Friends After Marriage

Friends After Marriage
Setiap gerakannya membuatku...



SMIM up sesuai janji hari senin, karna janji adalah hutang.


tapi up cuman 2 episode, sorry tidak sesuai dengan harapan.


Happy Reading!!!


Setiap gerakannya membuatku...


Pak Ibnu, Pak Umar dan Bu Rima mengantar Al dan Mikael yang akan segera pulang.


"Hati-hati kalian pulangnya ya!" seru Pak Ibnu.


"Iya, Kakek juga sehat-sehat disini ya.." ucap Mikael.


"..iya.." balasnya tersenyum.


"Kakek, Al pulang ya.." pamitnya. Pria tua itu tersenyum membalas senyum Al.


Setelah salam mereka segera masuk kedalam mobil.


B


R


A


M


Akhirnya mereka sampai di Jakarta saat malam hari. Mikael mengarahkan mobilnya kearah tujuan selanjutnya.


Berhentilah mobil itu di parkiran luas yang hanya ada sedikit mobil terparkir.


Dia meregangkan tubuhnya yang terasa kaku, karna sejak tadi terus menyetir. Dia hanya berhenti ketika Al meminta untuk sholat.


Di tengokkan kepalanya kesampingnya. Dilihatnya Al yang masih tertidur pulas. Sejak perjalanan tadi dia selalu tidur. Matanya terjaga hanya beberapa saatl kemudian meram kembali.


Saat iris coklat Mikael memperhatikan Al, tanpa di undang terbesit kembali dalam pikirannya prihal pemandangan tubuh Al yang dilihatnya.


Dengan cepat Mikael mengalihkan wajahnya kesisi lain. "Apa yang baru saja gua fikirkan.." batinnya.


Mikael merasa sedikit liyar pikirannya jika berdua dengan Al. Sikapnya ini membuat dirinya bingung.


"..." Al membuka matanya yang masih mengantuk. Dia mendapati mobil yang dinaikinya berhenti.


Di tengokkan kepalanya kesamping, mencari sosok yang duduk disampingnya. Tapi sayangnya sosok tersebut tak ada.


Seketika pintu mobil tempatnya duduk terbuka. Al segera menengok kesampingnya yang mendapati Mikael.


"...kita sudah sampai, Kak.." ucap Al. "..tapi kok enggak seperti di rumah.." lanjutnya yang melihat sekitar setelah keluar dari mobil.


"Kita dimana sekarang, Kak?" tanya Al yang tak tau tempat apa yang sekarang diinjaknya, karna dia tak mengenalinya.


"Nanti kamu juga tau!" serunya. Al memiringkan sedikit kepalanya bingung.


Diluar mobil, Al baru menyadari ternyata kopernya sudah berada disampingnya membuat Al semakin mengerutkan dahi.


Al segera memegang kopernya mengikuti arah tujuan Mikael.


Dari kejahuan Al melihat bangunan besar. Melihat itu, dia langsung tau tempat apa ini.


Ingin rasanya bertanya, mengapa saat ini Mikael membawanya ke Bandara? Tapi melihat Mikael yang jalannya cepat. Dia mengurungkan niatnya.


Saat masuk kedalam pintu keberangkatan. Mikael menunjukan sesuatu dari layar HPnya. Setelah itu dia dan Al di perbolehkan masuk.


Setelah melakukan pemeriksaan pertama, mereka terlebih dahulu check in. Mikael dan Al menaruh koper mereka di bagasi. Sedang dua godibag yang dipegang Mikael sejak tadi di pegangnya.


Mikael lalu berjalan berdampingan dengan Al kearah Resto yang ada di bandara. Mereka masuk kedalam Resto tersebut lalu memesan makanan disana.


Usai memesan. Al terus memperhatikan Mikael yang terlihat mengotak atik HPnya.


Diapun memberanikan diri untuk bertanya pada Pria didepannya.


"Kak.." panggil Al pelan. Mikael melirik sekilas kearah Al terus kembali menatap layar HPnya.


"...sebenarnya kita ingin kemana, Kak? Al sangat penasaran.." ucapnya.


