Friends After Marriage

Friends After Marriage
Malam kedua



Happy Reading!!!


Seperginya Wanita setengah baya. Mikael kembali menunggu kelanjutan perkataan Al. Tapi beberapa saat menunggu tak ada kelanjutannya.


Karna penasaran, dia lalu membuka pintu kamarnya. Disana dia tak melihat Wanita yang tadi mengetuk pintu kamarnya.


Dia kemudian menongolkan kepalanya melihat Al yang sedang berjalan kembali ke kamarnya.


"Apa dia ingin menghindar kembali?" gumam Mikael.


Lantas Pria itu berjalan menghampri Wanita itu yang hendak membuka pintu kamarnya.


"Bukankah kamu belum menyelesaikan perkataanmu!" seru Mikael yang sudah berdiri depat dibelakangnya.


Al yang hendak membuka pintu mengurungkan niatnya. Dia merasakan betul Pria yang berbicara itu sangat dekat dengannya, karna dia merasakan punggungnya menyentuh bagian depan tubuh Pria itu. Ditambah kedua tangan memegang masing-masing kusen pintu yang seperti memenjarakan dirinya.


Al terdiam ditempatnya, dia merasa dadanya berdebar hanya karna hal kecil ini. Padahal Pria itu hanya menempelkan tubuhnya tidak meyentuhnya.


Lain hal dengan Pria itu yang merasa bingung dengan Al yang diam. Dia lantas mengangkat tangan kanannya dari kusen pintu lalu menggeser tubuhnya kearah samping untuk melihat wajah Wanita didepannya.


"Ada apa? Kenapa kamu diam saja?" tanya Pria itu.


Al yang sudah tak merasakan bagian depan tubuh suaminya lantas mundur selangkah.


"Tidak ada apa-apa.." jawabnya kemudian bungkam kembali.


Al merasa bingung. Walaupun tadi dia memang berniat bercerita tapi sekarang dia mengurungkan niatnya.


"..." seketika dia terbesit perkataan.


"...tadi Al ingin mengatakan..boleh malam ini Al tidur dikamar Kak El.." ucapnya.


Al mengatakan ini hanya sebagai alasan saja, karna dia tau persis Pria itu akan berkata apa.


Mikael yang berdiri tegak lantas menyenderkan tubuhnya. Dia menatap kearah Al datar.


Padahal tadi dengan pedenya dia menduga Wanita itu akan bercerita, tapi sayangnya dia hanya ingin menumpang tidur dikamarnya.


"Memangnya kenapa dengan kamarmu?" tanyanya pura-pura.


"...soalnya Al, ingin tidur dengan Kak El.." ucapnya lalu senyum.


Mikael nampak diam, dia tak menyangka Wanita didepannya akan mengatakan perkataan itu. Dia kira Wanita itu akan mengatakan AC nya mati, nyatanya tidak.


Tanpa sadar bibirnya menyimpulkan senyum kecil.


Al memperhatikan suaminya yang terdiam.


"..Kak.." panggil Al pelan. Dia memperhatikan wajah suaminya.


"..khem.." dehemnya yang langsung mengubah mimik wajahnya agar tak terlihat senyumnya.


"...baiklah.." ucapanya beberapa saat kemudian yang artinya dia mengizinkan Wanita didepannya untuk tidur dikamarnya.


Wanita itu mengedipkan kedua matanya tak percaya. Dia tak menyangka jawaban yang keluar dari bibir suaminya.


"Benarkah!" serunya memastikan dengan kedua matanya terbuka lebar.


"Hmmm.." balas Mikael. Pria itu lalu pergi dari depan pintu kamar Al ke kamarnya.


Wanita itu menatap punggung suaminya sampai masuk kedalam kamarnya.


Setelah itu dengan hati senang Wanita itu masuk ke kamarnya juga. Hatinya berdebar-debar membayangkan akan tidur sekamar dengan suaminya kembali.


Diliriknya jam dinding yang menunjukan pukul tujuh malam yang menandakan sebentar lagi masuk waktu isya. Wanita itu lantas menuju ke lemari pakaian untuk mencari pakaian tidur yang akan dipakaian nanti.


Ditatapnya dasternya yang berjejer paling atas. Rasanya dia ingin memakai daster yang merupakan baju kerajaannya saat dikamar, tapi tak mungkin dia memakainya dihadapan suaminya.


Dialihkannya matanya ke pakaian tidur bawahnya yang merupakan lingeria pemberian Mikael.


Melihat pakaian itu Al kembali terbesit akan kejadian dua minggu lalu di rumah orang tuanya Ghifari. Dia merasa senang malam itu karna akhirnya malam yang ditunggunya datang, tapi juga merasa sedih karna perkataan Mikael yang mengatakan Wanita berpakaian seperti ini layaknya Wanita murahan.


"..kalau kamu mengatakan perkataan itu, mengapa kamu memberikan pakaian ini padaku?" batin Al bertanya.


Itulah tanda tanya Al yang masih belum terjawab.


Kemudian dialihkannyalah matanya kederatan paling bawah bajunya yang merupakan piyama kodoknya miliknya. Piyama pertama sekaligus terakhir kali dipakainya. Melihat pakaian itu, dia merasa malu kembali karna terbayang kejadian beberapa waktu silam. Lantas dia segera mengalihkan pandangannya ke deretan piyama mini dress pemberian Via.


"Sebaiknya aku memakai ini sepertinya.." gumamnya pelan.


Diambilnyalah pakaian itu lalu melangkahkan kakinya kearah kamar mandi untuk melap badannya agar bau-bau asem hilang.


###


'Tok tok tok' suara ketukan pintu terdengar. Mikael yang sedang fokus mengerjakan pekerjaan kantornya lantas menengok kearah sumber suara.


Nampak jelas wajah kesalnya dirinya saat ini, karna dia tipikal orang yang tidak suka diganggu saat sedang bekerja.


Lantas Pria itu mengabaikan suara ketukan didepan.


"Tok tok tok" kembali suara ketukan terdengar. Tapi kali ini suara ketukan didampingi suara Wanita.


"..Kak El.." panggil pelan suara didepan.


Mendengar suara itu Mikael lantas mengerutkam dahi. Dia merasa bingung, "Mengapa Wanita itu datang ke kamar ini, jam setengah sepuluh malam?" tanyanya sambil melirik kearah jam dinding.


"..Kak El, Al masuk ya.." ucapnya kemudian.


Mendengar itu, dirinya kaget dengan sikap berani Al padahal dirinya belum memberikan perinyah pada dirinya.


'Cklek' pintu terbuka, menampakan sosok Al yang masih menggunakan jubah dan hijab panjangnya.


Al yang baru masuk mencari sosok suaminya yang ternyata ada didekat jendela yang awalnya dia fikir ada di kamar mandi karna tak menjawab panggilannya sejak tadi.


Dia memperhatikan suaminya yang sedang memegang leptop dengan tumpukan kertas di mejanya.


"..Kakak sedang kerja ya, maaf Al ganggu.." ucap Al merasa tak enak. Sedang Pria itu masih bertanda tanya dengan kedatangan Wanita itu.


"Kakak lanjut saja kerjanya, Al tidak akan mengganggu lagi kok. Al hanya akan menumpang tidur saja.." ucapnya.


"..." Mikael terdiam. Dia mencerna perkataan Al dan seketika dia teringat akan percakapan mereka sehabis makan malam. Dia benar-benar lupa prihal itu.


Dengan bekerja dia memang bisa lupa akan hal lain. Termaksud mengalihkan perasaan berdebarnya tadi saat membolehkan Wanita itu tidur dengannya.


Tapi sayangnya persaan berdebar itu kembali muncul. Dia takut hasratnya pada Wanita didepannya tak dapat ditahannya.


"Tenang saja Mikael, hari ini aktivitasmu sangat padat. Mana mungkin hasratmu akan muncul.." batinnya menenangkan.


Al yang sejak tadi memperhatikan suaminya nampak bingung. Dia lantas melangkah mendekat kearah suaminya.


"Kakak kenapa?" condongnya membungkukkan sedikit badannya.


Mikael seketika tersadar dari lamunannya. Dia memundurkan badannya karna jarak wajahnya dan istrinya sangat dekat. Sampai-sampai dia dapat mencium wangi dari tubuhnya.


"Tidak, apa-apa. Kamu tidurlah!" perintahnya kemudian.


Al menganggukan kepalanya, dia menegakkan tubuhnya lalu mundur.


Wanita itu lalu berjalan ke arah ranjang. Dia kemudian duduk dipinggir ranjang dengan posisi memunggungi Mikael. Dirinya mulai melepaskan kerudung yang menutupi kepalanya lalu memperlihatkan rambutnya yang disanggul. Kemudian di menurunkan kancing baju gamisnya. Dari situ dia bisa melihat baju tidur yang dikenakannya malam ini. Dia merasa sangat malu dan menyesal dengan pilihan terakhirnya.


"Kenapa bisa-bisanya aku tadi berubah pikiran dan memilih pakaian ini.." batin Al menyesal.


"Semoga Kak El tak menganggapku Wanita murahan kembali.." harapnya. Rasanya dia ingin segera kembali ke kamarnya untjk mengganti pakaiannya.


Begitu juga Mikael yang mulai memfokuskan dirinya kembali ke pekerjaannya. Tapi matanya sesekali melirik kearah Al.


Saat melirik, Dia melihat Wanita itu sudah tak mengenakan hijabnya. Rambut panjangnya nampak disanggul ke atas memperlihatkan leher jenjangnya.


Dirinya segera mengalihkan pandangannya kembali ke leptop. "Fokus Mikael! Fokus!" serunya pada dirinya sendiri.


"Tidak apa-apa Al. Lagipula Kak El sedang fokus bekerja. Dia tak akan menyadari pakaianmu.." ucapnya menenangkan dirinya sendiri.


Wanita itu lalu berdiri kembali. Sebelum melepas jilbabnya (gamis) dia kembali melirik kearah Mikael yang masih menatap layar leptopnya.


Barulah setelah itu dia menyingkap Jilbabnya keatas untuk melepaskannya.


Terlepaslah semua pakaian luarnya, meninggalkan lingeria yang diberikan Mikael. Ya itulah pilihan pakaian terakhirnya. Entah mengapa tadi Wanita itu merubah pilihan pakaian tidurnya.


Usai melepasnya dia lalu segera mendudukkan kembali tubuhnya diatas ranjang, kemudian melirik kearah Mikael yang sedang melihat kertas ditangannya dengan serius.


Al menghumbiskan nafas lega, setidaknya suaminya masih nampak fokus.


'Deg deg deg' debaran yang tiba-tiba muncul. Mikael beberapa kali menelan slavinanya. Melihat tubuh Al yang amat sangat terlihat jelas.


"Kenapa Wanita itu memakai pakaian tidur pemerianku? Apa dia ingin menggodaku?" batinnya.


Menyadari Al akan kembali melirik, dirinya segera mengambil kertas dan pura-pura fokus dengan benda ditangannya.


"Fokus Mikael! Fokus!" serunya kembali.


Tapi sayangnya tubuh Al yang terlihat jelas terus terbayang. Dirinya sungguh takut jika bagian bawah miliknya bangun karna melihat itu.


Pria itu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan. Dirinya nampak sudah tak bisa fokus kembali.


"Memang sebaiknya tidur, jika terus terjaga bisa-bisa aku akan menyerangnya.." batinnya. Pria itu lalu mematikan leptopnya, dilanjuti membereskan kertas-kertas diatas mejanya.


Dia kemudian segera melangkahkan kakinya kearah kamar mandi.


Al nampak kaget dengan suaminya yang tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Dia lantas segera melipat pakaiannya tadi lalu menaruhnya diatas meja kecil samping ranjang. Dirinya lalu masuk kedalam selimut tebal.


Tak lama Mikael keluar. Dia telah mengenakan celana boxer sepaha, sedang celana selututnya yang dipakainya tadi ditentengnya. Pria itu lalu berjalan kearah lemarinya. Disana dia mengambil baju tanpa lengannya.


Pria itu lalu membuka bajunya memperlihatnya roti sobek miliknya.


'Glek' kali ini tanpa sadar Al yang menelan slavinanya. Baginya pemandangan tadi sangat indah karna sangat jarang dia melihatnya.


"Sexy!" seru Al dalam hati.


Usai memakai kaos tanpa lengannya, dia berjalan kearah lampu lalu mematikannya setelah itu dia berjalan kearah ranjang. Tanpa berkata dia lalu merebahkan tubuhnya memunggungi Al yang sejak tadi menantapnya dengan senyum manis.


"..kufikir, malam ini Kakak akan begadang.." ucapnya kemudian sambil tertawa kecil. Berharap Pria yang memunggunginya membalas perkataannya.


"..ternyata tidak..hehe.." sambungnya.


"..." hening. Tak ada tanggapan dari Pria yang memunggunginya.


"Kak El pasti capek ya.." ucap Al kembali sambil tersenyum lembut. Tapi, lagi-lagi sama tak ada jawaban dari orang didepannya.


Al lantas mendudukkan tubuhnya, dia memperhatikan bagian belakang tubuh suaminya.


"..apa Kak El sudah tertidur.." batinnya. Wanita itu lantas memajukan tubuhnya mendekati Pria itu.


"Jangan mendekat!" sentak Mikael dengan suara keras. Wanita itu lantas segera kembali mundur.


"..maaf.." ucap Al. Dia lalu diam karna kaget mendengar sentakan Mikael yang tiba-tiba. Padahal selama ini Wanita itu tak pernah mendengarnya karna semarah atau sekesal apapun, Pria itu tak pernah menyentaknya.


"..apa Kakak terganggu dengan Al?" tanyanya penasaran. Lagi-lagi sama, tak ada sahutan dari Pria itu.


"Apa Kak El masih marah perihal aku yang belum bercerita tentang perkataan yang dikatakan Wanita tadi siang.." fikir Al. Dia nampak bingung.


"Apa aku harus bercerita sekarang juga, supaya Kak El tak marah.." batinnya. Dia lalu kembali menatap punggung suaminya.


"..Kak El masih marah?" tanya Al.


"..Al minta maaf.." lanjutnya.


"..Al akan menceritakannya..tentang perkataan yang Wanita tadi siang katakan.." janjinya.


"Tutup mulutmu dan tidurlah!" sentak Mikael kembali dengan nada marah.


Wanita itu lantas terdiam kembali. Dia menatap punggung suaminya nanar. Dadanya berasa sesak dan sakit.


Dia segera membalikkan badannya, memunggungi Pria dibelakang.


"...maaf..Al pasti mengganggu Kak El, Al akan kembali ke kamar.." pamitnya.


Saat akan beranjak dari ranjang, tiba-tiba sebuah lengan berotot menahannya. Lengan itu memeluk dada Al.


"Jangan pergi!" ucap Pria pemilik lengan tepat ditengkuk Al.


Wanita itu nampak kaget dengan suaminya yang tiba-tiba memeluknya setelah menyentaknya.


"..bukannya Kak El, merasa tak nyaman dengan kehadiran Al.." ucapnya.


Mikael terdiam, dia tak berkata apapun tapi tangannya masih tetap memeluk Wanita didepannya.


"...jika Kak El tak nyaman, Al akan tidur dikamar.."lanjut Wanita itu kembali, tapi Pria dibelakangnya masih setia dengan kediamannnya.


Tak lama Pria itu menarik Al untuk semakin dekat dengannya Disitu Al merasakan sesuatu yang mengganjal dibagian belakangnya.


"..Kak itu.." ucap Al gugup.


"..sudahlah, sekarang kita tidur saja!" perintahnya yang masih memeluk Al dari belakang.


Al yang mendengar itu merasa tak enak. Jadi suaminya mendiamkannya bukan karna merasa tak nyaman tapi karna alasan lain yang kalian pembaca pasti taulah ya...


"..bukankah itu menyesakkan Kak. Jika ditahan.." gumam Al pelan.


"Kumohon, Tidurlah Al!" perintahnya lembut.


Untuk pertamakalinya Al mendengar suaminya memohon padanya. Dia sangat senang, tetapi juga merasa berdosa dengan suaminya.


"...apa Kak El tak ingin melakukannya denganku kembali.." ucap Al.


"...Al tidurlah! Bukankah besok kamu akan bekerja. Apa kamu ingin susah jalan kembali?" kata Mikael memperingatkan Al.


"Aku tak masalah jika akan susah berjalan besok, karna jika aku membiarkan Kak El, Al merasa berdosa. Jadi.." ucapnya yang lalu membalikkan tubuhnya menghadap kearah Mikael. Matanya menatap kedua bola mata Mikael dalam. Dia lalu menjulurkan tangan kanannya menyentuh wajah suaminya yang lalu berakhir pada bibir bagian bawah Mikael.


"..biarkan Al melayanimu sebagai seorang istri.." lanjutnya dengan tatapan yakin.


Mikael yang sudah diambang bantasnya lantas menaruh tangan kirinya dikepala Al lalu mendorongnya kepalanya pelan ke wajahnya agar bibir Wanita itu segera menempel ke bibirnya.


Dimulailah aksinya, Pria itu mulai membanjiri Al dengan kecupan-kecupan dari wajah sampai ketengkuk lehernya. Mendapati perbuatan itu, Al hanya mengerangkan suara pelan yang menambahkan semangat Mikael.


Masuklah ketahap selanjutnya, Mikael yang sudah tak sabar lantas segera menyingkap lingeria milik Al, tetapi Wanita itu malah menahannya.


Pria itu lantas menatap kearah Al. "Apa kamu berubah pikiran?" tanya Pria itu dengan gurat sedih.


"...tidak kok, Kak.." jawabnya segera. Al merasa tak tega melihat wajah suaminya yang seperti itu.


"..hanya saja..sebelum melakukannya aku ingin Kak El kembali mendoakanku.." pinta Al.


Pria itu lantas mendudukkan tubuhnya, dia lalu menarik Al untuk ikut duduk juga. Lalu Pria itu meletakkan tangannya dikepala Al lalu melafalkan doa yang Al tuntun.


Usai itu dia kembali menyerang Al kembali dengan membanjirinya dengan kecupan hangat.


Saat mereka sudah tak mengenakan sehelai benangpun kecuali kain tipis yang ada diantara mereka. Mikael nampak sudah bersiap akan menyatukan miliknya dengan Al, tapi Pria itu menghentikan gerakannya. Dia lalu menatap kearah Al yang nampak diam dibawahnya.


"..kalau kamu mengatakan berhenti sekarang, aku akan berhenti.." ucapnya. Al mengarahkan iris matanya kearah Pria diatasnya. Wanita itu tak berkata, dia hanya memberikan senyuman manis dengan tangan kanannya menyentuh lebut wajah suaminya.


"Baiklah jika itu keinginanmu.." senyumnya dan memulai aksinya yang sudah tertahan selama dua minggu.


Jangan lupakan tinggalkan tanda.


selamat membaca dengan bijak.