
Wanita Penolong
Happy Reading!!!
Mikael menatap tajam pemandangan luar dari kaca mobilnya. Saat ini dia begitu kesal pada wanita yang berstatus istrinya itu.
Dia kesal, karna wanita itu menyentuhnya. Ditambah dia rela berbohong hanya untuk mencium tangannya. Walaupun itu hanya kebohongan kecil tapi itu sungguh memuakkan baginya. Apalagi ketidak percayaan seseorang, kebanyakan disebabkan oleh kebohongan.
Dialihkannya pandangannya kearah depan. Dia mendapati Pak Usman yang sedang meliriknya dari kaca spion depan. Seketika saat tatapan mereka bertemu, Pak Usman langsung mengalihkan tatapannya.
Ditatapnya kaca spion depan itu yang memantulkan wajah Pak Usman. Mikael menatap Pak Usman tajam, membuat Pak Usman sesekali melirik kearah kaca spion.
"Pak Usman, apa anda sudah menemukan orang yang menyebarkan berita itu?" tanya Mikael memecahkan keheningan. Matanya masih menatap kearah Pak Usman. Pak Usman melirik kembali kearah Mikael sekilas lalu kembali fokus menatap jalan raya didepannya.
"...Hem..belum Tuan. Saya masih menyelidikinya. Orang yang menyebarkan berita tentang Tuan sungguh pandai, karna dia menghilangkan semua jejaknya.." jawab Pak Usman meyakinkan Mikael.
Pak Usman melirik kembali kearah Mikael yang masih menatapnya tajam. Terlihat matanya yang begitu kesal mendengar jawabannya.
"Maaf Tuan, saya masih belum bisa menemukan siapa pelakunya.." ucap Pak Usman merasa bersalah.
Mikael mengalihkan pandangannya dari kaca spion. Dia kembali menatap keluar kaca mobilnya.
"Tetap selidiki! Jika sudah menemukan orangnya langsung kabari saya!" perintah Mikael yang di iyakan oleh Pak Usman.
Mikael mengepalkan kuat tangannya. Dia sungguh tak sabar melayangkan tangannya kearah orang yang menyebarkan berita itu. Membuatnya menikahi wanita pembohong itu.
###
Akhirnya, mobil yang membawa Mikael berhenti di tanah lapang. Disana terdapat 2 bangunan tinggi yang saling terhubung satu sama lainnya.
Pak Usman memarkinkan mobil didekat lobi pintu masuk yang terlihat sepi karna hari sekarang hari libur.
Setelah mobil terparkir, Mikael memasuki lobi yang dijaga oleh seorang Satpam. Dia melangkahkan kakinya menuju lift yang berada tidak jauh dari lobi tempatnya masuk.
Tidak berapa lama lift yang telah ditekan oleh Pak Usman terbuka. Pak Usman lalu menekan tombol angka 9 yang ada di lift tersebut.
'Ting' pintu lift terbuka. Menampakkan seorang Satpam yang sedang duduk di sebuah kursi yang didepannya ada meja.
Mikael melangkahkan kakinya keluar dari lift yang pintunya telah di tahan oleh Pak Usman.
Satpam itu lalu menghampiri Mikael yang terlihat ingin memasuki sebuah pintu berdaun dua berwarna coklat muda.
"Maaf Pak, ingin bertemu siapa?" tanya Satpam itu sopan pada Mikael dan juga Pak Usman.
"Kami ingin bertemu Pak Kusno!" jawab Pak Usman. Dia tersenyum ramah pada Satpam itu.
"Pak Kusno! Mari saya cek terlebih dahulu.." kata Satpam itu. Dia membuka buku besar yang dibawanya tadi.
"...Pak Kusno ada di kamar 905.." ucap Satpam itu. Dia lalu menutup bukunya kembali.
"Terima kasih Pak.." kata Pak Usman.
"Sama-sama.." jawab Satpam itu.
Mikael lalu memasuki pintu berwarna coklat itu kemudian melangkahkan kakinya menuju kamar yang telah disebutkan Satpam tadi, walaupun sebenarnya Mikael sudah mengetahuinya.
