Friends After Marriage

Friends After Marriage
Dokter Ilham



Dokter Ilham


Happy Reading!!!


Di ruangan satu petak tersebut berkumpul secara melingkar wanita-wanita sholehah. Wanita berhijab coklat terlihat sedang menjelaskan materi pembahasan saat ini tentang kejayaan umat Islam. Sedangkan ke empat Wanita lain, mendengarkan dengan seksama penjelasan tersebut.


Tak terasa jam sudah menunjukan pukul 8 pagi. Wanita berkerudung coklat lalu menutup pengajian tersebut dengan hamdalah, istighfar dan doa kafarotul majlis.


Via yang merupakan Tuan rumah, telah menyiapkan hidangan kecil berupa teh hangat yang dicampur dengan jeruk lemon yang telah diiris dan madu. Sedangkan makanannya dia menghidangkan singkong rebus.


"Silahkan di nikmati!" Via meletakkan hidangan tersebut di tengah-tengah.


"Terimakasih ya.." balas mereka dengan senang.


Mereka lalu menyantap hidangan sederhana itu dengan lahab. Tanpa berkata-kata.


Wanita berhijab coklat itu setelah menyantap satu potong singkong rebus, dia segera menghabiskan minuman yang ada didalam gelasnya.


"Via, syukron hidangannya yang MasyaAllah nikmat!" seru Wanita itu dengan senyum lembut.


"Oh iya, kakak izin pulang duluan ya, karna setelah ini kakak harus ke suatu tempat.." pamitnya pada ke empat Wanita yang masih menyantap singkong rebus


"Emang Kak Ziah mau kemana? Tumben buru-buru.." ledek Wanita berhijab ungu.


"Nur mau tau aja atau mau tau bangat!" ledek Ziah kembali dengan wajah senyum jahil. Nur terkekeh mendengar balasan Kakak pengajiannya tersebut.


"Nur mau tau bangat!" jawabnya semangat dengan senyum lebar.


"Kakak mau ke...rahasia.." Ziah tertawa melihat Nur yang menggelembungkan mulutnya.


"Yaudah Kakak duluan ya, Assalamualaikum.." pamitnya setelah menjabat tangan ke empat Wanita itu.


"Wa'alaikumsalam, hati-hati Kak.." ucap mereka berbarengan.


Seperginya Ziah, mereka melanjutkan kembali aktivitas mereka. Tapi saat ini mereka menyantap makanan sambil diselengi obrolan.


"Vi, aku dengar. Pas minggu kemaren kamu gak ngaji. Katanya kamu lagi lamaran ya.." ucapnya setelah menelan makanan yang ada di mulutnya. Tampak Via menganggukan kepala dengan wajah yang tersipu malu.


Nurul dan juga Wanita berhijab Hijau tua tampak tersenyum senang. "Selamat ya Vi.."


"Iya..makasih ya Nurul, Dede.." Via memandangi mereka satu persatu.


"Terus, gimana orangnya? Apa udah tentuin tanggal pernikahannya?" Dede memajukan duduknya mendekat kearah Via.


Via meraih HPnya yang tak jauh dari tempatnya. Dia kembali memberikan foto yang semalam dia tunjukan pada Al. Tampak wajah Dede dan juga Nurul yang terkaget.


"Wihhh ganteng ya!" seru Nurul tak menyangka. "Terus tangga nikahnya udah di tentuin Vi. Soalnya Ya setelah lamaran ke pernikahan jaraknya tak boleh lama-lama.." ucap Nurul kembali mengulang perkataan Dede.


Via kembali tersenyum. Dia menganggukan kepalanya pelan. "InsyaAllah akhir bulan depan!" jawabnya.


Nurul, Dede dan juga Al kaget. Mereka bertiga semakin menghimpit kearah Via.


"Benar Vi!" tanya mereka berbarengan. Via menganggukan kepalanya kembali dengan wajah malu bercampur senangnya.


"Wahhh teman kita udah ke taken nih! Kita kapan!" ucap Nurul melihat kearah Dede dan Al.


"Nurul kamu ngapain liat ke Al! Dia kan udah ke taken juga!" Timpal Dede saat Nurul melihat kearah Al. Sedangkan Al hanya tercengir melihat dua sahabatnya ini.


"Hahaha kalian bisa aja. Tenang aja Dede, Nurul. Pasti akan saatnya kalian ada di posisiku saat ini.." ucap Via dengan tersenyum.


Al yang berada di tengah Nurul dan Dede menepuk punggung mereka pelan. "Betul! Lagi pula jodoh gak kemana. Mungkin saat ini belum datang, nanti di lain waktu ketika kalian sudah siap membina rumah tangga dan sudah cukup ilmu tentang hakikat seorang istri dan juga mengetahui cara mendidik anak. Pasti saat itu akan datang.." jelas Al dengan tersenyum ramah pada mereka berdua. "Kalian tau sendiri ilmu itu penting agar rumah tangga tetap terjalin tanpa ada masalah. Yang terpenting saat menikah niat kita untuk menjalankan perintah Allah!" lanjut Al menatap kedua sahabatnya.


Mereka memandang wajah Al yang tampak teduh. Mereka merasa bersyukur memiliki teman seperti Al yang sering memberitahu dan mengingatkan mereka.


"Oke! Mulai sekarang aku juga akan perbanyak baca buku dan menambah ilmu.." ucap Nurul. Dede mengangguki perkataan Nurul.


Al tersenyum mendengarnya. "Tapi jangan lupa juga baca buku yang lain, juga.." ingat Al. Mereka menganggukan kepala sambil menyengir.


Kemudian Nurul beralih melihat kearah Via kembali. "Jadi, Via udah siap dong dan mengetahui apa saja yang Al katakan tadi?" tanya Nurul menatap Via.


Via terdiam sejenak kemudian tersenyum. "InsyaAllah aku siap..walaupun saat ini ilmuku masih minim, tetapi aku akan tetap berusaha supaya aku menjadi istri yang mematuhi perintah suami dan juga Ibu yang bisa melahirkan generasi penerus dan memegang teguh agama Allah.." tampak wajah Via yang terlihat yakin dan teguh.


Dede dan juga Nurul tersenyum mendengarnya dan mulai bertekat untuk mempelajari dan menambah ilmunya. Al memandangi mereka sambil tersenyum.


###


Mikael menjelaskan tentang rancangannya dengan sangat bagus dan mudah dipahami. Perusahaan yang mendengar rancangannya sangat tertarik dan memilih bekerja sama dengan Mikael.


Sebelum pulang Mikael dan perusahaan tersebut menyantap hidangan yang telah disiapkan. Karna sejak awal mereka mengadakan pertemuan di sebuah restoran dengan ruangan privat.


Usai menyantap semua hidangan, mereka mulai bercakap-cakap dengan obrolan ringan.


Selesai itu Mikael bersama dengan Pak Usman kembali ke ketempat pertemuan selanjutnya untuk membahas proyek dengan perusahaan lainnya.


Seharian Mikael menghabiskan waktu di luar perusahaan. Dia menyerahkan urusan di kantor pada Alula, sekretarisnya.


###


Jam sudah menunjukan pukul setengah 3 siang. Al dan juga Via bergegas pergi ke klinik.


Sampai disana mereka menuju ketempat untuk menaruh tas. Al yang selesai duluan, terlebih dahulu memilih pergi ke tempatnya biasa. Sedang Via yang merasakan panggilan alam ke toilet terlebih dahulu.


"Leganya!" gumam Via dalam hati. Saat akan menuju ke tempat Al, Via dikagetkan akan papasannya dengan seorang Pria yang akan berjalan menuju toilet.


Wajah Via tampak tersipu malu. Begitu juga dengan ilham. Mereka diam ditempat dengan kepala menunduk.


"Aaaa.. Dokter saya duluan ya.." ucap Via. Dia lalu melewati Dokter Ilham dengan kepala masih tertunduk. Dokter Ilham membalikkan tubuhnya melihat kearah Via yang mulai tak terlihat.


Via berjalan sambil memegang dadanya yang berdetak. Dia tak meyangka sama sekali jika Ilham akan praktek di klinik hari ini. Padahal sudah 3 bulan ini dia tak pernah praktek di klinik tempatnya bekerja.


Al menyadari akan kehadiran Via yang duduk di kursi sebelahnya. Diapun mengarahkan kursinya ke hadapan Via.


Al terkaget melihat wajah Via yang memerah. Dia lalu mendekatkan kursinya kearah Via.


"Kenapa kamu Vi? Kok muka mu merah betul?" tanya Al bingung.


Via membalas pandangan Al dengan malu. "....Al...tadi aku ketemu sama...Dokter...." Via terdiam sejenak karna malu mengatakannya.


Melihat sifat Via yang jarang seperti ini Al mengetahui siapa orang yang dilihatnya. "Dokter Ilham!" lanjut Al. Via membulatkan mata. Dia tak menyangka jika Al mengetahuinya.


"Darimana kamu tahu?"


Al tersenyum mendengar perkataan Via. "Siapa lagi yang bisa buat mukamu merah. Kecuali orang yang kita bahas tadi pagi.." jelas Al.


"Bukan itu, tapi kok kamu tau. Beliau ada disini.."


"Kalau soal beliau ada disini. Aku yang menghubunginya kemarin sore. Aku meminta tolong pada beliau untuk mengantikan Dokter Liza.." jelas Al.


"Kok kamu gak ngasih tau aku.." ucap Via.


"Aku lupa buat ngasih tau kamu. Lagi pula aku juga baru mengetahui hubungan kalian tadi malam.." Balas Al. Terlihat saat ini wajah Al memandang Via dengan serius.


"...dan kamu harus ingat Vi. Saat ini kamu dan Dokter Ilham bukamn mahrom. Kamu tak semestinya berwajah semerah ini. Hanya karna bertemu dengannya. Wajahmu ini hanya cocok kamu tunjukan pada tunjukan saat sah menikah.." ucap Al mengingatkan Via.


Via membenarkan ucapan Al. Tak semestinya dia bersikap seperti itu dan berwajah semerah tadi.


Via pun memeluk Al. "Makasih ya.." ucapnya. Dia merasa bersnyukur memiliki teman yang dapat mengingatkannya dikala dia kalap.


(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini πŸ‘, coment πŸ‘dan Reting 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih