
Kenangan...
Happy Reading!!!
Beberapa hari setelah mendapat kabar jika kerjasamanya diterima. Mikael dihubungi oleh pihak perusahaan, seperti apa yang dikatakan oleh Pak kusno. Mereka meminta agar dia terbang ke Paris untuk menandatangani kerja sama dan juga memulai bisnis.
Tentu Mikael sangat senang. Dia mempersiapkan sebaiknya hal-hal yang perlu dibawanya. Dia juga membawa serta Pak Usman untuk menemani bisnisnya kali ini. Sedangkan Alula sebagai sekretarisnya memegang perusahaan menggantikannya semestara.
Di parkiran apartemen
Mikael menyerahkan sebuah kartu dan juga secarik kertas pada Pak Usman. Pak Usman terlihat bingung menerima benda tersebut.
"Dari sini Pak Usman langsung menjemput Al kan!" seru Mikael.
"Iya Tuan.."
"Nanti berikan kartu itu padanya. Katakan padanya ini sebagai pengganti kartunya yang telah kupinjam waktu itu.." jelas Mikael. Pak Usman menganggukan kepala paham.
"..dan akhir pekan ini aku akan mengunjungi kakek sebelum berangkat ke Paris," ucapnya. "Pak Usman pasti taukan apa yang harus dikatakan padanya!" lanjutnya dengan tatapan mata menatap Pak Usman melalu kaca spion depan.
"Saya paham Tuan.."
"...satu lagi, saya akan langsung berangkat ke Bandara melalui rumah Kakek. Jadi kita bertemu di Bandara ya Pak!" perintahnya.
"Baik, Tuan.."
"Baiklah, terimakasih Pak Usman. Hati-hatilah dijalan.." ucapnya lalu keluar dari mobil memasuki apartemennya.
Pak Usman segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.
###
Pak Usman memarkirkan mobilnya didalam halaman rumah mewah tersebut. Dia lalu bergegas keluar mobil untuk membukakan pintu untuk Al. Tapi sayangnya Wanita itu sudah membukanya sendiri.
Dari dalam mobil yang pintunya sudah terbuka, Al tersenyum melihat kearah Pak Usman. "Bapak mau bukain mobil buat Al ya!"
Pak Usman tersenyum mendengar pernyataan Al. Al segera keluar dari mobil lalu menutup pintunya.
"Terimakasih Pak," ucapnya ramah lalu pergi memasuki rumah.
"Iya Nyonya..." jawabnya.
Saat menutup pintu mobil, Pak usman mengingat titipan dan juga pesan Mikael.
Dia segera mematikan mesin mobil, lalu menghampiri Al yang akan memasuki rumah. "Nyonya tunggu!" panggil Pak Usman pada Al yang baru berada ambang pintu.
Al langsung menengokan kepalanya pada sumber suara. "Iya Pak?"
Pak usman merogohkan sesuatu dari kantong jasnya lalu memberikan pada Al yang terlihat bingung. Dia memperhatikan kartu yang diberikan Pak Usman dengan bingung.
"Itu titipan Tuan, Nyonya! Katanya pengganti kartu Nyonya yang di pakai Tuan.." jelas Pak Usman. "..dan ini pinnya.." dia kemudian menyerahkan secarik keras.
Al lantas menerimanya. Lalu memandangi kartu yang tampak jauh berbeda dengan kartunya yang lalu. "Terimakasih Pak.." ucapnya.
"..dan Tuan menitip pesan kalau akhir pekan ini tidak datang bekunjung, karna Tuan akan pergi kesesuatu tempat. Dari tempat tersebut, Tuan langsung melakukan perjalanan bisnis.." tutu Pak Usman. Al tampak paham maksud perkataan Pak Usman.
"Kemana perjalanan bisnis Kakak, Pak?" tanya Al. Dia penasaran dengan tempat tujuan bisnis Mikael..
"Ke Paris, Nyonya!"
Bibir Al tanpa sadar berbentuk 'o'. Lalu berkata, "MasyaAllah..ke Paris.. "Terus Pak Usman ikut atau tidak?" tanyanya kembali.
"Saya ikut Nyonya.." balas Pak Usman. Al tersenyum mendengar jawaban Pak Usman.
"Kalau Pak Usman ikut saya tenang, karna ada yang menjaga dan mengawasi Kak El!" seru Al.
"Yasudah Pak, Al masuk ya.." izin Al lalu masuk kedalam rumah.
###
Setelah perjalanan yang cukup lama karna padatnya kendaraan di akhir pekan. Akhirnya Mikael sampai di rumah kakeknya.
Setelah memarkirkan mobil. Pak Umar yang melihat sosok yang turun dari mobil segera menghampirinya.
"Selamat datang Tuan Muda.." sapa Pak Umar.
"Iya Pak. Oh iya, saya bawa sesuatu di jok belakang dan bagasi. Tolong keluarkan ya Pak!" Pintanya lalu menyerahkan kunci mobilnya pada Pak Umar.
"Siap Tuan Muda!" serunya.
Mikael lantas melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah, menuju ke halaman belakang.
Seperti dugaannya, Kakeknya saat ini memang berada disana. Dia sedang membaca Al-Qur'an, kitab sucinya.
Mikael melangkahkan pelan kakinya menghampiri kakeknya. Saat tepat berada dibelakangnya. Dia langsung memeluk pria tua itu. "Kakek!" ucapnya dengan manja.
Kakeknya seketika kaget. Atas tindakan Mikael. Dia lalu beristigfar kemudian menyudahi bacaannya.
Setelah menutup kitabnya dan menciumnya, dia lalu menaruhnya diatas meja.
Pria tua itu kemudian menarik Mikael yang masih berada dibelakang menuju kedepannya. Dia lalu mencubit kencang hidung Mikael, dengan jari telunjuk dan tengahnya.
"Aaaaa sakit kakek!" rintih Mikael yang merasakan sakit di hidungnya yang dicubit sambil ditarik.
"Kamu kebiasaan. Bukannya ngucapin salam!" ucap kakeknya sambil tangan masih di hidung Mikael.
"Ma...maaf Kek. Mikael lupa!"
"Jawabanmu selalu sama. Kakek saja yang sudah tua tidak pelupa. Masa kamu yang masih muda gini udah pelupa.."
"Maaf kek...Assalamu'alaikum.." ucapnya lasrah karna tak tahan dengan sakit di hidungnya.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Pria tua itu dengan tangan masih di hidung Mikael.
"Kek, tolong lepasin. El susah nafas.." mohonnya dengan wajah memelas.
Akhirnya Pria tua itu langsung melepaskan kapitannya. Lalu memeluk Pria itu.
"Kakek kangen denganmu!" serunya. Dia menepuk-nepuk punggung Pria didepannya pelan.
Mikael tersenyum, dia pun membalas pelukan Pria tua itu. "El juga kangen dengan Kakek!"
Pelukan antara Cucu dan Kakeknya pun di mulai. Tapi sayangnya kangen-kangennanya harus tertunda, karna sayup-sayup Pria tua itu mendengar suara panggilan yang menandakan masuknya waktu dzuhur.
Pria tua itu lalu melepas pelukannya, begitu juga dengan Mikael. "Kita sudah di panggil. Ayo kita sholat di Musholla!" ajak Pria tua itu.
"....El di rumah aja deh kek! El masih cape!" pintanya. Pria tua itu tersenyum kemudian mengiyakannya karna tau persis jauhnya jarak antara tempat tinggalnya dan juga Mikael.
"Yasudah Kakek pergi dulu ya! Kamu juga jangan lupa sholat!" serunya lalu pergi meninggalkan Mikael di teras belakang.
Mikael lantas mendudukan tubuhnya di bangku Pria tua tadi duduki. Dia memejamkan matanya sambil menghirup udara segar dari pohon-pohon yang tumbuh di belakang rumah kayu itu.
"Hahhh..sejuknya.." gumamnya.
###
"Assalamu'alaikum.." salam Pria tua itu dan juga Pak Umar saat memasuki rumah.
"Wa'alaikumsalam.." jawab Bu Rami dari dalam rumah.
Pria Tua itu menghampiri Bu Rami yang sedang meracik bumbu masakan di dapur.
"Dimana El, Bu Rami?" tanya Pria Tua itu.
"Tuan Muda sepertinya ada di kamarnya, Tuan.." jawab Bu Rami.
"Baiklah terimakasih.." ucapnya.
"Sama-sama Tuan.."
Diarahkan kakinya menuju kamar Mikael. Saat membuka pintu. Pria tua itu mendapati sosok Mikael yang tertidur pulas diatas ranjang.
Pria tua itu mendekati Mikael. Kemudian menarik selimutnya untuk menutupi tubuh Mikael. Kemudian pergi dari kamar Mikael setelah mencium jidatnya.
###
Saat berjalan ke luar kamarnya setelah mengganti baju sholatnya. Dia berpapasan dengan Mikael yang akan masuk kedalam kamarnya.
"Kakek mau kemana?" tanyanya. Dia sedang mengosokkan handuk ke rambutnya yang basah.
"Kakek mau olahraga jalan dulu. Badan Kakek kaku, jika hanya duduk saja tanpa olahraga.." tutu Pri tua itu.
"Tunggu El, Kek. El akan menemani kakek jalan-jalan!" serunya.
Pria tua itu memperhatikan cucunya yang sepertinya baru bangun dan terlihat baru selesai mandi. "Memangnya kamu sudah sholat Asar?" selidik Kakek.
"...belum.." cengirnya.
Kakek kembali melajukan langkahnya dan dicegah kembali oleh Mikael. "Kakek tidak mau di temani kamu, jika kamu belum sholat!" ungkapnya.
"..iyaaa, ini El mau sholat Kek!" serunya. Dia lalu masuk kedalam kamar kemudian menutupnya dari dalam.
Pria tua itu mengikuti Mikael. Dibukanya pintu kamar Mikael lalu masuk kedalamnya kemudian menutupnya kembali.
Mikael yang akan mengganti celana boxernya kaget melihat Kakeknya masuk kedalam kamarnya. "Kakek ngapain masuk!"
"Memang kenapa kalau Kakek masuk?' tanya Pria tua itu. Dia lalu duduk di ujung ranjam.
"El kan mau sholat. Kalau Kakek ada di kamar, El gak bisa sholat.." dalihnya. Karna sejak awal di hanya ingin mengulur waktu, setelah itu dia akan keluar dan mengatakan jika dia sudah sholat.
"Kamu mau sholat ya tinggal sholat! Kakek kan cuman duduk disini, enggak ajak kamu ngobrol.." tutur Pria tua itu.
Mikael menghembuskan nafah panjang. Dia menyerah jika harus beradu dengan Kakeknya. Mungkin hanya Kakeknya, jika orang lain dia pasti tidak akan mengalah.
Dia lalu mengambil sarungnya dari dalam lemari kemudian menggunakannya, setelah itu dia menggelarkan sajadah. Dimulainyalah sholat yang sudah lama tidak dikerjakannya.
Walaupun sudah lama tidak sholat. Mikael masih ingat sekali gerakan sholat, karna hal tersebut selalu diajarkan dan dibiasakan oleh orang tuanya sejak kecil.
Tapi perasaan gugup dan bisiskan-bisikan membuat Mikael sholat dengan terburu-buru.
Usai salam Mikael segera beranjak dari tempatnya kemudian menaruh asal sajadah dan sarungnya di pinggir ranjang.
"Kamu ini sudah besar, tapi kebiasaanmu selalu sama. Habis di pake gak di lipat.." ucap Pria tua itu menggeleng kepalanya.
"Hehehe..kan nanti Magrib mau di pake lagi Kek.." cengirnya.
"El, lipat!" perintah Kakeknya. Dengan terpaksa Mikael melipat sarung dan sajahnya lalu menaruhnya pelan ketempat tadi.
"Udah ya Kek, rapikan!" ucapnya.
"Nak gitu dong.." seru Kakeknya. Dia lalu bangkit dan berjalan kearah pintu. "Cepatlah keluar setelah mengganti celanamu! Kakek akan menunggu di luar!" perintahnya lalu keluar dari kamar Mikael.
"Iya.." jawabnya.
###
Angin sore menerpa tubuh dua pria itu yang jalan bersampingan. Mereka berjalan di jalan setapak sambil melihat sekeliling rumah warga kampung lainnya.
Mikael sedikit kangen dengan suasana kampungnya. Dulu saat masih sekolah, Mikael sering melewatinya seorang diri menuju sekolah.
Karna Mikael tidak seperti anak kampung lainnya yang sekolah didesanya. Tetapi Mikael sekolah didesa lain, yang sekolahnya terkenal dan diminati.
"El, kemana saja kamu. Kenapa kamu jarang mengunjungi Kakek.." ucap Pria tua itu membuka percakapan.
Mikael menoleh kearah Kakeknya yang menatap kedepan. "Maaf Kek, Mikael sibuk. Disana banyak hal yang harus Mikael kerjakan.." ucapnya. Dia lalu kembali menatap kedepan.
Wajah Pria tua itu terlihat sedih mendengar penuturan Cucunya itu.
"Memangnya ada lagi sesuatu yang kamu inginkan. Bukannya saat ini kamu sudah mempunyai segalanya!"
Mikael terdiam sejenak. "...iya..masih ada sesuatu yang ingin kubuktikan. Tanpanya aku bisa sukses!" ungkapnya. "Sebelum namaku terdengar sampai kekupingnya. Aku tidak akan berhenti!"
Kakeknya terdiam. Dia tak bisa berkata apa-apa lagi. Sejak orang tercintanya pergi meninggalkannya. Wajah kebagiannya seketika menghilang.
Sebagai Wali satu-satunya. Kakeknya mebanting tulang seorang diri untuk menyekolahkan Mikael dan menyambung hidung. Jadi sejak saat itu dia selalu hidup serba seadanya tanpa pernah mengeluh.
Dia juga selalu berjuang dalam hal apapun. Entah itu pelajaran ataupun ekstrakulikuler lainnya.
Mereka lalu berhenti dan duduk disebuah bale-bale yang dimana didepannya terdapat lapangan tempat anak-anak bermain.
Saat anak-anak tersebut melihat Kakek itu. Mereka langsung menghampirinya dan menyalami tangan Kakek tersebut.
Pria tua iyu menoleh kerah Mikael.yang sedang menatap kearah anak-anak itu. "Mikael berikan bungkusan yang tadi kamu pegang!" pintah Pria tua itu. Mikael lantas memberikan bungkusan yang ada disampingnya.
Sejak tadi Mikael memegang bungkusan itu. Tapi dia sama sekali tak tahu isinya.
Saat dibuka oleh Pria tua itu. Terdapat berbagai makanan yang telah dipotong. Makanan tersebut terbungkus didalam plastik. Berserta beberapa makanan lainnya.
Mikael memperhatikan makanan yang sangat dikenalnya itu. Dia merasa seperti melihatnya.
Setelah membaginya kesemua anak. Anak-anak tersebut mengucapkan terimakasih, lalu perpamitan pergi.
"Kemana mereka pergi Kek?" tanya Mikael.
"Mereka pergi ke rumahnya.." jawabnya sambil tersenyum. Pria tua itu senang melihat senyuman yang terukir di wajah mereka.
"Mengapa mereka tidak memakan mananan itu terlebih dahulu baru pulang?" tanya Mikael kembali.
Kakeknya melihat kearah Mikael sekilas dengan masih tersenyum diwajah keriputnya.
"Sepertinya tinggal di Kota. Membuatmu lupa tentang kehidupanmu disini.."
"Aku tidak lupa. Memang tidak ingat pernah bermain bersama anak di tempat ini. Kakek kan tau. Aku tinggal bersama Kakek sejak SMP. Itu pun, El sekolah di luar kampung. Berangkat pagi dan selalu pulang sore. Lulus SMA pun aku langsung merantau.." ungkapnya.
"Oke oke Cucu Kakek.." ucap Pria tua itu. Memang benar dikatakan Mikael. Dia tak pernah bermain. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar dan membantu Kakeknya di ladanh ketika sedang libur.
"Mereka pulang untuk berbagi makanan tadi bersama saudara mereka.." ucap Kakek itu.
"Bukannya kamu tau sebagian besar warga disini bekerja sebagai petani. Yang selalu berangkat pagi dan pulang saat matahari tenggelam. Tentu anak-anak tersebut sering di tinggal orang tuanya seperti kamu dulu di tinggal Kakek pergi ke ladang.." Mikael mengangukan kepalanya.
"Mereka sangat jarang menikmati makanan seperti tadi. Karna orang tuanya hanya menyiapkan entah itu nasi, ubi atapun singkong sebagai makanan dan juga cemilan mereka dikala lapar. Jika habis, mereka harus menahan lapar menunggu orang tuanya pulang dari ladang.." jelas Pria tua itu.
Jika itu dia sangat paham. Karna Mikael juga seperti itu. Kakeknya selalu berangkat saat gelap, dia meninggalkan bekal entah itu ubi ataupun singkong sebagai sarapan dan juga uang yang hanya cukup sebagai ongkos pulang dan pergi sekolah.
"Ayo pulang!" ajak Pria tua itu. Mikael mengiyakan lalu mereka pulang.
###
Selama 2 hari tinggal di rumah Kakeknya. Mikael selalu diajak oleh Kakeknya untuk sholat 5 waktu di Musholla. Setiap Mikael beralasan Kakeknya pasti selalu dapat membuat Mikael tidak dapat beralan dan menjadika Mikael terpaksa ikut ke tempat suci tersebut.
"Kakek jaga kesehatan! Nanti setelah pulang dari sana, Mikael akan berusaha meluangkan waktu mengunjungi Kakek kembali.." ucapnya.
"Iya..Kakek tau. Kamu juga ingat pesan Kakek. Jangan tinggalin sholat!"
"...Iya Kek.."
Setelah mencium dan memeluk pria tua itu Mikael lalu berpamitan pada Pak Umar dan juga Bu rami. Dia kemudian masuk kedalam mobilnya dan pergi melajukan mobilnya membelah jalan perkampungan.
Dia melajukan mobilnya langsung menuju Bandara, karna dia mengambil penerbangan siang menuju Paris.
(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini π, comment πdan Reting πππππ ya...)
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih