
Happy Reading!!!
"Ini!" Mikael memberikan sekantong kresek putih pada Al.
"...?" Al lantas membuka kantung itu yang berisi susu dan juga vitamin.
Dia lalu melihat kearah suaminya sambil tersenyum. "Terimakasih!"
"Sama-sama.." balasnya yang lalu segera menjalankan mobil meninggalkan area parkiran.
Hari sudah menjelang sangat sore, warna jingga nampak mulai pekat dilagit.
Burung-burung terlihat berterbangan kembali pulang ke sarang.
Didalam mobil, Mikael sesekali melirik kearah Al yang terlihat bahagia, karna nampak dari matanya. Melihat hal itu hatinya ikut senang.
Menyadari Wanita disebelahnya menoleh kearah dirinya, Mikael segera menatap lurus kedepan.
"Kak!" panggil Al.
"Iya!" balasnya setenang mungkin.
"Apa Kakak lapar?" tanyanya kembali.
"...sedikit.." balasnya yang memang merasakannya.
"Kamu laper?" liriknya sekilas.
"Hehehe iya Kak.." Balas Al.
"Mau makan apa?"
"..." Al nampak berfikir, dia lalu mengarahkan iris matanya kearah luar. Matanya mendapati makanan yang ingin dimakannya.
"Al mau makan itu!" tunjuknya kearah rumah makan yang ada didepan.
Mikael segera memelankan lajuannya, dia lalu meminggirkan mobilnya, kemudian melihat kearah rumah makan yang ditunjuk Al.
"Masakan arab!" serunya melihat ke Al yang mengangguk semangat.
"Iya, Al ingin sekali mencoba nasi mandi dengan ayam utuh diatasnya.." ucapnya.
Mikael yang mendengarnya membulatkan mata. "..kamu yakin Al!" serunya memastikan.
"Tentu saja!" balasnya pasti.
Mikael lantas menginyakan melihat sorotan mata Al yang sangat menginginkannya. Dia lalu mengarahkan mobilnya ke Resto tersebut yang ada disebrang.
* * *
Dari kejauhan, Pelayan nampak membawa nampan ukuran kecil yang berisi nasi dan diatasnya ada satu ekor ayam berukuran sedang.
Setelah menaruh nampan itu, dimeja Al dan Mikael. Dia lalu pergi kembali dan tak lama, dia datang kembali membawa minuman dan juga roti khas arab.
"Silahkan Tuan dan Nyonya!" serunya lalu pergi meninggalkan meja tersebut.
Mata Al nampak berbinar, dia tak sabar menyantap makanan didepannya sedang Mikael menggelengkan kepala melihat seekor ayam bakar yang hampir menutupi nasi dibawahnya.
"Ayo Kak!" ajak Al yang sudah tak sabar.
Usai berdoa, Al segera mencabut bagian sayap ayam lalu langsung melahapnya dengan senang.
Sedang Mikael mengambil sepotong ayam yang dia iris lalu menaruhnya keatas piringnya.
Selama makan, Mikael menatap kearah Al yang makannya benar-benar seperti orang yang tak makan beberapa hari. Dia makan dengan lahapnya.
* * *
"Alhamdulillah kenyang!" seru Al yang menghabiskan tiga perempat ayam. Dia mengelus-ngelus perutnya.
"..perutmu tidak gebah, Al?" tatapnya kearah Al yang nampak biasa saja.
Al menggelengkan kepala. "Tidak.." cengirnya kemudian.
Mikael kembali menggelengkan kepala. Walau dirinya tau sebelumnya Al memang suka makan tapi saat hamil Wanita itu tambah bernafsu saat makan.
"..Kak, aku pesan dua kotak ya. Buat dibawa pulang.." ucapnya.
"Kamu masih belum kenyang?" tanya Mikael tak percaya.
Al menyengir melihat wajah suaminya. "Al sudah kenyang ko. Dua kotak tadi bukan buat Al, tapi untuk Bi Hilda dan Pak Mamat.." jelasnya.
"Ohhh..iya tentu saja boleh.." balasnya.
"..tapi, buat kamu juga gak papa.." ledeknya.
Al menatap suaminya yang tersenyum. "Benar nih! Al jadinya pesan tiga aja ya.." senyumnya yang segera dibalas tatapan kaget suaminya.
"Hahaha..bercanda Kak.." ucapnya yang lalu melambaikan tangan kearah pelayan.
Usai mendapatkan pesanannya, dua kotak nasi dan ayam. Pelayan tersebut kembali mengantarkan nota pembayaran kearah meja pasangat itu.
"Permisi! Ini total semuanya!" katanya sambil memberikan secarik kertas bertuliskan jumlah pemesanan.
Mikael lalu mengambil kertas tersebut yang bertuliskan nominal berjumlah lima ratus ribu lebih.
"Saya akan membayarnya menggunakan kartu kredit!" beritahunya.
"Baik Tuan, saya akan mengambil alatnya.." ucap Pelayan itu yang lalu meninggalkan meja.
Seperginya Pelayan, Mikael merogoh kearah saku celananya, kemudian berganti kearah saku kemeja dan jasnya. Tapi dirinya tak mendapat dompet yang dicarinya.
Dia lalu terdiam mengingat dompetnya, "..tadi sehabis beli vitamin dan susu, aku memegangnya kemudian...ahh..." ingatnya.
Dirinya mengingat, dompetnya dia letekkan di mobil.
Al yang menyadari, hal familiar yang dilakukan suaminya, lalu mengambil dompetnya. Dia mengeluarkan kartu dari dalamnya.
"Gunakan ini saja Kak!" sodornya.
Pria itu melihat kearah kartu yang disodorkan Wanita didepannya.
"Tidak papa, aku akan mengambil dompetku di mobil.." ucapnya sambil menunjuk kearah luar.
"...pakai ini saja, bukannya sama saja.." ucap Al.
Al lalu melihat kearah Pelayan yang berjalan kembali ke mejanya.
"Ini Kak!" berinya ketangan Mikael.
Pria itu lantas menggunakan kartu yang telah diberikan oleh Istrinya, karna Pelayan sudah sampai di meja mereka.
Setelah membayar, serta memberikan tips. Pelayan itu berterimakasih lalu pamit meninggalkan meja Al dan El.
"Kak, pulang!" ajak Al yang hendak berdiri.
"..hmm.." gumam Mikael yang ikutan berdiri.
Sampainya didalam mobil, Mikael membuka dompetnya. Dia mengambil kartu ATMnya dan memasukkan kartu yang diberikan Al tadi.
"Ini kartunya!"
Al menerima kartu itu lalu memperhatikan kartu yang nampak berbeda.
"..kok kartunya beda Kak.."
"Iya, itu isinya lebih banyak dari yang ada di kartumu ini. Bukannya kartu ini sudah tujuh bulan lebih bersamamu, tentu isinya sudah sangat berkurang.." ucap Mikael.
"..baiklah Kak, terimaka kasih.." ucap Al yang lalu menatap kearah kartu ditangannya.
# # #
Seminggu kemudian
Matahari nampak sudah berdiri tegak, menandakan jam dua belas siang.
"Tok tok tok"
"Cklek"
Seorang Pria setengah baya masuk, kedalam ruangan tersebut, dia mendapati pemilik ruangan sedang menyantap makan siangnya.
"Maaf Tuan, saya mengganggu.." ucap Pria setengah baya itu tak enak.
Pria yang sedang duduk itu menelan makanan yang ada dimulutnya, setelah itu berkata, "Tidak apa-apa.."
"Duduk, Pak!" perintahnya kemudian yang diangguki Pria itu.
"Bapak sudah makan?" tanyanya yang kemudian menyuapkan sesendok makanan kembali ke mulutnya.
"Sudah Tuan, sebelum kemari saya makan terlebih dahulu.." jawabnya.
Mikael menganggukan kepala, kemudian berkata setelah menelan makanannya kembali.
"Jam berapa, Pak Usman sampai?" tanyanya, pasalnya tadi pagi saat dirinya berangkat kerja, Pria itu belum ada.
"Jam delapan, Tuan.." jawab Pria setengah baya itu.
Mikael kembali menganggukan kepalanya. Dia lalu mengambil air minumnya dari meja lalu menegaknya.
Usai menelannya, Mikael kembali berkata. "Bagaimana keadaan disana?" tanyanya mengenai bisnisnya yang diawasi Pak Usman.
"Alhamdulillah baik, Pak. Semuanya berjalan lancar.." katanya senang.
Mikael tersenyum, dia mengangguk senang. Diletakkan segelas air digenggamannya, kemudian menyandarkan tubuhnya ke sofa yang didudukinya.
"Saya meminta Bapak kesini, karna ingin menyampaikan sesuatu pada Pak Usman.." ucapnya.
"Mulai sekarang Bapak tak perlu lagi pergi ke kota XXX. Saya sudah mendapatkan orang untuk menggantikan Pak Usman.." beritahunya.
"Baik Tuan.." balas Pak Usman senang.
"Terimakasih, Pak.." ucap Mikael kemudian sambil tersenyum.
Pak Usman yang mendengarnya sangat kaget, karna ucapan itu sangatlah langka dari bibir Tuannya.
"Sama-sama, Tuan Mikael.." balasnya senang.
"..oh iya..dan mulai dari sekarang, Bapak tidak perlu mengantar jemput saya lagi.." ucapnya.
"Tetapi mengantar jemput Al.." lanjut Pria itu menatap Pria setengah baya didepannya.
"..mengantar dan menjemput Nyonya Al.." ulangnya.
"Iya, jadi Pak Usman mengantar kemana saja Al pergi kemudian menjemputnya.." jelas Mikael.
"Saya hanya mengantar saja apa menunggunya juga Tuan?"
"Kalau hanya sebentar Pak Usman boleh menunggnya kalau lama Bapak tinggalkan tidak apa-apa. Asal Bapak jemput kembali.." balas Mikael.
"Bagaimana dengan ke kantor, Tuan?" tanyanya kembali.
"Tidak perlu, kalau saya panggil baru Pak Usman kemari.." jelasnya.
"Baik, Tuan.." angguknya.
Sebenarnya, Pak Usman masih merasa bingung dan bertanya-tanya, tapi dia hanya diam dan menjalankan tugas barunya.
"Hari ini Al masuk pagi, kamu taukan jam pulangnya!"
"Iya Tuan, saya tahu.." angguknya.
"Itu saja yang ingin saya sampaikan.."
"Baik Tuan Mikael, saya pamit keluar.." izin Pak Usman yang diangguki Mikael.
Seperginya Pak Usman, Mikael tersenyum. Akhirnya, dia tak khawatir jika Al pergi kemanapun.
Bisa saja, Mikael mencari orang lain buat menjadi pengantar jemput istrinya hanya saja dia tak mudah percaya dengan orang baru.
# # #
Sorenya Mikael nampak sudah siap pulang, dia lalu melangkah keluar dari ruangannya.
Didepan ternya Sekretarisnya, Alula masih ada. Dia nampak ingin pulang juga.
"Pak!" sapanya menundukan kepala.
Mikael hanya menganggukan kepala pada Wanita itu lalu pergi melangkah kearah lift.
Semasuk Bosnya kedalam lift, Alula menatap bingung kearah lift. Dia merasakan aura Bosnya seminggu ini jauh lebih kalem. Tidak seperti dua bulan lalu, seperti ingin menerjang setiap orang yang bertemunya, khususnya kaum Hawa.
Hal yang paling membuatnya bingung.
Tiba-tiba pagi tadi, Bosnya memberikan pengumuman, kalau makan siang hari ini akan diterakhir olehnya.
Kejadian yang sangat langka, pasalnya saat ini perusahan tidak sedang menang tender atau apapun yang berhubungan dengan perusahaan.
Walau dirinya senang, sudah diteraktir sampai perutnya kenyak.
Tapi dia masih merasa kesal, pada Bosnya yang membuat dirinya merasa bersalah pada Al. Pasalnya karna Pria itu dia sampai tega membuat Wanita itu sering menunggu.
Untungnya sebulan ini, Istri Bosnya tak datang. Jika iya, mungkin rasa bersalahnya makin bertumpuk.
# # #
"Ting"
Lift akhirnya sampai dilantai dasar, Mikael segera keluar dari lift kemudian berjalan kearah kantin.
Saat berjalan, beberapa karywan yang berpapasan dengan Mikael menyapanya kemudian berterimakasih pada Pria itu yang telah memberikan mereka makan gratis di kantin sepuasnya.
Mikael hanya membalasnya dengan anggukan kepala tanpa ekspresi.
Sampainya di kantin, Mikael segera berjalan kearah bagian pengelola kantin yang sedang menghitung duduk.
Mikael lantas menghampiri Pria itu,
"Pak Sian!" panggilnya.
Pria setengah baya itu segera menoleh kearah sumber suara yang merupakan bosnya.
"Pak Mikael!" serunyanya.
Pria itu lalu mengambil, kemudian memberikan semua nama makanan yang dimakan karyawan beserta total harganya.
Mikael memperhatikan nominal yang ada di nota itu.Jumlah tak semahal yang dikiranya.
Mikael lalu mengeluarkan dompetnya kemudian mengambil kartu secara acak.
Dia lalu memberikannya pada Pria didepannya.
Pria itu segera menerimanya lalu menggesekkan kartu itu.
"Terimakasih Pak" ucap Pak Sian senang. Mikael hanya menganggukan kepala.
Pak Sian lalu memberikan kartu yang ditangannya kembali pada Bosnya.
Setelah mendapat kartunya, Mikael segera meninggalkan kantin. Dirinya tak sabar segera pulang lalu bertemu istrinya.
Saat akan memasukkan kembali kartu digenggamannya ke dompet. Mikael memperhatikan kartu itu, yang merupakan kartu yang dia ambilnya dari Al.
"Bukannya gua belum ngisi ni kartu, kok masih ada uang yang jumlahnya besar dalam kartu ini.." batinnya.
Karna penasaran Mikael membuka HPnya. Dia lalu melihat isi uang dari kartu digenggamannya saat ini.
Pria itu terdiam, dia mengerutkan dahinya melihat total uang dalam kartu itu yang ternyata masih banyak.
Jika tak salah ingat, dirinya memberikan kartu ini dengan isi 50K tujuh bulan lalu, tapi sekarang uang itu tersisa tiga puluh dua juta juta. Sedang tadi, dirinya membayar makan karyawan sekitar empat juta. Berarti selama tujuh bulan dia hanya mengeluarkan uang empat belas juta.
"..." Mikael terdiam, Dia fikir uang di ATM itu paling hanya sisa beberapa ratus ribu atau tidak sudah habis.
Tapi ternyata masih sebanyak ini.
Pengeluaran Al tujuh bulan ini, bagaikan pengeluarannya dalam dua minggu.
# # #
Dirumah, Al nampak sedang melihat HPnya. Dia sedang mengetik pesan pada seseorang.
Usai mengirim pesan itu, Al tersenyum.
"Akhirnya lega juga!" serunya.
Dia lalu membaringkan tubuhnya diatas ranjang, fikirannya nampak sedang melayang sambil menghitung-hitung.
"Semangat Al, sembilan bulan lagi.." gumamnya.
Al lantas melirik kearah jam yang menujukan pukul lima. Dia segara beranjak dari kasur kemudian mengenakan pakaiannya untuk keluar kamar.
Didapur, Al mulai memasak makanan yang sudha diracik Bi Hilda.
Sore ini, dia hanya memasak hidangan sederhana seperti sambal kentang dengan udang, tumis kangkung, pepes ikan dan tahu.
Usai masak, semua makanan disajikannya diatas meja. Masih dalam keadaan panas. Dia lalu bersiap-siap untuk menjalankan sholat magrib karna adzan akan berkumandang.
* * *
Mikael yang ingin berjalan menaiki tangga, mendapati istrinya yang ingin menuruni tangga dengan masih menggunakan mukena.
Bibir setiap menyunggingkan senyum, menyambutnya.
Mikael segera menaiki tangga dengan cepat menghampiri Wanita itu.
Saat sampai didepannya, Pria itu berkata, "Assalamualaikum.." salamnya.
"Waalaikumsalam.." balas Al.
Mereka lalu berjalan beriringan masuk kedalam kamar Mikael.
* * *
Pemandangan yang tak pernah membosankan bagi Al. Melihat suaminya yang sedang sholat. Bibirnya tak henti mengucapkan kaliman pujian karna ingin selalu melihat hal seperti ini.
Usai berdoa, Mikael segera bangkit dari duduknya lalu menghampiri Al yang duduk diatas ranjang.
Dia duduk disamping. Menatap Wanita itu lekat.
"Ada sesuatu yang menggangguk, Kak El?" tanya Al yang melihat wajah suaminya.
Mijael terdiam, bibirnya ingin berkata tapi tetap terkatup karna bingung ingin mengatakan apa.
"..ayo kita makan!" ajaknya.
Al tersenyum mendengar ucapan suaminya. "Ayo, Al juga sudah lapar.." balasnya.
"Al ganti baju dulu ya.." ucapnya yang lalu beranjak berdiri meninggalkan kamar Mikael.
Mikael masih diam terduduk, ingin rasanya dia membahas tentang uang di kartu yang diberikannya. Entah mengapa dia tak senang, melihat uang yang masih tersisa banyak.
Terimakasih sudah membaca, jangan lupa untuk meninggalkan tanda...
Salam hangat SMIM
Baca terus ya ini beberapa episode terakhir sebelum tamat.
Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...
PS: Maafken SMIM yaaa, membuat konflik baru.
Padahal sudah mau ending hahaha...