Mikael menghentikan gerakan jarinya. Dia mengarahkan matanya kearah wajah Al.


"Kita akan ke NTT!" jawabnya.


"NTT!" serunya. Al membulatkan mata. Dia tak menyangka akan kesana.


"Seriusan kita ke NTT. Kakak, ngajak Al kesana!" lanjutnya dengan senang. Mikael terdiam sejenak melihat tingkah senang Al.


NTT merupakan salah satu tempat yang sangat ingin dikunjungi Al, karna pemandang alam yang begitu MasyaAllah indah. Dia tak menyangka jika suaminya akan mengajaknya ke tempat itu.


"Berdua dengan Kak El ke NTT, seperti Honeymoon saja!" batin Al yang kegembiraan.


Usai mengisi perut, mereka lalu menuju ke tempat menunggu untuk penerbangan ke NTT.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya waktu penerbangan mereka.


###


Pesawat yang ditaiki Al dan Mikael, akhirnya sampai di Bandara Maumere. Suasana gelap masih menyelimuti disana.


Selama dipesawat Mikael tidur, lain hal dengan Al yang terjaga karna asik memandangi suaminya. Walau di jam terakhir Al tertidur juga.


Keluar dari pesawat Mikael menyalakan HPnya yang sejak tadi dimatikannya. Dia dan Al menuju ke tempat pengambilan koper.


Setelah mendapatkan koper mereka keluar dari pintu kedatangan.


Mikael menelusurkan matanya mencari sosok yang akan menjemputnya.


Matanya mendapati sosok Pria berumur empat puluh tahunan yang memegang kertas yang bertuliskan Mr Mikael.


Mikael menghampiri Pria itu dan berhenti tepat didepannya.


"Tuan Mikael!" serunya.


"Saya Pak Mansur yang menjemput, Tuan.." lanjutnya.


Pria berumur setengah baya itu mengenal wajah Mikael, karna sebelum pergi, majikannya memberikan dekscripsi tentang Mikael dan juga fotonya.


"Iya saya Mikael.." balasnya mengiyakan.


"Ayo Tuan dan.." ucapnya lalu melihat kearah Al.


"Al.." ucapnya.


"..dan Nona Al, mari ikut saya ke mobil.." ajaknya.


"Mari saya bawakan.." tunjuknya kearah koper yang dipegang Al dan Mikael.


"Tidak apa-apa saya bawa sediri saja.." ucap Al.


Mikael yang hendak memberikan kopernya mengurungkan niatnya dan memilih membawanya sendiri.


Saat berjalan kearah tempat parkir mobil. Sayup-sayup Al mendengar suara adzan subuh dari HPnya. Dia segera izin untuk menjalankan sholat. Tentu tak lupa dia mengajak serta Mikael.


Mikael sebenarnya ingin menolak, tapi melihat mata Al yang berharap mengatakan 'Ya' membuatnya menganggukan kepala.


###


Mobil hitam yang membawa Al dan Mikael, memasuki daerah bertuliskan Riung.


Itu merupakan tempat tujuan mereka. Jaraknya 3 atau 4 jam dari Bandara tadi.


Al membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya melihat kearah luar jendela.


Seketika dia terkesima, melihat pemandangan diluar mobil yang MasyaAllah indah. Dari sana di melihat hamparan laut berwarna biru yang luas dan juga bukit-bukit.


Diturunkannyalah kaca jendela menghirup udara pagi yang segar. Tak lupa diambilnya HP jadulnya untuk mengambil view tersebut.


Ditengoknya palanya kearah samping. Didapatinya Mikael masih tertidur.


Al memajukan sedikit duduknya kearah supir didepannya.


"Pak Mansur, tempatnya masih jauh ya?"


"..tidak Nona, kurang lebih setengah jam lagi kita sampai.." jawabnya dengan mata lurus kedepan.


"Terimakasih, Pak.." ucapnya lalu kembali menyenderkan tubuhnya. Dia tak sabar sampai ke tempat penginapan.


###


Berhentilah mobil hitam itu di depan sebuah rumah panggung berukuran besar bernuansa coklat tua.


Rumah kayu ini, halamannya dihiasi dengan pohon dan bunga, membuat pempilannya indah dan semakin terlihat sejuk.


Saat mobil berhenti, mereka lekas turun dari dalam mobil. Pak Mansur langsung gerak cepat menuju bagasi mengeluarkan koper tamunya. Dia lalu mengangkat koper tersebut menuju rumah.


Saat menaiki tangga, Al melihat kursi panjang kayu di teras rumah. Sedang disisi sebelahnya terdapat tempat berbaring seperi ayunan yang terbuat dari jaring-jaring.


Mereka lalu masuk kedalam rumah. Saat pintu terbuka pemandangan pertama seperti rumah biasanya yaitu ruang tamu.


"Akhirnya sampai juga!" seru suara Pria dari dalam rumah.


Al dan Mikael lantas melihat kearah suara yang berasal dari Pria berambut bule lokal.


Mikael mengangkat kedua alisnya berbarengan menanggapi perkataan Pria didepannya.


Al nampak kaget melihat sosok didalam rumah, yang tak disangkanya.


Mata Al dan Pria itu bertemu. Pria itu melambaikan tangan kearah Al.


"Halo Al, lama tak jumpa.." sapa Pria itu.


Al menempelkan kedua telapak tangannya. "..Assalamu'alaikum.." salamnya kembali.


"Wa'alaikumsalam.." jawab Pria itu dan Pria lainnya yang baru datang.


Pria yang baru datang melihat kearah Al dan Mikael yang masih berdiri.


"Lo cuman berdua?" tanya Pria pemilik rumah. Mikael menganggukan kepala.


"..gua mau istirahat! Dimana kamar gua?" ucap Mikael.


Pria pemilik rumah lalu menengok kearah Pak Mansur. Dia memberi kode untuk mengantar tamu yang baru datang tersebut.


"Mari Tuan saya antarkan!" seru Pak Mansur yang masih memegang koper Al dan Mikael.


Mikael langsung mengikuti arah tujuan Pria setengah baya itu. Sedang Al pamit terlebih dahulu pada dua Pria tadi.


Sampainya dideretan pintu, mereka berhenti dipintu yang saling berhadapan.


"Ini kamar Tuan Mikael.." tunjuknya pada pintu yang ada didekatnya.


"..dan ini kamar Nona Al.." lanjutnya sambil menunjuk kamar didepan kamar Mikael.


"Kalau begitu saya pamit ya.." izinnya pada Al dan Mikael.


"Terimakasih, Pak.." ucap Al yang mendapat balasan senyum dan anggukan dari Pria setengah baya itu.


Melihat Mikael sudah masuk kedalam kamar, Al segera masuk juga kedalam kamarnya.


Dia tersenyum getir mengingat tentang perkataan yang mengatakan hanya berdua dengan Mikael kemari.


Al segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, kamu harus yakin Al. Suatu saat pasti Kak El akan mengajakmu pergi berduan.." gumamnya menyemangati diri sendiri.


Al lalu mengarahkan dirinya dan koper yang dipegangnya menuju kasur ukuran sedang. Dia meletakkan kopernya sembarang lalu merebahkan tubuhnya dengan kaki yang masih menggantung kebawah.


Setelah beberapa saat berbaring. Dia kembali berdiri, mendekat kearah kopernya. Dari dalamnya dia mengeluarkan sepasang pakaian dalam, baju ganti dan juga peralatan mandi.


Keluar kamar mandi Al nampak segar. Dia melipat terlebih dahulu pakaian kotornya lalu meletakkannya di keranjang pakaian kotor didalam kamar.


Setelah itu dia melangkahkan kakinya kembali ke kasur. Al menggeliatkan tubuhnya dibawah selimut tebal. Berasung-angsur Al nampak tertidur.


###


Sore hari


Di meja makan berukuran kecil itu sudah terhidang berbagai jenis makanan.


Yuan melangkahkan kakinya kearah kamar Mikael untuk mengajaknya makan.


Tok tok tok


"Mikael ayo makan!" serunya dari luar pintu.


Karna tak mendapat jawaban, Yuan membuka pintu kamar Mikael. Mendapati dirinya yang sedang duduk di dekat jendela.


"Ayo makan!" serunya kembali.


"Iya.." balasnya dengan masih duduk.


Yuan lalu berbalik arah ke kamar Al. Setelah mengetuknya di juga berucap perkataan yang sama. Mengajaknya makan.


"Iya, Kak.." balas suara didalam.


Setelah mendengar jawabannya. Yuan balik kembali ke meja makan.


Di meja makan, mereka telah berkumpul. Mereka lalu memulai makan bersama, menyantap hidangan laut yang menggiurkan.


Nampak wajah mereka yang sedap memakannya apalagi hidangan tersebut baru saja ditangkap tentu tau betapa segarnya tangkapan tersebut.


"Setelah ini, bagaimana kalau kita ke laut.." kata Ghifari membuka percakapan setelah acara makan selesai.


"Mau.." ucap Al semangat sambil menganggukan kepala.


Tanggapan Al yang diluar perkiraan mereka itu membuat tiga Pria itu menengok kearah Al dengan mata sedikit melebar.


"Gua setuju.." balas Yuan tersenyum.


"Baiklah.." ucap Mikael.


Mereka lalu keluar dari rumah itu bersama menuju laut yang jaraknya dekat.


Angin berhembus sejuk, menerpa tubuh Al. Samar-samar terdengar suara desiran ombak yang mulai terdengar di telinga Al. Tanpa sadar bibir mungilnya mengembangkan senyum melihat air laut berwarna biru itu dari tempatnya saat ini.


"Wahhh udaranya sejuk sekali.." ucap Yuan mengembangkan kedua tangannya.


"Iya.." setuju Ghifari.


Begitu juga Mikael yang nampak rileks. Dia menyukai keadaan pantai yang bersih dan tak terlalu ramai ini.


"Kakak-Kakak, ayo kita jalan-jalan di pesisir pantai.." ajak Al dengan mata berbinar-binar. Dia menunjuk kearah pasir pantai yang basah karna air laut.


Para Pria tersebut nampak diam. Mereka kesini hanya berniat untuk duduk, tapi melihat Wanita didepannya yang mengajak dengan mata berharap. Merekapun mengiyakannya.


"Baiklah.." ucap Yuan.


Melihat tindakan Al tersebut Yuan dan Ghifari mengikutinya kecuali Mikael yang masih mengenakan alasnya.


Mereka lalu berjalan dipesisir pantai. Desiran ombak mengenai Kaki Al membuat gamis bagian bawah Al basah. Tapi dia nampak sangat senang ketika ombak mengenai kakinya.


Setelah cukup lama berjalan. Mereka berhenti di saung-saung. Para Pria tersebut duduk disana kecuali Al yang masih bermain dengan asiknya dengan air pantai.


"Al nampaknya senang sekali.." gumam Yuan memperhatikan Al yang berdiri disana.


"Yuan, besok jadikan kita menyelam?" tanya Ghifari melihat kearah Yuan yang memperhatikan kedepan.


"...ehh..kenapa?" tanya Yuan kembali.


"..Gua nanya, besok kita jadi menyelamkan.." ucapnya kembali.


"Jadilah!" serunya.


###


Mikael terus memperhatikan kedepan, melihat kearah Al yang masih berdiri disana.


Seketika tatapan mereka bertemu, ketika Al membalikkan tubuhnya. Al nampak melambaikan tangan kearah Mikael.


Deg deg deg


Mikael memegang dadanya. "Ada apa denganku?" batinnya bertanya.


Dia mengalihkan matanya dari Al lalu menundukan kepalanya masih sambil memegang dadanya.


Melihat suaminya yang menunduk dengan memegang dada membuat Ak menghampiri Pria itu.


"Kakak kenapa?" tanya Al. Dia merendahkan tubuhnya didepan Mikael, agar dapat melihat wajah suaminya.


Mikael sektika mengangkat kepalanya membuat jarak wajah diantara mereka sangat dekat.


"Kakak sakit?" tanya Wanita itu kembali dengan mata yang menyiratkan ke khawatiran.


"...tidak apa-apa.." jawabnya segera. Mikael kembali menegakkan posisi duduknya.


Tangannya yang memegang dadanya yang masih berdebar ditaruhnya diatas pahanya.


Mendengar jawabannya Al bernafas lega. Dia lantas berdiri lalu duduk disamping Mikael.


"Kakak sendirian saja. Dimana Kakak Yuan dan Kak Ghifari?"


"...mereka sedang membeli minuman.." jawab Mikael. Al menganggukan kepala dengan kakinya digoyangkan.


"Ahhhhhh.." Al mengeluarkan nafasnya panjang.


Suara helaan nafas Al terdengar seperti desahan ditelinganya, membuat Mikael tanpa sadar memikirkan pikiran yang 'Iya iya'.


Mikael menelan dengan paksa slavinanya. Dia lalu mengepalkan tangannya dengan kuku menghadap ke telapak tangan.


Saat ini, dadanya memanas. Lantas Mikael segera berdiri dan pergi.


Melihat Mikael yang pergi, Al segera mengejarnya. Dia tak sengaja menghentikan gerakan Mikael dengan memegang tangannya.


Dengan refleks Mikael menghempaskan tangan Al. Dia memberikan tatapan tajam kearah Wanita didepannya, membuat Wanita itu terdiam.


Mikael kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Al.


Dari arah belakangnya dua pria datang menghampiri saung, tapi disana tak terdapat seorang.


Yuan mendapati Al yang sedang berdiri tak jauh dari saung. Dia dan Ghifari lalu menghampiri Wanita yang berdiri itu.


"Al, ada apa?" tanya Pria itu.


"..." Al menelan slavinanya terlebih dahulu.


Dia membalikkan tubuhnya kearah Pria dibelakangnya. "Tidak apa-apa, Kak.." balasnya.


"Oh ya kamu tau dimana Mikael?" tanya Ghifari, karna dia tak melihat sosok Mikael yang tadi duduk disaung.


"...Kak El tadi pergi.." jawab Al sambil menunjuk kearah Mikael berjalan tadi.


Al melihat kearah keresek yang dipegang Ghifari dan Yuan.


"Kakak beli apa?"


"Oh ini beli bi.." ucap Yuan yang langsung ditutup mulutnya oleh Ghifari.


"Beli minuman SEGAR.." lanjut Ghifari. Yuan menatap tajam kearah Ghifari yang menutup mulutnya. Al yang melihatnya nampak bingung melihat tingkah dua Pria didepannya.


"Oh iya Al, kita mau balik. Kamu mau ikut.." tawar Ghifari.


"Enggak, Al masih mau disini.." jawabnya.


Ghifari lalu mengambil minuman boto dari keresek yang dipegangnya.


"Ini untukmu!" serunya memberikannya pada Al.


"Terimakasih, Kak.." balas Al.


Ghifari lalu menarik Yuan agar ikut menuju arah pulang dengannya.


"Apaan sih lo. Bungkam mulut gua.." kesal Yuan saat jalan pulang.


"Maaf ya, soalnya lo tadi hampir nyebutin minuman yang kita beli tadi.." ucap Ghifari.


"Emangnya kenapa?"


"..ehhh pake nanya. Lo mau bilang ke Al kalo kita baru beli Bir. Lo tau sendiri kalau minuman itu haram baginya.." jelas Ghifari.


"...hehe gua lupa.." cengengesnya.


"Walaupun sebenarnya minuman ini juga haram bagi kita.." lanjut Ghifari yang tak bisa berhenti dari yang namanya alkohol.


Sampainya didepan rumah, Ghifari dan Yuan melihat ada sebuah koper diteras rumah.


Mereka bertanya-tanya koper siapa yang nyasar dihalaman rumah saat ini.


###


Dia tas pasir putih pantai yang basah. Al nampak diam sambil berjongkok. Dia mencoret-coret pasir pantai dengan kayu.


Setiap ombak datang coretannya akan yerhapus membuat Al kembali mengoret-ngoret.


Melihat langit yang mulai gelap Al. Al berniat kembali. Saat akan berdiri kakinya kesemutan membuat dirinya oleng dan jatuh dalam posisi terduduk dipasir pantai yang basah, bertepatan dengan desiran ombak, membuat dia basah kuyup dibagian bawah tubuhnya.


Seorang Pria yang lewat melihat Al terjatuh lantas menghampirinya.


"Tidak apa-apa kan?" tanya Pria itu ramah.


"..tidak apa-apa.." balas Al dengan kepala tertunduk.


"Terimakasih.." ucapnya lalu pergi.


Al berjalan kembali ke rumah dengan pakaian basahnya yang dipenuhi pasir pantai.


Sampai di rumah, Al terlebih dahulu membersihkan pasir yang ada di gamis dan kaos kakinya setelah itu baru dia memeras. Sehabis itu dia baru masuk kedalam rumah. Dia membersihkannya dikeran yang ada diluar rumah.


Di ruang TV. Disana sudah terdapat Mikael, Yuan dan Ghifari yang nampak ngobrol.


Mata Al melihat kearah Mikael yang tak peduli dengan kedatangan Al.


Yuan yang melihat baju Al basah lantas bertanya, membuat langkah Al berhenti.


"Kenapa bajumu basah Al?"


"...ini tadi kena ombak.." jawabnya dengan kepala tertunduk. Al kemudian melanjutkan lagi langkahnya ke kamar.


Dikamar Al segera menuju ke kamar mandi. Saat pintu di buka, dia tak menyangka jika air kamar mandinya yang sejak siang tergenang. Masih tergenang dengan jumlah yang sama.


Jika dia mandi maka airnya bisa mencapai kedalam kamar.


Al mengurungkan niatnya. Dia pergi mengambil baju bersihnya dan juga peralatan mandi lalu keluar kamarnya menuju kamar mandi yang ada didalam rumah yang ada disamping kamarnya.


Saat memasuki kamar mandi, Al baru sadar jika didalam hanya hanya toilet duduk saja. Tidak ada keran sama sekali.


Al kembali keluar, dia berjalan kearah para Pria itu yang masih duduk di ruang TV.


"..Kak.."panggil Al pelan.


Ghifari yang mendengar suara pelan Al lantas menengok kearahnya.


"Kenapa Al?"


"...Al boleh numpang mandi dikamar Kak Ghifari?" tanya Al.


"..memangnya kenapa dengan kamar mandimu?" tanya Yuan.


"Air dikamar mandi mengambang, Kak. Sepertinya saluran air tersumbat.." jawab Al.


Yuan dan Ghifari membulatkan bibirnya. "Boleh saja, tapi teman Kakak juga sedang mandi.." balas Ghifari.


"Bagaiman kalau kamu mandi di kamar mandi..." Yuan melirik kearah Mikael yang nampak tak peduli dengan percakapan tersebut.


Yuan menghentikan ucapannya. "...tidak apa-apakan menunggu.." lanjutnya tak enak.


"Iya Kak," balas Al.


"Mungkin besok kamar mandi baru dibetulkan, tidak apa-apa kan.." ucap Yuan kembali.


"Iya Kak.." balas Al kembali. Dia lali pamit kembali ke kamarnya.


Yuan melihat kearah Mikael yang wajahnya nampak bete sejak pulang tadi. Ditanyapun dia tak berkata apa-apa.


Yuan yang melihat Mikael berdiri lantas bertanya. "Mau kemana?"


"Kamar.." jawabnya singkat.


Yuan mengelus dadanya menanggapi sikap Mikael yang membuatnya esmosi.


###


Didepan kamarnya Mikael menghentikan langkahnya. Dia berjalan kearah seberang kamarnya lalu membuka pintu kamarnya yang tak di kunci.


Didapatinya pemilik kamar yang melihat kearah pintu yang terbuka.


Mikael melihat Al yang masih memegang pakaian dan peralatan mandinya.


"Mandilah ke kamar!" serunya lalu menutup pintunya kembali.


Al masih nampak diam terpaku, dia mengembangkan senyum melihat suaminya yang sikapnya tak sedingin tadi.


Dia lalu keluar dari kamarnya menuju kamar didepannya, yang pintunya sudah terbuka.


Al melihat bagian bawah gamisnya yang kotor dan basah. Dia lantas berhenti tepat didepan pintu kamar Mikael.


"Kenapa?" tanya Mikael melihat Al berhenti didepan pintu.


"Baju Al kotor!" serunya melihat bagian bawah bajunya.


"Tidak apa-apa, nanti lantainya bisa dibersihkan.." ucapnya.


Mendengarnya Al lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar. Dia lalu menuju kamar mandi yang pintunya telah dibuka Mikael.


Selama Al mandi, Mikael merebahkan tubuhnya di kasur. Lagi-lagi pikirannya menjadi liyar ketika mendengar suara shower yang menyala.


Dia segera beranjak menuju jendela kamarnya lalu membukanya.


Mikael benar-benar merasa bingung dengan dirinya. Entah mengapa sejak kejadian malam itu dadanya berdebar.


Apalagi saat suara shower terdengar tadi. Terbesit dipikirannya tubuh Al yang tanpa busana


Padahal Mikael bukanlah tipikal Pria mesum yang suka membayangkan yang iya-iya pada lawan jenisnya. Dia dikenal tipikal orang yang sebodo teing pada lawan jenis se seksi apapun pakaiannya. Tapi khusus satu Wanita ini pikirannya menjadi liar, seperti sosok asli Prianya keluar.


'cklek' suara pintu kamar mandi.


Al melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi. Didapatinya sosok suaminya yang menghadap jendela.


Al melangkah, menghampiri Pria itu. "Kak, makasih ya.." ucapnya.


"Hemmm.." gumam Mikael.


Mendapati suaminya masih memunggunginya Al merasa suaminya masih marah padanya.


"...maaf.." ucapnya.


"Maaf kalau Al punya salah sama Kakak dan maaf juga karna tadi Al memegang tangan Kak El.." lanjutnya.


Setelah mengucapkannya, Al lantas membalikkan tubuhnya, menuju kearah pintu.


###


Yuan berjalan ke kamarnya. Dia melihat Pria yang tadi mandi telah keluar.


"Ben, lo keluar gih. Soalnya ada yang mau make kamar mandi kamar ini.."


"Kalau mau pake kamar mandi. Apa hubungannya sama gua yang harus keluar kamar?"


"Hubungannya, karna yang make Prempuan, terus Prempuan ini berkerudung panjang. Mana mau masuk kamar yang ada Pria tanpa baju seperti lo.." ucap Yuan.


Pria itu lalu melihat dirinya yang tanpa pakaian dan hanya mengenakan haduk. "Hahaha iya, gua pake baju dulu.." ucapnya.


Yuan keluar kamarnya kembali, menuju kemar Al. Dia mengetuk kamar itu, tapi tak ada jawaban. Begitu juga setelah beberapa kali mengetuk kembali.


Saat akan membalikkan badan, pintu kamar Mikael terbuka. Menampilkan sosok Prempuan berkeruding panjang dengan wajah yang terpapang jelas.


Yuan terdiam menatap sosok Wanita didepannya, yang dikenalnya.


"Kak Yuan.." Al menganggukan kepala kearah Yuan.


"...Al, jadi kamu istrinya Mikael.." ucap Yuan kaget.


Mendengar ucapan Yuan, Al lalu memegang wajahnya yang tak tertutup kain.


Al tersenyum tipis kearah Yuan. "Kak, Al ke kamar ya.." pamitnya lalu pergi ke kamar sebrang.


Yuan meliat kearah Mikael yang nampak berdiri dengan wajah santai.


Yuan segera mengalihkan matanya lalu pergi dari depan pintu kamar Mikael.


Dalam hatinya dia tak menyangka, jika Al adalah Ufa istrinya Mikael.


Makasih sudah baca.


Jangan lupa tinggalkan tanda dan commen berkaitan dengan cerita.


Salam hangat SMIM