
(Jangan lupa vote dan ucapan!!!)
Happy Reading!!!
Paginya
Usai sholat subuh Al langsung ke dapur. Biasanya dia akan mengaji terlebih dahulu, tapi karna ingin masak makanan untuk suami tercinta. Al rela tidak mengaji yang merupakan rutinitasnya sehabis sholat subuh.
Saat Al sedang memasak masakan. Bibi yang sedang mengelap meja makan melihat Mikael menuruni tangga, dengan setelah jas melekat di tubuhnya, ditambah sepatu pantofel hitam, tasnya dan rambutnya yang di kuncir cepol.
Al yang sedang fokus memasak di dapur di kaget kan oleh Bi Hilda yang mengatakan Mikael akan berangkat kerja.
Al segera meminta Bi Hilda menggantikannya membalikkan tempe yang sedang digoreng lalu dia menyusul Mikael yang sedang berjalan kearah pintu.
"Mas...Kak El!" panggil Al dengan suara yang terdengar lembut.
Mikael tetap berjalan karna tidak mendengar ada yang memanggilnya. Sampai akhirnya dia berhenti ketika ada sesuatu yang tiba-tiba menghalangi jalan di hadapannya.
"Kakak jalan cepat bangat!" seru suaranya. Al terlihat ngos-ngosan karna berlari dari dapur.
"Ada apa?" tanya Mikael datar memperhatikan wajah wanita didepannya.
Al terlihat menarik nafasnya dalam-dalam kemudian mengeluarkannya pelan-pelan. Dia kemudian melihat kearah Mikael.
"Kak El tidak makan?" Mikael seketika melotot mendengar pertanyaannya. Jadi dia mengejarnya hanya untuk menanyakan itu. pertanyaan yang menurutnya tidak penting.
"Tidak!" raut wajah Al terlihat berubah kesal mendengar jawaban Mikael.
"Kenapa?" Al menatap tajam wajah Mikael meminta jawaban.
Mikael mengerutkan dahi mendengar pertanyaannya. Alasannya tentu karna dia tidak terbiasa. Di tambah dia tidak ingin makan semeja dengan Al.
"Aku tidak terbiasa makan pagi! Itu bisa membuat mual!" jelas yang ditambahi dengan kebohongan. Al mengangguk tampak wajah kecewanya. Tidak lama wajahnya kembali senang menatap Mikael.
"Yasudah Kak El hati-hati ya! Kalau jam 6 belum bisa makan. Jangan lupa nanti jam 8 atau 9 perutnya diisi makanan atau minuman biar lambungnya gak kosong!" ceramahnya. Al menatap hangat Mikael.
Mikael hanya berdehem menjawab perkataan Al. Lalu Al kembali menjulurkan telapak tangannya kearah Mikael.
Sekarang tanpa berfikir Mikael paham maksud juluran tangan Al.
"Kamu tidak perlu menyalamiku. Aku tidak sesepuh itu.." katanya lalu melanjutkan jalan menuju mobilnya yang telah menyala. Di pintu penumpang Pak Usman terlah berdiri, dia bersiap membuka pintu untuk Mikael.
Al yang tidak dibalas juluran tangannya menariknya kembali tangannya yang ditatapnya sebentar. Lalu dia segera menyusul Mikael. Mendekat kearah mobil yang siap berjalan.
"Mas hati-hati ya! Assalamualaikum!" serunya semangat sambil melambaikan tangan kearah mobil sampai keluar dari halaman. ketika mobil tak terjangkau pandangannya dia baru kembali memasuki rumah.
Didalam mobil Pak Usman menjawab salam Al pelan sedang Mikael diam. Dia lebih memilih mengambil file yang akan dibacanya dari dalam tas.
Didalam rumah Al menyelesaikan masakannya terlebih dahulu. Setelah itu dia kembali keatas untuk bersiap berangkat ke tempatnya kerja.
Selama seminggu ini dia izin libur karna menikah. Tentu tempatnya bekerja kaget dengan berita tiba-tiba yang di kabarkan Al sehari setelah pernikahannya.
Sampai teman-temannya mengirim pesan maupun menelponnya sekedar mengucapkan salam.
Di meja makan. Di pandangnya makanan yang baru dimasaknya lumayan banyak.
Al menuju ke dapur mencari benda yang dapat menampung makanannya yang akan dibawanya.
Bibi yang kebetulan melihat Al mencari-cari sesuatu mendekatinya.
"Nyonya Al sedang mencari apa?" Al yang sedang menunduk membuka lemari bawah dapur segera menengok ke sumber suara yang ada dibelakangnya.
"Hehehe iya Bi. Al cari rantang buat bawa masakan yang Al masak, karna terlalu banyak jika dimakan berdua oleh Bibi dan Pak mamat. Takutnya mubazir!"
"Oh rantang! Mari nyonya Bibi ambilkan.." Al melihat Bibi mengambil benda itu dari dalam laci yang ada di bagian atas lemari yang ada di dapur.
"Oh rupanya disitu.." gumam Al dalam hati.
"Saya cuci dulu ya Nyonya soalnya sudah lama tidak dipakai!"
"Biar Al aja yang nyuci Bi. Soalnya kan Al yang mau make!" pinta Al lalu mengambil alih rantang dari tangan Bibi.
"Benar Nyonya!" tanya Bibi memastikan.
"Tentu saja!" serunya dengan senyum.
"Yasudah kalau begitu. Bibi balik kerja yang lain ya Nyonya!" izin Bibi lalu pergi meninggalkan dapur.
Setelah rantang bersih terlihat mengkilat Al segera mengeringkannya dengan kain bersih. Lalu memindahkan sebagian makanan yang dimasaknya ke rantang
Didalam rumah Al tidak mendapati Bibi. Saat keluar rumah. Dia melihat Bibi yang habis membuang sampah.
"Bibi Al pergi dulu ya!" izin Al. Dia menjulurkan tangannya untuk mencium tangan Bi Hilda tetapi Bibi malah menolaknya.
"Tangan Bibi abis pegang sampah!" serunya menghindari tangan Al. Ak terlihat cemberut karna dalam pagi ini sudah 2 kali dia tidak diterima mencium tangan seseorang yang dihormatinya.
"Ba Al, enggak nunggu Pak Usman saja atau dipesan taksi sama Bibi?" tanya Bibi melihat Ela yang siap berangkat.
"Tidak Bi. Pak Usman kan nganterin Kak El, lagipula Al lebih suka naik kendaraan umum dari pada naik taksi. Yaudah ya Bi Al pergi, Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati di jalan Nyonya!" seru Bibi dari halaman.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih.