
Apa kalian tau apa itu kebiasaan?
Kebiasaan adalah perilaku yang selalu diulang-ulang setiap harinya.
Apa kalian memiliki perilaku yang selalu diulang-ulang?
Tentu setiap orang pasti mempunyai perilaku yang selalu diulang-ulang setiap hari. Seperti halnya yang dilakukan Al, dia mempunyai kebiasaan bangun saat sepertiga malam. Membuatnya malam ini melakukan hal serupa.
Seketika, Al membuka matanya. Sosok yang pertama dilihatnya adalah suaminya yang sedang tertidur tepat didepannya dengan jarak yang dangat dekat. Al kembali memejamkan matanya, fikirnya munkin saat ini dia sedang bermimpi. Tapi saat membuka matanya kembali sosok tersebut tetap ada. Terbesitlah kembali kegiatan ranjang mereka semalam.
Hal tersebut membuat Al malu, karna kegiatan yang mereka lakukan hingga larut malam.
Al menyunggingkan senyum senang. Dia merasa senang karna saat bangun melihat wajah suaminya, tidak seperti malam pertama yang bangun seorang diri.
"..bbbrrrr..dinginnya.." ucap Al yang baru merasa kedinginan, karna hembusan AC. Padahal semalam saat aktivitas ranjang tubuhnya mengucurkan keringat.
"...ahhh.." dirinya teringat. Semalam, saat aktivitas ranjang Mikael mengambil remot AC untuk menurunkan suhu. Setelah itu dia meletakkannya di meja pendek samping ranjang.
Al lalu menggeser tubuhnya pelan kepinggir ranjang, karna tak ingin mengganggu tidur nyenyak suaminya.
Sampainya dipinggir, tangannya lalu meraba meja sampingnya yang ternyata benar terdapat remot AC diatas baju gamisnya.
Dia lalu segera menaikkan suhu AC.
Usai itu, dia mendudukkan tubuhnya pelan. Al mengangkat tangannya untuk menyanggul rambut panjangnya yang terurai.
Setelah itu dia memicingkan mata dikegelapan sambil meraba-raba kasur untuk mencari lingeria dan pakaian dalamnya yang entah dibuang kemana oleh Mikael. Karna tak mendapatinya, mau tak mau dirinya hanya memakai gamis miliknya yang ada diatas meja kecil samping ranjang tadi.
Usai memakai jilbab dan kerudungnya dirinya terlebih dahulu menyelimuti suaminya sampai kepundaknya. Setelah itu dia berdiri.
Ketika melangkah, hal yang ditakutkannya benar terjadi. Rasa sakit dibagian bawahnya menjalar, membuatnya terdiam ditempat.
Agar tidak terlalu sakit, dia lantas merenggangkan kakinya lalu berjalan kearah pintu keluar untuk menuju kamarnya.
###
Pagi datang, Pak Usman melangkahkan kakinya ke kamar Tuannya yang masih terlelap. Padahal biasanya Pria itu akan bangun dengan sendirinya tanpa dibangunin, tapi tidak dengan hari ini.
Didepan kamar Tuannya, Pak Usman terdiam sejenak lalu menjulurkan tangannya.
"Tok tok tok" Pak Usmam menarik tangannya kembali untuk mendengar suara didalam. Tapi sayangnya tak ada suara membuatnya kembali menjulurkan tangan.
"Tok tok tok"suara pintu yang diketok lebih keras.
"Tuan Mikael!" panggil Pak Usman.
Mikael lantas terbangun, dia membuka matanya yang masih lengket. Didapatinya kamarnya yang gelap.
"Saya sudah bangun, Pak.." balas Mikael dengan suara serak.
"Tuan, saya masuk ya.." ucap kembali Pria didepan.
"Iya.." balas Mikael dengan mengusap wajahnya.
'Cklek' pintu terbuka. Pria didepan pintu mendapati ruangan kamar Tuannya yang gelap. Dia lantas menyalakan lampu kamar ini.
Saat membalikkan arah ke ranjang, Pak Usman nampak kaget dengan Mikael yang tanpa pakaian. Lantas dia segera melihat kearah AC yang tak terasa dingin.
"Apa semalam Tuan kepamanasan?" tanya Pak Usman sambil berjalan kearah ranjang karna melihat remote AC diatas meja pendek.
"...? Maksudnya?" tanya Mikael yang tak mengerti perkataan Pria setengah baya yang menghampirinya. Dia melihat Pria itu mengambil remote AC lalu menekannya.
"..tidak, saya fikir AC milik Tuan mati, seperti AC milik Nyonya Al. Soalnya Tuan tak memakai pakaian.." jelas Pria setengah baya itu lalu meletakkan remote AC kembali.
Mikael mengerutkan dahi, dia lantas melihat dirinya yang memang bertelanjang dada. Seketika dia membuka lebar matanya, lalu menoleh kearah samping kanannya untuk mencari sosok yang bersamanya semalam. Ternyata sosok tersebut tak ada, diatas ranjang hanya ada dirinya seorang.
"Kenapa Tuan?" tanya Pak Usman yang melihat Mikael yang terlihat kaget.
"...tidak apa-apa.." jawabnya.
"..oh iya, soal membuka baju, karna saya ingin saja.." ucapnya. Pria setengah baya menganggukan kepala paham.
Pria setengah baya itu lalu berjalan kearah sisi samping ranjang. Begitu juga dengan Mikael yang menggeser tubuhnya kesamping ranjang.
Saat melihat kelantai dia kaget disana terdapat pakaiannya dan juga pakaian dalam Wanita yang bersamanya semalam. Dengan cepat dia menggapainya dengan sebagian tubuhnya masih diatas ranjang.
Setelah mendapat semua pakaian yang berceceran, dia lalu menyembunyikannya dibawah selimutnya.
'Sreekkk' suara horden dibuka, membiarkan cahaya pagi masuk.
Pak Usman lalu berbalik, dia masih melihat Tuannya diatas ranjang.
"Tuan, tidak mandi?"
"..mandi," jawabnya dengan wajah datar.
Pak Usman lalu melihat kearah tempat tidur Mikael yang nampak sangat berantakan. Sama halnya dengan Mikael yang juga melihat kearah tempat tidurnya. Seketika matanya berhenti pada benda berwarna biru yang mencuap keluar dari selimut yang berwarna krem.
Mikael sangat mengenal benda itu yang merupakan adalah lingeria milik Al.
"Pak Usman!" panggil Mikael seketika. Pria setengah baya itu lalu menengok kearah Tuannya.
"Untuk ranjang, Bapak bisa merapikannya nanti.." ucapnya. Pria itu menganggukan kepala paham.
Saat Pria itu berjalan kearah pintu, Mikael kembali memanggilnya.
"Pak!"
"Iya Tuan,"tengoknya kearah Mikael.
"Apa Al sudah berangkat kerja?"
"Sepertinya belum Tuan, soalnya sejak pagi saya belum melihat Nyonya Al keluar dari kamarnya.." jawab Pria itu.
"Apa ada yang ingin ditanyakan kembali?" tanya Pak Usman.
Mikael nampak berfikir lalu kembali bertakata. "..apa Pak Usman sudah menelpon service AC?"
"..belum Tuan, semalam saat saya telpon tak diangkat..setelah ini saya akan menelpon kembali.." jawabnya.
"..tidak usah ditelpon, Pak.." ucap Mikael. Pak Usman nampak bingung dengan perkataan Tuannya.
"Aku ingin membeli AC baru, jadi AC milikku bisa ditaruh dikamar Al.." ucapnya.
"Tuan ingin membeli AC baru! Apa AC ini kurang dingin?"
"..tidak, hanya saja aku menginginkan AC baru.." jawabnya masih dengan wajah datar. Pak Usman hanya menganggukan kepala.
"Apa Tuan ingin saya yang memilihkannya, nanti biar saya belikan.." tawar Pak Usman.
"Tapi, karna sekarang saya masih sibuk. Mungkin saya akan membeli ACnya minggu depan.." lanjutnya.
Pak Usman menganggukan kepala paham. "Baik Tuan, saya izin pemisi.." ucapnya.
Mikael yang ditinggal dikamar lalu mengeluarkan pakaian miliknya dan juga milik Al dari balik selimut.
Dia tak tau alasannya menyembunyikan kebenaran kalau dirinya sudah tidur dengan Al. Hanya saja dia tak ingin Pria setengah baya tadi mengetahuinya.
Intinya untuk sekarang ini, Mikael tak ingin hubungan ranjangnya dengan Al ketahuan oleh Pria itu. Karna sampai sekarangpun fia masih tak menyangka Wanita itu bisa menggoyahkan hatinya. Padahal banyak Wanita berpakain seksi didepannya, sedikitpun dia tak tertarik tetapi berbeda dengan istrinya.
###
Mikael nampak sudah siap dengan baju kerjanya. Dia lalu mengambil tas kerja dari atas meja dan juga baju dan pakaian dalam Al yang telah dilipatnya diatas ranjang.
Setelah mengambil kedua benda itu, dia lantas keluar kamar. Dia berjalan dari kamarnya ke kamar Al.
Disana dia diam sesaat lalu mengetok pintu kamar itu pelan.
'Tok tok tok'
"Tunggu sebentar Bi, Al lagi pake baju.." ucap Wanita itu sesaat setelah Mikael mengetuk pintu.
Mikael yang mendengarnya lantas tersenyum. Dia lalu menyenderkan tubuhnya di tembok kamar.
Tak lama menunggu Wanita itu lalu memperbolehkan masuk.
'Cklek' pintu terbuka.
Disana Mikael langsung mendapati si pemilik kamar sedang menyisir rambutnya diatas ranjang.
Sedang pemilik kamar nampak kaget dengan kehadiran yang tak disangkanya.
"Kak El.." ucapnya memberikan senyum ramah.
Pria itu melangkahkan kaki menghampiri Al lalu memberikan lingeria dan pakaian dalamnya.
"Itu milikmu!" serunya.
"..te..terimakasih.." balasnya malu lalu menundukan kepalanya.
"..." Al nampak bingung ingin bicara apa. Dia sungguh malu mengingat kejadian semalam yang jauh lebih hot ketimbang malam sebelumnya.
"Bagaimana dengan itumu?" tanya Mikael to the point.
"Apa saki?" ucapnya datar.
Al mengangkat kepalanya menatap mata suaminya, lalu menganggukan kepala. "..i..iya..tapi rasanya tak seperti yang pertama.." balasnya.
"Apa perlu kugendong kebawah?"
"...tidak perlu Kak, Al bisa jalan sendiri.." tolaknya halus. Mikael hanya menatap Al tanpa ekspresi.
"..." hening kembali.
"Oh iya Kak..jika Kakak menginginkannya. Kakak katakan saja pada Al. InsyaAllah jika tidak sedang datang bulan, Al siap melayani Kak El.." ucapnya dengan malu.
Mikael terdiam memperhatikan Al yang terlihat tersipu malu. Dia merasa senang mendengar ucapan Wanita itu, tapi dia masih belum mau Wanuta itu mengetahui perasaannya.
"Baiklah.." balasnya.
"..dan jangan lupa. Kamu masih berhutang penjelasan tentang kejadian kemarin.." balasnya yang lalu keluar dari kamar Al.
Al yang ditinggali, terdiam. Dia menghela nafas panjang. Dirinya belum siap menceritakan prihal masa lalunya.
###
Usai sarapan, Mikael yang sudah siap berangkat kerja melirik kearah Al yang sedang menumpuk piring kotor.
"...tempat kerjamu dimana?" tanyanya.
"..aaa kenapa Kak?" ucap Al kembali bertanya.
"Kamu kerja dimana?" ucapnya kembali.
"...di klinik XXX, Kak.."
"...maksudku, tempat kerjamu?"
"Ohhh..temat kerja Al ada di jalan XXX Jakarta, Kak.." beritahunya. Mikael mengangguka kepala paham.
"Kapan kamu masuk kerja?" tanyanya kembali.
"Nanti siang.." jawabnya.
"Memangnya kenapa Kak?" tanya Al kembali.
"Tidak apa-apa, aku pergi ya.." pamitnya.
"..Kak.." cegat Al.
"Kenapa?"
"..Al boleh salim Kak El.." mintanya ragu.
"Apa kamu sangat mengingunkannya?"
"Iya.." jawab Al mantap dengan senyum senang.
melihat itu, Mikael lalu menjulurkan tangannya membiarkan Wanita itu menyalimnya. Lagipula hanya sebuah ciuman ditangan. Sedang mereka sudah melakukan lebih dari itu.
Mendapatu dia boleh menyalim, Al lantas menghampiri Mikael yang berada disebrang. Dia menggapai tangan Pria itu lalu menciumnya.
Setelah menciumnya sekitar lima detik, Wanita itu melepaskannya.
"Terimakasih Kak.."
Mikael hanya menganggukan kepala lalu pergi kearah pintu keluar.
Dari arah dapur Bi Hilda yang melihatnya tersenyum senang akan kedekatan mereka berdua.
Dihalaman
"Hari ini Pak Usman tak perlu mengantar saya. Bapak mengantar Al saja ke tempat kerjanya!" perintahnya.
Pak Usman menganggukan kepala paham lalu mengantar Tuannya sampai halaman.
Selamat membaca jangan lupa tinggalkan tanda...