
Amarah
Happy Reading!!!
Di dalam mobilnya, tampak Mikael sedang mengepalkan kedua tangannya dengan kencang. Dia mengingat kembali, kejadian beberapa menit yang lalu. Kepalan tangannya seketika semakin kerat mengingat kejadian itu.
Saat ini Mikael benar-benar tak menyangka, jika Wanita yang menyelamatkan Pak Kusno adalah Al istrinya. Dalam hatinya, Mikael bertanya-tanya. Kenapa dari sekian banyak Wanita bercadar, yang memberikan pertolongan pertama adalah Wanita itu? Kenapa tidak benar-benar teman sekretarisnya atau orang luar yang kebetulan masuk ke perusahaannya karena suatu kepentingan (walaupun itu tidak mungkin)?
'Buk' Mikael memukul kencang stir mobilnya. Dia menggeram menautkan gigi atas dan bawahnya dengan kencang.
Emosinya meningkat ketika mengingat kembali keinginan Wanita itu. Selama ini Mikael tidak pernah berfikir ataupun membayangkan akan berteman dengan yang namanya Wanita. Untuk berdekatan saja Mikael tidak suka apalagi menjadi temannya.
Selama 28 tahun ini saja, temannya dapat di hitung dengan tangan. Sedangkan yang benar-benar menjadi temannya dapat di hitung dengan jari. Kenapa dapat dihitung dengan jari? Karna mereka yang benar-benar berteman dengan Mikael, tidak memandang status Mikael pada kala itu dan mereka menerima sikap dingin Mikael yang diberikan pada mereka. Sedangkan teman yang lainnya hanya datang di saat mereka membutuhkan Mikael, yaitu ketika Mikael sudah kaya.
Selama ini Mikael selalu menjauhi sosok Wanita, yang baginya bermuka banyak. Kenapa Mikael berfikiran seperti itu? Karna ketika Mikael orang kismin mereka menjauhi Mikael. Sedangkan ketika dia sudah memiliki banyak pundi-pundi mereka berbondong-bondong mendekatinya dengan dandanan menor dengan pakaian kekurangan bahan di tambah parfum pekat yang membuat penciuman Mikael sakit. Mereka semua menggoda Mikael tidak ada habisnya.
Mikael meraih HPnya dari kantung jasnya lalu menelpon seseorang. Seseorang yang menjadi tempat pelampiasannya sejak 3 tahun yang lalu.
Setelah dring ke tiga. Orang tersebut mengangkat panggilan Mikael.
Tanpa menunggu penerima telpon berkata, Mikael sudah mengatakan tujuannya menelpon. "Sekarang lo ke apartment gua! Alamatnya udah gua kirim ke HP lo!" perintah Mikael. Seperti biasa dengan egonya dia mematikan telpon tanpa menunggu jawaban dari sebrang telpon.
Dia lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju Mension Nya yang letaknya lumayan jauh dari tempatnya saat ini.
###
10 menit setelah Mikael sampai orang tadi yang di telpon Mikael akhirnya sampai di Mension Nya.
Pria bercelana potongan selutut dengan pakaian tanpa lengan, menatap Mikael tajam. "Kebiasaan bangat lo, manggil gua seenak jidat lo! Lo tau, tadi gua lagi nemenin pengunjung. Belum gua sempat ngomong lo udah matiin HP. Pokoknya lo harus bayar gua mahal, malam ini.." ungkap Pria berotot itu dengan emosi.
Pria besar itu yang awalnya tak memperhatikan wajah Mikael mulai memperhatikan seksama wajah Mikael yang mimiknya tampak terlihat berbeda.
"Lo kenapa? Gak biasanya muka lo kayak gini?" ucap Pria itu mendekati Mikael yang duduk di sofa besar berwarna hitamnya.
"Kayaknya pas lo nikah. Muka lo gak sekesal ini?" tambah Pria kekar itu.
Mikael mendengar perkataan pernikahan membuat dadanya memanas, dia lalu membalas pandangan Pria didepannya dengan tajam. Seketika tubuh pria kekar itu merinding.
"Mati gua! Abis deh gua malam ini.." batin Pria kekar itu.
Mikael lantas beranjak dari tempatnya lalu menuju keruangan yang merupakan tempat untuk menghabiskan malam dengan Pria kekar itu yang tak lain adalah Beni.
###
Ekspresi wajah Mikael pagi ini seperti biasanya, berwajah dingin dan santai. Mikael terlihat keluar dari dalam kamarnya. Dia sudah mengenakan setelan jas kerjanya dengan rapi. Dia membuka kamar sebelah yang terdapat Beni yang masih tertidur dengan pulas nya.
Mikael menutup kembali pintu kamar itu pelan. Dia lalu menuju kearah dapur yang sudah terdapat Pak Usman yang sedang menyiapkan sarapan dan kopi yang telah dipesannya
Tadi saat bangun pagi, Mikael menelpon Pak Usman untuk datang ke Mension nya untuk mengantarnya kerja karena semalaman dia merasa lelah melakukan aktivitas. Dia juga memberikan pesan kalau Pak Usman juga membuat sarapan pagi.
Aroma masakan Pak Usman memenuhi ruangan tersebut. Masakan yang baru saja selesai dia masak di tuangkan keatas piring datar putih yang diambilnya dari rak.
"Tuan, silahkan sarapannya!" Pak Usman meletakkan piring itu dan juga segelas kopi didepan Mikael.
Mikael menyipitkan mata mendapati Pak Usman yang memberikannya sepiring makanan.
"Apa Bapak lupa, kalau saya tidak sarapan saat pagi hari?"
Pak Usman dibuat bingung mendengar perkataan Mikael.
"Tetapi, tadi Tuan meminta saya menyiapkan sarapan.." ucap Pak Usman sopan.
"Sarapan yang saya maksud adalah untuk Beni!" jelas Mikael datar.
Mikael mulai menyesap kopi buatan Pak Usman. Sedang Pak Usman mencuci bekas peralatan yang kotor setelah memasak.
"Pak Usman.." panggil Mikael yang tak melihat kearah Pak Usman. Pak Usman segera melap tangannya yang basah ke taplak yang ada di meja mencuci piring.
"Iya Tuan.." balasnya menundukkan kepala.
"Kamu bisa jelaskan sekarang, kenapa wanita itu bisa di perusahaanku?" tanya Mikael dengan santai. Dia menyesap kopi panasnya perlahan.
Pak Usman mengangkat wajahnya melihat kearah Mikael. Sejak awal Pak Usman sudah mengira jika Mikael pasti akan bertanya perihal Al yang ada di perusahaannya.
Dari awal sampai akhir, Pak Usman menceritakan semuanya.
Mikael kaget mendengar cerita Pak Usman yang mengizinkan Al untuk ke perusahaannya. Saat ini Mikael merasa kesal saat mengetahui kebenarannya.
"Mulai besok, jika Pak Usman ingin mengajak wanita itu. Bapak terlebih dahulu meminta izin pada saya. Paham!" Mikael menatap tajam kearah Pak Usman. Pak Usman menundukkan kepalanya perlahan. Dia seperti merasakan tekanan dari tatapan peringatan dari Mikael.
"Saya paham Pak!" balas Pak Usman.
Dari arah belakang Mikael terdengar suara nguap yang lumayan kencang. Tanpa menengok ke belakang Mikael bisa menebak siapa sosok tersebut. Lain hal dengan Pak Usman yang penasaran dan ingin mengetahui sosok tersebut.
"Tuan Beni!" seru Pak Usman kaget. Beni membalas dengan anggukan kepala, dia masih terlihat mengantuk karena masih terlihat menguap saat menghampiri Mikael di meja layaknya Bar.
"Pak Usman, saya juga mau segelas kopi ya.." pinta Beni yang sedang mengucek matanya.
"Baik tuan.." Pak Usman segera membuatkan kopi. Selesai membuatnya Pak Usman memberikannya pada Beni. Dilihatnya tubuh Beni yang terdapat beberapa bekas atas tanda.
"Apa Tuan melakukannya lagi semalam!" batin Pak Usman melihat tanda di tubuh maupun wajah Beni.
Selesai Mikael menghabiskan secangkir kopinya dia beranjak dari tempatnya lalu mengambil tasnya dari dalam kamarnya.
"Pak Usman, saya akan menunggu Bapak di lobi!"perintah Mikael. Pak Usman mengangguk-anggukkan kepala lalu pamit pada Mikael dan juga Beni. Dia kemudian keluar dari dalam kamar Mension nya Mikael untuk mengambil mobil yang ada di parkiran bawah tanah.
Mikael mengalihkan pandangannya kearah Beni yang sedang menyantap nasi goreng buatan Pak Usman. "Gua udah ngirim uangnya ke rekening lo!" ucap Mikael menatap datar kearah Beni. Beni hanya berderm tanpa melihat kearah Mikael.
"Maaf karena gua sangat kasar tadi malam!" seru Mikael lalu segera pergi meninggalkan Beni yang masih mengisi tenaganya yang telah terkuras.
Beni terkekeh mendengar perkataan maaf Mikael. "Bisa juga dia minta maaf!"
Kekehan Beni terhenti saat mengingat sikap kasar Mikael. "Tapi apa penyebabnya dia bisa semarah itu?" gumam Beni memikirkan alasan Mikael.
###
Ela sejak tadi pagi tak henti-hentinya menyunggingkan senyum, karena tampak jelas dari matanya yang berbinar-binar. Walaupun sifat aslinya Al adalah orang yang sangat murah senyum dan ramah. Tetapi ada alasan khusus yang membuatnya sebahagia ini. Ya tentu kalian pasti tau!
"Al, dari pagi kamu senang bangat!" seru sahabat baiknya Oktavia, yang saat ini sama-sama mendapat shif pagi.
Al membalas tatapan sahabatnya dengan kekehan yang tentu tak dapat di pahami oleh Temannya itu.
Oktavia mengerutkan dahi melihat sahabatnya ini. "Ditanya malah cengengesan. Neng itu bukan jawaban.." dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Al. Oktavia kemudian tersenyum simple. "Setidaknya ini lebih baik! Dari pada melihat dirimu yang sedih tetapi tetap tertawa.." gumamnya dalam hati. Mengingat sosok tegar Al yang tak pernah menampakkan sosok lemahnya.
Selesai obrolan yang singkat. Mereka kembali bekerja. Melayani pasien yang datang silih berganti.
Al yang mendapat waktu istirahat lebih dulu. Meninggalkan tempat kerjanya yang ada di depan komputer. Dia seperti biasa sholat terlebih dahulu baru menyantap makanannya. Usai itu dia bergantian dengan Oktavia yang tadi berjaga ditempatnya.
Selesai shiftnya Al dan juga orang-orang yang mendapat shift sejak pagi mulai pulang.
"Al mampir yuk, ke kosan!" ajak Oktavia saat mereka sudah didepan bangunan tempat mereka bekerja.
"Enggak deh Vi, lain kali aja.." tolak Al lembut. Oktavia terlihat sedih mendengat penolakan halus Al. Karena sejak menikah Al tidak pernah lagi bermain ke kontrakannya.
Tidak jauh dari gedung tempatnya bekerja, tampak terlihat bis arah tujuan rumah Al mendekat kearahnya.
"Via, aku pulang duluan ya. Kamu hati-hati dijalan. Assalmu'alaikum.." ucap Al lembut. Dia lalu cipika-cipiki dengan Oktavia kemudian berlari kearah bis yang sudah berhenti karna tangannya yang melambai tadi.
"Wa'alaikumsalam, kamu juga hati-hati ya.." balas Oktavia dengan menaikan volume suaranya.
Sampai di rumah, Al mencari sosok Pak Usman yang tak nampak batang hidungnya. Karena tak menemuka sosok Pak Usman. Dia lalu menghampiri Bi Hilda yang biasanya setiap sore ada di dapur.
"Bibi.." panggil Al. Bi Hilda yang sedang meracik bumbu menolehkan kepalanya kearah Al yang sedang tersenyum.
"Iya Nyonya, ada yang bisa Bibi bantu?" tanya Bi Hilda menatap kearah Al.
"Bi, Pak Usman udah pulang belum?"
"Belum Nyonya, Pak Usman belum pulang sejak tadi pagi.." ungkap Bi Hilda. Al menganggukkan kepala paham.
"Oke Bi, makasih ya infonya.." ucap Al lalu pergi meninggalkan Bi Hilda setelah mencium punggung tangannya yang sejak tadi tangannya sibuk meracik bumbu.
Al menuju kamarnya. Didalam kamar dia mengeluarkan HP dari dalam tasnya. Dia lalu mencari kontak Pak Usman kemudian menekan gambar telpon pada layar sentuhnya.
Tidak berapa lama telpon Al diangkat oleh Pak Usman.
"Asslamu'alaikum Nyonya.." ucap Pak Usman.
"Wa'alaikumsalam Pak," balas Al.
"Pak, Al boleh minta nomor Nona Alula, tidak?" tanya Al.
Pak Usman terdiam sejenak. "...Boleh Nyonya, Bapak akan mengirimnya.." ucap Pak Usman. Al menaikkan kedua sudut bibinya senang.
"Terima kasih ya Pak, Assalamu'alaikun.."
"Sama-sama Nyonya, wa'alaikumsalam.." selesai mengucapkan salam Al mematikan tombol merah di layar HPnya.
Bunyi pesan masuk terdengar. Al langsung membuka pesan tersebut dari Pak Usman. Dengan gerakan cepat Al langsung menyimpan nomor sekretaris suaminya itu. Lagi-lagi senyumnya kembali mengembang, seperti hal yang dinginkan berjalan lancar.
Selah itu Al milih beberapa stelan pakaiannya yang ada di lemari. Dia memilih pakaian yang tampak warnanya tak mencolok tetapi bagus.
(Jangan lupa VOTE, tekan tanda ini π, coment πdan Reting πππππ ya...)
Maaf ya satu episode doang.
############################################################
Maaf ya jika banyak typo...
Jangan lupa coment yang berkaitan dengan cerita dan like ya supaya saya semangat menulisnya.
Dan tinggalkan tanda hati.
Jangan lupa vote yang teman-teman.
Saya juga nulis cerita yang judulnya UHIBBUKI jangan lupa mampir ya.....
Terimakasih