
Kembali
Happy Reading!!!
Hari-haripun berlanjut, tanpa sadar setiap malam Mikael selalu mengatakan ya setiap kali Al mengajaknya sholat berjama'ah.
Siang ini, matahari nampak sangat trik dibanding hari biasanya. Al terlihat berjalan keluar dari kamarnya. Dia menuju dapur untuk mengambil sesuatu.
Sebelum mengambilnya dia melihat sekitar terlebih dahulu karna takut ada yang melihatnya.
Setelah memastikannya dia segera mengisi botol minumnya yang berukuran 1 liter dengan air mineral. Setelah itu dia mengambil beberapa cemilan dari kulkas. Dia lalu membawanya.
Saat berjalan menaiki tangga. Wanita itu berpapasan dengan suaminya yang akan turun.
Al lantas menyembunyikan makanan dan minuman yang ada digenggamannya.
"..eh...Kak El.." ucapnya.
Mereka lalu berpapasan tepat di tegah tangga. Mikael mengangkat alisnya melihat tindakan mencurigakan Al.
"Apa yang kamu sembunyikan?"
"Bukan apa-apa Kak.." jawab Al gugup.
Mikael lantas mengangkat kerudung Al yang panjang itu. Dilihatnya tangan Al yang memegang botol minuman dan juga cemilan.
Dia kemudian menurunkannya kembali kerudung Al. "Tidak perlu disembunyikan.." ucapnya lalu pergi mendahului Al.
Mikael tersenyum melihat tindakan Al yang menyembunyikan makanan dan minuman seperti anak kecil yang ingin membatalkan puasa.
Al melihat punggung suaminya. "Tapi aku kan malu.." gumamnya. Al kembali melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
###
Adzan berkumandang menandakan waktu berbuka puasa. Al sudah menyiapkan makanan berbuka untuk suaminya.
"Kenapa tidak memakannya?" Mikael melihat Al yang tak segera memakan buah kurma yang dipegangnya.
"...aku kan gak puasa. Kakak aja yang makan duluan nanti setelah Kak El makan. Al juga akan makan.." ucapnya.
Mikael lantas segera memakan kurma yang ada ditangannya "Aku sudah makan, sekarang kamu.." ucapnya. Al menganggukan kepala lalu memasukkan kurma tersebut ke mukutnya.
Usai menyantap makanan, Mikael kembali ke kamarnya. Seperti biasa, saat masuknya waktu isya. Al kembali datang ke kamar Mikael.
"Ada apa?"
"Ayo kita sholat.."ajak Al.
"Bukannya kamu lagi tidak shat.."
"Iya, tapi Al masih tetap bisa nemanin Kak El buat sholat.." ucapnya.
Mikael diam mendengar perkataan Al. Dia fikir hari ini dia bisa bersantai karna Al sedang M, ternyata tidak. Wanita itu tetap mengajaknya, tak membiarkannya libur (Emang sekolah apa libur hehehe).
"Al tunggu ya di kamar.." ucalnya lalu pergi.
Mikael menghembuskan nafas kasar. "Tidak apa-apa Mikael, hanya 20 menit saja..." ucapnya. Dia lantas segera bersiap-siap.
###
Hari kemenangan yang di tunggu-tunggu bagi setiap umat islam segera datang. Banyak dari warga Jakarta berbondong-bondong pulang kampung. Agar bisa berlebaran bersama sanak dan saudara.
"Tuan Mikael, Nyonya Al. Bapak minta maaf ya kalau punya salah sama Tuan dan Nyonya.." ucap Pak Mamat.
"Sama Pak, Al juga minta maaf kalau punya salah sama Bapak.." balas Al.
"Bapak izin pulang ya!" serunya lalu menjabat tangan Tuannya dan bersalamat tanpa menyentuh dengan Al. Setelah itu Pak Mamat pamit.
Tak lupa juga Pak Mamat berpamitan pada Pak Usman dan juga Bi Hilda yang berada disana sejak tadi.
Setelah Pak Mamat pergi menggunakan taksi yang dipesan. Mikael, Al, Pak Usman dan juga Bi Hilda segera kembali masuk kedalam rumah.
Mikael yang hendak masuk kedalam rumah dihentikan oleh Pak Usman.
"Tuan,"
"..Iya Pak.."
"...besok sore, saya dan istri saya juga pulang kampung.." ucapnya. Mikael mengangukan kepala tau.
"..prihal Nyonya Al.." lanjutnya.
"Maksudnya, Pak?" tanya Mikael tak paham.
"..setiap tahun Tuan Mikael pasti pulang ke rumah Pak Ibnu. Tahun ini tentu Tuan akan pulang. Saya ingin bertanya prihal Nyonya Al yang tak memiliki keluarga.." ucapnya
Mikael semetika paham maksud perkataan Pak Usman.
"Maksud Pak Usman, saya mengajaknya ke rumah Kakek.." ucap Mikael.
"Untuk hal itu, terserah pada Tuan. Hanya saja jika tak diajak Nyonya Al akan sendiri di rumah.." ucapnya.
"..itu saja yang ingin saya sampaikan, baiklah saya permisi Tuan.." pamit Pak Usman.
Mikael nampak berfikir. Dia bingung harus mengajak Al atau tidak. Jika dia mengajaknya apa yang harus dikatakan pada Kakaeknya. Jika meninggalkannya dia merasa kasihan pada Al yang sendiri.
###
Esok pun datang. Paginya Mikael dan Pak Usman terlebih dahulu membagikan bingkisan dan THR pada para karyawannya.
Usai itu kantornyapun di liburkan.
Sorenya, Pak Usman dan Bi Hilda nampak sudah bersiap untuk pulang kampung.
Nampak mobil travel pesanan Pak Usman datang. Menjemput mereka untuk mengantar ketempat tujuan.
"Tuan, Nyonya. Saya dan Bi Hilda pamit ya. Maaf jika saya dan istri saya punya kesalahan kata atau perbuatan.."
Sebelum memasuki mobil Al memeluk Bi Hilda terlwbij dahuli. Sedang Mikael menjabat tangan Pal Usman.
"Terimakasih ya, Pak.." ucap Mikael. Pak Usman tersenyum
Setelah mengucapkan salam mereka masuk kedalam mobil travel.
Tinggallah berdua Al dan Mikael di rumah besar itu. Mereka memasuki rumah.
###
Dikamar, Al samar-samar mendengar suara HPnya. Dia lantas mengambil HPnya yang diletakkan di meja rias.
Disana tertulis nama si pemanggil.
"Assalamu'alaikum, Al.."
"Wa'alaikumsalam, Vi.."
"Al, aku mau ngabarin kalo malam ini aku, Mas Ilham sama Ahmad ke Solo.."
"Iya Vi kamu sama yang lainnya hati-hati ya di jalan. Titip salamku sama Ibu dan Bapak.."
"Iya Al, tapi kamu jangan lupa ya telpon. Soalnya Ibu sama Bapak belum tau perihal dirimu yang sudah menikah. Takutnya msreka mengira kamu lebaran sendiri.."
"Siap, Vi.." balas Al.
"Al lebaran kali ini kamu di Jakarta apa enggak?"
"Di Jakarta,"
"...udah dulu ya Al, Mas Ilham manggil aku.." ucapnya. Setelah Al menjawab salam. Via memutuskan panggilannya.
Al menatap kearah luar jendela. "Apa lebaran kali ini aku akan sendiri.." gumamnya.
###
Suasana sepi menyelimuti rumah ini. Al yang biasaya selalu mengajak Mikael bercakap-cakap nampak tak terlalu banyak bicara.
Akhirnya hari yang ditunggu Mikael datang. Kumandang takbir yang di kumandangkan ba'da magrib. Membuatnya bernafas lega karna terbebas dari ajakan Al sholat berjama'ah.
Malam itu, Mikael sedang menyusun pakaiannya kedalam tas. Dia berniat malam ini ke rumah Kakeknya.
Selesai menyusun pakaiannya, dia merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Dia kembali bermain dengan HPnya. Samar-samar terdengar suara ketokan dari luar kamarnya.
Karna dia malas beranjak, diapun memerintahkan orang yang mengetuk masuk.
"Masuk saja!" serunya.
'cklek..' suara pintu terbuka. Disana terdapat sosok Al dengan mukena berwarna hitam.
"Kak, ayo!" ajak Al dengan senyum ramah.
Mikael mengerutkan dahi. "...bukannya besok Idul Fitri.." balasnya.
"Betul besok hari kemenangan untuk semua umat Islam.." setuju Al.
"Tapi, Sekarang aku mau ngajakin Kak El sholat isya bareng.." ucapnya.
Mikael terdiam, dia fikir setelah malam ini datang Wanita satu ini tidak akan mengajaknya lagi ternyata.
"Tunggulah di kamarmu, nanti aku kesana!" perintahnya. Al nampak senang lalu kembali ke kamarnya.
Diluar kamar suaminya, Al seketika mengubah mimik wajahnya menjadi sedih. "Apa malam ini Kak El akan pergi?"
Saat didalam kamar, mata Al tak sengaja melihat kearah koper Mikael yang terbuka disamping ranjang.
###
Usai sholat Isya berjama'ah, Mikael kembali ke kamarnya. Dia bersiap-siap untuk berangkat.
Mikael sudah nampak rapi dengan kaos celana, celana panjang, dan juga sendalnya. Rambutnya nampal dikuncir kuda.
Saat menuruni tangga, dibawah dilihatnya Al yang sedang duduk di ruang TV. Dinampak sedang nonton dengan asiknya.
Diliriknya koper yang ada disampingnya. "Dia tidak akan bertanya.." batin Mikael.
Saat berada dibawah, tak sengaja mata mereka bertemu. Al nampak tersenyum, dia beranjak dari tempatnya mendekati Mikael.
"Kak El, mau pergi ya.." ucapnya.
"Kakak, hati-hati ya dijalan.." tambahnya.
"...ini!" Al memberikan kantung berwarna biru.
"Itu oleh-oleh Al saat pergi ke rumah teman. Al selalu lupa memberikannya.." ucapnya.
Mikael menganggukan kepala. "Terimakasih.." ucapnya pelan.
"Kembali kasih.." balas Al.
Mikael lalu membawa kopernya kearah pintu depan. Al mengikutinya dibelakang.
Ketika mobil sudah berada diluar pagar. Al masih berasa disana mengantar kepergian suaminya.
Mobilpun melaju, dari kaca spion depan dia masih bia melihat sosok Al yang melambaikannya tangan.
Mikael terus melajukan mobilnya sampai keluar dari perumahan tersebut. Perasaannya tak tenang, seperti ada yang mengganjal.
Diliriknya hadiah pemberian Al yang ada dibangku samping. Dia menggeramkan giginya dengan tangan menggenggam erat stir.
###
Melihat mibil suaminya telah pergi, Al lantas kembali masuk kedalam rumah. Dia terlebih dahulu menutup pagar kemudian menguncinya.
Didalam rumah, Al kembali ke kamarnya. Dia melepaskan pakaiannya meninggalkan kaos biru dan celana panjang.
Dia menyalakan TV kamarnya, lalu menekan volume tinggi untuk acara pertama yang ditemukannya.
Tak terasa buloran air mata turun membasahi wajahnya. Al terisak sambil memeluk lututnya. Rambut panjangnya yang dia gerai menutupi bagian depan wajahnya.
Bagaimana ceritanya?
Good or Bad Hahaha...
Seperti biasa ya biar SMIM semangan tinggalkan tanda.
Sipp...
Syukron Katsiron...