Friends After Marriage

Friends After Marriage
Note



Note


Happy Reading!!!


Dengan langkah ringan Mirzani keluar dari ruangan menyimpanan tas. Dia bergegas menuju meja pendaftaran.


Mirzani kaget melihat sosok yang tak disangka yang saat ini sedang menjaga meja pendaftar dengannya.


"Kamu ngambil lembur, Al.."


Al yang saat itu sedang mencatat lantas menolehkan kepalanya kearah sumber suara. "Ah..iya.." jawabnya sambil tersenyum.


Mirzani lekas duduk di kursi yang ada disamping Al. "Tumben kamu ngambil lembur. Biasanya akhir pekan kamu libur.."


"Iya, soalnya minggu depan aku mau ambil libur.." ucap Al.


"Libur?" Mirzani menampakkan wajah bingung. "Memangnya kamu mau kemana?" tanya Mirzani. Tiba-tiba dia tersenyum menatap Al. "Pasti mau ehem ehem ya sama suamimu.."


Al membulatkan mata mendengar ucapan Mirzani. "Astagfirullahal'adzim Kakak!" ucap Al dengan wajah memerah. "Ini gak ada hubungannya sama Kak El.."


"Ohhh jadi nama suamimu El. Manggilnya Kakak lagi. Jangan-jangan dia manggil kamu. Dedek Al.." katanya dengan suara genit.


Seketika Al membayangkan ketika Mikael memanggilnya "Dede Al!" wajahnya tersipu membayangkan wajah tampan Mikael yang berucap seperti itu.


Mirzani bingung melihat Al yang terbengong, dengan guratan senyum yang terlihat dari matanya yang menyipit. "Al kamu ngebayangin apa? ...jangan-jangan kamu bayangin yang iya-iya (enggak-enggak)" canda Mirzani.


"Ah..." Al tersadar dari lamunannya lalu kembali melihat kearah Mirzani. "Kakak!" ucapnya malu.


"Jadi gini Kak. Minggu depan Via akan menikah? Jadi aku akan menemaninya untuk pulang kampung.."


Mirzani menunjukan wajah kaget. Dia langsung mendekat kearah Al.


Dia sama sekali tidak mengetahui prihal tersebut. Bukan hanya dia mungkin semua staff yang ada di klinik tidak mengetahuinya kecuali Al yang merupakan sahabatnya dan Shofi teman satu kosan Via.


"Seriusan kamu Al? Memangnya siapa calonnya?" tanya Mirzani kepo.


"Aaa...kayaknya Kak Mirzani tanya langsung Via aja deh. Biar supraise gitu.." cengir Al.


"Kenapa gak kamu aja yang kasih tau. Kan orang gak ada.." pinta Mirzani.


"Hehehe sabar Kak. Nanti orangnya datang kok. Via kan dapat shift sore.."


"Hahhh..yasudah deh.." ucapnya.


"hmp...pasti nanti pada kaget pas tau siapa calonnya Via.." gumam Al dalam hati. Dia tak sabar menunggu nanti sore.


Bisa saja tadi Al memberitahu. Tapi, pasti nanti banyak pertanyaan mengenai hal tersebut. Fikirnya lebih baik jika Mirzani mendengarnya langsung dari Via. Supaya lebih rinci gitu. Gak ada yang ditambahkan atau dikurangkan ceritanya.


###


Sorenya saat Via datang. Benar saja, dia langsung di kerumunin didalam dapur oleh para staff prempuan.


Al yang seharusnya pulang. Disuruh menjaga meja pendafataran karna ke kepoan mereka.


"Kamu serius Via!" seru Kak Mirzani memastikan.


"Iya Kak.."


"Cowok dingin itu!" seru kembali salah seorang yang bekerja di klinik bernama Yanti.


"Iya.." jawabnya sambil tersenyum malu.


"Kok bisa? Bukannya dia selalu bersikap dingin pada setiap Wanita. Terus kami juga gak pernah lihat kalian bertegur sapa.." ungkap Prempuan berkerudung putih yang bernama Fauziah.


Diceritakannlah kejadian-kejadian yang tak mereka ketahui. Mengenai sejoli tersebut.


Awalnya saat mengetahui. Mereka kaget dan tak menyangka. Tapi kalau sudah jodoh, mau berkata apa.


"Terus kamu kok tidak mengundang kami?" tanya Yanti.


"Maaf Kak, bukannya tidak mau mengundang. Sebenarnya minggu depan hanya melaksanakan akad nikah saja yang hadir juga hanya kerabat dan tetangga sekitar.." jelasnya. "Sedangkan pestanya digelar di Jakarta, karna kebanyakan teman Via sama Mas Ilham disini.." lanjutnya.


Wajah para Wanita seketika tersenyum-senyum. "Cieee bilangnya Emmas.." goda Kak Mirzani.


Via langsung mengunci mulutnya. Dia kecoplosan memanggil Ilham 'Mas'.


###


Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu datang. Mereka, hari ini tidak berangkat kerja melainkan bersiap untuk perjalanan menuju rumah Via.


Mereka memilih naik kereta di banding bis yang kadang suka macet. Mereka mengambil kereta siang hari untuk menuju rumah orang tua Via yang ada di Solo.


Al menyusun beberapa pakaiannya yang akan digunakannya disana. Setelah menyusunnya dengan rapi kedalam koper. Al segera bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Selesai mandi dan memakai pakaian rapi dia keluar kamarnya. Sambil menenteng kopernya.


Di ruang TV Al mencari sosok Bi Hilda yang tidak nampak sejak tadi. Biasanya di jam segini Bi Hilda ada di rumah sambil bersih-bersih.


Al segera melangkah keluar mencari sosok Pak Mamat. Tapi tetap sama tak ada sosok Pak Mamat yang biasanya sedang menonton TV.


"Mereka kemana ya? Kok tidak ada?" tanya Al.


Diarahkan matanya kearah pagar yang digembok dari dalam. "Tumben jam segini pagar di gembok?" batin Al.


Al segera masuk kembali. Dia menuju ke meja makan menyantap roti bakar yang dibuat oleh Bi Hilda. Mata Al menangkap sebuah kertas yang ada di bawah piring tersebut.


Diambillah kertas tersebut lalu dibacanya. 'Nyonya, pintu pagar dan rumah Bibi kunci ya. Soalnya, Bibi lagi belanja ke pasar. Sedangkan Pak Mamat sejak pagi sudah pergi, dia sedang mengantar istrinya ke rumah sakit. Jika Nyonya ingin keluar, kuncinya ada di gantungan pintu belakang..'


Al menganggukan kepalanya paham. Dia lalu mengingat akan pesan Bibi prihal istri pak Mamat.


"Semoga istri Pak Mamat, tidak apa-apa.." gumam Al.


Al lantas membalikkan kertas pesan milik Bi Hilda. Dia lalu mengambil pulpen dari tas selempangnya. Kemudian menulisnya.


'Bibi, Al izin pergi ke rumah sahabat Al yang akan menikah ya. Maaf Al baru memberitahu sekarang. Al lupa Bi hehehe. Disana, Al akan menginap untuk beberapa hari. InsyaAllah akhir pekan Al sudah sampai sini...oh ya Bi, titip salam Al ya sama Pak Mamat, buat Bu Mina."


Al lalu menaruhnya kembali ke tempat semula. Setelah itu Al meneguk minumnya lalu menuju ke koper kemudian membawanya keluar.


Setelah mengunci pintu dan pagar. Al melihat kearah rumah lalu berucap, "Aku pergi ya, assalamu'alaikum.."


###


"Assalamualaikum.." ucap Bi Hilda ketika saat masuk rumah.


Suasa hening menyambutnya Wanita setengah baya tersebut. Dia lalu membawa belanjaannya ke arah dapur.


Saat melewati meja makan Bi Hilda menatap kearah meja sejenak. Dilihatnya roti yang sudah dibuatnya tersisa dua helai.


"Sepertinya Nyonya sudah makan.." batinnya.


Diangkatlah piring tersebut lalu membawanya ke dapur. Tanpa disadarinya kertas yang menempel diatas piring terjatuh ke lantai.


Didapur, di letakkannnya piring tersebut di meja kecil yang ada di dapur. Matanya tak sengaja melihat kearah tempat kunci duplikat yang ada dibelakang pintu.


"Tumben Nyonya jam segini sudah berangkat kerja.." ujarnya yang melihat jam masih menunjukan pukul 12 siang.


###


Sampai di kediaman Via, mereka mendapat pemandangan yang lain. Luar rumah sudah dipasangi kanopi dan panggung untuk mempelai.


Di teras rumah Via, tampak Pria muda dan Bapak-Bapak sedang mengopi, ketika menyadari kehadiran Via yang masuk ke halaman. Dia langsung berlari kedalam rumah.


Tak berapa lama Pria muda itu keluar bersama Wanita berusia setengah baya. Dia berlari kecil ke arah Via dan Al yang sudah berada diteras rumah.


Wanita paruh baya dan Pria muda tersebut berjalan menghampiri Al dan Via yang sudah berada di teras. Mereka sejenak kaget melihat sosok Wanita bercadar yang ada disamping Via. Setau mereka Via datang bersama Al. Mengapa dia saat ini bersama Wanita bercadar, yang menurut mereka bukanlah Al. Karna saat terakhir Al berkunjung kesana, sekitar 7 bulan lalu, dia masih mengenakan kerudung moderen dan selalu mengenakan celana jins.


Tampak wajah senyum Wanita setengah baya itu menyambut mereka. "...Akhirnya kalian sampai juga! Daris tadi Mama khwatir didalam. Karna sudah jam 10 malam. Kalian belum nyampe-nyampe.." tuturnya dengan wajah yang lega.


"Maaf ya Bu, tadi Al lapar. Jadi, ngajakin Via makan dulu di kaki lima.." ucap Al dengan cengiran. Seketika wajah Wanita setengah baya dan Pria muda itu keget. Sedangkan Via dan Al tersenyum-senyum melihat wajah mereka.


"Kamu Al! Al yang dulu tomboy!" seru Wanita itu.


"Kak Al!" timpal Pria muda itu mendekat kearah Al.


"Hehehe iya.." cengirnya. "Tante sama Ahmad keget ya!"


"MasyaAllah Al, Tante kira tadi siapa!" ucap Wanita itu. Dia menatap kagum kearah Al yang sangat berbeda.


"Kak Al, kesambet apa! Bisa berubah sederastis ini.." ucap pria muda itu yang masih belum percaya.


"Husss ngomongnya.." ucap Via.


"Iya nih, sekate-sekate ngomongnya kesambet. Ini tuh bukan kesambet, tapi hidayah dari Allah yang telah Kak Al jemput.." ucapnya dengan nada suara aslinya.


"Nah, ini nih baru Kak Al. Nada suara yang terdengar nyolot.." ucap Pria muda itu. Al menyipitkan mata menatapnya.


"Via, adekmu boleh aku tendang gak, ke dunia lain.." pinta Al. Via tersenyum mendengar ucapan Al. Dia tau ucapan Al hanya sekedar bercanda, karna setiap ketemu mereka selalu seperti. Tapi sebenarnya mereka sangat akrab.


"Jangan deh Al. Nanti aku gak punya adek segokil ini.." ucap Via. Pria muda itu masih menatap Al dengan wajah tak percaya. Sampai dia sendiri melihat wajah Al secara langsung.


Wanita setengah baya itu hanya tertawa mendengar ocehan ketiga remaja didepannya.


"Ahmad bersikap seperti itu, karna kangen padamu!" ucap Wanita setengah baya itu. "Dia hanya tak menyangka sekarang kamu jadi semuslimah ini, membuatnya takut tak mempunyai teman nongkrong dan main PS.." tambahnya. Al menoleh kearah Ahmad yang sedang mengangguk dengan semangat.


"Benar.." katanya membenarkan. "Kakak masih suka main PS sama nongki kan?" tanyanya.


Via tersenyum jahil membuat matanya mengipit. "Sayangnya enggak dek! Sekarang Kakakmu Al lebih suka baca buku!" jawab Via mengacak rambut Ahmad. Ahmad merenggut melihat tingkah Kakaknya yang menganggapnya seperti bocah.


Bapaknya Via dan Bapak-Bapak yang nongkrong tak sengaja mendengar pembicaraan mereka. Tentu Bapak- Bapak itu kaget saat mengetahui sosok Wanita bercadar adalah Al. Karna sosok Al sangatlah terkenal disana.


"Ayo masuk, tidak enak bicara didepan rumah begini.." ajak Wanita setengah baya itu. Mereka menganggukan kepala.


"Kakak, mari Ahmad bantu bawain tasnya!" serunya dengan senyum.


"Dengan senang hati.." jawab Al yang langsung memberikan tasnya.


"Makasih ya dek.." ucap Via lembut.


Lalu dibawanyalah tas Via dan Al kedalam kamar Via. Sedangkan mereka menyalami terlebih dahulu Bapak-Bapak yang sedang mengopi, setelah itu baru masuk kedalam.


Bapak-bapak tersebut masih terlihat kaget melihat sosok Al. Begitu juga dengan Bapaknya Via yang berada di barisan Bapak-Bapak itu.


Di kamar Via


Ahmad yang memang sangat dekat dengan Via dan juga Al, ikut nimbrung didalam kamar Via. Dia duduk diatas ranjang sambil mendengar cengkrama para Wanita itu.


Dia tak menyadari jika saat ini usianya bukanlah, anak-anak lagi melainkan bujangan yang sudah lulus SMA dan akan masuk kuliah.


Didalam kamar, Via dan Ibunya sudah melepas kerudung yang menutupi kepalanya. Sedangkan Al masih memakai kerudung di kepalanya, tetapi cadarnya sudah terlepas dari wajahnya.


Mungkin 7 bulan lalu saat Al belum hijrah dengan santainya dia akan melepas krudung. Tetapi tidak sekarang, karna dia tau auratnya hanya untuk muhrim dan mahromnya.


"Dek, kamu gak nongkrong didepan lagi!" seru Via.


Ahmad menggeleng kepalanya pelan. Dia lalu mendekatkan duduknya kearah Al. "Enggak ah, disini aja. Aku masih kangen sama Kakak dan Ka Al.." ucapnya tersenyum.


Al langsung menjauhkan duduknya dari Ahmad yang cemberut melihat tingkah Al.


"Adekk..kamu tuh bukan mahromnya Kak Al. Mana boleh dekat-dekat begitu.." ucap Via menasehati.


"Biasanya juga boleh dekat-dekat sama Kak Al.." bantahnya kesal.


Memang benar. Mereka memang biasa duduk saling berdekatan. Karna Ahmad selama ini menganggap Al seperti kakak cowok karna sikapnya Al yang tomboy tidak seperti Via yang lembut.


"Itu kan dulu dek. Saat Kak Al belum hijrah. Kalau sekarang kamu juga harus hormatin Kak Al yang sudah hijrah.."


Wajah bete Ahmad terlihat jelas diwajahnya. Dia lantas berdiri lalu keluar dengan bersungut-sungut.


"Bu, gak papa tuh?" tanya Al.


"Sudah, tidak apa-apa. Dia hanya belum menerima perubahanmu, Al.." ucap Wanita itu menenangkan.


###


Bi Hilda memperhatikan jam yang menunjukan pukul 11 malam. Dia khawatir dengan Al yang belum sampai rumah. Di telponpun HPnya tak menyambung, menambah ke khawatirannya.


Suara pagar dibuka. Membuat Bi Hilda langsung berlari kedepan. Dia mendapati mobil masuk, dari dalamnya keluar Pak Mamat.


"Assalamu'alaikum Bi.." ucapnya.


"Wa'alaikumsalam, gimana kabar Bu Mina, Pak?"


"Alhamdulillah Ibu sehat. Dia hanya sembelit tak bisa BAB. Setelah keluar semuanya, dia langsung merasa lega.." ucap Pak Mamat. Padahal tadi pagi dia sangat khawatir, karna anaknya mengatakan ibunya masuk rumah sakit. Tanpa bertanya bagaimana kondisi istrinya, dia langsung meminta izin lada Pak Usman untuk meminjam mobil agar cepat sampai ke rumah sakit.


"Bu Hilda kenapa wajahnya terlihat khawatir?" tanyanya.


"Gini Pak, Nyonya Al belum pulang. Bibi khawatir, apalagi HPnya tak bisa ditelpon.." ucapnya risau.


"Yasudah, Bibi tunggu saja didalam. Biar saya yang menunggu disini.." ucap Pak Mamat. "...Apa saya jemput saja ke tempatnya?" usulnya tiba-tiba.


"Jangan deh Pak, soalnya Nyonya pulang jam 10. Sedang sekarang sudah jama 11 lewat. Takutnya Bapak sama Nyonya tak berpapasan dijalan, ditambah Bapak juga baru pulang pasti capek.." ucap Bi Hilda.


"Yasudah, saya akan menunggu. Bu Hilda menunggu didalam lah.."


Bi Hilda segera masuk kedalam. Di dapur, dia duduk dengan khawatir. Matanya yang sejak pagi belum terpejam lambat laun menutup. Membuatnya tertidur di dengan kepala diatas meja kecil yang ada di dapur.


(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini πŸ‘, comment πŸ‘dan Reting 🌟🌟🌟🌟🌟 ya...)


############################################################


Maaf ya jika banyak typo...


Jangan lupa comment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.


Dan tinggalkan tanda hati.


Jangan lupa vote yang teman-teman.


Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....


Terimakasih