Friends After Marriage

Friends After Marriage
Kebenaran



Happy Reading!!!


'Tik tik tik'


Jarum pendek sudah menunjukan pukul sepuluh siang, tetapi orang yang ditunggu tak kunjung datang.


Ini sudah yang ke dua puluh tujuh kalinya Al mengalihkan mata dari bukunya ke luar jendela.


Dia sedang menunggu kehadiran suaminya yang tak kunjung datang. Padahal ini sudah hampir satu jam dirinya menunggu.


"Kakak kemana ya?" batinnya.


"Apa sesuatu terja.." gumamnya yang langsung beristigfar.


"Astagfirullah Al, berfikir positif. Mungkin saja Kak El lagi bercengkrama dengan Kakek.." ucapnya menenangkan diri sendiri.


"..tapi.."lanjutnya yang lantas memilih mencabut kunci mobil lalu keluar yang kemudian menguncinya mobil itu kembali.


Dia lalu berjalan kearah gedung tempat dimana Pak Ibnu di rawat.


Sampainya dilantai yang dituju, dia lalu berjalan kearah kamar Pak Ibnu.


Didalam hati Al berharap suaminya memang sedang bercengrama dengan Kakeknya.


Saat didepan pintu kamar 224, Al berhenti. Dia mengintip kearah kaca yang ada di pintu. Tapi dari sana dia tak melihat sosok suaminya. Yang dilihatnya hanya bagian kaki Pria yang diatas ranjang.


'Cklek'


Dibukanyalah pelan pintu tersebut.


"Assalamu'alaikum Kakek," salamnya lalu segera masuk kedalam kemudian berjalan pelan kearah ranjang.


"Apa Kak El ada?" ucapnya pelan takutnya mengganggu Pria tua itu.


"..Al, bisa kamu tunggu diluar.." ucap serak suara yang dikenalnya.


"..iya Kak.." balas Al yang lalu kembali jalan kearah pintu lalu menutupjan dari luar.


Didepan Al kembali menunggu, dia bernafas lega mendengar suara suaminya tadi.


Disenderkan tubuhnya ke dinding sambil menatap kelantai.


"..kenapa aku merasa suara Kak El terdengar seperti baru menangis ya.." batinnya. Dia lalu kembali melantunkan sholawat.


Tak lama, pintu kamar 224 terbuka. Pintu tersebut dibuka oleh Suaminya Mikael yang sedang menelpon seseorang.


Al lantas kembali masuk kedalam ruangan tersebut. Yang lalu melihat Pria tua itu yang sedang tersenyum kearahnya.


"Kemari!" pintanya. Al segera menghampiri Pria itu.


"Kamu pasti menunggu sejak tadi.." kata Pria tua itu yang disenyumi Al sambil menggelengkan kepala pelan.


"Biasa, Mikael sama Kakek bercerita terlebih dahulu.." ucapnya. Al menganggukan kepala paham.


Mikael yang selesai teleponan lalu berjalan kembali kedalam kamar Pak Ibnu.


"Kakek, sebentar lagi Pak Umar datang. Mikael pamit ya.." ucap Pria itu.


"..iya.." balas Pak Usman dengan tersenyum.


Pria gondrong itu lalu menghampiri Pak Ibnu kemudian menyalaminya.


"Mikael, jangan lupa pesan Kakek ya.." kata Pria tua itu mengingatkan.


"..Kakek juga jangan lupa jaga kesehatan.." balasnya.


Selesai mengalimi Pak Ibnu Mikael lalu mengarahkan matanya kearah Al.


Mendapat tatapan suaminya Al memberikan senyum, tidak dengan suaminya yang membalas dengan acuhan.


"Ayo pulang!" ajaknya yang lalu jalan kearah pintu.


"Al pamit ya Kek. Assalamu'alaikum.." pamitnya lalu melambaikan tangan pada Pria tua itu.


"Wa'alaikumsalam.." balas Pria tua itu.


Al lantas segera mengikuti langkah kaki suaminya yang lebar. Dia tak bisa mengimbanginya karna tubuh suaminya yang jauh lebih tinggi darinya.


"Kak El.." panggil Al. Tetapi Pria itu terus melangkahkan kakinya tanpa menengok kearah Wanita itu sampai akhirnya dia berhenti didepan lift.


Al menatap bingung kearah wajah suaminya. Dia tak bisa mengespresikan perasaan dari suaminya saat ini berwajah tenang.


"Kak El, kenapa?" tanya Al pelan menatap kearah suaminya.


Pria itu hanya melirik Al sekilas lalu kembali melihat kearah depan.


Walau wajahnya, Saat ini terlihat tenang. Sebenarnya dadanya terasa sangat sesak, karna dalam sehari dia mendapat dua kebenaran yang tak disangkanya.


Dalam sehari juga dia mengetahui orang yang sangat dipercayanya ternyata membohonginya.


Selama perjalanan pulang ke rumah dia fokus memegang setirnya dan tak mengeluarkan suara sama sekali. Dia hanya diam sambil Sesekali dia menyadari, Wanita disebelahnya bertanya tetapi selalu dihiraukannya.


###


"Mama mau kemana?" tanya seorang anak lelaki tampan.


"Kenapa Mama membawa tas besar?" tanyanya kembali sambil mengikuti langkah Wanita itu yang berjalan keluar rumah.


"..apa mama mau pergi meninggalkan El dan Ayah?" kejarnya memegang baju Wanita itu.


Wanita tanpa kerudung itu, segera melepaskan tangan anaknya dari bajunya lalu berbalik melihat kearah anak kecil berumur dua belas tahun tersebut.


"Mama mohon, berhenti!" ucapnya keras yang menghentikan langkah anak lelaki itu.


"Berbalik dan kembalilah ke Ayah dan Kakek!" perintahnya yang mendorong anak lelaki itu sampai terduduk dilantai kayu.


Pria tua yang juga berada diruang tamu lantas menghampiri anak kecil itu lalu membantunya berdiri.


"Ela!" sentak suara Pria tua.


"Bagaimana kamu bisa bersikap kasar pada anakmu sendiri!" marahnya menatap kearah Wanita yang wajahnya mulai meneteskan air mata.


Wanita itu tak berkata apa-apa, dia hanya kembali mengangkat tasnya lalu melangkah keluar pintu.


Anak kecil yang ingin mengejar Wanita itu ditahan oleh Pria tua itu dengan kedua tangannya.


"Mama, jangan pergi! El sayang Mama. El mohon jangan pergi!" raungnya menatap kearah Wanita itu yang mulai terhalang oleh pintu.


'Tek'


Mikael terbangun dari tidurnya, matanya nampak merah dengan keringat yang berkucuran dari pori-pori tubuhnya, membuat pakaian yang dikenakannya basah.


Diletakkan tangan kanannya diatas pelipisnya dengan mata menatap langit-langit.


"Kenapa aku harus mengingatnya kembali!" gumamnya pelan.


Diarahkan matanya kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua siang.


"..sejak kapan aku ketiduran?" tanya dalam hati.


Didudukannya tubuhnya lalu beranjak dari ranjang kearah pintu kamar.


Dibukanya pintu itu lalu diarahkan kakinya kearah dapur untuk mengambil minum.


'Glek glek glek'


Dalam hitungan detik, Pria itu menghabiskan minumnya yang berukuran sedang.


"Tuan Mikael, selamat siang.." sapa suara Pria yang tiba-tiba munculnya dari belakangnya.


Mikael nampak kaget dengan suara yang tiba-tiba muncul itu. Dia lalu meletakkan gelas digenggaman kemudian berbalik.


Mengetahui siapa yang datang, Pria itu tersenyum tipis. "..selamat siang, Pak.." balasnya.


"Tuan sudah makan siang? Ini saya bawakan titipan Nyonya Al.." beritahunya menunjukan makanan yang sedang ditatanya diatas piring terakhir.


Mikael mengarahkan matanya kearah piring yang berisi makanan kesukaannya. Lalu dia kembali menatap kearah Pak Usman.


"..Pak, mari duduk!" ajaknya kearah ruang tamu. Pria setengah baya itu menganggukan kepala dengan tanda tanya dikepalanya.


Di ruang TV


Mereka bersama duduk di ruang TV. Mikael menyenderkan tubuhnya diatas sofa sedang Pak Usman duduk dengan tubuh tegak menatap Pria didepannya.


Bapak berumur setengah baya itu nampak bingung dengan sikap Tuannya yang berubah, sejak pulang dari tempat Kakeknya. Pria tampan itu seperti menghindar dirinya dan orang-orang di rumah.


"..Tuan.." ucapnya yang terpotong.


"..apa Bapak masih ingat, hal yang paling saya tidak sukai.." ucapnya yang lalu mengarahkan matanya ke Pria didepannya.


Pak Usman nampak diam, dia memperhatikan wajah Tuannya yang terlihat kecewa.


"..jangan-jangan, Tuan sudah mengetahuinya.." batinnya karna ini pertama kalinya dia melihat wajah kecewa Pria muda tersebut.


"..apa jangan-jangan..Bapak sudah lupa.." lanjutnya.


"Tidak Tuan," balasnya segera.


"Saya sangat ingat, bila Tuan tidak suka dibohongi.." jawabnya kemudian.


Tak lama Mikael menyunggingkan senyum. Pak Usman nampak terpaku melihatnya senyum kekecewaan itu.


"Kalau begitu, apa Pak Usman ingin mengatakan sesuatu kepada saya?"


Mendengar perkataan itu, Pak Usman percaya bahwa Tuanya sudah mengetahui kebenarannya.


"..maaf..Tuan.." balasnya yang lalu menundukan.


###


Flashback on


"Sepertinya, rencana Tuan menikahkan Tuan Mikael dan Nona Al tepat!" seru Pak Umar.


Pria tua didepannya menyunggingkan senyum senang.


"..iya, saya juga merasa demikian.." balas Pak Ibnu.


Ditariknya nafas dalam lalu meng hembuskannya. "..aku senang, akhirnya rencanaku berhasil.." lanjutnya.


Tiba-tiba dari arah pintu muncul, hal yang tak disangkanya.


"Maksud, Kakek apa?" tanya Pria itu dengan wajah kaget.


Kedua Pria yang sedang duduk itu nampak kaget dengan kemunculan orang yang menjadi topik pembicaraan.


Melihat wajah cucunya yang meminta penjelasan membuat Pria tua itu tersenyum.


"..sepertinya sudah saatnya, Pak.." ucapnya pada Pak Ibnu.


Pak Umar paham perkataan Tuan besar lantas dia segera pamit dari kamar itu.


Tersisalah Cucu dan Kakek tersebut.


"..jadi, apa yang ingin kamu ketahui Cucuku, El.." ucap Pria tua itu dengan senyum elegan.


"..apa maksud perkataan Kakek tadi dan rencana yang Kakek ucapkan?" tanyanya. Dia menatap wajah Kakeknya yang terlihat santai.


"Seperti yang kamu dengar, Kakek yang merencanakan pernikahan kamu dengan Al.." jawabnya.


Mendengar ucapan Kakeknya, bukan malah menjawab pertanyaan melainkan menimbulkan pertanyaan baru. "..maksud Kakek?" tanyanya tak paham.


Pria tua itu mengangkat kedua alisnya.


"Kenapa kamu bertanya kembali? bukankah tadi kamu mendengar pembicaraan Kakek dengan Pak Umar?" tanya kembali Pria tua itu.


Tampak jelas wajah Mikael yang tambah bingung.


"..El memang mendengar pembicaraan Kakek dengan Pak Umar, tapi El hanya mendengar bagian Pak Umar yang mengatakan bahwa diriku menyukai Al dan perkataan Kakek sesuai rencana.." jelasnya.


Pria tua itu terdiam sejenak. Nampak jelas dirinya ternyata salah paham, dia fikir Cucunya mendengar pembicaraannya dari awal.


"..jadi, maksud perkataan Kakek tadi apa?" tanyanya kembali meminta jawaban.


Pria tua itu menghembuskan nafas, kalau sudah seperti ini. Dia harus menceritakannya serinci mungkin.


"..sebelum Kakek menjelaskannya. Kakek ingin bertanya padamu.." ucapnya.


"Apa kamu tak merasa aneh, pada Kakek yang biasanya selalu bertanya kapan dirimu menikah, kemudian perkataan itu tak pernah Kakek ucap kembali!" seru Pria tua itu.


Mikael terdiam, dia tersadar akan perkataan Kakeknya. Dia fikir Kakeknya bosan selalu berkata itu dan akhirnya menyerah. Ternyata...


"..melihat ekspresimu, sepertinya kamu baru sadar.." katanya. Pak Ibnu lalu menaikkan bagian atas tempat tidur agar tubuhnya duduk.


"..lalu apa hubungannya dengan rencana Kakek dengan pernikahanku dan Al?"


"Hubungannya! Tentu ada! Karna kamu tak kunjung mencari Wanita untuk kamu nikahi, jadi Kakek menggantikanmu mencarikannya.." jawabnya.


"Setelah, Kakek menemukan Wanitanya. Tentu kamu tak akan semudah itu untuk mau menikahinya.." ucapnya.


"Oleh karna itu...Kakek menyebarkan rumor palsu tentangmu.." jelasnya.


"..." Mikael seketika tercengang. Dia paham maksud rumor yang diucapkan Kakeknya. Yaitu rumor yang tiba-tiba muncul dan menyebar diperusahaan dengan cepat.


"..jangan-jangan, Pak Usman juga terlibat!" tebaknya. Pria tua itu menganggukan kepala mengiyakan.


Mikael menggertakkan giginya, dia tak menyangka orang yang menjadi kepercayaannya, ternyata membohonginya.


Pantas, rumor tersebut bisa menyebarkan dengan sangat cepat. Ditambah orangnya tak kunjung ketahuan, karna yang menyebarkan adalah Pak Usman. Ditambah, dirinya sama sekali tak curiga dengan solusi menikah yang Pria itu berikan.


"..Al!" gumamnya teringat dengan istrinya.


"Apa Al juga masuk kedalam rencana ini?" tanyanya kemudian.


Pak Ibnu menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia sama sekali tak terlibat.."


Mendengar itu Mikael sedikit bernafas lega.


"Ini murni rencana Kakek, yang mengetahuinya hanya Pak Umar dan Pak Usman.." beritahunya.


"Al hanya Wanita yang memang ingin Kakek nikahkan denganmu, tanpa tau rencana ini.." lanjutnya.


"Jika dia tau, tentu dia akan sangat menolak untuk menikah denganmu.." tambah Pria tua itu.


"..jadi Kakek juga membohongi Al.." ucap Mikael menatap mata sayu Pak Ibnu.


Pria itu kembali mengganggukan kepala. "..iya, seperti itulah.." balasnya.


"..terus bagaimana dirinya setuju menikah denganku? Apa Kakek mengimi-ngiminginya uang?" tanya Mikael.


Pak Ibnu menggelengkan kepala mendengar ucapan cucunya.


"..kamu jangan beranggapan semua Wanita mata duitan. Al tidak seperti itu.." balas Pria tua itu.


"Kakek mengatakan, bahwa Cucu semata wayang Kakek sedang mencari calon istri, tapi dia tak berpengalaman pada Wanita yang membuatnya selalu berwajah dingin.." ucapnya.


"Mendengar itu Al langsung setuju?"


"Tentu tidak, awalnya dia langsung tak setuju menikah denganmu, tapi setelah Kakek menceritakan prihal dirimu yang tak bisa akrab dengan Wanita karna alasan tertentu. Tak lama Dirinya berfikir-fikir yang kemudian menyetujuinya, walaupun..ada sedikit bujukan dari Kakek.." jelasnya.


"..berarti dia sudah tau alasanku membenci Wanita?"


"Tentu tidak, karna Kakek belum menjelaskan alasannya. Kakek ingin kamu yang menjelaskan alasanmu sendiri pada Al.." balasnya.


Mikael kembali terdiam dia nampak berfikir dengan kepala tertunduk. Tak lama dia mengangkat kepalanya menatap Pak tua itu. "Bagaimana jika aku memberitahu Al, bahwa sebenarnya pernikahan ini bukan karna aku menginginkannya, tapi karna suatu alasan?" tanya Mikael. Dia penasaran akan jawaban yang diberikan Kakeknya.


Pria tua itu nampak memperlihatkan wajah biasa saja mendengarnya. "Mungkin, kalau kamu memberitahunya, itu tak akan berpengaruh apa-apa.." menurutnya.


"Contohnya saja, sampai sekarang dia masih bertahan pada Pria sepertimu yang dingin serta tak mengakui istrinya didepan Kakeknya sendiri.." ucapnya.


"..malahan Kakek salut dengan dirinya yang bisa mengambil hatimu.." lanjutnya dengan senyum bangga.


"Kakek, juga sudah tau kalau dirimu sudah menyadari kalau sebenarnya kamu sudah mencintai istrimu. Terlihat jelas dari perubahanmu saat berbicara dengannya yang kadang terdengar manja.." cekikikan Pria tua itu.


