersenyum menyambut Istrinya pulang. "Waalaikumsalam.."


Al segera menghampiri Pria itu, dia duduk disampingnya.


"Kakak sudah lama duduk disini?"


"..belum, sekitar setengam jam.." jawabnya.


Mikael lalu mendapati wajah Istrinya yang nampak sangat lelah.


"Bersih-bersihlah, setelah itu baru tidur.." ucapnya.


"Iya, Al keatas dulu ya.." pamitnya yang lalu beranjak dari sofa.


Sampainya di kamar, Al segera merebahkan tubuhnya sejenak. Dia memejamkan matanya sejenak.


Seketika matanya kembali terbuka mengingat, Pria bernama Mikael yang membayarkan uang kuliahnya.


"Kenapa hatiku mengatakan kalau itu Kak El? Tapi, jika memang benar, Kak El takkan diam dan masih seramah tadi.." batin Al.


Al melepas kerung dan cadar yang di pakainya. Dia kembali lagi memejamkan mata.


"Tok tok tok"


"Nyonya Al, Bi Hilda masuk ya.." ucap suara diluar pintu.


"Cklek"


Pintu terbuka, menampak sosok Wanita setengah baya yang membawa nampan yang diatasnya ada segelas air, sendok dan sepiring roti gandum.


Al membuka kembali membuka matanya, dia lalu mendudukan tubuhnya.


"..itu apa, Bi?" tanyanya saat Wanita itu berjalan kearah meja didekat jendela.


"Ini air putih hangat dan roti gandum. Tuan Mikael meminta saya membawakannya pada Nyonya Al.." ucap Wanita itu tersenyum ramah.


"..tapi Bibi bingung, kenapa Tuan Mikael juga meminta membawa sendok, padahal ini air putih.." ucapnya kemudian.


Al lalu segera bangkir dari duduknya berjalan kearah meja yang terdapat nampan disana.


Wanita itu tersenyum melihat kearah benda diatas nampan. "..terimakasih, Bi.." ucapnya kemudian.


"..sama-sama Nyonya. Bibi pamit keluar dulu ya.." katanya yang lalu keluar dari kamar.


Seperginya Bi Hilda, Al segera berjalan mearah meja kecil disamping ranjang. Dari dalam meja dia mengambil susu yang disimpannya disana.


Inilah rutinitas Al selama seminggu ini, dia setiap akan tidur pasti akan meminum susu bumilnya.


Sedangkan kehamilannya belum mereka beritahu pada anggota rumah, termasuk pada Kakeknya Mikael yang mengharapkan cicit dari Cucunya.


# # #


Disisi lain Mikael yang sedang berada di kamarnya membuka HPnya. Dia sedang membaca pesan dari seseorang yang masuk tadi siang.


Bibirnya nampak menyunggingkan senyum.


Flashback On


"Kamu yakin Mikael akan membayar semua uang kuliahnya?" tanya Pria setengah baya itu kembali.


"Iya.." ucapnya kembali.


"Uang duapuluh juta tidaklah kecil, Mikael. Wanita itu juga pasti tidak akan menerimanya begitu saja.." ucapnya kembali memastikan.


Mikael nampak berfikir, dia lalu berkata, "..saya melakukan ini karna saya suka dengannya. Bukannya Pak Nasi tau, saya bukanlah tipikal orang yang semudah itu mengluarkan uang pada Wanita.."


"Jika memang dia tak menerimanya, dia pasti akan menanyakan nomorku.." lanjutnya.


Flashback Off


"Sudah saatnya kamu menceritakan tentangmu bukan Al!" ucap Mikael.


Mikae sudah mengetahui, tetapi dia tetap diam karna, dia ingin Wanita itu mengatakan sendiri padanya.


Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...


Salam hangat SMIM


Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.


Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...


PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.


Padahal sudah mau ending hahaha...