Friends After Marriage

Friends After Marriage
Salah Paham



Salah Paham


Happy Reading!!!


Di ruang tamu Furqon sudah disajikan segelas kopi. Saat dilihatnya sosok Mikael datang dia segera berdiri untuk menjabat tangannya.


"Sudah lama ya!" sapa Furqon.


"Iya.." balas Mikael.


Mereka lalu duduk bersama-sama.


"Ini pertama kali aku ke rumahmu. Ternyata suasana disini tenang ya.." kata Furqon membuka percakapan.


"Iya.." balas Mikael.


Furqon yang tak begitu akrab dengan Mikael lantas langsung ke inti kedatangannya. "Hem...aku kemari ingin menyampaikan pesan Ayah," ucap Furqon.


Mikael merubah posisi duduknya maju ke depan yang semula menyender.


"Ayah mengundangmu malam ini untuk makan malam.." ucap Furqon.


Setelah mendengarnya Mikael lantas menyenderkan kembali tubuhnya kesenderan. "Baiklah, akan saya akan datang.." ucap Mikael.


Setelah mengatakan itu Furqon segera menyesap kopinya kemudian meletakkan cangkir itu kembali.


"Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Baiklah, saya permisi pulang ya. Terimakasih untuk kopinya.." ucap Furqon.


"Iya.." balas Mikael tanpa basa basi.


Setelah salam dia segera menuju ke mobilnya. Mikael hanya mengantar Furqon sampai depan pintu.


Dia melihat Furqon dengan tatapan dingin setelah Furqon memasuki mobil. Perasaannya saat ini tak karuan karena penasaran percakapan mereka tadi.


Setelah mobil Furqon pergi meninggalkan halaman rumah. Mikael yang hendak masuk berpapasan dengan Al yang sedang membawa nampan yang berisi kue.


Al memperhatikan ruang tamu yang sudah tak ada sosok Furqon yang ada hanya segelas kopi yang tinggal setengah.


"Kak Furqon kemana, kak?" tanya Al melihat Mikael. Mikael tak menggubrisnya, dia nyelenong begitu saja mengabaikan Al kembali.


Al bingung mendapat sikap suaminya. Dia lalu berjalan kearah pintu untuk memastikan mobil Furqon yang ternyata sudah tak ada.


Lantas Al segera membawa kembali ke dapur kuenya dan juga gelas milik Furqon.


"Nyonya, kok dibawa lagi kuenya?" tanya Bi Hilda yang melihat Al membawa nampan yang masih berisi.


"Tamunya sudah pulang, Bi.." ucap Al.


Dia lalu meletakkan nampan tersebut di meja yang ada di dapur.


"Bi, Al ke kamar ya.." ucap Al.


"Iya, Nyonya.." balas Bi Hilda.


Al segera menuju kamarnya dia benar-benar merasakan sakit di perutnya. Padahal dia sudah memakai minyak angin dan meminum obat.


Lantas Al segera mengganti pakaiannya lalu berbaring di tempat tidur.


Sorenya


Al sudah bangun sejak pukul 4, dia lalu menuju kearah dapur. Dia berencana memasak untuk Mikael.


Di dapur ternyata sudah ada Bi Hilda, dia sedang meracik beberapa bumbu untuk dimasak.


"Bi mari Al bantu.." ucap Al.


Al lalu membantu Bi Hilda. Sesekali dia memegang perutnya yang sakit.


Selesai memasak Bi Hilda yang sejak tadi memperhatikan Al yang berkeringat dingin dengan wajah yang menahan sakit sambil memegang perutnya.


"Perut Nyonya sedang sakit.." tanya Bi Hilda karena melihat Al masih memegang perut.


"..iya Bi, Al lagi datang bulan. Ini pertama kalinya Al merasakan sakit saat datang bulan.." ucapnya.


"Oh Nyonya sedang datang bulan. Yasudah Nyonya istirahat saja. Bibi akan buatkan Nyonya minuman herbal.." ucap Bi hilda sambil tersenyum.


"Baik bi.." ucap Al. Dia lalu segera beranjak dari tempatnya menuju kamar.


Malamnya


Sehabis magrib, Al kembali menunggu Mikael untuk makan malam. Perutnya sudah tak sesakit tadi sejak meminum herbal buatan Bi Hilda (tentu atas izin Allah agar obat bekerja)


Dia menunggu Mikael yang tak turun-turun kebawah. Disaat itu Pak Usman yang lewat melihat Al yang piringnya kosong belum terisi makanan.


"Nyonya tidak makan?" tanya Pak Usman.


"Al nunggu, Mikael. Pak," jawab al sambil tersenyum.


"..Bukannya Tuan pergi, Nyonya?"


"Pergi?"


"Iya, tadi sore saat Nyonya dan Bi Hilda memasak di dapur. Tuan pergi.." jelas Pak Usman.


"Apa Pak Usman tau, kemana Kak El pergi?" tanya Al.


"Tuan tidak mengatakan apapun.." jawab Pak Usman. Setelah itu Pak Usman pamit ke dapur


Al lantas memandang makanan yang dibuatnya dengan nanar. "Aku salah apa sama Kakak!" gumamnya. Dia lalu menatap bungkusan yang niatnya akan dia berikan pada Mikael setelah makan malam.


###


'Ting tong' bunyi suara bel.


Di langkahkan kakinya yang panjang mendekati pintu lalu membukanya. Dibalik pintu tersebut, terdapat sosok yang pria yang sedang menggendong tas olahraga berukuran besar di pundaknya.


"Maaf ya lama. Soalnya gua baru pulang latihan.." ucap Pria itu.


Mikael tak menjawab apapun, dia meninggalkan Pria itu didepan pintu.


Pria itu lalu masuk kemudian mengikuti Mikael masuk setelah menutup pintu.


"Lo marah gara-gara gua telat 1 jam?" tanya Pria itu yang masih diabaikan Mikael yang sedang berjalan ke dapur.


"Yaa, lo harus maklumlah ini Jakarta, so pasti macet. Lagian biasanya juga lo nyewa hotel yang ada didekat tempat gua. Tumben-tumbennya nyuruh gua kesini.." ucap Pria itu kembali.


Mikael lagi-lagi tak menggubrisnya. Dia hanya mengambil sekaleng minuman lalu memberikan pada Pria itu. "Minum itu! Gua tunggu di kamar!" perintah Mikael. Dia lalu meninggalkan Pria itu.


"Kenapa lagi ni orang. Padahal 2 bulan ini dia gak calling gua tapi sekali calling aura marah jelas sekali terlihat.." gumam pria itu.


###


Mikael baru saja selesai mandi. Dia saat ini sudah berpakaian rapi karena sehabis magrib, dia jalan ke tempat undangan makan malam.


Beni keluar dari kamar mandi dengan handuk berada di kepalanya. Dia melangkahkan kaki menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin setelah itu dia menghampiri Mikael yang sedang duduk di ruang tamu.


"Lo gak ada capenya ya!" seru Beni melihat Mikael yang sudah berpakaian rapi. Padahal tadi mereka baru saja banyak mengeluarkan keringat.


Mikael melirik sekilas kearah Beni menaikkan sebelah alisnya.


"Maksud gua, belum juga istirahat, lo udah mau perginya aja.." jelasnya. Mikael tak menjawab apa-apa, dia masih menikmati segelas kopinya.


"Kali ini kenapa lagi? Lo lagi kesal sama siapa sampai ganas begitu tadi?" tanya Beni basa-basi.


"Apa jangan-jangan berkaitan sama istri lo!" ucapnya dengan mata menuju kearah TV yang menyala lalu melirik Mikael yang terdiam sejenak.


"Tidak ada masalah khusus, anggap saja seperti biasa saat gua manggil lo!" seru Mikael.


Dia lalu menghabiskan kopinya kemudian meletakkan gelasnya ke cucian piring kemudian mendekat kembali kearah Beni.


"Gua udah transfer bayaran lo! Gua pergi dulu!" ucapnya lalu meninggalkan Beni.


Beni hanya menatap punggung Mikael yang menghilang dibalik pintu. Dia lalu meletakkan botol minumannya keatas meja kemudian menyenderkan tubuhnya yang terasa lelah.


"Ahhh sangat melelahkan!" gumamnya.


###


Mikael melajukan mobilnya kedalam halaman rumah yang berukuran 3 hali halaman rumahnya. Dia lalu memarkirkannya di samping taman.


Saat berjalan menghampiri pintu masuk. Disana sudah terdapat pelayan. Mikael lalu diantar oleh pelayan tersebut ke tempat pemilik rumah yang sedang menunggunya


"Akhirnya yang di tunggu datang!" seru Pak Kusno. Mikael hanya tersenyum mendapat sapaannya.


Setelah menjabat tangan Pak Kusno. Mikael lantas duduk di samping sebelah kiri Pak Kusno yang berhadapan dengan Furqon.


"Oh iya Mikael, mengapa kamu sendiri kemari, dimana Nona Al?" tanya Pak Kusno sambil menunggu para pelayan menghidangkan makanan di atas meja.


"Saya pikir Pak Kusno hanya mengundang saya. Jadi saya tidak membawa serta Al.." ucap Mikael.


"Hahaha..kamu ini masih tetap kurang peka ya Mikael. Kalau saya mengundangmu secara pribadi tentulah saya juga mengundang istrimu.." ucap Pak Kusno yang paham sikap Mikael. Mikael menganggukan kepala menanggapinya.


"Kudengar kerja samamu di Paris berjalan lancar.." ucap Pak Kusno.


"Iya Pak, sangat lancar.." balas Mikael senang. Pak Kusno juga senang mendengarnya.


"Ngomong-ngomong soal Paris. Apa kamu sudah menyampaikan pesan, Bapak.." Mikael bingung mendengar perkataan Pak Kusno.


"Sepertinya kamu lupa!" serunya setelah melihat wajah Mikael.


"Bukankah sebelum kamu berangkat, Bapak berpesan untuk menyampaikan salam Bapak pada menara ilfil.." ucapnya. Seketika dia tertawa melihat ekspresi Mikael yang bengong mendengar ucapannya.


"Sudah-sudah Bapak hanya bercanda.." guraunya.


"Ayo silahkan makan!" ucapnya kemudian karena melihat hidangan yang sudah tertata.


Selesai makan mereka membuka percakapan kecil mengenai bisnis. Lari-larinya mereka ke pembahasan makanan yang berujungnya membahas Al.


"Sebenarnya Bapak berharap malam ini kamu mengajak Al, karena Bapak ingin memakan kembali masakannya yang cocok di lidah.." ucap Pak Kusno.


"Memangnya Ayah sudah pernah mencoba masakan Nona Al?" tanya Furqon.


"Tentu! Kamu lain kali harus coba masakannya.." balasnya. Mikael hanya diam mendengar percakapan ayah dan anak itu.


"Ngomong-ngomong soal Al. Apa Ayah tau kalau Al adalah orang tang menyelamatkan Ayah saat pingsan saat itu?"


"Iya Ayah tau, memangnya kenapa?" Jawab Pria tua itu santai. Lain hal dengan Furqon yang kaget mendengar jawaban Ayahnya dan Mikael yang kaget karna dua pria itu telah mengetahui identitas Wanita itu.


"Sejak kapan Ayah tau? Apa Mikael memberitahu, Ayah.."


"Ayah tau sudah lama dan Mikael tak memberitahu Ayah apapun.." balasnya dengan santai kembali.


"Kalau kenapa bisa tau? Jawabannya karna Ayah peka.." jawabnya.


Mikael penasaran bagaimana bisa Pak Kusno dan Furqon tau prihal tersebut. Jika dia bertanya pada Pak Kusno, dia pasti tidak akan memberitahunya. Jadi jalan satunya dia hanya bisa bertanya pada Furqon.


"Bagaimana kamu bisa tau prihal Al adalah orang yang sama dengan yang menyelamatkan Pak Kusno?"Tanya Mikael.


"Apa Al memberitahukannya padamu?" tanyanya kembali.


"Ahh tidak, Dia sama sekali tak memberitahukannya. Aku mengetahuinya karna menyadari nama mereka yang sama.." jawabnya.


"Benar, nama mereka depannya sama-sama Al. Ayah saja awalnya juga tidak ngeh," timpal Pak Kusno.


"Betul, apalagi setiap bertemu kita Nona Al selalu menunjukan wajahnya.." ucap Furqon.


"Tadi saja, saat Nona Al menyapaku. Aku sama sekali tak mengenal karna dirinya yang mengenakan cadar.." ucapnya.


"Saat aku tau dia adalah Al. Aku sangat malu sampai-sampai Al tertawa melihat wajah maluku.." ceritanya.


Pak Kusno tertawa mendengar cerita anaknya itu sedang Mikael yang awalnya penasaran apa percakapan mereka tadi siang, sudah terjawab. Tentang alasan Al tertawa dan juga wajah Furqon yang malu-malu.


Selesai bercakap-cakap cukup lama. Akhirnya Mikael izin pulang.


Niatnya Mikael malam akan pulang ke apartemen, karna perasaannya sudah tak kacau dia lantas memilih pulang ke rumah.


###


Sampai di rumah, suasana sudah nampak sepi. Mikael yang baru sampai memilih duduk terlebih dahulu di ruang tamu.


Dari arah dapar Bi Hilda datang menghampiri Mikael.


"Tuan ingin dibuatkan sesuatu.."


"Tidak Bi.."


"...Maaf Tuan saya ingin menyampaikan pesan Nyonya Al saat Tuan pulang. Nyonya bertanya, "Apa Tuan sudah makan?""


"Sudah.." jawab Mikael tanpa basa-basi.


"Baiklah Tuan, saya akan kembali ke dapur. Jika Tuan butuh sesuatu, Tuan panggil ya.." ucapnya.


Saat akan pergi meninggalkan Mikael. Bi Hilda menghentikan gerakannya karna panggilan Mikael.


"Bi, dimana Al?" tanyanya. Inilah pertama kalinya Mikael membuka mulut menanyakan keberadaan Al.


"Nyonya di kamarnya Tuan. Sejak sore Nyonya sakit perut karna datang bulan. Makanya setelah makan malam Nyonya langsung ke kamar.." jawab Bi Hilda.


"Bibi udah boleh pergi!" seru Al setelah mendengar perkataan Bi Hilda.


Mikael lantas beranjak dari posisi duduknya. Lalu melangkahkan kaki menaiki tangga.


Sampai di depan pintu kamar Al. Dibukanya pintu tersebut yang memang tak pernah di kunci.


Dicarinya sosok Al diatas tempat tidur. Karna tak begitu kelihatan Mikael lantas masuk untuk melihat Al.


Diperhatikannya Al yang sedang tertidur sangat pulas, sambil meringkuk diatas kasur. Tangannya seperti memegang sesuatu.


Saat akan mengambilnya Mikael mengurungkan niatnya. Dia lantas pergi dari kamar Al kembali ke kamarnya.


Paginya, Al yang mengira jika semalam Mikael tidak pulang lantas kaget melihat sosok Mikael yang duduk di meja makan bersamanya.


"Kak El.." ucapnya pelan.


"Bi, saya ingin segelas kopi hitam saja!" pintanya.


"Bi, biar Al saja yang buat.." ucap Al lantas dia segera berdiri menuju dapur.


selesai membuatnya dia memberikan pada Mikael. Al memperhatikan wajah Mikael yang sudah tampak seperti biasa.


#Sambil menunggu cerita ini up. Baca juga cerita saya yang lain. Terimakasih#


(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini πŸ‘, coment πŸ‘dan Reting 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...)