Mikael kembali terdiam, dia tak bisa berkata apa-apa. Dia membenarkan perkataan Kakeknya prihal Al yang memang malah berhasil mendapatkan hatinya.


Awalnya dia akan menikah dalam jangka waktu setahun, tapi membayangkan dirinya tak melihat istrinya membuat dadanya sesak.


"Kakek, bosan dengan sikap manjamu, sekarang saatnya kamu bermanja-manja pada istrimu.." ucapnya tersenyum jahil.


"..lalu, apa tujuan Kakek menikahkanku?"


Pria tua itu mengerutkan dahinya. "Maksudmu apa El? Apa perlu alasan ingin melihat cucunya menikah.." Mikael menganggukan kepala yang artinya perlu.


Pak Ibnu terdiam dia menelan slavinanya lalu mengembangkan senyum.. "...karna Kakek menginginkan Cicit darimu.." jawabnya.


Mikael memperhatikan wajah Kakeknya yang sedikit melihatkan kesedihan.


"..oleh karna itu, maafkan Kakek.." ucapnya.


Mikael menghembuskan nafas panjang, dia tak bisa marah pada Pria tua didepannya yang mengurusinya sejak kecil.


Mikael yang mengalihkan matanya sejenak. Saat mengembalikan arah matanya, dia melihat Pria tua itu memegang dada bagian kirinya.


"..dada Kakek sakit?"


Pria itu memberikan senyum palsunya. "..iya hanya sedikit sesak.." jawabnya.


Pria berambut gondrong itu memperhatikan wajah Kakeknya. Walaupun sebenarnya dia kaget dan juga kecewa, tapi dia senanh akhirnya satu kebohongan sudah terpecahkan, tapi sayangnya masih ada satu kebohongan lagi yang membuat Pria bertanda tanya.


Mikael lalu menyingkap selimut bagian bawah Kakeknya lalu memperhatikan kaki Pria itu yang sudah tak besar lagi.


"..sampai sekarang aku masih penasaran prihal kaki Kakek yang awalnya nampak bengkak dan sekarang jadi sudah lumayan mengecil.." ucapnya menatap kearah Kakeknya.


Pak Ibnu membalas tatapan cucunya dengan bibir tersenyum.


Flashback Off


Cerita dari Pak Usman, persis seperti yang dikatakan Kakeknya. Membuat Mikael percaya bahwa memang tak ada kebohongan. Dia juga melihat wajah Pak Usman yang tak ada kegugupan saat cerita.


"Saya benar-benar minta maaf, Tuan! Saya tak masalah jika Tuan memang ingin memecat saya.." ucapnya dengan mata sedih.


"Tenang saja, saya tak akan memecat Pak Usman.." balasnya.


"Lagipula, Bapak pasti memiliki alasan untuk melakukannya.." tambahnya dengan senyum tipis menyungging.


Pria itu kembali mengangkat kepalanya yang tertunduk. Dia menatap mata Tuannya yang seperti mengetahui alasannya.


"..Tuan, sudah mengetahuinya.." ucapnya gugup. Pria didepannya menganggukan kepala.


Pria setengah baya itu tak mendapati kemarahan diwajah Tuannya. Melainkan pria itu berwajah biasa saja. Malahan dia malah tersenyum.


"..apa Tuan tidak marah?"


"..tentu saya marah," balasnya.


"Selama beberapa hari ini, saya berfikir bahwa itu bukanlah kesalah Pak Usman, karna Bapak hanya mengikuti permintaan Kakek.." ucapnya.


"..tapi, yang masih ada yang mengganjel. Saya faham Bapak menutupi tentang penyakit Kakek, tetapi mengapa saat dirinya masuk rumah sakit Pak Usman tak mengatakannya pada saya?" lanjutnya. Kini mimik wajah Mikael mulai serius.


Pak Usman kembali diam. Dia tak bisa berkata. Selama ini Dirinya memang mengetahui prihal Pak Ibnu yang sakit dan beberapa kali masuk rumah sakit, tapi dia sudah berjanji pada Pria tua itu untuk tak mengatakannya pada Mikael.


"..maaf Tuan, saya hanya mengikuti permintaan Pak Ibnu.." jawabnya.


Mikael memperhatikan wajah penyesalan Bapak setengaj baya didepannya.


Lantas Pria gondrong itu menghembuskan nafas panjang.


Terimakasih sudah membaca,


Jangan lupa tinggalkan tanda.


See you