
Happy Reading!!!
Hubungan pernikahan Al dan Mikael, bisa dibilang sudah terjalin cukup lama.
Akhirnya buah kesabaran dan usaha Al membuahkan hasil.
Terlihat jelas saat ini akan kedekatan Mikael pada istrinya. Dirinya mulai mengeluarkan sikap-sikap yang sering di tunjukannya saat bersama Kakeknya yaitu sikap manjanya.
Kadang Pria itu suka bersikap manja dengan cara menaruh wajahnya ke pundak Al atau dia suka tiba-tiba tidur dipangkuan Al.
Minggu ini seperti hari libur biasanya, sehabis makan pagi menjelang siang.
Mikael berada di ruang bacanya, tapi saat ini dia tak sendiri melainkan bersama dengan istrinya yang sedang duduk di sofa ruang baca miliknya.
Dilirikan matanya kearah Wanita didepan yang nampak serius membaca, kemudian dialihkan kembali pandangannya kearah buku yang dibacanya. Tak lama Pria itu kembali melirik kearah Wanita yang tak bergeming itu.
Ditatapnya lama Wanita itu, lalu ditutupnya buku tersebut kemudian dia beranjak dari tempat duduknya menghampiri tempat Wanita yang diliriknya.
Al yang sedang asik membaca kisah para sahabat, dikagetkan akan kehadiran suami tercintanya yang tiba-tiba tiduran disofa tempatnya duduk yang kemudian pala Pria itu diletakkan diatas pangkuannya.
Mendapati hal itu Al tersenyum, dia segera menandai buku yang dibacanya lalu meletakkannnya diatas meja.
"..Kakak ngantuk.." ucapnya yang kemudian meletakkan tangannya diatas kepala Pria itu lalu mengelus rambutnya dengan lembut.
"Tidak, aku hanya ingin beristirahat sejenak.." balas Pria itu sambil matanya terpejam.
Wanita itu hanya tersenyum menatap wajah suaminya yang tampannya dari atas. Dia lalu menghentikan elusannya dan mengangkat tangannya untuk meraih buku yang dibacanya tadi.
"...kenapa berhenti?" ucapnya masih dengan mata tertutup.
"..maksudnya, Kak?" tanya Al yang mengurungkan niatnya mengambil buku itu.
Pria itu kemudian membuka matanya menatap Al dalam. "Kenapa kamu berhenti mengelus rambutku?"
Mendapat tatapan suaminya, tiba-tiba dada Al berdebar. Biasanya saat bertatapan jarak mereka tak sedekat ini. "..kufikir itu mengganggu, Kak El.." ucap Al mengalihkan iris matanya kearah lain.
Pria itu lalu mengangkat tangannya menyentuh pipi kanan Al lembut. Lantas hal tersebut membuat Al reflek menatap kembali kearah mata Pria dipangkuannya.
"Itu sama sekali tidak menggangu, aku suka.." ucap Pria itu lembut.
'Glek' Al menelan slavinanya, wajah suaminya sungguh manis menurutnya saat mengucapkan perkataan itu.
Kadar manjanya saat ini terlihat bertambah dari hari biasanya.
Al kembali mengalihkan iris coklatnya. "...jika Kak El suka, Al akan mengelusnya kembali.." balasnya tanpa membalas tatapan Pria itu.
Mikael menyipitkan mata melihat Al yang menghindari tatapannya. "..kamu lihat kemana, bukankah aku dibawahmu!" serunya. Diangkat tangan sebelahnya lalu menangkup wajah Al.
Mau tak mau Diarahkannyalah iris matanya menatap iris coklat dibawahnya. "...aku..malu Kak.." balasnya.
'Glek' sekarang Mikael yang menelan slavinanya dengan susah, karna wajah manis wanitanya yang berkata 'malu'.
'Deg deg deg' dadanya berdegup kencang, keinginannya yang sudah ditahannya beberapa waktu ini akhirnya kembali memenuhi dirinya.
Didudukkan tubuhnya, lalu mengapit tubuh Al yang kecil ke pojok sofa. Dia segera menyambar bibir Wanita itu tanpa ba bi ataupun be. Tentu hal itu membuat mata Al membulat yang tak lama kemudian terpejam menikmati kecupan lembut tersebut.
Mikael memulai aksinya dengan perlahan tapi pasti, dia menempelkan bibirnya ke bibir Al dengan sangat intens. Membuat mereka berdua terengah-engah.
Sudah puas dengan bibirnya, dia beralih ke wajah yang kemudian melepas hijab Al yang menutupi leher putih miliknya.
Disana, Mikael memberikan tanda keleher Wanita mungil tersebut.
Warna kemerahan didaerah leher Al mulai berbekas. Sambil bibir Pria itu memberikan kissmark, tangannya meraih resleting baju Al yang berada didepan lalu menunrunkannya.
'Sreeeeett..'
"..." Pria itu terdiam melihat adanya pakaian dibalik resleting yang dilepasnya.
Dia tak menyangka jika dibalik gamis yang dipakai istrinya, dia masih mengenakan kaos. Dia fikir setelah menurunkan resleting, dia akan langsung berjumpa dengan gunung kembar milik istrinya.
Wajah Al nampak sudah sangat memerah dengan nafas yang sedikit terengah. Dia melihat kearah suaminya yang tiba-tiba terdiam, "...kenapa, Kak?"
Pria itu mengangkat kepalanya menatap Al. "..apa kamu selalu memakai baju dabel seperti ini.." tunjuk Mikael kearah kaos berwarna merah yang saat ini dipakai istrinya.
"..i..iya Kak," balasnya tersenyum malu.
"..mengganggu ya?"
"Iya.." jawabnya.
Mikael segera memundurkan tubuhnya, memberikan kelonggaran pada Wanita yang dihimpitnya.
"..tapi tak papa, lagi pula tinggal dilepas.." lanjutnya yang menarik gamis milik Al keatas kepalanya untuk dilepas.
Mau bagaiamana lagi, biasanya dia meluncurkan aksinya saat berada dikamar yang saat itu Al hanya mengenakan pakaian tidur. Tidak seperti sekarang berpakaian lengkap.
Dimulai kembalilah aksinya yang sempat terputus. Dia mulai menyelipkan tangannya kedalam baju kaos tersebut. Tapi saat akan menggenggamnya...
'Tok tok tok' suara ketukan pintu didepan menghetikan gerakan Mikael. Dua sejoli yang berada di sofa lantas mengalihkan pandangan kearah pintu.
Tapi sayangnya Pria itu hanya sekilas menatap pintu dan kembali memulai aksinya yang ingin melepas kaos milik Al.
'Tok tok tok' suara ketokan pintu kembali terdengar membuat Al kembali menengok kearah pintu yang khawatirnya dibuka oleh sipengetak. Tidak dengan Mikael yang kedua tangannya bersiap melepas kaos milik Al.
"..Kak.." ucap Al lembut. Wanita itu mengangkat kedua tangannya karna Mikael yang berusaha melepas kaosnya.
"Hemmm.." balas Mikael yang akhirnya berhasil menanggalkan kaos Al yang akhirnya terlepas.
Al lantas segera menangkup wajah suaminya yang ingin memberikan kecupan kedadanya agar melihat kearah wajahnya.
"Kak, ada yang mengetok pintu.."
"Sudah biarkan saja.." balasnya yang ingin kembali menundukan wajahnya.
"..bukankah Kakak belum mengunci pintu, sebaiknya Kakak menjawab ketukan itu.." ucap Al kembali.
"..." Mikael akhirnya membenarkan perkataan Al. Takutnya sipengetok membuka pintu dan melihat keadaan Al sekarang.
"Siapa?" tanya Mikael kesal.
"..saya Tuan, Bi Hilda.." balas suara didepan yang terdengar takut-takut.
Mikael masih tak merubah posisinya tubuhnya yang meniban tubuh Al.
"Ada apa, Bi?"
"..ini Tuan, sahabat Tuan Mikael kemari.." jawabnya.
"Mereka Tuan Ghifari dan Tuan Yuan.." lanjutnya.
Mikael berdecih, baru saja ingin melepaskan hasratnya pengganggu datang. Ditambah pengganggunya dua sahabatnya itu.
Al memperhatikan wajah suaminya yang nampak bete.
"..Kak!" seru Al pelan, hal itu membuat Mikael melihat kearah istrinya.
Diangkat tangan kanannya meyentuh bagian belakang kepala Mikael yang kemudian mengelusnya.
"..kita bisa melanjutkan ini nanti. Sebaiknya sekarang Kakak menghampiri Kak Ghifari dan Kak Yuan, siapa tau ada sesuatu yang penting yang ingin mereka katakan.." sarannya.
Mikael menatap istrinya yang tersenyum. Lantas dia lalu mengangkat tubuhnya kemudian kembali duduk.
"Baik Bi, suruh mereka tunggu. Aku akan turun.." perintahnya.
"..baik Tuan," balas Wanita setengah baya yang pamit meninggalkan pintu ruang baca itu.
Merasa langkah kaki sudah menjauh, Mikael kembali melihat kearah Al yang juga sudah ikutan duduk, dia terlihat membenarkan Br..nya.
Pemandangan tersebut nampak sangat seksi dimatanya.
"...sabar ya!" seru Al yang tersenyum tipis.
"..i..iya.." balas Pria itu yang lalu segera berdiri.
###
"Yuan, pokoknya soal ini lo yang ngomong ya!" ucap Pria berambut pirang.
"Iya tenang aja, gua yang ngomong. Takut bener lo!" jawab santai Pria berambut coklat.
Dari dalam rumah akhirnya orang yang ditunggu datang. Nampak wajah Pria pemilik rumah sangat dingin memandang kearah dua Pria yang sedang menatapnya.
"Yuan, lo liat gak muka Mikael dingin bangat!" serunya menyenggol Pria disampingnya.
"Santai aja! Bukannya muka Dia selalu seperti itu.." ucapnya menenangkan.
Pria yang rambutnya digerai itu lalu duduk menghadap kedua Pria yang tersenyum itu.
"Ada apa kalian kesini?" tanyanya dengan tubuh disenderkan dan tangan dilipat kedepan dadanya.
Yuan mengambil sesuatu dari bawah lalu menaruhnya keatas meja.
"Gua kesini mau balikin ini.." kata Yuan.
"...?" Mikael menaikan alisnya tak paham. Tapi dia merasa kenal dengan benda tersebut.
"Ini rantang punya lo. Gua lupa buat balikin nih rantang.." lanjutnya.
Mikael mengerutkan dahinya, dia mengepalkan tangannya karna kesal.
"..jadi, lo mau ketemu gua buat balikin rantang doang.." ucapnya menahan amarah.
Seandainya memang tujuannya untuk mengembalikan itu, mereka bisa menitipkan pada Bi Hilda. Tidak harus bertemu dengannya.
"Iya.." balasnya tanpa rasa bersalah.
"...ohhh, tapi gua lagi malas buat jalan..." ucapnya mengalihkan pandangan kearah lain.
Ghifari nampak bingung, tapi seketika dia teringat akan sesuatu. "Bukannya lo belum pernah ke Sasana milik Beni yang baru dibuka.."
Mikael berfikir sejenak, lalu mengalihkan matanya kembali kearah Ghifari. "Kalau kesana gua ikut.." setujunya. Ghifari bernafas lega.
"Kalian sudah menghubungi Beni, kalau kita akan kesana?"
"Tidak perlu menghubunginya, dia juga ikut.." jawab Yuan. Mikael lantas mengangkat sebelah alisnya sambil menengok kepalanya.
"Dia sedang panggilan alam.." timpal Ghifari memberitahu keberadaan Beni.
Pria gondrong itu lalu beranjak dari posisi duduknya. "Kalau gitu, gua ganti baju dulu. Kalian masuklah tunggu didalam.." ucapnya yang lalu melangkahkan kaki panjangnya.
Ghifari menatap Yuan tajam karna sering menganggap ente sesuatu, pria itu hanya tersenyum cengengesan.
"Lo bawa gih rantangnya terus kasih ke Bi Hilda.." kata Ghifari menunjuk kearah rantang.
"Oke.." balasnya.
Mereka lalu mengikuti langkah Pria gondrong itu kedalam.
###
Di ruang baca, Al memegang dadanya yang berdebar. Dia masih tak menyangka suaminya yang dulu sedingin es kini sangat manis dan manja.
Apalagi sikap lembutnya tadi, itu sungguh pemandangan yang langka.
"..oh iya, Kak Ghifari.." katanya mengingat sesuatu yang ingin ditanyakannya pada Ghifari.
Lantas dia segera mengenakan kembali gamis dan juga khimarnya. Kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruang baca itu.
Saat menuruni tangga, mata Al tertuju pada anak tangga. Sampainya dibawah dia mengangkat kepalanya kaget melihat seorang Pria yang sedang menatap kearahnya.
Pria tersebut merupakan Beni yang baru saja selesai menjawab panggilan alam. Saat berjalan ingin kembali ke ruang tamu. Matanya melihat kearah tangga yang terdapat seseorang yang sedang turun.
Saat memperhatikan wajahnya dia diam terpaku ditempat.
Al teriam ditempatnya, dirinya tak menyangka akan kehadiran Beni disini.
Tapi dia tak bisa terus menyembunyikan identitasnya, karna suatu saat pasti akan ketahuan. Seperti halnya hari ini.
Wanita itu tersenyum lembut kearah Beni. Dia lalu mendekat kearah Pria yang masih terpaku itu.
"Assalamu'alaikum Kak Beni.." sapanya yangmenempelkan kedua telapak tangan lalu mendekatkan ke dada.
"..wa'alaikumsalam.." balasnya.
"..Al, kamu Al kan. Almasah.." ucap suara itu. Wanita itu menganggukan kepalanya.
"Maaf ya Kak, aku tidak langsung memberitahukan identitasku saat pertama kali bertemu.." ucap Wanita itu.
Beni yang amat merindukan Al lantas tanpa sadar merenggangkan tangannya dan ingin memeluk Wanita itu. Untungnya Al langsung mundur dan menghindar.
"Hampir saja!" serunya yang merasa kaget. Untungnya refleknya cepat.
"Kakak sekarang gak bisa langsung meluk-meluk Al kayak dulu.." ucapnya lembut.
"...ah iya Kakak lupa.." balasnya yang langsung menurunkan tangannya.
Dari arah ruang tamu datanglah Mikael yang melihat istri dan sahabatnya yang sedang berdiri didekat tangga.
"Al, Beni.." ucap Mikael melihat kearah dua orang tersebut secara bergantian.
Hal itu membuat Al dan juga Beni mengalihkan mata kearah Mikael dan kedua Pria yang ada di belakang Mikael.
"Kak El.." ucap Al.
"Hai Mikael, lama tak jumpa.." sapa Beni yang berjalan kearah Pria itu. Dia lalu bersalaman.
"Sedang apa kalian didepan tangga?" tanya Pria itu melihat kearah Beni.
"Aku hanya menyapa Al saja, begitu juga dengan dia.." balasnya tersenyum santai. Mikael menganggukan kepalanya percaya.
"Kalian tunggu disini ya, gua mau ganti pakaian dulu.." ucap Mikael yang lalu menaiki anak tangga.
Al yang mendengar suaminya ingin berganti pakaian hanya diam. Dia tak berani bertanya prihal tujuan Pria itu.
Dialihkannyalah matanya dari tangga kearah para Pria itu.
"Kak ayo duduk!" ucapnya memoersilahkan duduk. Seketika matanya berhenti pada benda yang ditenteng Yuan.
"Kak Yuan bawa rantang?"
Yuan lantas melihat ke rantang yang dipegangnya. "..ah iya. Aku mau balikin rantang ini ke kamu Al.." ucapnya memberikan rantang tersebut.
"...?" Al bingung sambil menerimanya.
"Ini rantang berisi makanan yang kamu titipkan kepada Ghifari untuk diberikan pada Mikael. Sayangnya Ghifari lupa, suoaya tak mubazir aku memakannya.." cerita Yuan.
Ghifari yang mendengarnya lantas mendelik Yuan kesala.
"Aku memang luoa buat memberikannya pada Mikael, tapi saat akan balik kesana Yuan meminta makanan yang dirantang tersebut.." balas Ghifari. Yuan mengyenhir karna ketahuan berbohong sedang Al hanya mengangguk pahama akan cerita itu.
"Maaf ya!" seru Ghifari. Dia lalu menyenggol Yuan agar meminta maaf juga.
"Maaf ya Al.." cengirnya.
"..tidak apa-apa kok, Kak.." balas Al segera
Dari arah dapur Bi Hilda akhirnya datang membawa minuman.
"Tuan-Tuan, maaf ya minumannya lama.." ucap Bi Hilda.
"Iya tidak apa-apa Bi, minumannya diletakkan diatas meja saja.." ucap Al menunjuk meja ruang TV. Bi Hilda menganggukan kepala lalu meletakkannya diatas meja yang ditunjuk.
Al kemudian menyuruh para tamu itu agar duduk.
Beni masih setiap menatap Al, dia sangat penasaran dengan Al yang kenapa bisa menjadi istri Mikael dan alasannya yang tiba-tiba hilang.
###
Mikael nampak menuruni tangga. Dia terlihat sudah mengganti pakaiannya. Di pundaknya, Pria itu menyelempangkan tas kecil yang didalamnya berisi pakaian ganti.
"Ayo jalan.." ucapnya saat mendekati para Pria itu yang sedang menyemeli makanan yang disajikan Al.
"Pergi?" tanya Beni bingung, dia lalu melihat kearah Ghifari dan Yuan bergantian.
Kedua Pria itu nampak tersenyum, "Hehehe gua lupa bilang ke lu, Ben. Hari ini kita mau pergi ke Sasana lo.." beritahunya.
"Ohh mau kesana, yaudah ayo.." balasnya santai.
Mikael menatap kearah Yuan dan Ghifari yang rupanya belum mengatakan apapun pada Beni. Benar-benar dua Pria itu.
Dari arah dapur Al datang kembali dengan membawa salad buah yang baru dibuatnya.
Al melihat kearah para Pria itu yang sudah berdiri. "...sudah mau pergi ya?" ucapnya.
Para Pria itu lalu melihat kearah Al yang membawa nampan yang diatasnya berisi salad buah, mangkok kecil dan sendok.
"..iya, tapi kami akan memakan salad buahmu dulu.." jawab Mikael. Oara Pria lain menganggukinya.
Beni yang melihat bawaan al nampak berat, labtas menghampiri Wanita itu lalu mengambil alit nampannya.
"Biar aku saja yang bawa.." ucapnya.
"..terimakasih, Kak.." balas Al senyum.
Setelah meletakkan nampan. Al mengambil satu manggkok lalu mengisikan salad untuk diberikan pada Mikael. Sedang Pria lainnya mengambil sendiri-sendiri.
Beni memperhatikan Al yang nampak sangat berbeda dengan Wanita yang dua tahun lalu dutemuinya.
Karna tak hanya penampilan yang berubah, tapi juga sifat tomboynya kita terlihat feminim.
Setelah mengambil bagian masing-masing Para Pria itu kembali duduk ditempatnya, sedang Al mengambil posisi duduk yang berada didekat Mikael.
"..oh iya, bagaimana kita juga mengajak Al juga?" ucap Beni tiba-tiba.
"..memangnya Kakak-kakak mau kemana?" tanya Al.
"Ke Sasana milik Beni yang baru dibuka.." jawab Yuan yang kemudian menyuapkan salad kembali.
Mendengar kata Sasana Al langsung nampak senang, tapi..
Al lalu melihat kearah Mikael yang masih focus memakan salah yang dibuatnya.
"...kalau kamu mau ikut bersiaplah.." ucapnya kemudian. Al nampak tersenyum senang, tanpa sadar tangannya ingin memeluk Mikael.
"Jomblo kayak kita mah gak ada yang meluk.." ucap Yuan yang menghentikan gerakan tangan Al. Mikael lantas mendelik Yuan yang menghindari tatapan matanya.
"Ma maaf," balas Al yang lalu pamit untuk bersiap-siap.
Seperginya Al, Mikael mengarahkan iris matanya kearah Beni.
"Ben, di tempat lo. Pasti ada privatnyakan?"
"Tenang aja, ada kok.." bakas Beni. Mikael mengokekan lalu mereka kembali melanjutkan makannya.
Thank you for Reading!
Din't forget untuk meninggalkan tanda ya.
Salam hangat SMIM