Friends After Marriage

Friends After Marriage
Sikap Aslinya



(Biasanya author apdet setiap sabtu/minggu "kalau gak sibuk". Tapi karna author senang ada yang minat baca cerita ini. Author apdet hari ini!)


Baca juga cerita pertama author UHHIBUKI


Happy Reading!!!


Di ruangan berbentuk persegi, terdapat seorang pria memakai handuk jubah yang sedang duduk di atas sofa di pojok ruangan dekat jendela. Dia sedang menghisap sesuatu dengan bibirnya sambil memperhatikan keluar jendela.


Sedangkan di tengah ruangan yang terdapat kasur besar ada seorang pria lainnya yang sedang duduk di atas kasur sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran ranjang. Dia sedang melakukan hal yang sama.


Beni memerhatikan Mikael yang berwajah sangat dingin, tidak seperti biasanya yang selalu berwajah santai.


"Tumben lo tiba-tiba kesini? Biasanya juga lo selalu minta janjian ketemu di hotel!" serunya lalu menghisap kembali benda yang dipegangnya.


Mikael menengok kearah Beni sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya menatap langit-langit yang berwarna krem.


"...Gua lagi malas janjian di hotel," jawabnya setelah menghembuskan asap dari sela-sela bibirnya.


"Ohh..." Beni lalu mengalihkan pandangannya kearah benda yang dipegangnya. "Gua dengar kemaren lo nikah. Jangan-jangan karna itu lo datang kesini!" katanya lalu mendekatkan benda itu ke bibirnya kemudian menghisapnya.


Mikael tidak menggubris perkataan pria itu. Dia hanya sibuk menatap langit-langit dengan pikiran berkelana kemana-mana sambil sesekali menghisap benda di tangannya yang menghasilkan asap dari mulutnya.


Keheningan pun terjadi kembali, tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka. Mikael hanyut dengan pikirannya sedang Beni sibuk dengan HPnya.


Sampai akhirnya Mikael bangun dari tempatnya. Di lepasnya handuk berbentuk baju yang menampilkan tubuh six pexnya yang tidak kalah dengan pelatih instruktur GYM. Dia segera mengenakan kembali pakaian yang dipakainya semalam.


Dilihatnya pria yang sedang sibuk dengan HPnya diatas kasur.


"Gua udah kirim uangnya ke rekening lo!" serunya lalu keluar dari kamar itu tanpa menunggu tanggapan dari pria yang diajaknya berbicara.


Pria yang asik dengan HP nya itu lalu melihat kearah pintu yang sudah tidak menampakkan Mikael. "Makasih ya!" serunya senang.


Mikael melangkahkan kakinya dengan cepat menuju mobilnya yang terparkir tepat didepan tempatnya menginap semalam.


Setelah mengambil kunci mobilnya, dia lalu memasuki mobilnya dan melakukannya dengan cepat.


Mikael mengendarai mobilnya ke daerah yang tampak sepi. Dengan rumah satu dengan lainnya yang jaraknya berjauhan.


Sampailah Mikael di halaman rumah panggung yang terbuat dari kayu yang dimana rumput-rumput pendek memenuhi halaman.


Udara segar seketika menyapa Mikael yang baru saja turun dari mobilnya. Dia lalu membuka pintu jok belakang untuk mengambil beberapa bungkusan yang tadi di belinya saat singgah di perjalanan.


Saat ingin menaiki tangga datang sebuah mobil putih memasuki halaman. Mikael membalikkan badan dan memperhatikan siapa yang turun dari mobil itu.


Keluarlah seorang Bapak berpakaian santai. Dia lalu berlari menuju kursi penumpang lalu membukanya.


Dari kursi penumpang keluarlah seseorang yang di kenal Mikael sedang menapakkan kakinya keatas tanah yang berumput. Seorang pria tua sekitar berusia 70.


Mikael yang tau siapa yang turun, lekas menaruh belanjaan yang di pegangannya diatas tanah berumput lalu menghampiri pria tua itu.


"Kakek!" panggilnya dengan senyum lembutnya.


Pria tua itu membalas senyum Mikael dengan lembut juga. Di tariknya Mikael kedalam pelukannya dengan erat.


"Kakek senang kamu datang!" serunya menepuk-tepuk lembut punggung Mikael. Mikael juga membalas pelukan kakeknya dengan lembut.


Setelah melepas pelukan, Mikael lekas membawa Kakeknya menuju rumah. Di bantu kakeknya menaiki tangga kayu itu satu-persatu.


Saat memasuki rumah. Mikael mendapatkan pemandangan yang masih terlihat sama seperti saat dia masih kecil.


Foto-fotonya masa kecilnya yang masih terpajang di dinding-dinding kayu, perabotan-perabotan kayu yang tampak tua tapi masih terlihat bagus dan kenangan-kenangan masa kecilnya yang mulai berkelana dipikirannya.


Dibawa kakeknya menuju kursi kecil panjang yang ada di ruang tamu. Di duduki kakeknya lalu dia pun duduk disampingnya sambil menopang kaki kakeknya diatas pahanya.


Kakeknya Mikael yang bernama Rosyid terlihat senyum memperhatikan sikap lembutnya yang masih sama tidak berubah.


"Kakek hanya jalan-jalan saja. Kakek merasa bosan di rumah," jawabnya. "Bagaimana kabar cucunya kakek yang tukang ngambek ini?" ledek kakek.


Mikael cemberut mendengar perkataan kakeknya, lalu tersenyum kembali. "El baik kakek. Kakek gimana? Sehatkan!" Mikael memerhatikan wajah kakeknya yang sudah menampakkan keriput.


"Alhamdulillah kakek baik, Mikael. Kakek kan masih muda tentu sehat.." balasnya dengan menunjukan otot lengannya yang kendur. Mikael yang melihatnya hanya cekikikan.


Mereka lalu bercakap-cakap lumayan lama di ruang tamu. Tapi percakapan mereka terputus ketika Mikael tersadar kakeknya telah tertidur.


Di bopongnya kakeknya ke kamar bersama Pak Umar yang merupakan supir dan yang merawat kakeknya saat dia tidak ada.


Diselimuti kakeknya lalu diarahkan kakinya menuju kamarnya yang ada disamping kamar kakeknya.


Dia segera merebahkan diri. Rasa lelah memenuhi tubuhnya saat ini. Tidak berapa lama ia tertidur di kamar yang merupakan ditempatinya selama di rumah ini.


@@@


Mikael membuka matanya yang masih berat. Matanya silau akibat lampu kamarnya.


Di singkirkan selimut yang menutupi tubuhnya lalu me duduki tubuhnya di pinggir ranjang sambil mengambil bongkahan berlian yang tak laku di jual di sudut matanya.


Dengan gontai. Dia arahkan kakinya menuju ke kamar kakeknya yang terlihat kosong.


Dari arah dapur Bu Rami menghampiri Mikael yang berdiri didepan pintu kamar kakeknya.


"Tuan muda, Tuan sedang ada di ruang makan.." katanya mengagetkan Mikael yang sedang melihat kamar kakeknya.


"Hemmm.." balasnya tanpa melihat Bu Rami. Dia lalu melangkahkan kakinya kearah meja makan yang terdapat kakeknya sedang duduk.


Kakeknya yang melihat Mikael mendekat tersenyum begitu juga Mikael.


"Ayo kita makan!" ajak kakeknya menyodorkan piring yang ada didekatnya.


Mikael mengangguk. Dia menyendokkan nasi untuk dirinya sendiri dan kakeknya. Tidak ada percakapan, mereka menikmati makanan mereka dengan nikmat.


Usai menyantap makan malam. Kakeknya Mikael memperhatikannya kemudian tersenyum.


"El, apa kamu sudah sholat?"


Mikael terdiam mendengar pertanyaan kakeknya lalu tersenyum layaknya bocah. Kakek hanya menggeleng kepalanya melihat tingkah cucu satu-satunya.


"Kakek jangan marah. Ini El mau sholat!" serunya lalu meninggalkan kakeknya.


Inilah Mikael. Ketika didepan kakeknya sifat aslinya yang kekanakan akan keluar. Tetapi jika didepan orang selain kakeknya dia akan bersikap dingin dan acuh.


"Jangan lupa memberikan vote dan kartu ucapan ya...)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Terimakasih.