Friends After Marriage

Friends After Marriage
Tidak ada yang melihat



Happy Reading!!!


Mikael yang sudah mengambil kunci mobilnya lantas segera keluar dari apartemennya.


Saat berjalan kearah lift, dia melihat tajam kearah Pria didepannya. Hatinya berasa panas melihat Pria itu nampak akrab dengan Al


Sampainya di lantai bawah, Mikael berjalan kearah parkiran. Dia segera membuka kunci mobil lalu memasukinya.


Setelah menyalakan mesin mobil, Mikael nampak diam. "Kenapa gua tiba-tiba keluar rumah gini?" katanya bertanya pada diri sendiri.


"Terus, kalau udah ketemu gua harus harus apa? Tapi gua...ccckk.." kata batinnya yang saling berdebat.


Tanpa menuruti perkataan hatinya, tangannya bergerak menurunkan rem tangan lalu kakinya menginjak gas keluar dari area pakiran basement.


###


Didalam lift, Al memegang dadanya. Dia bersnyukur Pria yang dikhawatirkan tak melihatnya.


Jika orang itu melihatnya, Al takut dikira membuntuti rumah kedua orang itu. Padahal tidak, sejak awal dia tau karna Pak Usman pernah mengajaknya tanpa sepengetahuan pemilik apartement.


Di halte Al menunggu Taxi, sambil memandang berbagai kendaraab yang lalu lalang, tak lupa didalam hatinya dia membaca tasbih (memuji nama penciptanya).


Al yang asik memandang macan-macam kendaraan yang lewat. Tak sengaja mendapati mobil ceper hitam keluar dari apartement yang baru didatanginya lalu mobil itu berhenti tepat didepannya.


Dia sebenarnya tak tau mobil siapa yang berhenti tepat didepannya, karna Al bukan tipikal orang yang suka hafalin plat nomor kendaraan yang suka ditaikinya, hanya saja dia merasa tak asing dengan mobil yang berhenti di depannya.


Saat pemilik mobil menurunkan kaca, Wanita itu menelan slavinanya dengan paksa. Dia tak menyangka akan bertemu dengan Pria yang tadi dikhawatirkannya melihat dirinya disini.


Pria yang memberhentikan mobil didepan Al menatapnya dengan tajam. Sedang Al bersikap gugup karna bingung akan hal yang akan dikatakannya.


"Apa yang kamu tunggu? Ayo naik!" perintah Pria didalam mobil. Tanpa babibu Al segera membuka pintu mobil lalu memasukinya.


Setelah memasang sitbelt dan si Wanita trlah duduk dengan nyakan. Pria itu segera meninggalkan halte tersebut.


Selama perjalanan pulang, suasana hening menyelimuti mereka. Mereka seperti bercokol dengan pikiran masing-masing, prihal pertanyaan dalam benaknya dan apa yang harus dikatakannya.


Al memegang ujung kerudungnya karna merasa tak nyaman dengan keheningan yang terasa kaku ini.


"...kebetulan sekali ya, Kak. Kita bertemu.." kata Al basa basi sambil tertawa garing tapi sayangnya Pria itu tak menanggapinya.


Karna suasana hening yang kaku makin mencekam, Al akhirnya memilih berkata prihal dirinya ditempat tersebut.


"...tadi, Al dari rumah teman yang ada di apartemen Arkanu.." ucapnya gugup. Mikael tak merespon apapun, tapi dia mendengarkan dengan seksama perkataan Al.


Tak mendapat tanggapan dari sebelahnya Al kembali melanjutkan perkataannya. "...dia ngundang Al untuk makan malam dir rumahnya.." lanjutnya lalu melirik Mikael yang masih bungkam.


"Kenapa makan malam di rumah, tidak diluar?" ucapnya seketika dengan tatapan kedepan.


Al tersenyum, karna akhirnya Pria disampingnya membuka mulut. Hanya saja dia tak menyangka dengan pertanyaan Mikael. "...itu, soalnya teman Al suka masak jadi dia memasak sendiri.." jawabnya sedikit ekspresif.


"...temanmu pintar masak?" tanyanya kemudian.


"Iya, dia pintar masak. Al saja awal belajar memasak karna diajarkan olehnya.." balasnya.


"Dia tipikal seperti istri idaman.." lanjutnya.


"Istri?" tanya Mikael. Dia melirik sekilas kearah Al.


"Iya, dia tipikal istri idaman bagi para Pria. Tapi sekarang dia sudah 'taken' oleh Pria laun.." balas Al.


Mikael memperlambat laju mobilnya. Dia tak menyangka ternyata teman yang dimaksud Al adalah Wanita karna setaunya dia tak pernah melihat Wanita yang keluar dari pintu aparyement sampingnya itu.


Tapi, mendengar prihal teman Wanita disampingnya adalah Prempuan. Hatinya jauh lebih tenang mendengar hal itu, setidaknya tak seresah tadi saat keluar dari apartemennya.


Di rumaha Mikael


Krik krik krik


Suara jangkring terdengar menemani Pak Mamat dan juga Pak Usman yang menonton siaran Kang Sule dengan sesekali diselingi obrolan.


"Hahahaha...Astagfirullah.." ucap Pak Mamat karna melihat tayangan talk show yang menggelitik perut.


Pria yang tertawa itu lalu melihat kearah Pak Usman yang tanpa ekspresi.


"...kenapa Pak? Daris tadi kelihatan seperti banyak yang di pikiran.." tanya Pak Mamat yamg merasa Pria sebaya disampingnya lebih banyak diam.


"Tidak apa-apa," balasnya. Pria yang disampingnya hanya menganggukan kepala.


Dari dalam rumah, keluar Wanita setengah baya yang membawa dua gelas teh pahit panas dikedua tangannya.


"Pak, ini minum dulu tehnya!" sodornya pada kedua Pria itu.


"Terimakasih, Bi.." ucap Pak Mamat.


"Terimakasih, Bu.." balas Pak Usman.


Bi Hilda membalas dengan senyuman lalu duduk disamping Pak Usman untuk ikut menonton acara TV.


"...oh iya Pak, Nyonya Al kok belum pulang ya? Padahal Nyonya pergi sejak pagi. Tumben-tumbennya Nyonya pulang malam tanpa mengabari.." ucap Bi Hilda seketika.


"Benar juga, tumben Nyonya belum pulang. Pastas sejak pagi, Pak Mamat tak melihatnya.." balas Pak Mamat.


"...mungkin Nyonya Al sedang ke rumah Nona Via. Soalnya dua hari yang lalu saat Bapak menjemput Nyonya pulang dari tempat kerja. Mereka telpon-telponan didalam mobil dan isi percakapannya akan makan malam bersama.." tutur Pak Usman.


"..oh begitu.." balas Bi Hilda.


"...ngomong-ngomong, sudah hampir tiga minggu ini saya tak melihat Tuan Mikael. Biasanya setiap akhir minggu, Tuan selalu pulang tapi tiga minggu ini beliau tak pulang. Apa Pak Usman tau kenapa?" tanya Pak Mamat kemudian.


"...Tuan Mikael hanya sedang sibuk bekerja. Jadi Pak Mamat tak perlu khawatir.." jawabnya. Pak Mamat menganggukan kepala paham.


"Ohhh begitu.." balasnya.


"Oh iya Pak, tumben hari ini pulang cepat?"


"..iya, Tuan Mikael memberikan saya libur hari ini.." jawabnya.


Dari luar pagar, sama terdengar suara mesin mobil berhenti.


Pak Usman yang mendengarnya lantas segera berjalan kearah pagar yang ternyata benar terdapat mobil berhenti yang ternyata milik Tuan rumahnya.


Pak Usman lantas memamanggil Pak Mamat untuk membantunya membuka pagar.


Setelah pagar terbuka lebar, masuklah mobil hitam ceper itu kedalam halam rumah yang luas.


Dari dalam mobil keluar Al dan Mikael secara berbarengan. Melihat itu Pak Usman, Pak Mamat dan juga Bi Hilda nampak senang melihat kebersamaan mereka.


