Friends After Marriage

Friends After Marriage
Tak Sadar



Happy Reading!!!


Tak Sabar


"Aahh...aahh.." suara nafas memburu.


Beni membaringkan tubuhnya yang terasa lelah. Dia melihat kearah sampingnya, Mikael yang nafasnya sama memburunya dengan dirinya.


"..sudah lega sekarang.." ucap Beni.


Mikael tak menjawabnya, dia hanya diam sambil memejamkan kedua matanya.


Beni kembali melihat kearah depan. Dia kembali mengingat kekejadian beberapa waktu lalu.


Saat Mikael menggedor kamarnya lalu menyuruhnya mengikutinya pergi keluar.


Saat itu Beni melihat jelas amarah di wajah Mikael yang tak pernah dilihatnya selama ini.


###


Suara cit-citan burung mulai terdengar, begitu juga suara angin pagi yang menabrak jendela kayu kamar Al.


Seorang Wanita cantik, nampak membuka matanya yang terpejam. Dia melihat sekitar kamarnya yang masih nampak gelap, karna pagi tadi setelah sholat subuh dia tidur kembali dengan lampu dimatikan.


Wanita itu beranjak dari kasurnya menuju jendela lalu membukanya. Membuat angin sejuk dan cahaya matahari pagi masuk.


Dia lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Disana Wanita berambut panjang itu kaget melihat matanya yang bengkak.


Wanita itu terdiam, dia kembali mengingat kejadian semalam yang membuatnya menangis.


Dia segera menggelengkan kepala melupakan kejadian semalam lalu mencuci mukanya.


Setelah memakai pakaian keluarnya, Al keluar kamar.


Didepan, Al menatap pintu depan kamarnya. Dia ragu melangkah kedepan mendekati pintu itu, tapi Al meyakinkan dirinya.


Dijulurkan tangannya untuk mengetuk pintu kayu itu.


"Al!" panggil suara Pria. Hal tersebut menghentikan gerakan tangan Al.


Al lantas menengok kearah suara yang berasal dari Beni.


"...iya, Kak?"


"Makanan sudah siap.." ucapnya.


"...ah iya," balasnya.


"..Kak..El.." tunjuk Al kearah pintu kamar Mikael.


"...katanya dia tak lapar.." jawabnya.


"..ditunggu ya di ruang makan," ucapnya sambil tersenyum.


Al menganggukan kepalanya. Dia lalu mengikuti Beni menuju ke meja makan.


Disana dilihatnya Yuan dan Ghifari sudah duduk. Mereka menatap kearah Al yang datang mendekat.


Tak ada percakapan diruangan itu, yang ada hanya suara peralatan makan yang terdengar.


Sampai akhirnya selesai makan Ghifari membuka suaranya.


"Al, Mikael menyuruku memberikan ini!" Ghifari menyodorkan kertas putih.


Al menerima kertas itu. Dia terilihat kaget melihat isi kertas itu. "Ini.."


"..iya, itu tiket pesawatmu yang telah dibeli online oleh Mikael.." jelasnya.


"Waktu keberangkatan hari ini pukul setengah satu siang.." ucapnya. Ghifari lalu melirik kearah jam yang bertengker di tembok.


"Kamu masih ada waktu satu jam untuk beberes. Setelah itu Pak Mansur akan mengantarmu ke Bandara.." jelasnya.


Al menganggukan kepala paham. Dia masih tak bisa berkata ditempatnya.


Dalam hatinya, dia masih bertanya-tanya mengapa suaminya menghindarinya, padahal yang seharusnya menghindar adalah dirinya bukan suaminya.


"...kalau begitu, Al pamit ya.." izinnya dengan pala tertunduk.


Al lantas segera beranjak dari meja makan menuju kamarnya.


Didepan pintu kamar Mikael, Al berhenti. Dia menatap pintu yang tertutup itu. Dengan mantap Wanita itu mengetuk kamar tersebut.


"Kak El.." panggil Al.


Al kembali mengetuk kemudian memanggil namanya yang berada didalam, tapi masih sama tak ada jawaban.


Setelah diketuk beberapa kalipun tetap tak ada jawaban dari orang tersebut. Al lantas memundurkan langkahnya menuju kamarnya.


Didalam kamar, Al mendudukkan tubuhnya diatas lantai kayu.


Sikap Mikael yang menghindarinya, lebih menyakitkan bagi Al dari saat dia mengabaikannya, menatapnya sinis, mendiamkannya ataupun kelakuannya tadi malam.


Al memeluk kedua lututnya dengan kepala tertunduk. Dia kembali menangis menyesali, penolakannya semalam dan sikap tak sopannya.


"Kak, Al minta maaf.." isaknya pelan.


Flashback on


Suara ketukan pintu berulang kali membangunkan Al dari tidurnya. Dia mendudukkan tubuhnya sejenak lalu beranjak dari ranjangnya menuju pintu.


"Siapa?" tanyanya masih dengan mata yang pitpit.


"...your husband!" seru suara serak didepan.


Mengetahui suaminya yang datang Al langsung membuka kunci kamarnya, kemudian membuka pintu agar suaminya dapat masuk.


Dilihatnya suaminya masuk dengan bertumpu pada pegangan pintu. Setelah masuk seutuhnya dia menyender pada tembok kayu kamar Al.


Al memperhatikan suaminya yang terlihat sempoyongan. Dia lalu mendekat kearah suaminya.


Saat mendekat seketika suaminya itu, menghentakkan tubuh Al ke tembok lalu mengapit tubuh kecil Al dengan tubuh besar Mikael yang kekar.


"Ahhh.." Al merasakan sakit dibagian punggungnya karna Mikael menghentakkannya lumayan keras.


Al melihat kearah suaminya yang sedang menatap tajam kearahnya dengan makna yang tak dipahami Al.


Dengan gesitnya Mikael langsung menyambar bibir mungil Al. Hal tersebut lantas membuat mata Al membulat penuh.


"..ahh..Kak.." ucap Al yang langsung kembali dibungkam Mikael. Dia terus menciumnya tanpa membiarkan Al berbafas.


Sampai akhirnya Mikael melepaskan pangutannya pada Al yang nafasnya seperti orang yang sehabis lari maraton.


"...ahhh..ahhh..ahh.." Al menarik nafasnya dalam-dalam. Bibirnya nampak merah karna di **** bagaikan permen lolipop.


Al yang masih nampak menormalnya nafasnya, langsung ditarik oleh Mikael kearah kasur lalu mendorongnya keatas sana kemudian meniban tubuhnya dengan tubuh Mikael.


"..aaaghh..kak...Kak El, kenapa?" tanya Al yang mulai merasa takut. Dimata Al kali ini dia seperti melihat sosok Mikael dengan sifat lainnya.


Al memberanikan menyingkirkan rambut panjang Mikael yang berjatuhan diwajahnya. Dia ingin melihat jelas mata suaminya yang tak terlalu jelas.


Lagi-lagi Mikael kembali melakukan hal tadi. Tapi kali ini dia melakukannya dengan kasar. Dia juga memasukkan secara paksa pengecap rasanya kemulut Al dengan cara menggigit bibir Al.


Al yang merasa kesakitan lantas berontak. Dia mendorong dada bidang suaminya dengan kedua tangannya, tapi sayangnya dorongannya tak mempengaruhi Mikael sedikitpun.


Mikael mulai kembali melepas pangutannya. Membuat Al kembali bisa bernafas.


Dirinya lalu beralih pada leher putih jenjang Al yang terlihat menggiur. Dia lalu membuka kancing piyama bagian atas Al.


Disana dia memberikan banyak tanda merah hampir keunguan di leher Al, karna disana tak hanya tanda bibir yang menempel tapi juga tanda gigi yang menempel. Hal tersebut membuat Al meringis kesakitan.


"Kak El...sakit.." isak Al. Tapi Mikael tak mengubrisnya dia tetap menjalankan kerjaannya.


Karna tindakan memberontaknya tadi. Kedua tangan Al saat ini ditaruh keatas kepalanya lalu ditahan. Membuat Al tak bisa bergerak. Sedang tangan lainnya membuka sisa kancing piyama Al.


Ketika melihat gundukan yang mengiurkan, Mikael kembali berulah. Dia melepas pelindung dada Al dengan cara menariknya kebawah dengan kasar.


Setelah terpampang jelas, Dia memulai kembali memberitanda seperti di leher pada area itu.


Sudah bosan disana, dia beralih kebawah. Dia menurunkan celana panjang piyama Al. Begitu juga dengan benda tipis didalam celana itu.


Al saat ini benar-benar sudah tanpa sehelai benang, berbeda dengan Mikael yang masih komplit dengan pakaianya. (sungguh tidak adil)


Al sejak tadi berfikir mengapa suaminya seperti ini. Ingin rasanya dia menolak. Tapi ini merupakan hal yang ditunggu Al dan kewajiban yang harus dikerjakannya. Tetapi dia selalu menginkan cara yang lembut tak sekasar ini, karna ini merupakan pengalaman pertamanya.


Melihat Mikael yang menjauhkan tubuhnya dari Al. Membuat dirinya sedikit bernafas lega.


Tapi Mikael menjauh bukan untuk pergi tetapi untuk melepas celananya, membebaskan sesuatu yang mulai sesak.


Al memperhatikan wajah Mikael yang memerah sejak tadi, matanya yang tak focus dan tubuhnya yang tak seimbang. Diapun terbesit dan mengingat jika mereka tadi izin untuk pergi ke suatu tempat.


"Jangan-jangan.." batin Al. Dia segera memundurkan tubuhnya secara perlahan ke kepala ranjang.


Mikael yang sudah melepaskan celana panjangnya yang menyisakan celana ketat pendek. Mulai menghampiri Al kembali.


Al menggit bibirnya sejenak lalu membuka mulutnya. "Kak El habis minum?" tanya Al memastikan.


Mendengar perkataan Al. Mikael spontan tersenyum. "Memang kenapa?" tanyanya kembali dengan seringai yang selalu di tampilkan orang mesum.


Mendengar perkataan Mikael, Al memutuskan kalo suaminya ini memang benar habis minum. Bagaimana tidak suaminya yang pelit senyum tiba-tiba senyum, ditambah seringainya sungguh membuat Al merinding. Fakta lainnya adalah sikapnya yang telah dia perbuat pada Al.


Dengan gesit saat Mikael bersiap menerkamnya kembali Al menghindar, sayangnya gerakan suaminya lebih gesit membuat dirinya kembali terperangkap.


Mikael menyeringai kembali, Dia memandang Al sepeti melihat mangsanya.


"Kak kumohon.." ucap Al dengan takut, tapi hal itu tak masuk ke telinga Mikael.


Saat akan bersiap membuka celana ketatnya. Al semakin was-was, dia berusaha membebaskan tangannya yang dicengkaram suaminya.


Saat tangan kanannya bebas Al langsung menampar keras Pria didepannya. "Kumohon berhenti Kak!" seru Al keras dengan air matanya yang sejak tadi sudah membasahi wajahnya.


Mikael terdiam sejenak. Serungai di wajahnya mulai menghilang. Dia memperhatikan Al yang berada dibawahnya dengan isakan dan air mata yang terus mengalir.


"Kumohon...hentikan.." isak Al kembali.


Seketika kesadarannya kembali. Dia memegang pipinya yang terasa sakit. Dia menatap bingung kearah Al yang nampak nangis.


Mikael yang menyadari sedang mencengkram tangan Al lantas melepaskannya.


Dia lalu bangkit dari posisinya dan membulatkan mata melihat tubuh Al yang sangat polos.


Mata Mikael berhenti pada bibir Al yang memerah lalu menuju bagian leher dan dadanya. Melihat hal ini Mikael lantas memundurkan tubuhnya. Begitu juga Al yang duduk dan langsung memundurkan tubuhnya. Al nampak menutup tubuhnya dengan bantal.


Menyadari dirinya tak mengenakan celana. Mikael segera mengenakan celananya kembali.


Sebelum keluar kamar dia mengambil selimut Al yang berada di ujung kasur. Dia menutupi tubuh Al dengan selimut.


Saat itu Mikael menyadari Al yang sangat ketakutan sampai tubuhnya bergetar.


Melihat Al yang seperti itu, Mikael memutuskan pergi dari kamar Al.


Seperginya Mikael, Al segera berdiri dengan selimut menutupi tubuhnya. Dia lalu mengunci pintu.


Al lalu terduduk sambil menyender di pintu, dia lalu kembali menangis.


Flashback Off


Al telah mendorong kopernya keluar dari kamar. Dia kembali melihat kearah pintu didepannya.


Al mendekat kembali kesana. Dia mengetuk pelan pintu. "Kak, Al pamit ya.." ucapnya.


"...dan..Al minta maaf.." lanjutnya.


Dia lalu meninggalkan pintu itu. Berjalan kearah pintu depan.


Diteras, dilihatnya para Pria itu duduk disana. Al mendekat ke arah mereka.


"Al, pamit ya.."


"Iya, kamu hati-hati ya.." balas Ghifari. Al menganggukan kepala.


Sedang dua Pria disamping Ghifari hanya diam. Padalah Al berharap Beni berkata sesuatu, tapi dia hanya melihat iba kearah Al begitu juga Yuan.


"Terimakasih Kak.." balasnya. Setelah mengucapkan salam Al berjalan menuruni tangga.


Kopernya diangkatkan oleh Yuan ke dalam bagasi mobil. Setelah memasuki mobil, tak berapa lama Pak Mansur masuk kedalam mobil sambil menenteng godibag.


Al hanya menatap nanar kearah jendela kamar Mikael, dia berharap suaminya menampakkan wajahnya dari jendela yang terbuka.


Sayangnya sampai rumahnya tak terlihat, Mikael sedikitpun tak menampakkan batang hidungnya yang mancung.


###


Seperginya Al, Yuan berjalan ke kamar Mikael. Dia menggedor pintu kamar itu kencang.


"Mikael, keluar lo. Jangan jadi pengecut!" sentak Yuan.


Ghifari dan Beni yang tadi melihat Yuan mengarah ke kamar Mikael, mengikutinya dibelakang.


Mereka berdua kaget, melihat Yuan yang menggedor keras pintu kamar itu.


"Stop Yuan! Mungkin Mikael punya alasan.." ucap Ghifari menenangkan.


"Alasan apa?" tanya Yuan pada Ghifari.


Yuan kembali menggedor pintu kayu itu sambil berkata. "Sebencinya lo sama Wanita. Jangan jadikan Al pelampiasan lo. Apalagi bukannya gua udah kasih tau Al itu cinta sama lo. Cintanya tulus. Tidak seperti para Wanita yang suka mengejar lo.." lanjutnya dengan esmosi.


"Sudah Yuan, kita gak ada yang tau apa masalahnya. Kita tunggu aja Mikael menceritakannya.." timpal Beni.


"Mau tunggu sampe kapan. Kaliankan tau sendiri Mikael bukan tipikal orang yang cerita apapun walaupun pada sahabatnya.." ini juga alasan lainnya Yuan marah. Dia kesal dengan sifat tertutup Mikael. Walaupun sudah bersahabat lebih dari tujuh tahun, masih saja Pria itu misterius.


Mereka berdua membenarkan perkataan Yuan. Mikael memang selalu tertutup pada mereka.


Seketika pintu terbuka, Yuan yang ingin menerjang Mikael untuk memberikan pukulan, seketika menghentikan gerakannya ketika melihat wajah Mikael yang lebam dan terdapat luka di sudut bibirnya. Ditambah wajah lesu Mikael yang sangat langka di lihat.


Mereka kaget termasuk Beni. Padahal Beni tau persis, siapa pelakunya.


"..tolong! Gua pengen sendiri!" mohonnya. Inilah permintaan Mikael yang pertama kali keluar dari mulutnya pada sahabatnya.


Mikael lalu kembali menutup pintu kayu itu. Meninggalkan ketiga Pria itu.


Yjan yang masih tak paham. Ingin kembali menggedor kamar Mikael, tapi dihentikan oleh Ghifari lalu ditariknya kearah ruang TV.


"Bukannya lo dengar sendiri. Dia pengen sendiri!" ucapnya mengingatkan. Yuan masih tak peduli dan ingin mengganggu Mikael.


"Yuan, lo liat sendiri bagaimana wajah Mikael dan ekspresinya tadi. Apa lo gak iba apa?" Yuam masih nampak tak perduli.


"Bukannya lo selama ini tau, Mikael yang enggak pernah ada yang bisa mukul tiba-tiba babak belur.."


"Gua tau lo tertarik sama Al! Tapi jangan lo jangan ngelupain perasaan sahabat lo sendiri. Lagi pula kata lo semalam, Al itu istri Mikael. Kalaupun mereka ada masalah, mereka yang akan mengurusnya!" seru Ghifari yang sejak tadi menahan tak berkata sarkas.


"Benar Yuan, mending lo jangan sepenuhnya salahin Mikael.." timpal Beni membenarkan.


Beni lalu menceritakan prihal Mikael yang datang ke kamar dengan kondisi pakaiannya yang basah dengan wajah memerah menahan amarah.


Dia juga menceritakan prihal luka lebam di wajah Mikael, yang dengan suka rela diterimanya dengan pasrah.


###


Kejadian semalam masih terbayang diwajah Mikael. Sosok ketakutan Al yang menggigil.


Mengingat itu membuat Mikael semakin kesal pada dirinya yang tak bisa mengontrol hasratnya.


Apalagi mengingat tanda-tanda keunguan yang dia berikan di tubuh Al. Menandakan seberapa garangnya dia malam itu.


"Aaghh.." Mikael mengacak rambutnya yang sudah acak-acakan.


Sejak pagi, setelah menyerahkan salinan tiket pesawat Al. Dia tak berani keluar kamar, karna takut saat dia keluar diakan berpapasan dengan Al.


Yang dia takuti bukanlah Al. Tetapi melihat Al yang kabur, karna ketakutan melihat dirinya.


Mikael kembali berusaha memejamkan matanya, tetapi lagi-lagi, dia tak bisa tidur. Karna selalu terbayang wajah ketakutan Al.


Saat akan berusaha kembali memejamkan mata. Mikael mendengar suara di luar.


Mikael mendengarkan pembicaraan singkat didepan pintu kamarnya. Seketika wajah kaget.


"Dia menanyakanku? Bukankah dia ketakutan?" tanyanya dalam hati karna tak percaya.


Beberapa saat setelah itu. Mikael yang sedang memejamkan mata. Kembali terjaga mendengar suara Wanita didepan kamar kembali. Wanita itu terus menggedor kamarnya.


Mikael ingin sekali rasanya membuka pintu. Tapi dia tak sanggup, memperlihatkan wajahnya dan takut tak bisa mengendalikan hasratnya ketika bertemu langsung.


Makanya dia lebih memilih diam. Tapi melihat tingkah Al ini dia yakin kalo Wanita itu tak takut dengannya. Mengetahui itu Mikael merasa senang.


Saat Al akan pergipun. Mikael memperhatikannya dari jendela. Tapi sebisa mungkin dia tak ingin menampakkan wajahnya.


Tak berapa lama setelah mobil yang membawa Al pergi, pintunya kembali di gedor. Suara tersebut berasal dari Yuan yang sangat esmosi.


Mikael memijit pelipisnya. Satu masalah belum selesai muncul masalah lainnya. Pikir Mikael.


Mikael ingin mengabaikan orang didepan kamarnya, tapi saat mendengar perkataannya prihal dirinya yang selalu diam tak bercerita. Dia memutuskan keluar.


Dia juga merasa bersalah pada sahabat setianya itu. Sampai sekarang Mikael juga bingung, mengapa sampai sekarang dia tak terbuka pada sahabatnya.


Cklek


Mikael keluar dengan wajah memelas, bawah mata menghitam dan wajah yang kalian tau sendiri.


"..tolong! Gua pengen sendiri!" mohonnya.


Setelah mengucapkan itu dia menutup pintu kembali.


Untuk saat ini dia ingin di tinggal sendiri.


Mikael merebahkan dirinya diatas kasur. Dia kembali berusaha memejamkan matanya yang enggan tidur.


Sampai akhirnya dia tertidur. Setelah cukup lama terjaga.


Flashback On


Malam itu, selama ditinggal ketiga sahabatnya Mikael hampir menghabiskan tiga botol minuman.


Beni yang baru sampe kaget melihat Mikael yang sudah tertidur dengan kepala diatas meja.


Dia menggelengkan kepalanya, karna sudah lama dia tak melihat Mikael dalam kondisi seperti ini.


"Mikael, lo bisa berdiri gak?" tanya Beni, tapi tak ada jawaban dari bersangkutan.


Mau tak mau dia membopongnya, sampai kedalam mobil. Beni nampak susah membawanya karna tubuh Mikael lebih besar dan tinggi.


"Aagghh..lo tau, badan lo enggak enteng!" kesalnya.


Sampainya di halaman rumah, Beni yang tak kuat kembali membopongnya. Terpaksa membangunkan Mikael yang tertidur sampai setengah sadar.


Jadi dia menyuruh Mikael berjalan sambil memapahnya sampai kedalam rumah.


Di ruang tamu, Mikael berkata.


"Gua bisa sendiri!" Serunya yang melepaskan tangannya dari pundak Beni. Dia lalu bersandar pada tembok.


"Mikael, lo yakin bisa ke kamar sendiri.." ucap Beni khawatir, karna dia melihat Mikael yang jalannya masih sempoyongan.


"Tidak apa-apa...gua bisa sendiri.." balasnya kembali. Dia lalu berjalan dengan oleng kearah kamarnya. Dia bertumpu pada tembok kayu untuk menopang tubuhnya.


Sampainya didepan pintu, Mikael membukanya. Dengan mata yang berkunang, dia memperhatikan pintu yang di masukin bukanlah kamarnya melainkan kamar mandi.


Dia lalu menutup pintu itu kembali. Menuju pintu selanjutnya.


Di pintu selanjutnya, Mikael langsung membuka pintunya sayangnya tidak terbuka. Dicoba berapa kali tak terbuka.


Karna tak sabar, dia menggedor pintu itu berulang kali. Akhirnya ada suara yang menyahutnya.


"Siapa?" tanya suara didalam.


Mendengar suara yang baginya terdengar merdu, Mikael lantas tersenyum. "...your husband!"


Tak lama pintu terbuka, Mikael memegang gagang pintu agar tak jatuh. Masuk didalam dia langsung bersandar pada tembok.


Mikael menatap sosok didepannya yang nampak sangat cantik dengan rambut terurai.


Saat menyadari sosok itu mendekat, Mikael menyunggingkan senyum. Dia langsung menyandarkan tubuh Wanita itu ditembok. Mikael memepet tubuhnya mendekat ke tubuh Wanita didepannya.


"Ahhh.." suara yang keluar dari mulut Wanita itu membuat hasrat Mikael terpicu.


Dengan gesitnya dirinya langsung menyambar bibir mungil Wanita dalam himpitannya.


"..ahh..Kak.." ucap Wanita itu yang langsung dibungkam kembali oleh Mikael. Dia terus menempelkannya tanpa memberi jeda.


Sampai akhirnya dia melepaskan pangutannya, karna oksigen dalam tubuhnya mulai berkurang.


"...ahhh..ahhh..ahh.." Wanita itu nampak nafasnya sama memburunya dengan Mikael. Tapi mendengar suara itu dan juga bibirnya yang merah. Membuat rasa panas di dadanya makin meningkat.


Tanpa aba-aba, dia menarik Wanita yang nafasnya masih terpenggal-penggal itu kearah kasur lalu mendorongnya keatas sana kemudian meniban tubuhnya dengan tubuh besarnya.


"..aaaghh..kak...Kak El, kenapa?" tanya Wanita itu.


Mikael tak menjawabnya, dia terus memandangi Wanita dibawah tubuhnya. Sampai Wanita itu menyingkirkan rambut panjangnya yang berjatuhan diwajahnya. Membuatnya melihat jelas Wajah Wanita dibawahnya.


Hal tersebut memudahkan Mikael kembali melakukan hal tadi. Tapi kali ini dia melakukannya dengan kasar dan secara paksa memasukkan pengecap rasanya kemulut Al dengan cara menggigit bibirnya.


Mikael mulai kembali melepas pangutannya. Membuat Al kembali bisa bernafas.


Dirinya lalu beralih pada leher putih jenjang Al yang terlihat menggiur. Dia lalu membuka kancing piyama bagian atas Al.


Karna faktor minuman yang diminumnya dan juga hasratnya yang selalu dipendamnya. Membuat Mikael tak bisa mengontrol batasannya.


Yang didalam pikirannya yang pentin hasratnya dapat tersampaikan, sayangnya semakin dia mencicipi semakin kuat hasratnya pada Wanita dibawahnya.


Membuatnya tak bisa mengontrol memberi tanda pada lehernya yang sudah mulai keunguan.


"Kak El...sakit.." ucap Wanita itu yang mulai terisak. Melihatnya Mikael tak mengubrisnya dia tetap menjalankan kesenangannya.


Karna tadi Al sempat memberontak, kedua tangannya saat ini ditaruh keatas kepalanya lalu ditahan. Membuat dirinya tak bisa melawan. Sedang tangan lain Mikael membuka sisa kancing piyama Al.


Ketika melihat gundukan yang mengiurkan, Mikael kembali berulah. Dia dengan tak sabar menarik paksa kebawah pelundung itu.


Setelah terpampang jelas, Dia memulai kembali memberitanda seperti di leher pada area itu.


Sudah bosan disana, dia beralih kebawah. Dia menurunkan celana panjang piyama Al. Begitu juga dengan benda tipis didalam celana itu.


Wanita itu saat ini benar-benar sudah tanpa sehelai benang, berbeda dengan dirinya yang masih komplit dengan pakaianya.


Mikael menjauhkan tubuhnya dari Al untuk melepas celananya, membebaskan sesuatu yang mulai sesak.


Mikael yang sudah melepaskan celana panjangnya yang menyisakan celana ketat pendek. Mulai menghampiri Al kembali.


Dilihatnya Wanita didepannya yang menggit bibir. Itu terlihat sangat seksi bagi Mikael yang sudah sangat tak sabar.


"Kak El habis minum?" tanya Wanita itu seketika.


Mendengar perkataan Al. Mikael spontan menyeringai "Memang kenapa?" tanyanya kembali. Dia menampilkan seringai yang sering orang mesum lakukan.


Dengan tak sabar Mikael ingin menerkamnya kembali Al, namun Wanita itu menghindar, sayangnya gerakannya lebih gesit membuat Al kembali terperangkap.


Mikael menyeringai kembali, Dia memandang Al sepeti melihat mangsanya.


"Kak kumohon.." pintanya dengan air mata.


Tapi dia tak peduli, dia hanya ingin sesuatu dibawah sana segera terpuaskan.


Diapun melonggarkan pegangan tangan Al, karna tangan sebelahnya sibuh menurunkan celana ketatnya.


"Plak!" Mikael merasakan panas di pipi kirinya.


"Kumohon berhenti Kak!" pinta Wanita itu dengan berurai air mata.


Mikael terdiam sejenak. Seringai di wajahnya mulai menghilang. Dia memperhatikan Al yang berada dibawahnya dengan isakan dan air mata yang terus mengalir.


"Kumohon...hentikan.." isaknya kembali.


Seketika kesadarannya kembali. Dia memegang pipinya yang terasa sakit. Dia menatap bingung kearah Al yang nampak nangis.


Mikael yang menyadari sedang mencengkram tangan Al lantas melepaskannya.


Dia lalu bangkit dari posisinya dan membulatkan mata melihat tubuh Al yang sangat polos.


Mata Mikael berhenti pada bibir Al yang memerah lalu menuju bagian leher dan dadanya. Melihat hal ini Mikael lantas memundurkan tubuhnya.


Dilihatnya Al yang duduk dan langsung memundurkan tubuhnya. Dia menutup tubuhnya dengan bantal.


Menyadari dirinya tak mengenakan celana. Mikael segera mengenakan celananya kembali.


Sebelum keluar kamar dia mengambil selimut Al yang berada di ujung kasur. Dia menutupi tubuh Al dengan selimut.


Saat itu Mikael menyadari Al yang sangat ketakutan sampai tubuhnya bergetar.


Melihat Al yang seperti itu, Mikael memutuskan pergi dari kamar itu. Ditambah saat ini dia harus melampiaskan hasratnya yang belum tuntas.


Jika dia terus didalam, malahan dia akan kembali menyerang Wanita yang ketakutan itu.


Saat keluar, Mikael mendengar Al yang langsung mengunci pintu. Dia mengeratkan giginya mengingat tingkah bodohnya tadi.


Dia lalu segera masuk kamarnya, menuju kamar mandi. Mikael meyalakan showernya. Air dingin mulai membasahi tubuh panas Mikael.


Tapi sayangnya hal tersebut hanya berpengaruh sedikit, lantas dia memilih menuju kamar sahabatnya.


Beni yang sedang tertidur pulas terbangun, karna merasa basah disekitar wajahnya.


Dia membuka matanya dan lantas kaget melihat sosok menyeramkan dengan rambut terurai.


Saat memperhatikan wajahnya. Dia sadar bahwa sosok tersebut bukanlah hantu pantai melainkan. Pria yang dibopongnya tadi.


"Ngapain lo, malam-malam kesini. Sambil basah-basahan lagi?" kesalnya karna diganggu.


Mikael mengabaikan perkataan Pria itu.


"Sekarang iku gua!" perintahnya dingin. Beni kaget melihat sikapnya.


Mau tak mau, walaupun lagi ngantuk, dia menganggukan kepalanya mengikuti Mikael.


(Setelah itu taulah ya apa yang terjadi dari cerita diatas.)


###


Sampainya di Bandara, Pak Mansur segera menurunkan koper Al.


"Pak, makasih ya.." ucap Al.


"Sama-sama Nona.." balasnya.


"Oh iya Nona, ini!" Pak Mansur menyerahkan dua godibag yang sangat dikenal Al, karna benda itu selama perjalanan ke NTT selalu dipegang Mikael.


"Ini Kak Mikael yang memberikannya!"


"Iya Nona, tadi Tuan Mikael meminta saya memberikannya pada Nona Al.." ucapnya.


"Terimakasih ya, Pak.." senyumnya.


"Sama-sama Nona Al, Bapak pamit ya. Assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Al lalu masuk kedalam Bandara dengan wajah senang. Rasa beban dihatinya yang mengira suaminya marah, terangkat.


Melihat pemberian ini, Al yakin suaminya tak marah atas perbuatan Al yang semalam menolaknya dan menamparnya.


Ada alasan dibalik Al menolak ajakan suaminya. Tak semena-semana keingan Al semata.


Dalam ajaran agama Islam. Setiap seseorang yang ingin bercampur, pasti ada tatacaranya.


Agar, ketika benih yang mendiami rahim menjadi anak yang sholeh dan sholeha.


Tapi kebanyakan orang saat bercampur, banyak yang mengabaikan tatacaranya, seperti wudhu, sholat sebelum berhubungan dan mendoakan istri. Padahal itu sangat penting agar setan tak ikut tangan saat melakukan hubungan itu.


Jangan lupa tinggalkan tanda, agar SMIM semangat menulisnya.


Tandamu sangat berharga bagi SMIM


Thank you very much