
Terimakasih sudah setia membaca (Frien After Marriage) Dua tahun ini....
SMIM sangat senang, atas komen, like dan votenya...
Saat ini SMIM sedang menggarap cerita baru (Love in Italia) semoga kalian suka juga dengan cerita ini....
Siapa tau, mengobati rindu (Frien After Marriage) yang Tamat...
Tamu!
Happy Reading!!!
"Hahahaha...kejar aku Rosyad!" Seru bocah cabi itu ke arah kembarannya yang ada di belakangnya.
"Hahaha.." tawanya yang ingin segera mengenai kembarannya.
Bocah lincah itu lalu berlari ke arah ruang tamu, menghindari pengejaran bocah gembil di belakang.
Tap tap tap bugh
Bocah itu, memegang kepalanya yang tertabrak mengenai seseorang di depannya.
"Maaf.." ucapnya merasa bersalah karena drinya yang terlalu asik bermain.
Walau masih kecil kedua bocah itu selalu mengingat kata maaf dan terimakasih yang selalu di biasakan Al.
Rosyad yang ada di belakang lalu melihat sosok yang di tabrak kembarannya.
Bocah itu nampak tersenyum senang.
Begitu juga dengan Pria tua itu yang nampak bahagia melihat cicitnya yang di rindukannya.
"...Kakek!" Serunya kegirangan.
Bocah itu lantas melangkah lebih cepat ke arah sosok yang rambutnya putih semua.
Puk
Bocah gembul itu memeluk sosok tua itu begitu juga Arsyad yang ikut memeluk.
Pria tua itu lalu mensejajarkan tingginya dengan kedua bocah kemudian melebarkan kedua tangan memeluk dua bocah itu.
"Gimana kabar cucu Kakek?" Tanya Pria tua itu setelah melepaskan pelukan.
"Baik, Kek.." balas Arsyad yang memperlihatkan sosoknya yang semangat.
"..hehe..Rosyad juga, baik.." timpal bocah gembul yang juga mengikuti gerakan kembarannya.
Diedarkan mata Pria tua itu mencari sosok Wanita yang biasanya selalu di dekat dua bocah aktiv itu.
"Dimana, Mama?" Tanya Pria tua itu yang tak melihat sosok Al yang berada di dekat dua bocah yang tak bisa diam itu.
"Mama lagi bobo!" jawab Arsyad dengan lucu.
Pria tua itu mengangguk-anggukan kepala paham. Tapi tak biasanya dia akan meninggalkan dua bocah itu tanpa pengawasan.
Pria tua itu lalu memandu dua bocah itu ke arah ruang TV.
Disana, Bi Hilda yang sedang mencari dua bocah itu terkaget melihat sosok Pria tua itu.
"Pak Ibnu.." gumamnya yang segera menghampiri Pria tua itu dan dua bocah yang menggandeng tangan Pria tua itu.
"Assalamu'alaikum.." salamnya ke arah Wanita setengah baya itu.
"Wa'alaikumsalam, Pak Ibnu.." jawabnya.
"Saya buatkan teh dulu ya, Pak.." ucap Wanita itu yang lalu pamit.
Pak Ibnu menganggukkan kepala lalu mengajak dua bocah itu ke arah sofa kemudian duduk disana.
Dia lalu menekan saluran televisi yang menayangkan cerita nabi dalam rupa animasi.
Tak lama Bi Hilda datang membawa nampan yang di atasnya terdapat teh dan juga buah potongan.
"Silahkan Tuan.."
"Terimakasih, Bu Hilda.." balasnya yang lalu mengambil gelas berisi teh kemudian menyesapnya.
Bi Hilda melihat ke arah dua bocah itu yang nampak anteng disamping Pria tua itu.
"Arsyad, Rosyad. Ayo main sama Bibi. Biar Kakek istirahat dulu.." ajak Wanita itu ke arah dua bocah yang mengelendot pada Pria tua itu.
Kedua bocah itu menggelengkan kepala.
"Arsyad, mau sama Kakek.." balasnya.
"Rosyad, juga.." timpalnya yang makin menempel pada Pria tua itu.
Pria tua itu lalu meletakkan gelas di tangannya kemudian berkata, "Tidak apa-apa, Bu. Biar Arsyad dan Rosyad dengan saya.." balasnya sambil mengapit mereka di kedua sisi tubuh dengan lengannya.
"Benar, Tuan.." ucapnya tak enak.
Pria tua itu menganggukkan kepala mengiyakan.
"Bi!" Panggil Pria tua itu pada Bi Hilda yang hendak pergi ke dapur.
"Iya, Tuan?"
"Apa Mikael ada di ruang kerjanya!?" Ucapnya yang juga tak melihat sosok Mikael.
"...Tuan Mikael.." ucapnya yang terputus.
Dia lalu melirik ke arah Arsyad dan Rosyad yang asik menonton.
"..sedang di kamar bersama Nyonya Al, Tuan.." lanjutnya dengan suara sangat pelan.
Pak Ibnu yang paham perkataan Wanita setengah baya itu menganggukkan kepala.
* * *
Di kamar, Wanita mungil tanpa pakaian itu mendudukkan tubuhnya yang peluh dengan keringat.
Di lihatnya Pria yang ada di sebelahnya yang sedang memainkan HP.
"Kak, Al mandi duluan ya.." ucap Wanita itu, usai meraih dasternya yang berada di ujung ranjang.
Pria itu yang sedang mengetik pesan di layar pipinya, lantas menghentikan gerakannya. Dia arahkan matanya ke arah sosok Wanita yang baru saja bertukar keringat dengan dirinya.
Sosok Wanita itu nampak sangat menggoda di mata Mikael, karna dirinya yang berusaha menutupi bagian depan tubuhnya dengan selimut, sedangkan bagian belakangnya terpampang jelas.
"Bagaimana kalau kita mandi bareng.." ucapnya sambil tersenyum ke arah Al.
Glek
Al menelan salivanya, dia nampak bingung dengan suaminya yang tak ada capenya. Jika Pria itu berkata demikian, pastinya meminta untuk ronde berikutnya.
"...hhhhh..kalau Kak El ingin lagi, kita lakukan saja di ranjang ya.." balasnya.
Al tak sanggup bila Pria itu meminta di kamar mandi, karna itu jauh melelahkan jika melakukannya berdiri maupun gaya lainnya.
Mungkin, sebelum hamil dia akan menurutinya karena hanya sesekasli. Tapi jika sekarang, dengan perutnya yang sudah besar, itu jauh melelahkan.
Mikael yang mendapat persetujuan, mengembangkan senyum senang.
Entah mengapa dirinya, belum merasa cape. Padahal biasanya setelah pergulatan lama, seperti tadi. Dia akan tertidur, tapi kini dia masih terjaga.
* * *
Zzzzz zzzzz zzzzz
Diarahkan pandangan Pak Ibnu ke arah sisi kanan dan kirinya.
Dia mendapati dua bocah tadi, telah terlelap.
Pria itu lalu mengambil HPnya kemudian menghubungi Pak Umar untuk membantunya membawa dua bocah itu ke kamarnya.
Ahhhh, Pria itu merebahkan tubuhnya yang lelah.
"Rasanya enak sekali!" gumamnya yang akhirnya bisa merebahkan tubuh di kasur.
Semakin tua usia, tentu tenaga yang di miliki semakin terbatas.
Di arahkan matanya menatap ke arah dua cicitnya.
Senyum mengembang nampak di wajahnya. Dia lalu memejamkan mata dengan tubuh mengarah ke arah dua bocah itu.
* * *
Tap tap tap
Al mengedarkan pandangannya mencari sosok bocah yang biasanya jam segini sudah lari-larian.
Mendapati sosok yang di mintai tolongnya tadi. Wanita itu lantas menghampiri Wanita itu yang sedang berkutik di dapur.
"Bi Hilda.." panghilnya yang membuat Wanita di dapur itu menoleh.
"Ahhh Nyonya Al.." balasnya.
"..Nyonya mau mulai masak sekarang?" tanya Wanita setengah baya itu.
"..iya Bi.." balasnya yang masih tak melihat sosok dua bocah yang di carinya.
"Bi, Arsyad sama Rosyad masih tidur?"
"..sepertinya Nyonya, Bibi belum cek.." balasnya.
"Yaudah, kalau gitu Al lihat dulu ya.." ucap Al yang meninggalkan Bi Hilda.
Wanita setengah baya itu lalu tersenyum, dia sengaja tak memberi tahu ke datangan Pak Ibnu.
"Hahaha hehehe aaaaa"
Samar-samar dari luar kamar si kembar, Al mendengar suara dua bocah itu.
"Sudah bangun ya!" gumamnya yang lalu membuka pintu.
Cklek
Mata kedua bocah itu tertuju pada sosok di ambang pintu.
Di lebarkan kedua tangannya, memeluk kedua bocah yang berlari ke arahnya.
Matanya lalu mendapati sosok Pria tua yang di kenalnya. Wanita itu lantas terdiam sejenak kemudian tersenyum senang.
"Kakek!" Serunya.
Pria tua itu membalas dengan senyum senang ke arah Al.
Wanita itu lantas kembali berdiri lalu mengarahkan kakinya dan ke dua bocah ke arah Pria tua itu.
Cup
Disalimnya tangan keriput itu lalu duduk di sebelahnya.
"Kenapa Kakek kemari tak bilang-bilang?" Ucap Wanita itu.
"Hahaha Kakek mau memberi kejutan.." balasnya tersenyum.
"Hehehe.." tawa Al yang senang mendengat humor Pria tua itu.
Al dan Pak Ibnu lalu bercakap-cakap, tapi baru sejenak berbicara. Mereka harus menyudahinya, karna dua bocil kembar yang ingin segera mandi.
Ditambah Al yang ingin memasak makan malam untuk keluarga.
* * *
Usai sholat asar, Mikael baru ke luar dari kamarnya. Dia merasa lapar dan juga merindukan si kembar yang tak bisa diam.
Saat menuruni tangga, dia mendapati sosok Pria yang di rindukannya.
"Kakek.." ucapnya yang mempercepat langkahnya.
"..El, kamu akhirnya turun juga.." ucap Pria tua itu yang sedang menemani Arsyad yang bermain balok sedang Rosyad dan Rosyad yang bermain balok.
Mikael lalu menyalimi Pria tua itu kemudian memeluknya erat.
"Kakek, sudah lama sampai.." ucapnya setelah melepas pelukan.
"Lumayan, sekitar jam satuan. Kakek sampe..." balas Pria tua itu.
"..sudah lama juga ya.." ucapnya tak menyangka.
Pria itu mengingat, sekitar jam segitu dirinya masih berolah raga panas di atas ranjang.
Mengingat kejadian siang tadi, membuat Mikael tersenyum-senyum sendiri.
Entah mengapa, dirinya merasa Al memiliki daya tarik tersendiri walau sedang hamil. Membuat Wanita itu nampak seksi dengan perut buncitnya.
Pria tua itu lalu tersenyum jahil ke arah Mikael.
"Hehehe kenapa kamu senyum-senyum sendiri.."
Mendengar ucapan Kakeknya, Mikael tersadar. "Hahaha tidak apa-apa.." balasnya yang segera mengubah ekspresi wajahnya.
"Benarkah! Kakek fikir kamu lagi membayangkan.." ucapnya terputus sambil tersenyum-senyum.
Mikael menelan salivanya, kemudian tersenyum canggung.
"Hahaha.." tawanya renyah.
Dia tak mungkin menjawab terang terangan kepada Kakeknya di depan dua bocah yang belum mengerti apa-apa itu.
Dari arah dapur
Al datang membawa nampan yang diatasnya berisi tiga mangkok yang terdapat buah dan puding coklat dan cemilan.
"...Kak El sudah turun.." ucap Al yang melihat suaminya yang duduk di samping Pak Ibnu.
Wanita itu lalu menaruh ke tiga mangkok di atas meja.
"Iya, aku lapar.." ucapnya dengan manja sambil memegang perut.
"Kak El makan buah dulu ya, buat ganjel. Sebentar lagi masakannya masak.." balas Al tersenyum. Dia lalu kembali ke dapur.
"Khemmmm..." dehem Pak Ibnu yabg melihat ke manjaan Pria berumur tiga puluhan itu.
Mikael segera bersikap biasa. Entah mengapa, ketika bersama Al sikap manjanya selalu muncul.
# # #
Matahari nampak sudah mulai terik. Tapi tak menghambat activitas dua bocah yang masih semangat membuat rumah-rumahan dari pasir.
"Arsyad, Rosyad. Ayo udahan mainya. Sudah mulai panas.."
"Tunggu sebentar lagi ya Ma.." balas bocah itu yang memasukkan pasir kedalam ember.
Pak Ibnu yang melihat dua bocah itu yang membuat tumpukan pasir tak beraturan lantas bertanya, "Memangnya Arsyad sama Rosyad lagi buat apa?"
"Arsyad sama Rosyad lagi buat rumah.." balas Rosyad yang menunjuk ke hasil karyanya.
Pak Ibnu memperhatikan, tumpukan pasir yang berbeda-beda.
"Buat rumahnya banyak ya.." ucapnya tersenyum kearah dua bocah itu.
"Iya, soalnya Arsyad sama Rosyad buat rumah untuk Mama, Papa. Kakek, Rosyad, Arsyad dan dedek.." balas Arsyad sambil menunjuk tumpukan pasir yang berbeda-beda.
"Dedek? Siapa Dedek?" tanya Pria tua itu yang tak mengenal sosok Dedek.
"Dede itu, ade Arsyad sama Rosyad.." balas Arsyad senang.
"Iya, Mama bilang kalau di perut Mama sekarang ada dedek.." timpal Rosyad.
Pak Ibnu lantas terdiam, dia lalu melihat ke arah yang duduk bersebelahan dengan Mikael saat ini.
Pantas, Pria tua itu merasa jika Al nampak gemukan. Ternyata Wanita itu sedang hamil.
"Selesai!" seru dua bocah itu berbarengan.
Mereka terlihat senang melihat hasil karya rumah dari tumpukan pasir tak beraturan.
"Ayo kita mandi.." ajak Pria tua itu ke arah dua bocah yang merai tangan Pak Ibnu.
Al yang melihat dua bocah itu mendekat, dia lantas berdiri menghampirinya.
"Sudah selesai?"
Mereka menganggukan kepala mengiyakan.
Wanita itu lalu tersenyum.
"Ayo mandi!" ajaknya.
"Biar Kakek saja yang mandikan.." ucap Pria itu kemudian.
"Kamu berikan saja pakaian Arsyad dan Rosyad sama Kakek.." tambahnya.
Pria tua itu lalu pergi meninggalkan Al, sebelum Wanita itu membalasnya.
Al nampak bingung dengan ucapannya Pria tua itu.
Usai memberikan pakaian dua bocah itu, Al kembali ke kamarnya.
Wanita itu terlebih dahulu melepas gamisnya yang menyisakan daster selutut.
Setelah menggantungnya, dia berjalan ke arah ranjang lalu mendudukan tubuhnya disana.
Cklek
Mikael yang baru ke luar kamar mandi, menghampiri Al lalu duduk di sebelahnya.
"Arsyad sama Rosyad di kamar Kakek?"
"Iya.." jawab Al singkat.
"Kamu kenapa? Kok seperti memikirkan sesuatu?" tanya Mikael yang melihat wajah Istrinya.
"...tidak, aku hanya sedang memikirkan ekspresi Kakek tadi.." ucap Wanita itu.
"...Kakek!? Memangnya Kakek berekspresi seperti apa?"
"Kakek terlihat senyum-senyum ke arahku.." ucap Al.
"Beliau juga mengatakan, agar menyampaikan pesan ini ke Kak El.." lanjutnya yang teringat pesan Pria tua itu.
"Apa pesannya?"
"Katanya kamu boleh mengunjunginya tapi jangan sering-sering.." katanya mengulang perkataan Pak Ibnu.
Mikael terdiam, memahami perkataan Pak Ibnu yang humornya sangat tinggi.
"Kakak paham maksud perkataan Kakek? Aku tak paham sama sekali?" Ucapnya bingung.
Wanita itu lalu melihat kearah suaminya yang masih berfikir.
"Memangnya Kak El suka mengunjungi siapa? Sampai di bilang jangan sering-sering?"
Pria berambut panjang itu membulatkan matanya, paham maksud perkataan Kakeknya.
Pria itu tersenyum, dia benar-benar tak menyangka Kakeknya akan berkata demikian.
Al yang menyadari ekspresi suaminya lantas berkata, "Kakak sudah paham perkataan Kakek? Beritahu Al apa maksudnya.." pinta Wanita itu.
"...boleh saja, tapi kamu akan paham jika kita langsung memperaktekannya.." ucapnya dengan senyum jahil.
"...maksudnya?" ucapnya bingung.
Mikae lalu mengarahkan tangannya ke arah wajah Istri tercintanya kemudian mencium bibir mungil itu.
Terimakasih sudah membaca....
Jangan luoa like, coment and vote
Thank you....
Salam hangat SMIM