Friends After Marriage

Friends After Marriage
Permintaan pertama El



Happy Reading!!!


Permintaan pertama


Selesai sarapan seperti biasa Mikael selalu berada di ruang bacanya. Disana dia nampak sedang mengetik sesuatu di leptopnya. Dia nampak fokus didepan layar pipih tersebut.


'Tok tok tok.." suara ketukan pintu mengalihkan tatapan Pria itu kearah pintu yang akan dibuka.


"Maaf Kak," ucap Wanita yang membuka pintu itu. Wanita itu nampak membawakan segelas teh hijau.


Wanita itu menghampiri Pria itu yang mulai mengetik kembali. Saat Wanita itu hendak pergi Pria itu memanggilnya.


"Al.." Wanita itu segera membalikkan tubuhnya menatap kearah Mikael dengan tersenyum manis.


"Iya Kak.."


"...masaklah beberapa macam makanan untuk makan siang. Untuk menunya seterah padamu.." ucap Mikael.


Al tampak sangat senang mendengar permintaan pertama suaminya. "Baik, Kak.." balasnya. Setelah itu dia pamit dari tempat itu.


Di dapur, Al membuka kulkas mencari bahan apa saja yang bisa dijadikan menu. Sayangnya kulkas nampak kosong, yang ada hanya makanan siap saji yang tinggal di goreng atau dipanaskan.


"Kenapa Nyonya?" tanya Bi Hilda yang melihat Al tampak lesu didepan kulkas.


"Al ingin masak makan siang. Tapi pas liat isi kulkas, ternyata tinggal makanan siap saji.." ucapnya.


"Iya Nyonya, persedian memang sudah habis. Makanya sekarang Bibi mau belanja kebutuhan bulanan yang habis dan hampir habis.." ucapnya sambil menunjuk list kertas yang dipegangnya.


"...Al, ikut ya Bi.." pintanya sambil tersenyum.


"Tentu Nyonya.." balas Wanita tua itu senang.


Al segera kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.


###


Seperginya Al, Mikael segera menyesap teh hijau buatan istrinya itu. Dia merehatkan terlebih dahulu tubuhnya yang sudah satu setengah jam mengetik sambil menatap layar leptop.


Dia berdiri dari tempatnya merenggangkan tubuhnya. Dia merasa tubuhnya sedikit kaku karna sudah lama tak mengeluarkan banyak keringat.


Di liriknya mejanya untuk melihat keberadaan benda pipih yang berbentuk persegi panjang kecil miliknya. Sayangnya benda tersebut tak ada. Membuatnya keluar dari ruangan itu menuju kamarnya.


Di kamar, dilihatnya benda pipih tersebut diatas tempat tidur. Diapun meraihnya, lalu berjalan kearah jendela untuk menghirup udara.


Dari balkon kamarnya, dilihatnya Pak Usman nampak sedang mengobrol dengan Pak Mamat. Tak berapa lama Al dan Bi Hilda menghampiri Pak Usman yang nampak ngobrol.


Mikael memperhatikan Al dan Bi Hilda yang membawa tas, seperti ingin ke suatu tempat.


Diarahkan matanya kearah benda pipihnya digenggamannya lalu mencari kontak Pria dibawah.


Mikael mendudukkan tubuhnya di bangku yang ada di balkon. Setelah bunyi 2 nada. Sambungan telpon terhubung.


"..iya Tuan Mikael.."


"..Pak Usman mau pergi?"


"...? Iya Tuan, saya mau mengantar Nyonya Al dan Bi Hilda belanja bulanan. Kenapa Tuan? Apa Tuan ingin diantar ke suatu tempat?"


"...tidak Pak," balas Mikael.


"...Pak, tunggu saya. Saya bersiap-siap terlebih dahulu.." ucapnya lalu mematikan HP.


###


Dibawah Pak Usman bertanya-tanya dengan perkataan Tuannya. Dia bingung dengan perkataan 'Tunggu' yang dia katakan Mikael.


Tunggu Mikael akan ikut mereka belanja atau tunggu dia ingin menitip sesuatu atau tunggu sesuatu yang lain.


"Kenapa Pak?" tanya Bi Hilda melihat suaminya tampak bengong.


"..tidak apa-apa. Sebentar lagi kita jalan. Kamu dan Nyonya Al masuklah terlebih dahulu.." ucap Pak Usman.


Al dan Bi Hilda menganggukkan kepala. Lalu masuk kedalam mobil. Tak berapa lama keluar Pria pemilik rumah dengan rambut yang di kuncir kuda. Dia berkaos biru dan bercelana hitam panjang. Kakinya mengenakan sepatu sandal berwarna coklat.


Al yang melihat sosok suaminya yang tampak ingin pergi, segera keluar dari mobil.


"Kak El, Kakak mau pergi.." ucap Al melihat suaminya yang sudah mengganti setelannya.


"..hemm..iya.." balasnya. Mikael lantas menghampiri mobil tempat Al tadi duduk.


Dilihatnya bangku ke dua yang terdapat Bi Hilda. Bi Hilda yang masih bertanya-tanya. Lantas turun dari mobil mendapati Mikael melihat kedalam mobil.


Mikael lantas segera masuk kedalam mobil tersebut. Dilihatnya Al, Pak Usman dan juga Bi Hilda yang masih diluar dengan tatapan bingung.


"Kenapa kalian tidak masuk.." ucapnya.


"...aaahh iya.." balas mereka bersamaan. Al lantas segera masuk dan duduk di samping Mikael begitu juga dengan Pak Usman dan Bi Hilda yang duduk didepan.


Mobil tampak hening tak ada percakapan. Mereka tampak dipenuhi pikiran masing-masing.


Pak Usman masih tak menyangka, Tuannya ikut pergi bersama mereka untuk belanja. Padahal selama ini dia tidak pernah. Bi Hilda yang gugup karna ada sosok majikannya yang jarang bicara. Lain hal dengan Al yang tampak senang melihat suaminya ikut belanja.


Sampainya di pusat perbelajaan. Al dan Bi Hilda masing-masing membagi tugas mengambil belanjaan. Mereka pergi secara terpisah.


Al dan Mikael berjalan menuju ke arah olahan pabrik. Disana Al mengambil pencuci dan pewangi pakaian, pembersih lantai, pewangi ruangan dan beberapa hal lainnya, seperti segala macam sabun pembersih di rumah.


"Kakak ingi membeli sesuatu?" tanya Al melihat kearah Mikael yang sejak tadi diam.


"Tidak, aku hanya bosan di rumah makanya aku ikut.." balasnya. Al menganggukkan kepala lalu kembali melihat barang yang dibutuhkan.


Al dan Mikael melewati sabun pembersih tubuh. Disana Al mengambil sabun dan samponya yang hampir habis.


"Sabun Kak El masih ada atau sudah habis?"


"...sepertinya masih ada.." ucapnya.


Selama ini Mikael tak terlalu memperhatikan sabun dan samponya habis atau masih banyak, karna setiap mandi sabun dan samponya selalu ada.


"...ambilah satu sabun itu sebagai jaga-jaga!" tunjuk Mikael pada sabun yang biasa digunakannya. Al segera mengambil sabun yang di tunjuk lalu menaruhnya didalam troli.


Saat melewati daerah privasi Wanita. Al hanya melewatinya tanpa mengambil salah satu ditempat itu.


Mikael memperhatikan Al yang tak mengambil kebutuhan wanita setiap bulannya. "Kamu tidak mengambilnya.." ucap Mikael menunjuk kearah sederetan pembalut Wanita.


Al seketika malu mendengar perkataan suaminya ini. "Tidak Kak," balasnya. Al mempercepat langkahnya untuk melewati deretan itu.


"Kenapa? Apa disana tak ada merek yang biasa kamu gunakan?" tanyanya yang melihat kearah Al.


Saat ini entah perasaan apa yang Al rasakan. Dia senang jika Mikael berbicara dan terlihat memperhatikannya tapi pembicaraannya tidak menyangkut hal itu juga.


"Bu..bukan Kak.." balasnya. Al merasa bingung harus berkata apa. Dia selama ini saat datang bulan tak pernah mengenakan pembalut yang biasanya di jual di warung ataupun supermarket. Al biasanya menggunakan kain. Hal tersebut sudah dia lakukan sejak awal datang bulan.


"Masa harus kujelaskan pada Kak El jika aku tak mengenakannya.." batin Al. Dia lantas memilih diam tak menjawab.


Akhirnya setelah pisah, kelompok Al dan Bi Hilda kembali berjumpa di tempat sayuran dan daging.


Disana Al dan Bi Hilda memilih daging dan sayuran. Sedangkan Pak Usman dan Mikael hanya ikut nimbrung mendengar percakapan dua Wanita itu yang memilih-milih yang nampak segar.


Setelah berbelanja mereka lantas mengantri. Bi Hilda dan Pak Usman menyuruh Al dan Mikael menunggu sambil duduk, tapi Al menolaknya. Sedangkan Mikael langsung berjalan keluar menunggu didekat kasir tempat mereka mengantri.


Setelah barang dimasukkan kedalam nota. Nampak layar komputer menunjukkan harga semua belanjaan. Al yang ingin menyodorkan kartu ATMnya didahului oleh Mikael yang telah menyodorkannya.


Al kaget melihat suaminya yang tiba-tiba sudah ada. Padahal tadi dilihatnya, dia masih nampak duduk memainkan HPnya.


Setelah membayar, barang belanjaannya dimasukkan kedalam troli lalu didorong Al bersama Bi Hilda mendekati mobil.


Usai semua belanjaan masuk. Mereka kembali masuk kedalam mobil lalu pulang.


Sampai di rumah, semua barang belanjaan diturunkan oleh Pak Usman dan Pak Mamat untuk dibawa kedalam rumah.


Al segera menuju ke kamarnya untuk mengerjakan sholat dzuhur, setelah itu dia kembali kebawah untuk merapikan belanjaan dan juga memasak makan siang.


###


Dalam satu setengah jam Al dan Bi Hilda menyelesaikan masakan pepes ikan, sayur lodeh, udang goreng dan juga perkedel jagung.


Setelah masakan selesai Al mengambil beberapa buah-buahan lalu mencucinya terus memotongnya kemudian diletakkannya di atas piring.


Buah yang telah dipotong, dibawanya ke meja makan. Saat berjalan dia melihat suaminya bersama dua pria yang sangat dikenal Al.


###


Yuan dan Ghifari tampak tak asing dengan perumahan yang sedang mereka masuki. Saat map yang dituju berhenti disalah satu rumah mereka melotot kearah rumah yang sangat mereka kenal.


Lantas Yuan segera mengambil HPnya menelpon si pemberi alamat.


Sambungan telpon tersambung, Yuan langsung menyerbu dengan kata-kata orang yang di telponnya. "Mikael, katanya lo mau ngajak kita makan masakan Al. Kenapa lo malah nunjukin alamat rumah lo. Kalau ini mah gua gak perlu map.." kata Yuan sewot.


Ghifari yang melihat Yuan nampak memerah lantas mengambil alih telpon yang dipegangnya.


"Sekarang kita ada didepan rumah lo.." jawab Ghifari.


"Masukkanlah mobil kalian! Gua turun sekarang.." ucapnya lalu mematikan HP.


Ghifari menghembuskan nafas, lantas turun meminta Pak Mamat membuka pagar agar mobilnya bisa masuk.


Setelah memasukkan mobil mereka menuju kearah pintu. Disana Mikael telah menunggu mereka.


Yuan masih nampak kesal, karna dia tak jadi memakan masakan Al yang tasty. Padahal kemaren Mikael berjanji akan mengajaknya dan Ghifari makan masakan Wanita itu, karna mereka menemani Mikael.


Saat berjalan kearah dalam rumah. Mereka melihat seorang Wanita cantik nampak sedang membawa dua piring yang berisi buah-buahan.


Wanita itu menganggukkan kepala kearah para Pria tersebut. Ketiga Pria itu membalas anggukan kepala Wanita itu.


Yuan tak terlihat marah lagi dalam seketika. Dia malam mendekat kearah Mikael lalu berbisik.


"Mikael, itu istri lo kan?" tanya Yuan memastikan karna dia lupa wajah Al yang pernah dilihatnya saat hari pernikahan Mikael.


"Hemm.." jawab Mikael.


Wanita tersebut menghampiri Pria tersebut yang berdiri di ruang TV.


"Kak, makanan sudah siap.." ucapnya kearah Mikael. Dia lalu mengalihkan pandangan kearah Pria di samping Mikael.


"Assalamu'alaikum saya Ufairah Almasah Basimah, istrinya Kak Mikael.." salam Wanita itu ramah.


Kedua Pria tersebut nampak terpesona kecantikan dan kelembutan Al.


"..ehemmm.." Mikael berdehem menyadarkan kedua Pria itu.


"...wa'alaikumsalam...saya Ghifari dan ini Yuan kami temannya Mikael.." balas Ghifari seketika.


Al lalu mengajak ke tiga Pria itu untuk menyantap hidangan pembuka berupa buah-buahan.


Setelah menyantapnya Al menyajikan masakan yang dimasaknya tadi keatas meja makan. Setelah 15 menit mereka memakan masakan Wanita cantik itu dengan lahap.


Nampak mereka menikmati masakan Al yang maknyos. Hal tersebut sampai membuat Yuan dan Ghifari menambah.


###


"Ghifari, tadi lo ingat gak nama istrinya Mikael.." tanya Yuan.


"Yang gua ingat cuma Imah doang, ya kali gua panggil kayak nama pembantu di rumah gua.." bisiknya kembali.


"Gua juga lupa, yang gua ingat cuman nama depannya Ufa.." balas Ghifari.


"Udah itu lebih baik dari pada Imah.." ucap Yuan.


Dia lalu mengalihkan tatapannya kearah Wanita didepannya. "Ufa!" panggil Yuan. Al awalnya tak menengok. Tetapi setelah Yuan memanggilnya kembali Al baru menengok.


"Makasih ya makan siangnya. Masakanmu enak betul!" seru Yuan.


Al tersenyum tipis mendengarnya. "Iya Kak Yuan, sama-sama.." balas Al.


"..iya, aku juga makasih untuk makan siangnya. Ufa.." timpal Ghifari.


Al mengalihkan matanya kearah Pria disampingnya. "Sama-sama, Kak Ghifari.." balas Al kembali.


Mikael hanya meminum minumannya tak memberi respon apapun terhadap panggilan temannya pada Wanita berhijab itu.


Selesai makan para Pria itu pergi ke ruang baca Mikael. Sedang Al merapikan meja makan dan membawanya ke dapur untuk dicuci.


###


Di ruang baca, Mikael langsung duduk di bangkunya. Sedang Yuan dan Ghifari duduk diatas sofa yang ada di ruangan itu.


"Mikael masakan istri lo enak juga ya.." ucap Ghifari.


"Enggak kalah sama masakan Al.." tambahnya.


"Iya, gua perhatiin istri lo juga cantik bener. Walaupun enggak pake pemoles.." timpal Yuan.


Mikael menatap bergantian kedua sahabatnya itu. "Bukannya kalian datang hanya untuk makan siang. Kenapa kalian ikutin gua?" ucap Mikael.


"Hahaha kami sekalian main saja. Mumpung sudah lama kita gak main ke rumah lo.." ucap Yuan. Dia berjalan ke belakang Mikael lalu membuka jendela dibelakangnya agar udara masuk.


Setelah jendela terbuka, dia membelakanginya. "Oh iya bentar lagi ramadhan, terus liburan panjang lebaran. Tahun ini kita ingin liburan dimana, enaknya?"


"..patinya...lebaran di rumah keluarga besar gua.." balas Ghifari.


Yuan geregetan melihat sahabatnya itu. "Maksud gua, setelah kumpul bareng kita kemana? Tahun kemarenkan kita ke Bali. Kalau tahun ini kita kemana?" ucapnya dengan sabar.


Ghifari dan Mikael paham betul maksud perkataan Yuan. Hanya saja Ghifari kadang usil dengan sahabatnya Yuan yang gampang esmosian.


"Gayanya lo lebaran! Puasa aja kagak.." ledek Ghifari.


"Enak aja lo ya. Gini-gini gua puasa," bantahnya.


"Ceela, puasa cuman dia awal sama akhir doang belagu.." balas Ghifari.


"Emangnya lo sendiri puasa! Tahun kemaren aja lo batal 15 hari.." balasnya meledek Ghifari.


"Yeee, masih mending dari pada lo batal 16 hari.." balas Ghifari.


"Beda atu doang..." ucap Yuan yang di hentikan oleh Mikael.


"Udah-udah, kalian ini kayak anak-anak aja.." ucap Mikael menghentikan perdebatan yang tak berguna.


"Buat gua tujuannya seterah kalian!" seru Mikael kembali ke topik pembicaraan.


Ghifari nampan berfikir lalu dia melihat kearah Yuan. "...Bagaimana kalau ke NTT. Kalau gak salah lo pernah bilang lagi bangun penginapan didekat laut di NTT.." ucap Ghifari.


"...ohh..penginapan itu.." ucap Yuan yang mengingat pembangunan rumah penginapan dari kayu disana.


"Boleh juga, gua sih belum pernah kesana.." balasnya.


"Untuk tempat tinggal, kayaknya sih tempatnya udah bisa ditempati saat lebaran. Terus dari yang gua dengar katanya lautnya bagus bangat.." tambahnya.


"Yaudah, kita fiks kesana.." ucap Ghifari. Yuan mengiyakan dan Mikael menganggukkan kepala.


"Ohhh ya Mikael, lo jangan lupa ngajak kedua shohib lo!" seru Yuan.


"Istri lo juga, buat nemenin si Al.." tambahnya.


Mikael hanya berdem menanggapinya.


'Tok tok tok' suara ketukan pintu mengalihkan perhatian para Pria itu kearah sumber suara.


Ghifari yang berada dekat pintu lantas membukanya menampakkan sosok Al.


"Maaf Kak mengganggu, saya membawakan cemilan.." ucap Al mengangkat sedikit nampan yang berisi puding dan kopi hitam.


Ghifari lantas mengambil alih nampan tersebut. "Terimakasih ya.." ucapnya lalu membawanya ke meja depan sofa.


"Siapa Ghifari?" tanya Yuan.


"...istrinya Mikael. Dia membawakan kita puding dan juga kopi.." ucapnya.


Yuan lantas menghampiri Ghifari. Dia melihat puding yang nampak lezat.


"Wahhh istri lo keren bangat.." ucapnya lalu melahap puding miliknya. Begitu juga dengan Ghifari yang melahap puding tersebut.


###


Sekembalinya dari ruang baca Mikael, Al menuju kamarnya untuk beristirahat. Baru saja 5 menit memejamkan mata dalam posisi duduk. Panggilan masuk ke HPnya.


"Assalamu'alaikum, Vi.."


"Wa'alaikumsalam Al. Maaf ya ganggu kamu siang gini.." balas suara di sebrang.


"Enggak ganggu kok. Memangnya ada apa Vi?"


"Ini Al, Bapak sama Mama mau pulang ke Solo nanti sore. Kamu sibuk tidak?"


"Pulang? Cepat sekali Ibu sama Bapak pulang? Katanya mereka pulang setelah beberapa hari puasa.." balas Al.


"Tidak jadi Al, karna katanya Bapak ada urusan dengan warga kampung.." jawab Via.


"Bagaimana kamu sibuk tidak nanti sore?"


"Aku tidak sibuk kok Vi, nanti sore aku langsung datang ke stasiun.." jawab Al.


"Baiklah, terimakasih Al.." ucapnya. Setelah mengucapkan salam panggilan di putuskan.


Thank you for reading!


Tinggalkan Love, Like and Com...