"Assalamu'alaikum, Pak dan Bi Hilda.." sapa Al melihat kearah mereka bergantian.


"Wa'alaikumsalam.." jawab mereka berbarengan.


Kedua pasutri itu lalu memasuki rumah berbarengan meninggalkan para orang tua setengah baya yang senang melihat pasangan itu nampak akrab.


"Pak, Nyonya Al kok bisa pulang bareng dengan, Tuan. Jangan-jangan Tuan menjemput Nyonya ditempat kerja atau sebaliknya Nyonya yang menjemput Tuan.." ucap Pak Usman.


"Saya tidak tau Pak, saya tak masalah siapa yang menjemput. Melihat mereka bersama dan nampal akrab itu membuat saya senang.." balasnya.


###


"Aku sudah selasai.." ucap Mikael.


"Ah..iya Kak.." balas Al yang melihat suaminya meninggalkan meja makan.


Mikael segera pergi menjauh dari Wanita yang sejak tadi membuat hatinya berdebar. Dia memegang dadanya yang masih sedikit berdebar akibat melihat Wanita didepannya yang makan dengan begitu menggoda.


Padahal Wanita itu makan dengan biasa saja. Hanya saja, Mikael yang sudah terpincut dengan Al merasa semua tindakan Al menggoda. Seperti tadi saat Al menjilat garpu bekasnya makan buah Naga.


Pria itu berjalan menuju ruang bacanya. Disana dia membaca buku yang belum dibacanya.


Tapi sayangnya, baru membaca tiga lembar dia tak focus. Lantas dia mengarahkan bangkunya kearah jendela. Disana dia mencari sosok Wanita yang suka membaca buku disana.


Dia menengokkan kepalanya, sayangnya sosok yang dicarinya tak ada. Mikael lalu mengembalikan lagi bangkunya seperti biasa. Matanya mendapati benda yang seperti seruling sangnya benda tersebut berukuran kecil.


Diraih benda yang tak jauh dari tempatnya duduk, kemudian menghisap benda itu lalu mulutnya mengeluarkan kepulan asap putih.


Mikael tak hentinya menghisap benda itu sambil menatap kearah bangku taman belakang.


Tok tok tok


Mikael tak membalikkan tubuhnya, dia tetap dalam posisi menghadap jendela yang pintunya dibelakangi olehnya saat ini.


Tek


"Kak, ini teh hijau panasnya.." ucap Al.


Mikael yang mengenal suara tersebut, langsung membalikkan bangkunya. Benda yang sedang dihisapnya tadi lepas dari bibirnya lalu mengeluarkan kepul asap putih dari mulutnya tepat kearah Al.


"Khok.." batuk Al yang tersedak karna asap yang tiba-tiba menyerbu organ pernapasan.


Mikael yang akan menghirup kembali diurungkan melihat Al yang terbatuk.


"...kamu tidak suka asap ini.." tunjuk Al kearah alat yang dipegangnya.


"...sejujurnya tidak, tapi kalo Kakak suka tidak apa-apa.." jawabnya sambil tersenyum.


Menyadari ruangannya penuh dengan kepulan asap miliknya dia beranjak dar posisi duduknya lalu membuka jendela yang ada dibelakangnya.


Saat berbalik, dia melihat Al sedang memandang kearah rak yang berisi buku-buku. Dia nampak kagum melihat buku yang terpajang dengan rapi.


"Ingin melihat buku-bukunya.." ucap Mikael. Al lantas segera beralih kearah Pria itu yang sedang menyenderkan tubuhnya pada pembatas jendela.


"Boleh?" tanya Al menatap mata Mikael.


"...tidak masalah.." sahutnya mengalihkan mata dari Al.


Mendengar perizinan suaminya Al tanpa sungkan berjalan kearah rak buku. Dia memperhatikan berbagai jenis buku bisnis milik Mikael. Dari buku dasar-dasar membangun bisnis, motivasi dan buku bisnis lainnya yang tidak Al pahami.


Seketika tangannyan berhenti pada sederetan buku religi. Dia membaca judul bukunya yang berjudul bisnis islam, jaringan rantai kapitalisme global dan berbagai judul buku lainnya. Seketika dia tertarik pada satu buku yang tak disangka dimiliki Mikael.


"Kak El!" seru Al. Mikael lalu menengok kearah Al yang menunjuk pada satu buku.


"Kakak, ternyata punya buku 'Menjadi Suami Idaman Hati' ya.." lanjutnya yang merasa senang.


Mikael mengerutkan dahinya. Seingatnya dia tak memiliki judul buku seperti itu.


Saat melihat deretan rak yang ditunjuk Al, dia tau milik siapa buku tersebut.


"...ohhh..itu buku milik Kakek.." balas Mikael. Al mendengarnya merasa sedih seketika.


"Kakek!"


"Iya, dulu sesekali Kakek suka kemari. Dia suka menghabiskan waktu di rumah ini dengan membaca buku. Yang kamu liat saat ini deretan buku milik Kakek.." jelas Mikael.


"...ohh milik Kakek, Al kira milik Kak El.." ucap Al menatap suaminya, seperti memberi kode. (Tapi sayang sekali Al, suamimu goiro peka)


"Kenapa? Kamu ingin membacanya?" tanya Mikael yang tadi melihat perubahan ekspresi Al.


"...Al boleh membaca.." ucapnya memastikan.


Al segera meraih buku itu, lalu berjalan kearah sofa lalu mendudukinya.


Mikael menghisap benda yang dipegangnya kembali, tapi kali ini dia membuang asapnya keluar jendela. Usai itu, memperhatikan Al yang sangat tertarik membaca buku yang dipegangnya saat ini.


"Apa serunya buku itu!" batin Mikael.


###


Buku yang Al baca prihal semakin sayangnya istri pada suami, karna tindakan suaminya yang selalu mencuri hati istrinya.


Tidak seperti saat ini yang masing-masing mementingkan ego sendiri. Menyebabkan perpecahan rumah tangga yang berakhir perpisahan akibat kasih sayang satu sama lain yang mulai hilang.


'Puk!' Al menutup buku yang dibacanya. Dia rilekskan tubuhnya yang terlalu lama duduk.


Dialihkan kepalanya kearah Pria yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya. Pria itu nampak sangat serius membaca buku yang dipegangnya.


Wanita itu lalu beranjak dari posisi duduknya. Saat akan berjalan kearah rak. Pria yang sedang memebaca itu memanggilnya.


"Letakkan saja bukunya diatas meja. Nanti aku yang akan merapikannya!" perintah Pria itu tanpa mengalihkan pandangan.


Al lantas mengurungkan niatnya lalu membawa buku yang dipegangnya kearah meja Mikael untuk meletakkannya.


"...memangnya kamu sudah selesai membacanya?" tanyanya kemudian saat Al meletakkan bukunya.


"Belum Kak.." balasnya.


"Yasudah, Bukunya disini aja. Jadi, besok ketika ingin membacanya kamutak perlu mencarinya.." usul Mikael. Mendengar ucapan Pria itu, Al menganggukan kepala.


"Baiklah, Al keluar ya.." pamitnya lalu pergi dari ruangan Mikael.


Mikael mengangkat kepalanya, memperhatikan Al yang keluar dari ruangannya. Dia lalu menghembuskan nafas lega.


"Haahhh..ternyata aku masih belum bisa jika hanya berduan dengannya.."gumamnya.


Dia menyenderkan tubuh besarnya disadaran kursi yang di dudukinya. Matanya melihat kearah mejanya yang dimana Al meletakkan buku yang dibacanya tadi.


Saat akan menjulurkan tangan mengambil buku yang dibaca Al tadi. Bunyi rinton HPnya menghentikan gerakan Pria itu.


Diraihnya HPnya lalu menggeser telpon berwarna hijau.


"Halo Mikael.." sapa suara disebrang. Mikael hanya berdehem menandakan dirinya mendengarnya.


"Gua cuman mau ingetin lo, jangan lupa acara ulang tahun pernikahan Ayah sama Ibu gua nanti sore.." beritahu suara disebrang.


Mikael terdiam, dia benar-benar lupa perihal pernihan orang tua Ghifari.


"Iya," balasnya pelan seolah tak lupa apapun.


"...oh iya, lo tau gak apa barang yang diinginkan om sama tante saat ini?" tanya Mikael kemudian karna dia belum menyiapkan kado apapun dan juga tak terpikirkan kado apapun.


"Hmmm...sepertinya enggak ada deh.." balasnya.


"Tapi kalau lo mau kasih sesuatu mending....." usulnya.


Mikael mengkerutkan dahi mendengar hadiah sederhana yang diusulkan anaknya sendiri.


"Bukankah Tante mempunyainya, kalau gua beliin juga itu cuman buat Tante enggak buat Om.."


"Hahaha..Ibu gua cuman punya satu yang kayak gituan..kan lontau sendiri Ibu gua gak suka yang kayak begituan.." balasnya.


"Kalau lo beliin barang itu, Ayah gua pasti ikut senang dan sangat berterimakasih sama lo.." lanjutnya.


"Kalau begitu menurut lo, gua ikut aja. Tapi kalo mereka gak suka gimana?"


"Tenang aja, kalau yang lo yang kasih pasti dia suka.." kata Ghifari meyakinkan.


Mikael kembali mengiyakan, karna saat ini dia benar lupa untuk pripare kado untuk orang tua Ghifari yang bisa dibilang baik padanya sejak dia masa kuliah.


###


Di meja makan


Mangkok yang berisi makanan nampak sudah berkurang. Al merapikan sisa piring bekas makanannya dan juga suaminya.


Saat kembali lagi ke meja makan setelah menaruh piring kotor. Al kembali ke meja makan. Disana Mikael membuka suaranya.


"Orang tua Ghifari akan merayakan ulang tahun pernikahannya nanti sore.." ucap Mikael.


Al yang sedang membereskan mangkok berisi lauk menengok kearah Mikael yang sedang melihat kearahnya.


"Kenapa Kak?" tanya Al yang tadi tak begitu mendengar perkataan Mikael.


"Orang tua Ghifari akan merayakan ulang tahun pernikahannya nanti sore. Mereka mengundang kita untuk datang.." ucapnya kembali.


"Orang tua Kak Ghifari juga mengundang Al!" serunya. Mikael menganggukan kepala mengiyakan.


"Berarti nanti sore kita kesana, Kak!"


"Iya, tapi aku belum membeli hadiah untuk mereka. Jadi kita akan jalan sekarang untuk membeli hadiah setelah itu baru kesana.."


"Baiklah,"


"Al, siap-siap dulu ya.." pamitnya.


"...tunggu, Al.." panggil Mikael menghentikan Al yang akan meninggalkan meja makan.


"Kamu jangan lupa untuk menggunakan hadiah yang satu lagi.." ucapnya.


"...baik,Kak.." balas Al mengganggukan kepala.


###


Didalam kamar Al menatap dirinya. Dia melihat dirinya nampak berbeda dengan biasanya.


"Terakhir menggunakannya saat hari pernikahan, tidak kelihatan aneh kan.." gumamnya sambil menatap replika wajahnya.


Diliriknya kain penutup wajahnya. "Kalau menggunakan ini, pasti aku tak perlu memakai kain ini.." ucapnya lalu memasukkan kain yang dipegangnya kedalam tas.


Al berjalan keluar kamar, dia berjalan pelan menuju kebawah. Ditangga dilihatnya Mikael yang sudah siap dengan stelan kemeja dan celana bahan panjang.


Mata Al masih menatap penampilan suaminya yang selalu memukau. Tak sengaja, matanya bertemu mata dengan suaminya yang langsung mengalihkan pandangannya.


"Glek!" pria itu menelan slavina dengan paksa. Dia kembali melirik kearah Wanita yang mulai mendekat kearahnya.


Penampilan Wanita didekatnya sungguh cantik. Padahal hanya sedikit polesan make up yang dipakainya. Make up yang dibeli Mikael sebagai hadiah.


"Kenapa Kak?" tanya Al yang menatap suaminya yang sejak tadi melirik lalu membuang matanya kearah lain.


