
Kejadian yang tidak di sangka-sangka
Happy Reading!!!
Bi Hilda menghampiri Pak Usman yang ada didekat Mikael. Tak berapa lama terdengar teriakan dari kamar Al.
"Aaaaaaaaa!!!" teriakan Al yang kencang mengagetkan Mikael yang sedang santai meminum tehnya.
"Ada apa itu?" tanyanya kearah Pak Usman dengan wajah jengkelnya.
"Maaf Tuan, saya tidak tau!" jawab Pak Usman menggeleng pelan kepalanya.
Pak Usman lalu melirik kearah Bi Hilda agar segera mengecek Al. Bi Hilda yang mendapat lirikan langsung menghampiri kamar Al.
Saat membuka pintu di dalam kamar tampak kosong tak ada orang yang di carinya. Bi Hilda lalu mengetuk pelan kamar mandi yang tertutup.
"Nyonya!" panggil Bibi pelan.
"...Bi! Tolong Al. Al jatuh...gak bisa berdiri!" jawab Al dari kamar mandi. Bibi lekas membuka pintu dan mendapati Al yang sedang terduduk dengan menyanggah tubuhnya pada bathtub.
Bibi lekas membantu Al agar berdiri tapi kaki Al yang terkilir terasa sakit, sedangkan kaki sebelahnya terasa lemah membuat Al kembali terduduk.
"Nyonya tunggu sini sebentar ya?" pinta Bibi yang langsung berlari keluar kamar mandi.
Dibawah Mikael tampak masih menikmati teh hangatnya. Bi Hilda yang sedikit berlari menuruni tangga menarik perhatian Pak Usman. Tampak wajah Bibi yang khawatir saat ini.
"Ada apa dengan Nyonya, Bu?" tanya Pak Usman ketika Bi Hilda menghampirinya. Bi Hilda tampak menarik nafas terlebih dahulu. Sedang Mikael tak mempedulikannya dan masih asik meminum tehnya.
"Pak, Nyonya...Nyonya jatuh di kamar mandi.." katanya. Pak Usman sontak kaget. Dia bingung ini termasuk rencana Al atau sungguhan, karena tadi Bi Hilda sempat menjelaskan rencana yang akan mereka jalani agar Mikael mendatangi kamar Al.
Bi Hilda dan Pak Usman melihat kearah Mikael. Tapi sayangnya tak ada tanggapan dari orang tersebut.
"Tuan, Nyonya jatuh di kamar mandi.." kata Pak Usman mengulangi perkataan Bi Hilda. Mikael meletakkan teh yang dipegang keatas meja dengan kesal.
"Sekarang Al nya dimana?" tanya Mikael menahan amarahnya, karena kedua kalinya dia di ganggu bersantai oleh wanita yang sama di waktu yang sama. Pak Usman melirik kearah istrinya agar menjawab pertanyaan Mikael.
"Nyonya masih di kamar mandi Tuan. Kaki Nyonya terkilir, membuat Nyonya tidak bisa berdiri.." jawab Bi Hilda gugup. Dia seperti merasakan tekanan dari arah Mikael. "Saya tadi sudah membatu Nyonya berdiri, tetapi Nyonya merasakan sakit pada kakinya, membuatnya tak bisa berdiri.."
Terlihat sekali sikap Mikael yang tidak peduli dengan Al. Dia masih saja santai menyesap tehnya.
"Pak Usman sekarang kamu keatas bantu dia!" perintah Mikael kearah Pak Usman. Pak Usman tampak bingung. Dia tau persis Nyonya Nya seorang wanita muslimah, pasti tidak ingin disentuh oleh lawan jenis yang bukan muhrimnya selama ada orang yang halal bisa membantunya.
"Maaf Tuan. Saya tidak bisa, Nyonya pasti sekarang sedang tidak mengenakan hijab. Dia pasti akan malu jika saya melihatnya sekarang.." tolak halus Pak Usman. Mikael berdecak kesal lalu dia beranjak dari duduknya menuju ke kamar Al.
"Bi benar, Nyonya Al jatuh!" bisik Pak Usman pelan. Bibi kaget dengan pertanyaan suaminya.
"Benarlah Pak, masa bohongan. Sekarang mending Bapak cari tukang urut sepertinya Nyonya terkilir kakinya. Tadi wajah Nyonya tampak kesakitan sekali.." kata Bi Hilda kemudian menyusul Mikael ke kamar Al. Pak Usman lalu menelpon tukang urut perempuan.
###
Saat mendekati kamar Al. Pintu kamarnya tampak terbuka lebar. Lalu dia menuju kearah kamar mandi yang pintunya juga terbuka. Didalam dia mendapati Al yang sedang terduduk menyandar di bathtub. Dia terlihat menundukkan kepala. Rambutnya yang panjang terurai ke depan menutupi wajahnya. Piyama terusan hijaunya yang di pakai sedikit basah.
Mikael sedikitpun tak merasa kasihan ataupun khawatir. Dia malah berfikir kalau Al hanya sedang berbohong untuk membuatnya kemari. Mikael tau persis tingkah wanita untuk memancing lawan jenisnya.
"Kau tidak apa-apakan?" tanyanya dengan wajah dingin. Al tidak mendongakkan kepalanya. Dia merasa malu akan kejadian ini.
"Aku tidak apa-apa kak.." jawabnya pelan. Mikael tersenyum miring mendengar perkataan Al.
Pria itu masih diam didepan pintu tidak mendekati Al. Dia malah menyuruh Bi Hilda yang baru datang menghampiri Al.
"Nyonya mari saya bantu berdiri.." kata Bi Hilda. Dia lalu menaruh tangan kanan Al diatas pundaknya lalu tangan kiri Bi Hilda memegang Pinggang Al.
Saat akan berdiri Kaki Al yang sangat sakit tak bisa menopang tubuhnya membuatnya terjatuh kembali. Bibi melihat kearah Mikael meminta bantuan sedang Al masih tetap menundukkan kepalanya menahan sakit di kakinya.
Mikael menghela nafasnya kasar. Dia masuk kedalam kamar mandi menghampiri Al yang masih terduduk. Mikael mendekati sisi kiri Al lalu menggendong Al layaknya putri.
Mikael yang melihat wajah Al sontak kaget. Dia terdiam di tempat memperhatikan wajah Al yang seperti badut. Dengan bedak tebal, bibir merah celemotan, dan pipi merah bulat.
Al bingung kenapa suaminya menatap wajahnya, karna saat ini Al lupa kalau wajahnya seperti badut. "Kak, kenapa?" Al balik menatap wajah Mikael. Mikael sontak tersadar lalu membawa Al keluar kamar mandi. Dia lalu mendudukkannya diatas kasur dengan kaki di luruskan kedepan.
Mikael memperhatikan kaki Al. "Kaki mana yang sakit?" Mikael melihat kearah Al dengan wajah tak sedingin tadi saat memasuki kamarnya.
"Kaki kanan kak.." Al menarik pelan celana piyamanya. Tampak sedikit bengkak dipergelangan kakinya.
Mikael melihat kearah Al kembali yang sedang meringis kesakitan. Dia lalu melihat kearah Bi Hilda yang berdiri didepan tempat tidur.
"Bi bilang pada Pak Usman carikan tukang urut sekarang!" perintah Mikael.
"Pak Usman sekarang sedang cari tukang urut, Tuan.." kata Bibi menundukkan kepala.
"Kalau begitu buatkan Al Minum?" perintah Mikael yang diangguki Bi Hilda yang meninggalkan kamar Al.
Al terdiam begitu juga Mikael. Mikael lalu duduk di samping Al dengan bangku yang ditariknya dari meja rias. Dia kemudian memperhatikan kembali wajah Al yang membuatnya penasaran.
"Bagaimana kamu bisa jatuh?" tanya Mikael membuka keheningan. Al menatap melihat kearah Mikael yang duduk tak jauh darinya.
"...tadi aku tak sengaja menginjak sabun mandi yang tergeletak dibawah.." jawabnya. Al kembali menundukkan kepalanya karena malu.
"Terus, kenapa mukamu seperti itu.." tanyanya kembali. Al menggigit bibir bawahnya. Dia berfikir akan rencana bodohnya untuk menggoda, SALAH lebih tepatnya menarik perhatian Mikael. Malah rencana itu gagal karena tindakan bodohnya yang menginjak sabun batangan yang tak sengaja jatuh kesenggol oleh Al. Dia bukannya mengambil malah membiarkan sabun itu.
"Untuk...menggoda Mas!" jujur Al yang niat awalnya memang begitu. Dia semakin menundukkan kepalanya. Rambut panjangnya sedikit terurai ke depan menutup bagian samping wajahnya.
Mikael terdiam memahami maksud Al. "Untuk menggodaku! dengan dandanan seperti itu.." Mikael menggelengkan kepalanya. "Sungguh cara yang Unik.."
Bibi mengetuk pintu kamar Al. Lalu dia menghampiri Mikael. "Tuan, saya membawakan Teh hangat untuk Nyonya!"
Bi Hilda lalu menghampiri Al. Dia memberikan minum pada Al. Setelah meminumnya dia meletakkannya di meja samping ranjang.
Bi Hilda memperhatikan Al yang rambutnya berantakan berserta make up-nya yang sungguh tidak enak dilihat. Dia lalu merapikan rambutnya yang berantakan. Di sanggulnya rambut Al yang panjang.
"Nyonya ditutup sebentar dulu ya rambutnya, Pak Usman nanti akan masuk kesini untuk mengantar tukang pijitnya.." Al menganggukkan pelan kepalanya. Bi Hilda lalu mengambil kapas dan juga air untuk menghapus make Al yang membuat Al layaknya badut. Setelah itu dia menutup rambut Al dengan kupluk nya yang bergambar kodok. Ditarikan juga resleting piyamanya agar menutupi leher begitu juga diketatkan agar hanya wajahnya yang terlihat.
Mikael tak lepas menatap wajah Al yang tanpa Hijab. Apalagi setelah make up badutnya di hapus tampak wajah alami Al tampak cantik dengan bibi pink-nya.
Tak berapa lama Pak Usman datang membawa tukang urut perempuan.
Mikael yang melihat tukang urutnya datang, beranjak dari tempatnya. Al yang menyadari Mikael akan pergi, dia memanggil Mikael.
"Kak El!" Al menatap wajah Mikael. Mikael menghentikan langkahnya melihat kearah Al. Al terlihat tersipu malu karan mengingat kejadian tadi. Terlihat rona merah di pipinya yang dikira Mikael make up yang belum tuntas di hapus.
"Kak makasih ya.." ucap Al. Mikael tanpa sadar menatap wajah Al lama. Memperhatikan wajahnya yang membuatnya terpana seketika.
"..ah..iya.." Jawabnya lalu meninggalkan kamar Al.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih.