Friends After Marriage

Friends After Marriage
Curhatan



Curhatan


Happy Reading!!!


Sejak jam 6 sore, hujan sudah mengguyur kota Jakarta. Membuat jalanan lebih lengang dari pada malam biasanya. Begitu juga toko yang berjajar sepanjang jalan, para karyawannya sangat setia pada tempatnya duduk saat ini.


Seorang Wanita Beriris mata coklat yang duduk di meja pendaftaran, tampak sedang mengeluarkan sesuatu dari godi bag.


Setelah mengeluarkannya. Wanita itu kemudian menyusun hal yang di keluarkan didepannya.


"Al, aku mau beli nasi goreng! Kamu mau gak?" tawar seorang Wanita berkerudung hitam yang ada disampingnya. Wanita berkerudung hitam itu baru saja melayani pasien yang mendaftar.


Wanita yang tak lain itu adalah Via. Dia lalu menyadari akan sesuatu yang ada didepan Wanita bermasker tadi. "Kamu bawa bekal Al! Tumben!" seru Via.


Al menganggukan kepalanya lemah. Dia menengok kan kepalanya kearah Via.


"Kita makan ini aja, yu!" ajak Al.


Via pun mengangguk ajakan Al dengan semangat. Bagi Via yang anak kosan, ajakan Al sangat berarti.


Via lalu menarik kursinya mendekat ke arah Al. Dia terlebih melihat sekeliling ruangan yang hanya terdapat beberapa orang yang bisa di hitung jari. Dia juga melihat kearah teras yang masih menampakkan hujan yang lebat..


"Ayuk makan!" serunya. Dia lalu mengambil sendok yang disodorkan oleh Al.


Tanpa babibu mereka menyantap makanan dengan lahab. Begitu juga dengan Al yang terlebih dahulu melepas maskernya agar mudah menyantap hidangan didepannya.


Usai makan, Al izin kebelakang untuk mencuci rantangnya. Sedang Via kembali menjaga meja pendaftaran yang sejak tadi tak ada orang yang mendaftar.


Al yang selesai dengan aktivitasnya kembali menghampiri Via yang sedang mengetik sesuatu di layar laptop.


"Al makasih ya makan malamnya," ucap Via saat Al sudah duduk di kursinya.


"Sama-sama.." balas Al. Al lalu membuka buku berisi nama pasien yang berobat.


"Oh iya Al.." gumam Via. Dia lalu menengok kearah Al. "Bukannya tadi siang kamu ke tempat suamimu buat makan siang bareng, tapi kok rantang makananmu masih utuh?" via memiringkan kepalanya sedikit kearah kiri.


"...Iya tadi aku memang makan siang bareng Mas. Tapi kami makan di luar, jadi..." jawab Al dengan senyum tipis. Via membulatkan bibirnya, dia lalu kembali melihat ke layar komputer didepannya.


Saat keheningan kembali, Al terdiam mengingat kejadian tadi siang. Sebenarnya Al sedih saat melihat makanan dirantang tadi. Tapi kesedihannya sirna mengingat akan makan siangnya diluar bersama suaminya untuk kali pertamanya. Tapi...Al bergidik ngeri saat mengingat struk makanan yang dibayar olehnya.


Harganya sungguh membuat Al kaget, Karena ini harga makanan fantastik pertama yang Al bayar, yang ujung-ujungnya akan dibuang juga. Bukannya Al tak ikhlas membayar tetapi Al hanya tak habis pikir dengan orang kaya yang gampang mengeluarkan uang untuk hal seperti itu.


Apalagi ketika Al mengingat banyak orang diluar sana yang kelaparan, sampai-sampai rela mengais tempat sampah hanya sekedar mengisi kekosongan perut. Ya paham lah maksudnya.


Angan-angannya pun terhenti saat mendengar HPnya berbunyi bertanda pesan masuk. Al membuka lesan tersebut yang berasal dari nomor yang sangat dikenalnya.


Assalamualaikum akhwatifillah insyaAllah besok jumat jam 6 pagi kita mengaji di kosan Via di XXX. Semoga di mudahkan.


Disaat yang sama ternyata Via juga membaca pesan tersebut. Dia lalu menengok kearah Al yang masih memandang layar HPnya. "Al, besok ngaji di kosan aku. Gimana kalo kamu malam ini nginap di kosanku?" Al mengalihkan tatapannya kearah Via.


Al diam sejenak memikirkan perkataan Via, kemudian dia berkata, "Kalau gitu..., Aku nanti pinjam baju kamu ya.." senyumnya.


""Tenang aja! Lagi pula...bajumu masih ada kok di kosanku.." balas Via dengan cengiran.


Mereka berdua tampak senang. Terlebih lagi Al yang memang sejak menikah tidak pernah mengunjungi kosan Via.


Via kembali lagi beralih kelayar laptop-nya sedang Al mengirim pesan pada Pak Usman agar hari ini tak usah menjemput ke tempatnya bekerja.


Awalnya setiap Al mendapat shift malam Pak Usman tak pernah menjemputnya. Tetapi setelah melihat Al selalu sampe rumah jam 11 atau kadang sampai jam setengah 12 malam membuat Pak Usman khawatir. Sejak itu Al selalu dia jemput setiap mendapat shift malam.


###


Kantor sudah tampak sepi. Hanya ada beberapa karyawan yang masih tampak terlihat. Ada yang masih lembur ada juga yang menunggu redanya hujan.


Didalam kantor, Mikael terlihat mempersiapkan beberapa dokumen untuk rapat dengan perusahaan tetangga esok hari.


Matanya sejak tadi memperhatikan layar komputer untuk mencari dokumen tentang rancangan yang telah dibuatnya. Dibukanya file yang ada di folder laptopnya agar menemukan dokumen tersebut. Dengan lincah matanya mencari dan jarinya membuka satu persatu folder dilayar komputernya. Sayangnya nihil.


Diketuknya meja beberapa kali mengingat file itu. "......., S..." umpatnya saat mengingat keberadaan dokumen itu. Dia menggaruk kepalanya gusar.


Diliriknya jam yang melingkar di pergelangannya yang menunjukan pukul enam lewat. Dengan cepat dia membereskan kertas-kertas yang berantakan diatas meja dan mematikan komputernya.


Setelah rapi, dia melangkahkan kaki menuju pintu keluar. Disana tak tampak Pak Usman. Tanpa berfikir Mikael tahu dimana posisi Pak Usman saat ini. Dia melangkahkan kakinya menuju tempat itu.


###


"Assalamu'alaikum Warohmatullah," ucap Pak Usman menengok ke kanan.


"Assalamu'alaikum Warohmatullah," ucapnya kembali menengok kearah sebaliknya.


Pak Usman mengusapkan kedua telapak tangannya kearah muka. Setelah itu dia memimpin berdzikir, kemudian berdoa mengangkat kedua tangannya dengan kepala tertunduk. Usai itu para jamah yang berasal dari karyawan yang belum pulang menyalami Pak Usman. (Tentu laki-laki ya, yang bersalaman)


Usai bersalaman Pak Usman beranjak dari posisi duduknya, kemudian dia bersiap kembali untuk melaksanakan sholat sunah dua rokaat setelah Magrib. Setelah itu dia menuju kearah pintu keluar untuk mengenakan kaos kaki dan sepatunya kembali.


Saat akan melangkah menuju lift yang ada di lobi. Pandangan Pak Usman tertuju pada sosok Pria yang sedang duduk di bangku lobi. Di urungkan nya niatnya menuju lift, dia menghampiri Pria tersebut.


"Tuan," ucap Pak Usman saat sampai didepan Mikael. Mikael yang saat itu sedang membuka HPnya langsung mematikannya kemudian memasukannya kedalam kantung jasnya.


Dia beranjak dari posisi duduknya menuju kearah luar. Begitu juga dengan Pak Usman yang mengikutinya dibelakang.


Sampai didepan, Pak Usman segera mengambil mobilnya. Tak butuh waktu lama Pak Usman mengendarainya menuju Mikael, kemudian berhenti tepat didepannya.


Dibukanya pintu penumpang, "Tuan, silahkan!"


Mikael segera memasuki mobil yang diikuti Pak Usman yang duduk di bagian pengemudi.


"Pak Usman, arahkan mobilnya kearah rumah!" perintahnya saat Pak Usman sudah duduk di bangkunya. Pandangan Mikael melihat kearah kaca spion depan.


"Baik Tuan," Pak Usman menganggukan kepala paham. Dalam hatinya dia bertanya-tanya dengan ketumbenan, Tuannya yang tiba-tiba pulang.


###


Di kamar berukuran 3x3,5 meter. Dua gadis yang menggunakan piyama tampak sedang bercerita sambil sesekali bersandar gurau.


"Vi, kasih tau dong siapa orangnya. Aku kan kepo?" ucap Al dengan mencolek-colek lengan Via.


"Hehehe..., ra ha si ya.." Via menyengir kearah Al. Dia menutup sebagian wajahnya dengan selimut.


Al memajukan bibirnya melihat Via yang tak ingin bercerita prihal Pria yang seminggu yang lalu melamarnya ke rumah.


Soalnya seminggu yang lalu saat Via izin. Al hanya mengetahui jika dia pulang lantaran ibunya tiba-tiba menyuruhnya.


"Ayo dong Vi! Masa kamu gak mau cerita tentang Pria itu dan kamu kenalnya dimana?" bujuk Al kembali dengan wajah memelas.


Via mendapat ide sekilas melihat sifat kepo Al yang mulai kambuh.


"Yaudah aku bakal kasih tau siapa orangnya. Tapi...kamu juga harus kasih tau siapa suami kamu..." tawar Via dengan senyum kemenangan.


"Aku kan juga pengen tahu wajah suamimu! Lagian setiap aku tanya, kamu selalu mengalihkan pembicaraan.."


Al tertegun mendengar ucapan Via. Sebenarnya dia ingin menunjukan wajah suaminya. Tetapi dia bingung bagaimana harus menunjukannya. Karena dia tak memiliki foto wajah jelasnya, karena sebagian besar foto Mikael yang diam-diam Al ambil tak begitu jelas wajahnya. Dan karena Al pernah ketahuan saat akan memfoto suaminya dari dekat, dan dia malah mendapat tatapan tajam darinya.


"...Yasudah, aku akan memberikan fotonya, tapi...wajahnya tak begitu jelas. Karena... suamiku tak begitu suka aku foto.." ucap Al. Via tersenyum menang mendengar Al yang akan menunjukannya.


"Tidak masalah..tidak masalah.."


Via menyipitkan mata melihat foto dilayar didepannya yang terlihat seorang Pria yang sedang menaruh tangan di telinga, seperti sedang bertelponan. Dia memperhatikan wajahnya yang tak begitu jelas.


"Al, gak ada foto mukanya yang lebih jelas!" pinta Via yang merasa matanya sakit memperhatikan foto itu walaupun sudah di zoom.


"Gak ada Vi. Itu foto yang paling jelas. Kan kamu tau sendiri kamera HPku enggak secanggih HPmu.." Al melihat HPnya yang merupakan keluaran lama. Ditambah dengan gesekan maupun benturan akibat jatuh karna keteledoran Al.


"Makanya beli HP baru dong!" ledek Via. Via tau betul sifat Al yang tak akan membeli barang baru sampai barang yang dikenakannya benar-benar tak dapat berfungsi lagi.


Via lalu membuka WAnya. Dia membuka pesan ibunya yang terdapat satu foto yang dikirim ibunya, saat menyuruhnya pulang. Via terlebih dahulu mendownload foto tersebut. "Ini!" Via menunjukan foto pada layar HPnya kearah Al. Al melihat Pria yang sedang duduk disebuah kursi dengan wajah gugup. Pria tersebut sangat dikenal Al.


"Eeeehh...bukannya ini Dokter Ilham!" Al merasa kaget melihat foto yang di tunjukan Via. Via terlihat menyengir sambil tersenyum-senyum.


"Sejak kapan kamu dekat sama beliau. Bukannya beliau selalu bersikap dingin setiap ketemu atau papasan dengan kita?" Al bertanya-tanya. Terlihat jelas wajah kebingungannya.


"Kata siapa beliau dingin, setiap bertemu denganku beliau selalu tersenyum!" sanggah Via. Al mengerutkan dahi seketika.


"Masa kamu lupa sih. Bukannya beberapa waktu lalu saat beliau praktek di klinik. Kita kan berpapasan dengan beliau, saat itu wajahnya tampak sangat dingin.." Al mengingatkan kembali ke beberapa waktu silam. Yang dimana saat mereka berpapasan di pintu masuk. Tampak wajah Ilham yang dingin dan tak bersahabat.


"Ohhh, soal itu. Memang beliau berwajah dingin saat itu. Tapi...saat aku berpapasan lagi dengan beliau. Dokter Ilham meminta maaf karna berwajah seperti tadi.." jelas Via. Al terkaget mendengar penuturan Via.


"Terus kenapa kamu gak pernah kasih tau aku kalo udah lama dekat dengan beliau?"


Via yang sekarang mengerutkan dahi mendengar penuturan Al. "Aku gak pernah dekat dengan beliau Al. Bukannya kamu tau sendiri. Kita ada batasan antara laki-laki sama perempuan.."


"Terus kok bisa Dokter Ilham ngelamar kamu? Apalagi sampai tau rumahmu?"


"Kalau soal lamar, katanya beliau tertarik sama aku. Sedangkan soal rumah, saat itu aku yang sedang bermain HP dikagetkan dengan pesan singkat Dokter yang meminta alamat lengkap rumahku yang diakhiri kata kalau beliau akan melamar ku. Awalnya aku tak menganggap serius. Sampai akhirnya Mama menelpon menyuruhku pulang karna ada seorang Pria yang melamar ku ke rumah.." jelas Via.


Padahal saat itu Via juga sama kagetnya dan tak menyangka pesan yang dikirim Ilham adalah serius. Padahal jarak dari rumahnya ke tempat kerja cukup memakan waktu 3 jam. Itu pun jika tidak macet.


###


Al kaget sambil mengangguk-anggukan kepala paham mendengar rentetan cerita Via dari awal hingga akhir. Yang paling membuat Al kaget adalah tentang Dokter Ilham yang ternyata tak bisa berhadapan dengan Wanita, karna hal tersebut spontan wajahnya akan berubah dingin.


"So...sekarang gantian kamu yang cerita tentang pertemuan mu dengan suamimu.." ucap Via. Al mengerjapkan matanya melihat Via.


"Bukannya aku udah pernah bilang. Pertemuanku dengannya.."


"Tapi itu tak menjelaskan awal pernikahanmu?"


Al memperhatikan sahabatnya ini dengan seksama. Wajah Via terlihat sangat penasaran akan cerita Al.


"Vi..namanya jodohkan gak ada yang tau. Itu semua takdirnya Allah.." ucap Al.


"Contohnya aja kamu sama Dokter Ilham, tiba-tiba tanpa basa-basi beliau melamar mu. Begitu juga denganku.." lanjutnya. Via terdiam sejenak memahami perkataan Al.


Via tersenyum memahami perkataan Al. Walaupun sebenarnya hatinya masih bertanya-tanya akan cerita tentang pernikahan Al. Tapi dia akan bersabar sampai saatnya Al bercerita sendiri, yang penting bagi Via, Al bahagia.


###


"Ahhh...akhirnya selesai juga!" Mikael merenggangkan kedua tangan kesamping sedangkan kakinya di luruskan.


Diliriknya jam berbentuk bulat yang ada di dinding menandakan pukul sebelas malam. Mikael segera melangkahkan kakinya kearah kamarnya untuk mengganti pakaian kantornya yang masih melekat di tubuhnya.


Saat menuju kamarnya. Mikael melewati kamar Al yang ada disamping kamarnya. Dia melihat lampu kamar Al yang masih menyala. Cahaya tersebut keluar dari sela pintu bawah.


"Apa dia belum tidur?" batin Mikael. Tapi dia tak menghiraukannya dia tetap melangkah kearah kamarnya.


###


'Cklek'


Mikael keluar kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian bawahnya. Dia mengarah kearah lemari pakaiannya untuk mengambil baju tanpa lengan dan juga celana boxernya.


Usai memakai pakaian, Mikael melirik kearah kasurnya. Matanya saat ini sangat terasa berat. Rasanya dia ingin memejamkan matanya dan merebahkan tubuhnya yang letih. Tapi dia enggan karna jika dia tertidur maka besok pagi dia akan berpapasan dengan Wanita disamping kamarnya.


"..." Mikael diam menimbang-nimbang. Dia lalu mendekat ke kasur. Kemudian merebahkan dirinya. "Sebentar tak masalah!" gumamnya lalu memejamkan mata.


Z


Z


Z


Mikael membuka matanya. Dia melihat sekeliling ruangan yang sangat dikenalnya. Sampai akhirnya dia tersadar dan mendudukan tubuhnya dalam sekejab.


"S**t.." umpatnya dengan suara pelan. Mikael benar-benar tak menyangka jika dia sampai sepulas ini. Dia bergegas beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi.


###


Mikael membuka pintu kamarnya pelan. Dia menengok kearah kamar Al yang tampak sepi.


"Apa yang gua lakukan? Kenapa gua harus takut ketemu dengannya?" gumamnya dalam hati.


"hehhh bukan takut lebih tepatnya malas!" koreksinya.


Dengan enteng dia melangkah keluar pintu menuju kearah tangga. Matanya saat ini memperhatikan kearah ruang TV yang berada didekat tangga. Ruangan tersebut tampak sepi.


Pak Usman yang akan memanggil Mikael. Melihat dirinya yang sedang menuruni tangga dengan mata yang melihat kearah ruang TV. "Tuan.." sapa Pak Usman. Mikael tersentak, tetapi hal tersebut tak terlihat jelas dari wajahnya.


Mikael menengok kearah suara yang ada ujung tangga. Dia terus melangkahkan kakinya sampai menghampiri Pak Usman.


Saat Mikael sudah sampai didepan Pak Usman. Pak Usman kembali berkata. "Tuan, sarapan sudah siap.."


Rasa lapar diperut Mikael mengatakan agar dia menerima, tapi dia membiarkan rasa tersebut dan lebih memilih menuju kearah pintu keluar.


"Pak Usman sudah memanaskan mobil.." ucap Mikael.


"Belum Tuan, saya akan segera memanaskannya.." seru Pak Usman meninggalkan Mikael menuju ke bagasi.


Sedangkan Mikael menunggu di ruang tamu. Dia berharap supaya Wanita itu masih tak menyadari keberadaannya. Karna jika dia menyadarinya maka sejak tadi Wanita itu sudah menghampirinya.


Tak berapa lama dari arah dalam Bi Hilda membawa segelas Teh Hijau hangat. Bi Hilda meletakkannya diatas meja yang ada didepan Mikael.


"Tuan Mikael, silahkan Teh Hijau hangatnya.." setelah berkata itu Bi Hilda izin pamit kedalam.


Mikael melirik kembali kearah dalam yang tak tampak sosok yang dia hindari. Dia merasa bingung, tetapi dia segera menyingkirkan perasaan tersebut dan memilih meminum Tehnya sampai tandas.


###


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.