
Dentuman yang mengganggu
Happy Reading!!!
Sore jumat Al tampak sangat bersemangat menyiapkan hidangan untuk kepulangan Mikael.
Sampainya di rumah. Al sudah nampak sibuk didapur. Dia memasak makanan ke sukaan Mikael untuk makan malam.
Selesai memasak Al mendapati suara mobil yang masuk. Dia lantas segera menuju ke pintu masuk untuk menyambut suaminya.
"Tumben sekali Kak El sampai rumah sebelum magrib.." gumamnya sambil merapikan kerudungnya yang sedikit mencong.
Di ruang tamu dia langsung membukakan pintu lalu menuju kearah mobil.
Saat yang didalam keluar Al hanya mendapati sosok Pak Usman.
"Nyonya Al.." sapa Pak Usman ramah.
"...Pak, Kak El?"
"Tuan tadi menyampaikan pesan jika hari tidak pulang.." ucapnya.
Tampak jelas raut wajah bahagia Al yang pudar. Dia lantas segera pamit untuk masuk. Saat melangkah ke tangga. HPnya yang ada di kantong berbunyi.
Dilihatnya nama yang tertulis dilayar. "Via.." gumam Al.
"Assalamu'alaikum.." salam Al.
"Wa'alaikumsalam Al," jawabnya. Suaranya disebrang yang terdengar riang.
"Al, hari ini kamu sibuk gak?" tanyanya.
"...enggak Vi, memangnya kenapa?"
"Hari ini aku mau ngajakin kamu nginap di apartemen Mas Ilham. Soalnya hari ini Mas Ilham, tugas malam.." ucap Via.
"Memangnya kamu sudah pulang dari bulan madumu?" tanya Al kembali.
"Aku sudah pulang. Tadi malam baru sampai.." jawabnya.
"Al temani aku ya. Aku masih belum terbiasa tinggal ditempat Mas Ilham.." pintanya.
"Baiklah, aku akan menemanimu. Kamu kirim saja alamatnya.." ucapnya.
"Oke, makasih ya Al.."
Setelah mengucapkan salam, Al dan Via memutuskan panggilan bersama-sama.
Tak berapa lama map alamat rumah Via sudah sampai di HP Al. Al langsung membukanya dan melihat alamat tempat tinggal Via yang tak dikenal Al.
Al lalu melangkahkan kakinya kearah dapur. Dia berniat bertanya pada Pak Usman.
Dilihatnya Pak Usman yang sedang meminum teh dengan cemilan pisang rebus didepannya.
"Pak Usman.." panggil Al.
Pak Usman menengok kearah Al yang sudah ada disampingnya. Dia yang saat itu hendak menyuapkan pisangnya ke mulut di urungkan.
"Iya Nyonya.."
"Pak Usman lanjutkan saja makannya. Al hanya ingin bertanya alamat saja kok.." ucap Al. Dia lalu menunjukan map yang ada di HPnya.
Pak Usman yang sekali melihat lokasi langsung tau dimana tempat tersebut. "Nyonya mau ke tempat ini?"
"Iya Pak, teman Al yang kemarin nikah sekarang udah pindah ke rumah suaminya di alamat ini. Dia ngajak Al nginap, karna suaminya malam ini ada tugas.." tutur Al.
"Jadi gimana, Pak Usman tau tidak alamatnya?" tanya Al kembali.
"Bapak tau kok, nanti akan Pak Usman antar ke tempatnya.." ucapnya kemudian dia meminum air karna merasa serat.
"Tidak apa-apa Pak, Al sendiri saja kesana. Lagi pula tertulis disini kurang lebih satu jam jarak tempuhnya.." ucap Al.
"Tidak apa-apa Nyonya. Sekalian nanti Bapak mau mampir ke suatu tempat.." ucapnya.
"Nyonya mau diantar sekarang atau nanti?"
"Nanti saja Pak Ba'da isya.." balasnya.
Usai sholat isya Al memasukan pakaiannya yang untuk menginap kedalam tas selempangnya.
Setelah rapi Al turun menghampiri Pak Usman yang sudah siap. Dia saat ini sedang memanaskan mobil.
###
Dari kantor. Mikael sempatkan terlebih dahulu mampir di mini market untuk membeli minuman dan beberapa makanan.
Sampainya di apartement, dia langsung membersihkan diri kemudian beristirahat.
"Ting tong..ting tong.." Mikael terbangun. Dia membuka matanya yang masih mengantuk.