Sampainya didepan pintu yang bertuliskan 905. Pak Usman membukakan pintu itu untuk Mikael.
Pria muda yang sedang duduk disamping ranjang itu menyadari akan kehadiran seseorang didalam ruangan. Dia segera menghampiri orang itu lalu menjabat tangannya.
"Terima kasih Pak Mikael, sudah datang kemari.." ucap Pria muda itu. Dia lalu mengajak Mikael dan juga Pak Usman duduk diatas sofa panjang itu.
###
"Bagaimana keadaan Pak Kusno?" tanya Mikael membuka percakapan.
"Alhamdulillah, Bapak sudah jauh lebih baik.." balasnya melihat kearah Mikael. "Maaf ya Pak Mikael, Bapak baru saja minum obat," lanjut pria muda itu. Dia melihat kearah Bapaknya yang tertidur dengan lelapnya. Mikael juga melihat kearah Pak Kusno yang sedang tertidur.
"Tidak apa-apa.."
Pria muda itu kemudian melihat kearah Mikael kembali. "Pak Mikael, saya benar-benar berterima kasih pada karyawan Pak Mikael yang menolong Bapak saya.." ungkap Pria muda itu.
Mikael mengerutkan dahi mendengar perkataan pria muda itu. "Karyawan saya?"
Pria muda itu mengangkat kedua sudut bibirnya. "Kemarin, saat Bapak pingsan didalam lift. Tiba-tiba seorang wanita dengan cekatannya menahan pintu lift yang hampir tertutup. Wanita itu dengan sigapnya menangani Bapak yang sedang pingsan.." jelasnya.
"Saya sungguh berterima kasih pada wanita itu, karna sebagai anak saya hanya bisa diam tak melakukan apapun.." lanjut Pria muda itu. Dia mengepalkan kedua tangannya yang merasa kesal akan sikap tak berguna.
"Wanita!" seru Mikael mendengar kata pria muda didepannya.
" Iya Pak Mikael. Karyawan wanita yang bekerja di perusahaan Pak Mikael.." kata Pria muda itu.
"Bapak tadi mengatakan, kalau Bapak ingin sekali bertemu dengan wanita itu kembali.." kata Pria muda itu yang melihat sebentar kearah Pak Tuan yang sedang berbaring di ranjang. Dia lalu melihat kembali kearah Mikael. "Beliau ingin mengucapkan terima kasih pada wanita itu.." lanjut pria muda itu. Mikael paham akan maksud perkataan Pria muda itu.
"Jika wanita itu memang karyawan saya. Tentu saja, Pak Kusno boleh bertemu dengannya.." ucap Mikael. "Apa Furqon masih mengingat ciri-ciri wanita itu?" tanyanya yang ingin mengetahui karyawannya yang dipuji itu.
"...Dia wanita berhijab, Pak Mikael. Tetapi saya tidak mengetahui wajahnya karna dia menggunakan cadar.." ungkap Furqon. Mikael mengerutkan dahi mendengar perkataan Furqon. Selama ini seingatnya, dia tidak pernah memiliki karyawan yang bercadar.
"...Tetapi Pak, saya ingat satu wajah wanita yang bersama dengan wanita bercadar itu! Kalau tidak salah wanita bercadar itu bersama dengan wanita yang ada didepan ruangan Bapak.." tambah Furqon. Mikael menganggukkan kepalanya paham.
Hanya satu wanita yang ada didepan ruangan Mikael yaitu Alula. Tetapi Mikael sama sekali tidak mengetahui karyawannya yang bercadar, yang ada paling karyawan yang memakai masker. Lain hal dengan Pak Usman yang sudah mengetahui siapa sosok wanita bercadar yang bersama Alula.
"Baiklah, jika saya sudah menemukan wanita itu. Saya akan memintanya datang kemari.." ucap Mikael.
Setelah itu Mikael izin pulang. Dia memberikan buah tangan yang telah dibeli olehnya saat diperjalanan ke rumah sakit.
(Jangan lupa VOTE ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih