Friends After Marriage

Friends After Marriage
Hari Wisuda



Happy Reading!!!


"Ahhhh...memang ranjang, tempat ternyaman bagi bumil.." ucap Al yang bagian tubuh atasnya berbaring diatas ranjang.


"...kenapa wajah Kak El nampak serius ya tadi?" batinnya mengingat kejadian barusan.


Sehabis membuat puding buah tadi, Al berniat ke halaman belakang memandang pepohonan hijau. Melihat suami dan Kakeknya nampak mengobrol serius, membuatnya mengurungkan diri.


Al lalu mengalihkan pandangannya dari atap kearah perutnya yang nampak sudah buncit kecil. Bibir tipisnya menyunggingkan senyum.


"Tidak terasa sudah setahun lebih.." katanya mengingat-ingat awal pernikahannya.


Banyak kejadian yang telah dialami dirinya sejak masih kecil, tetapi selalu saja ada jalan untuk menyelesaikan masalah.


Sampai akhirnya, kejadian hari itu yang membuatnya berjodoh pada sosok Mikael. Pria tampan, sukses diusia muda tetapi sikapnya dingin.


Tentu sikap itu, tak semerta-merta muncul tanpa penyebab, tentu ada penyebabnya yang tak lain dari faktor keluarga yaitu Ibunya.


Ibunya Mikael, yang tak mau hidupnya hanya serba pas-pasan, sejak Ayahnya Mikael lumpuh lantas memilih meninggalkan Pria itu.


Itu kali terakhir Mikael melihat sosok Ibunya, sejak itu dia menganggap semua Wanita sama saja seperti Ibunya.


Awalnya Al tak yakin bisa membuat Pria sedingin Mikael menyukainya, tapi sedingin-dinginnya es jika diberi kehangatan pasti cair.


Banyak kejadian yang telah dilaluinya sejak menikah dengan Pria itu, seperti sikap dinginnya, tatapan tajam, tidak dianggap dan perkataannya yang menyakitkan hati.


Tetapi, itu semua kini telah berlalu. Sekarang Pria itu telah membuka dirinya pada sosok Al.


Yaaa walau wajah dan sikap dinginnya masih ditampakkan pada orang lain.


Kunci yang diambil adalah kesabaran, tentu kalau kita sabar pasti apapun terpecahkan tetapi jangan lupa tetap berdoa (tawakal).


Dan, sabar itu tak ada batasannya. Jika ada yang bilang, sabar ada batasannya berarti dia bukan orang yang sabar.


Al memejamkan matanya. Dia lalu terpikirkan sesuatu.


Tak lama matanya kembali terbuka. "Gimana aku mengatakannya pada Kak El?" gumamnya.


'Cklek'


Mendengar suara pintu terbuka, membuat Al segera mendudukkan tubuhnya.


Al mendapati sosok suaminya yang tersenyum diambang pintu. Sosok itu lalu masuk kemudian menutup pintu kembali.


Mikael berjalan menghampiri Al lalu duduk dipinggir ranjang.


"Maaf ya, aku membangunkanmu.." ucap Pria itu lembut sambil mengelus kepala Al.


Mendapat perlakuan lembut seperti itu tak bosan-bosannya Al kembali tersenyum.


"Tidak kok, Al hanya tidur-tiduran saja.." balasnya.


Mikael lalu melepaskan tangannya dari kepala Al.


Dia kembali berfikir tentang perkataan Kakeknya tadi.


"Apa gua harus mengatakannya? Tapi yang berbohong kan.." tengoknya kearah Al dan...


Mereka terdiam karna jarak wajah mereka yang sangat dekat.


Mikael segera mengalihkan wajahnya kembali ke depan.


"..Kak El kenapa? Apa Kakak merasa tak enak badan?" tanya Al yang malu karna kejadian barusan dan khawatir melihat sikap suaminya.


"..aku sehat, tenang saja.." balas Mikael yang tersenyum kearah Al yang bernafas lega.


Pria itu kembali diam, "Turunkan ego lu, El.." batinnya.


Pria itu lalu melirik kearah Al yang masih tetap setiap menatap ke wajahnya.


Mendapat tatapan itu membuat Mikael malu. Dulu mungkin dia tidak akan peduli ditatap seperti itu oleh Wanita disampingnya, tetapi tidak sekarang.


"..Al!" panggilnya pelan.


"Iya, Kak.." balasnya segera.


"..aku sudah mengetahui, prihalmu dan Kakek.." ucapnya.


Deg


Al terdiam, kepalanya tertunduk. Dia kembali mengingat ke kejadian tadi, saat suaminya dan Kakek Ibnu sedang bercakap-cakap. Wajah suaminya nampak serius.


"Apa Kakek sudah mengatakannya.." batin Al.


"..ma..maaf.." ucap pelan Wanita itu. Dia tak berani mengangkat kepala. Dirinya takut melihat wajah marah suaminya.


Mikael yang wajahnya masih kearah depan lalu menengok ke sampingnya. Dia mendapati Al yang kepalanya tertunduk membuat rambutnya jatuh menutupi wajahnya.


Mikael mengingat, setiap melihat sikapnya seperti ini, Wanita didepannya panti merasa takut.


"..apa wajah gua kelihatan marah?" batinnya.


Dikembangkan tangannya lalu memeluk sosok mungil disampingnya.


"Jangan takut! Aku tidak marah kok.." ucapnya lembut sambil mengusap kepala Wanita itu.


Mendapat pelukan dadakan serta usapan lembut membuat air mata Al jatuh.


Akhirnya bebannya yang terakhir terangkat.


"Kak El, benarkan tidak marah.." ucapnya sambil sesenggukan.


"Iya, aku tidak marah.." balasnya yang lalu mengelus punggung Al lembut.


Niat awalnya yang tak ingin membuat Wanita di pelukannya menangis, ternyata tak terpenuhi. Wanita itu kini kembali nangis.


* * *


Melihat Al berhenti menangis, Mikael lalu melepaskan pelukannya. Dia lalu menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Al yang basah.


Di lapnya wajah itu dengan tangannya. Seketika tatapan Pria itu berhenti pada bibir mungil Al.


'Glek' dia menelan air liurnya.


Bisa-bisanya, dia tergoda hanya karna wajah imut istrinya yang sehabis nangis.


Tapi itu wajar bagi Mikael, karna dirinya sudah berpuasa cukup lama.


(Mengerti maksudnya ya...hehehe)


Al memiringkan sedikit kepalanya bingung. Melihat wajah suaminya yang terpaku.


"Kak El, kenapa?"


"..heemmm..tidak, tidak apa-apa.." ucapnya yang lalu memalingkan wajahnya.


"..Kak El, marah.." ucapnya kembali karna melihat tindakan suaminya barusan.


"..Aku tidak marah, hanya saja.." ucapnya yang terputus karna Al manangkup wajah Mikael agar melihat kearahnya.


"..kalau begitu, tatap wajah Al.." ucap Wanita itu.


Mikael yang disuguhkan kembali dengan wajah Istrinya yang dekat lantas berkata, "Al, kamu taukan, aku sudah berpuasa lebih dari tiga bulan.." ucap Pria itu.


"..puasa? Bukannya tadi pagi Kak El makan. Kemarin-kemarin Kakak juga makan.." balas Al.


Mikael menggaruk kepalanya mendengar jawaban istrinya.


"..maksudku, puasa tidak berhubungan badan denganmu.." jelasnya menatap mata Al dalam.


Mendengar kalimat itu, Al seketika malu. Bagaimana bisa dia tak menyadari maksud dari suaminya.


"..maaf Kak.." ucapnya. Dia lalu melepaskan tangannya dari wajah suaminya.


"..kalau begitu, aku keluar dulu ya.." kata Mikael yang lalu beranjak dari duduknya. Takutnya, jika berlama-lama dia malah benar-benar akan menyentuhnya.


Saat akan berjalan, tangannya ditahan oleh sosok yang masih duduk diatas ranjang.


"..kalau Kakak menginginkannya kenapa harus berpuasa. Kakak tinggal katakan pada Al.." ucap Wanita.


Deg deg deg


"..kenapa dia mengatakannya dengan manis seperti itu? Apa ini faktor karna gua terlalu lama tak mendapat belaian.." batin Mikael yang bertambah bergejolak.


"..khemm..tidak apa-apa, aku akan menahannya sampai kandunganmu kuat.." ucap Mikael yang berusaha kuat.


"..kandungan.." ucap Al yang lalu tersenyum dengan tertawa kecil.


Membuat Mikael mengerutkan dahi.


"Jadi Kak, memang di tiga bulan awal sedang rawan-rawannya. Tapi sekarang Al sudah mau masuk ke minggu lima belas, walau masih rawan tetapi Kita masih bisa melakukannya asal pelan-pelan dan tidak terlalu sering.." jelas Wanita itu.


Mendengar penjelasan Al, wajah Mikael seketika cerah. Dia menatap dalam wajah Istrinya yang paham betul jawaban yang ingin didengarnya.


"..yasudah, aku berwudhu dulu ya.." ucap Al yang berdiri lalu memakai kerudungnya.


Wanita itu lalu keluar kamar diikuti Mikael dibelakangnya.


Usai berwudhu, Mereka kembali ke kamar. Al terlebih dahulu melepas pakaian luarnya. Menyisakan piyama miliknya.


Begitu juga Mikael yang melepas kaos dan celananya menyisakan boxer hitam yang menutupi bagian intinya yang sudah menegang sejak tadi.


Melihat pemandangan suaminya itu, tak bosan-bosannya Al terpesona. Tapi dirinya juga malu jika ditatap seperti itu oleh suaminya, apalagi saat matanya melihat kearah adek suaminya.


"Ayo!" seru Mikael yang ingin segera hasratnya tersalurkan.


Al menganggukkan kepala. Dia lalu naik keranjang diikuti Mikael yang berada diatas tubuhnya.


Walau saat ini Mikael, inginnya langsung memasukkan adek kecilnya. Tapi dia harus menahannya.


Setidaknya, dia harus memberikan rangsangan terlebih dahulu pada Al. Agar saat dimasukkan tak terasa sakit.


Dimulailah kelihaian Mikael, dia memberikan sentuhan-sentuhan yang membuat Al bergejolak.


Kecupan-kecupan kecil di seluruh are wajah Al yang lumayan lama di daerah bibirnya.


Setiap sentuhan Mikael, membuat Al mengeluarkan erangan kecil yang keluar dari bibir mungilnya. Membuat Mikael tersenyum.


Suasana siang yang terik, membuat mereka semakin keringatan akibat olahraga ranjang yang mereka kerjakan.


Dan...


Setelah pergulatan yang dilakukan, Al mandi terlebih dahulu. Sedang Mikael masih merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum. Rasa panas serta sesak di dadanya hilang seketika.


* * *


"Kak, Kak El.." panggil suara lembut.


"Kak.." ucap suara lembut itu kembali.


Mikael membuka matanya, dia mendapati Istrinya sudah disampingnya.


"Giliranku ya.." ucapnya lalu mendudukkan tubuhnya.


Tak lama dia berdiri membawa handuk dan juga baju yang sudah disiapkan Al.


Usai mandi, Mikael merasakan jauh lebih segar. Pria itu lantas kembali berjalan kearah kamarnya.


Saat akan berjalan ke kamarnya, kamar sebelahnya terbuka menunjukan sosok Kakeknya yang telah mengenakan baju sholat.


Pria tua itu memperhatikan Mikael yang nampak segar bugar.


"Wahhh, tumben-tumbennya jam segini kamu sudah mandi.." ucap Pria tua itu.


"Hehehe iya Kek, soalnya gerah bangat.." balas Mikael sambil menyengir.


"Ohhhh gerah, Kakek pikir gara-gara abis buat Cicit untuk Kakek.." guyon Pria tua itu.


"Hahahaha kalau Cicit buat Kakek mah udah ada.." balas Mikael sambil tersenyum.


"..maksudmu?" tanya Pria tua itu ketika mendengar ucapan Mikael.


Niatnya hanya meledek Mikael yang habis melakukan hubungan disiang hari. Tapi tak disangka jawabannya seperti itu.


Mikael yang tertawa lantas terdiam. Tanpa sadar dia berkata perkataan itu.


"..ahhh..Kakek aku ganti baju dulu ya.." kata Mikael yang lalu melewati Kakeknya kemudian masuk ke kamarnya.


Al yang masih mengeringkan rambutnya di kegetkan dengan suaminya yang tiba-tiba masuk kedalam kamar.


"Ada apa, Kak El?"


"..tidak apa-apa, aku hanya ingin ke mesjid.." balasnya yang lalu terdiam ditempat.


Al yang paham lantas segera mengambil baju koko serta sarung suaminya.


Mikael menelan salivanya kembali. Dia terdiam menatap sosok Al yang mengenakan mini dress dengan rambut terurai.


"Ini Kak.." ucap Al menyerahkan baju koko serta sarung.


"..Kak El.." panggil Al kembali melihat suaminya yang masih bengong menatap dirinya.


Mikael lalu segera mengalihkan mata dari Al lalu berkata dengan malu.


"..menggoda?" Al berfikir lalu menyadari pakaian minimnya.


"..maaf Kak, bukan maksud Al.." ucapnya segera.


"...yasudah tidak apa-apa, aku pergi dulu ya.." balasnya yang kembali keluar kamar membawa baju koko dan sarung.


"Wahhh bahaya sekali.." gumam Mikael setelah diluar kamar.


"Bahaya kenapa?" tanya Kakeknya yang ternyata masih didepan kamarnya.


Mikael lantas kaget, "Kakek, kupikir sudah ke mesjid.." ucapnya sambil memegang dada.


"Kakek nungguin kamu, ayo kita jalan.." ucap Pria tua itu melewati Mikael.


"Iya.." jawabnya yang lalu mengenakan koko dan juga sarung ditangannya.


Sedang Al yang ada didalam kamarnya sangat begitu malu. Tak niatnya menggoda suaminya. Apala daya, dia hanya membawa dua pakaian tidur. Piama yang dipakainya semalam dan mini dress yang dipakainya saat ini.


* * *


Di teras belakang


"Memang sangat sejuk duduk disini.." gumam Al.


Dia menikmati tanaman hijau didepannya serta angin yang bertiup silih berganti.


"...oh iya.." Al mengingat puding yang dibuatnya tadi.


Wanita itu lantas beranjak dari duduknya berjalan kearah kulkas.


Memastikan puding buah, buatannya. Ternyata pudingnya telah keras, lantas dikeluarkannya dari kulkas kemudian membawanya kearah meja makan.


"Ini Nona.." Bu Irma memberikan piring dan juga pisau kecil untuk memotong puding buah tersebut.


"Makasih Bu.." balas Al.


Wanita itu lalu memotong puding kemudian meletakkannya diatas piring kecil.


Dari arah depan Mikael datang. Dia nampak ngiler melihat puding buah di meja makan.


"Wahhh ini puding buah yang kamu buat tadi.." ucap Mikael yang baru keluar dari kamar menaruh peralatan sholatnya.


"Iya, ayo Kak dimakan.." ucap Al.


Melihat Kakeknya juga mendekat Al lantas menyiapkannya juga.


"Al, temani Kakek makan puding buatanmu.." ucap Pria tua itu yang melewati Al dan Mikael. Dia berjalan kearah teras belakang.


"..iya, Kek.." balas Al.


Al lalu melihat kearah suaminya. Dia nampak bingung mengapa Kakek Ibnu hanya mengajaknya.


"Kak El, aku kebelakang ya.." izin Al.


"..Ahhh iya.." balas Mikael.


Ditinggal Al, Mikael yang sedang menikmati makanan buatan istrinya lantas berhenti.


"Pasti Kakek ingin bertanya prihal tadi.." gumam Mikael.


"....Kakek.." ucapnya yang segera bangkit lalu berjalan kearah belakang sambil membawa piring berisi puding yang dimakannya tadi.


Di teras, Al dan Kakeknya nampak menikmati puding buatan Al. Mereka menikmatinya tanpa berkata-kata.


Mikael yang datang lantas memilih bangku kosong disamping Kakeknya.


Mereka kembali menikmati puding, sambil memandang pohon hijau didepan. Tidak dengan Mikael yang berjaga-jaga, sewaktu-waktu Kakeknya bertanya.


Puding di piring masing-masing lantas habis. Mereka lalu menyeruput minum yang tadi telah disediakan Bu irma.


"Al, terimakasih.." ucap Pria itu.


Al dan Mikael terdiam mendengar ucapan Kakek Ibnu.


"Makasih sudah bersabar dan menerima kejelekan Cucu Kakek ini.." ucap Pria tua itu.


Mikael yang mendengar dirinya di jelekan menatap Kakeknya cemberut.


"..dan..terimakasih sudah memberikan Kakek Cicit.." ucapnya sambil tersenyum melirik kearah Al dan El bergantian.


Al lalu melihat kearah El yang tersenyum malu karna keceplosan tadi.


"..sekarang sudah jalan berapa bulan?" tanyanya pada Al.


"..jalan empat bulan Kek, minggu depan pas empat bulan.." jawab Al.


Pria tua itu lantas kaget, dia mengira jika kandungan Al baru sebulan atau dua bulan.


Tanpa ditanya, Kakek Ibnu dapat menebak jika mereka masih menyembunyikan kehamilan Al pada orang-orang rumah.


"Sudah empat bulan ya. Masih sedikit rawan.." ucapnya.


"El, kamu jangan terlalu sering mengunjunginya.." lanjutnya melirik kearah Mikael.


Mikael yang paham maksudnya merasa tak terima. Pasalnya, dia saja puasa lebih dari tiga bulan.


Sedang Al yang tak terlalu paham maksud pembicaraan Kakeknya hanya mendengarkan saja.


"...oh iya Kek, tujuan El dan Al kemari ingin mengajak Kakek ke Jakarta.." ucap Mikael merubah topik pembicaraan.


"..Jakarta.." ucap Pria tua itu.


Mikael lalu mempersilahkan Al menjelaskannya.


"..iya Kek, Al minggu depan akan wisuda.." ucap Wanita itu sambil tersenyum.


"..Wisuda!" seru Pria itu yang diangguki Al.


"..jadi kamu selama ini kuliah.." katanya kaget.


"Kenapa kamu menyembunyikannya pada Kakek.." ucapnya kembali.


"hehehe..maaf Kek," balas Al sambil menyengir.


"Kan kejutan.." timpal Mikael.


Mikael dan Al lantas hanya menyengir saja. Jika dijelaskan dari awal mungkin akan panjang dan...Mikael akan kena ceramah dari Kakeknya.


###


Hari Wisuda


"Ufairah Almasah Basimah!" seru MC


Tepuk tangan nampak memenuhi Aula tersebut.


Al lalu berjalan kearah rektorat yang akan memindahkan tali di kepalanya serta memberikan tanda kelulusan.


Usai menerimanya Al kembali berjalan kearah bangkunya.


Setelah semua mahasiswa dipanggil, dimulailah sambutan oleh kepala kampus dan alumni.


Sampailah sambutan yang diberikan oleh alumni lulusan Ekonomi.


Saat namanya disebutnya, Al kaget dia melihat sosok suaminya diatas panggung. Dia tak menyangka ternyata suaminya juga merupakan alumni di kampusnya.


Acara Wisuda selesai


Al keluar dari Aula. Dia melihat sekeliling mencari sosok keluarganya.


"Al, Kak Al!" seru suara Wanita dan Pria berbarengan.


Al mengalihkan kepalanya kearah suara yang berasal dari Ahmad dan Via.


Bersama mereka ada Ilham dan orang tua Via yang ternyata datang, membuat Al bahagia.


Al lantas menghampiri sosok-sosok tersebut.


"Selamat Al!" seru Via yang memeluk kearah Al.


"Selamat Kak Al.." ucap Ahmad.


"Selamat ya Al.." timpal Ilham.


Via dan Al lalu melepaskan pelukan mereka. Dia menatap kearah mereka.


"Makasih semuanya.." balas Al dengan senyum bahagia yang terlihat dari matanya.


Al lalu melihat kearah Ayah dan Ibu Via yang masih diam tak berucap.


"Ibu, Bapak..makasih ya udah datang.." ucapnya menghampiri sosok orang tua itu.


Bapak tersenyum lalu berkata, "Selamat ya anak Bapak.." ucap Pria setengah baya itu.


"Makasih, Pak.." balas Al.


Al lalu melihat kearah Wanita setengah baya disamping Pria setengah baya itu. Wanita itu nampak diam sambil menatap kearah lain.


"...Ibu kenapa?" tanya Al tak paham melihat Wanita itu diam.


Via yang melihat Ibunya bersikap seperti itu lantas menyenggol Al.


"Al, maaf ya. Aku semalam keceplosan bilang kalau kamu sudah menikah dan sekarang sedang hamil.." katanya sambil menempelkan kedua telapak tangannya.


"..tidak apa-apa kok, Vi.." balas Al.


Dia tau pasti sewaktu-waktu hal yang disembunyikan pasti akan terungkap.


Mengetahui alasannya, Al lantas menghampiri Wanita setengah baya itu lalu memeluknya.


"Maafin Al ya Bu, menikah tanpa bilang Ibu dan Ayah.." ucapnya yang kemudian melepaskan pelukan.


"Nanti Al janji bakal cerita semuanya ke Ayah dan Ibu.." janjinya melihat kearah orang tua itu bergantian.


Wanita setengah baya itu lantas melihat kearah Wanita didepannya kemudian memeluknya.


"Kamu sudah janji sama Ibu, nanti Ibu tagih.." ucapnya.


"Iya Bu.." balas Al yang membalas pelukan Wanita itu.


"Bapak juga mau ikutan dong peluk-pelukannya.." canda Pria setengah baya itu yang merasa dianggurkan.


"Kalau Bapak, pelukannya sama Via aja, sini.." ucap Wanita berkerudung panjang itu.


Usai acara peluk-pelukan, antara Al dan Ibunya Via.


Wanita itu lalu mengucapkan selamat diikuti pertanyaan.


"Dimana suamimu? Ibu mau lihat orang yang nikahin anak Ibu?"


Al yang merasa getaran diatasnya sejak tadi lantas mengambil HP dari tasnya.


Dia melihat tiga panggilan dari nomor suaminya, serta pesan tempat mereka saat ini.


"Ibu, Kak El dan Kakek masih didalam Aula. Kita kedalam ya.." ajak Wanita itu.


"Nanti Ibu ketemu sama suami Al.." lanjutnya.


Mereka lalu bersama-sama masuk kedalam Aula.


Saat sampai didepan Aula, Al melihat sosok Kakeknya, Mikael, Pak Usman, Bi Hilda, Pak Mamat, Bu Irma, suami Bu Irma dan tiga sahabat Mikael disana.


Al lalu memperkenalkan orang tua Via pada Kakek Ibnu, Mikael dan yang lain.


Orang tua Via nampak kaget melihat sosok Mikael yang tinggi besar serta berwajah tampan tapi terlihat dingin.


Selesai mengucapkan selamat pada Al, serta memberikan hadiah kelulusan seperti bunga, boneka dan kado.


Mereka lalu foto bersama-sama.


Walau wajah Al tertutupi kain, nampak terlihat kebahagian dimatanya.


Al nampak bersyukur dan berterimakasih dihadiahi orang-orang yang menyayanginya.


"Terimakasih semuanya!!!" seru Al berlinang air mata.


END


Terimakasih sudah membaca sudah membaca cerita FRIEND AFTER MARRIAGE


TERIMAKASIH JUGA ATAS DUKUNGANNYA SELAMA DUA TAHUN KURANG SATU BULAN INI...


Jangan lupa untuk meninggalkan tanda..


Jangan lupa komentarnya berkaitan cerita...


PS: Jika ingin beberapa cerita tambahan prihal anaknya El dan Al. Silahkan komen...


Ditunggu...


Salam hangat SMIM 🤗🤗🤗