Dahinya mengerut saat menyadari jika tubuhnya diselimuti oleh badcover. Seingatnya saat tidur dia tak mengenakannya.
"Ting tong.." suara bel rumahnya kembali berbunyi. Mikael lantas mengenyampingkan pikirannya dan memilih menghampiri pintu depannya yang terdengar berisik.
"Pencet bel sekali saja! Berik!" seru Mikael.
Ketika pintu sudah terbuka full Mikael menatap tajam kedua sahabatnya. Yaitu Ghifari dan Yuan. Mereka dengan entengnya menggandeng Wanita dengan baju kekurangan bahan dibagian paha.
"Apa maksudnya?" tanya Mikael.
Yuan dan Ghifari saling senggol menyenggol menyalahkan. Mereka bingung harus berkata apa. Sedangkan orang yang diundang Ghifari tak kunjung datang. Padahal mereka di lobi sudah menunggu setengah jam.
"Sepertinya kalian harus menggantikan posisi Beni untuk malam ini.." ucapnya dingin.
Yuan dan Ghifari tambah menggigil mendengar ucapan Mikael. Sedangkan para Wanita itu tak begitu paham dengan pembicaraan Pria diambang pintu, yang mereka tau Pria tersebut tampak tak menyukai mereka.
Dari arah belakang tampak Pria bercelana selutut dengan kemeja lengan pendek berlari kearah pintu yang sedang terbuka itu.
"Maaf ya gua telat.." ucapnya sambil terengah-engah.
Mendengar suara itu Ghifari lantas bernafas lega. Dia langsung menarik Pria itu untuk berhadapan dengan Mikael.
"Beni, mending lu minggir!" seru Mikael menatap tajam Pria itu.
Tanpa tanya-tanya Pria itu paham dengan situasi saat ini dan bagaimana bersikap. "Sudahlah, jangan terlalu kesal. Bukankah malam ini kita akan bersenang-senang.." ucap Beni.
"Gua gak masalah jika kalian masuk ke apartemen gua. Tapi lain hal dengan mereka.." ucap Mikael dengan lirikan mematikan kepada para Wanita yang langsung merinding.
"Biarkanlah hanya malam ini. Lagi pula mereka hanya beberapa jam menemani.." ucap Beni.
"Setelah itu mereka akan pergi.." lanjutnya.
Mikael lalu mengalihkan matanya kearah dua sahabatnya yang menganggukan kepala mengiyakan perkataan Beni.
"Malam ini kalian aman!" serunya.
"Masuklah! Lalu katakan pada para Wanita itu. Mereka tidak boleh menyentuh apapun dan daerah mereka hanya ruang TV!" ingatnya.
Setelah masuk, Yuan terlebih dahulu mensejejerkan minuman dan makanan yang dibeli Mikael dan juga minuman yang dibawanya. Sedangkan Ghifari menyetelkan sebuah musik dengan volume keras agar memenuhi ruangan tersebut.
"Mikael, gak papa suaranya sekencang ini?" tanya Ghifari karna takut suara musik tersebut mengganggu tetangga.
"Terserah lo!" seru Mikael yang langsung duduk dikursi singgel berwarna hitam yang ada didekat pintu balkon.
Dimulailah pesta malam itu. Mereka minum bersama-sama. Sesekali mereka mengobrol ngalur ngidul.
*
*
*
Jam sudah menunjukan pukul setengah 5 pagi. Lampu yang tadinya menyala sudah tampak mati. Musik masih terdengar sangat keras menyelimuti ruangan. Sedangkan para penghuni sudah tampak tepar.
Kecuali dengan Mikael yang masih terjaga. Dia menatap jengah apartemennya yang sangat kotor oleh bekas kaleng minuman dan makanan berseta juga sahabatnya yang bagaikan ikan teri yang tergeletak.
Begitu juga dengan masih adanya sosok Wanita yang ikut tepar.
Dia lantas meninggalkan ruangan itu dan memilih ke kamarnya untuk tidur. Sebelum ke kamarnya Mikael tak lupa untuk mematikan musik yang sangat berisik itu.
###
"Kita sudah sampai Nyonya!" seru Pak Usman.
Al menatap rumah susun didepannya yang sangat dikenalnya. Seketika Al membulatkan mata.
"Pak, bukannya ini apartemen Kak El.." ucap Al.
"Betul sekali, Nyonya. Tapi disini tepatnya arah map yang teman Nyonya berikan.." tutur Pak Usman.
Setelah memarkirkan mobil. Pak Usman lantas membawa Al ke lantai kamar Via yang ternyata sama dengan Mikael.
"Kamar teman Nyonya ternyata bersebelahan dengan kamar Tuan.." ucap Pak Usman.
"Iya Pak, aku aja kaget.." ucap Al.
"Jangan-jangan maksud Bapak mau ke suatu tempat adalah ke kamar Kak El.."
"Betul Nyonya. Bapak ke kamar Tuan dulu ya Nyonya.." ucap Pak Usman.
"Iya Pak.." balas Al.
Setelah Pak Usman masuk kedalam apartemen Mikael, Al lalu memencet bel. Tak lama pintu terbuka menampilkan sosok Ilham dan juga Via.
"Assalamu'alaikum.." salam Al.
"Wa'alaikumsalam.." Via langsung berhamburan kearah Al dan memeluknya.
"Aku sangat merindukanmu.." ucap Via.
"Aku juga.." balas Al yang juga memeluk Via.
"Ayo masuk Al!" ajak Ilham.
Al menganggukan kepala lalu masuk kedalam rumah tersebut. Dia melihat suasana didalam sama halnya dengan kamar sebelah.
"Via, mas pergi dulu ya.." pamit Ilham.
"Iya Mas, hati-hati ya.." ucap Via. Saat Via akan memeluk Ilham dia lantas teringat pada Al yang ada di tempat itu juga.
Via lalu melihat kearah Al yang sudah membalikkan badan memunggungi mereka.
Setelah berpamitan mesra. Via mengantar Ilham sampai ke depan pintu. Usai itu dia masuk kembali.
Dia kembali menghampiri Al di ruang TV.
"Al ayo ke kamar!" ajak Via menarik Al kedalam kamarnya.
Via lalu menyuruh Al duduk di atas kasur. Dia lalu berjalan kearah lemari mengambil bingkisan berukuran sedang berwarna hijau.
"Ini untukmu!" Via menyerahkan bingkisan itu ketangan Al.
"Ini?"
"Itu oleh-oleh bulan maduku untukmu.." ucapnya malu-malu.
Al menyunggingkan senyum lalu segera membuka hadiah tersebut yang berisi pakaian berwarna hijau tua.
"Wahhh..bagus sekali!" gumam Al bahagia. Dia menjembrengkan pakain pemberian Via yang modelnya bagus serta berbahannya adam di pegang.
"Aku senang kamu suka hadiahnya.." ucapnya. Seketika Via kembali teringat sesuatu lagi.
"Oh iya, ada sesuatu yang ingin aku tunjukin!" serunya dengan semangat.
Lantas Via mengajak Al ke kamar kecil yang ada sebelah. Saat pintu dibuka Al kaget dengan isinya.
Didalam berisi alat fitnes. Saat Al masuk seutuhnya dia terpana dengan sesuatu yang digantung di pojokan.
"Itu.." ucapnya terputus.
"Iya..bukankah kamu merindukannya.." ucap Via yang bahagia.
"Walaupun selama ini kamu gak pernah bilang, tapi setiap kali melihatmu lewati tempat olahraga tatapanmu selalu tertuju pada benda ini. Pasti kamu sangat merindukannya!"
"Saat aku melihat Mas Ilham memiliki benda ini. Seketika aku mengingatmu.." lanjutnya.
Al langsung memeluk Via erat. "Terimakasih ya.." ucapnya. Setelah itu dia melepas pelukannya.
###
Malam semakin larut. Kedua Wanita itu sudah mulai terbuai mimpi.
JDUK
BUM
JDUK
BUM
JDUK
Al membuka matanya yang berat. Dia melihat kearah Via yang masih tertidur pulas.
Sejak tadi Al sudah terbangun dengan suara berisik tersebut. Tapi dia mengabaikannya. Saat dia menyadari jam yang sudah menunjukan pukul 3 Al lantas terlihat kesal.
Hampir 3 jam dia tidur-tidur ayam. Karna suara musik itu. Bingungnya dia melihat Via yang tetap pulas.
"Berisik sekali.." ucapnya dengan wajah lesu menahan kantuk.
Dia lantas segera bangun dan mengambil air wudhu. Dia memilih sholat dari pada melanjutkan tidur ayamnya.
Thank you for like, coment and share if you like this story 🤗🤗🤗