"Tidak, apa-apa.." dalihnya mengalihkan pandangan kembali.


"...mengapa kamu tidak mengunakan kain untuk menutupi wajahmu?"


"...Al fikir, Kak El menyuruh Al menggunakan hadiah make up yang Kakak berikan yang artinya Al tak harus menggunakan cadar.." tuturnya.


"Tidak, aku hanya menyuruh menggunakannya saja.." dalihnya.


Sejak awal Mikael menyuruh Al menggunakan make up, supaya bisa memperlihatkan wajahnya yang selalu tanpa make up. Ternyata, setelah menggunakannya dia tak menyangka Wanita itu malah semakin cantik.


Padahal saat hari pernikahan, dia melihat jelas Wanita itu memakai make up, tetapi saat itu dia tak merasakan apapun kecuali perasaan kesal.


"Gunakan saja kembali cadarmu!" perintahnya.


"...apa Al kelihatan aneh, Kak?"


"...tidak, ikuti saja perintahku!" sahutnya.


"..baiklah.." balasnya mengikuti perkataan suaminya lalu mengambil kain itu dari dalam tasnya.


Di Toko


Tap tap tap


Al mengikuti langkah kakin Mikael yang mengarah kesalah satu toko yang ada dilantai tiga Mall di Jakarta.


Dia menuju toko yang diluar dugaan Al, toko yang berisi frivasi Pria or Wanita. Tapi Mikael yang Pria malah berjalan ke bagian Wanita.


"Kakak ingin membelihan hadiah pakaian dalam untuk Ibunya Kak Ghifari?" tanya Al.


"Tidak, aku ingin membeli itu!" tunjuknya dengan kepala pada deretan baju lingeria. Al membulatkan mata, dia tak menyangka suaminya akan membelihan hadiah seperti ini.


"Aku membelinya karna usulan Ghifari, bukan karna keinginanku.."ucapnya seketika karna melihat mata Al yang melebar.


"...ohh usulan Kak Ghifari.." gumam Al.


Tetap saja, Al masih saja tak menyangka. Seorang anak yang meminta temannya membelikan baju seperti ini pada Ibunya. (Sungguh tak sopan menurut SMIM)


###


Pemandangan yang langka. Para pengunjung menatap kearah sepasang pasutri yamg sedang melihat-lihat lingeria bersama.


Orang-orang melihatnya merasa pasangan tersebut amat romantis, karna memilih pakaian tidur untuk istrinya. Semakin romantis yang memilihkannya adalah sang suami.


Al melihat-lihat lingeria yang dipilih Mikael, dari yang warnanya terang sampai gelap. Ada yang amat terbuka dan ada juga yang amat tipis seperti jaring.


"Ba, saya ingin pakaian ini dan ini!" tunjuk Mikael kearah lingeria terusan berwarna hitam dan merah tua.


"Baik, Tuan.." balas pegawai Wanita yang berada didekat Mikael.


Setelah menunjuk pakaian yang dipilihnya. Dia melirik kearah Al yang sedang menatap kearah pakaian yang dipilih tadi.


"Kamu menginginkannya?" tanya Mikael.


"....tidak, Kak.." gelengnya.


"...lagi pula, jika aku memakainya. Al tidak bisa ditunjukkan pada siapapun.." ucapnya seperti memberi kode.


"Tuan, Nyonya mari ke kasir.." ucap pegawai Wanita yang sudah memegang pakaian yang dipilih Mikael.


"Iya.." kata Mikael menggangguki. Dia lalu kembali melihat kearah Al.


"Kak, Al ke toilet sebentar ya.." izinnya.


"Iya.." balasnya. Al lalu pergi menuju toilet toko tersebut.


Seperginya Al, Mikael kembali menatap kearah lingeria didekatnya. Dia nampak berfikir, sejenak lalu berjalan kearah kasir.


Makasih sudah membaca.


Srmangati SMIM dengan tinggalkan tanda, komentar yang berkaitan cerita dan jika suka ceeita ini sebarkan.


Thank you


Salam hangat SMIM