
anak itu berdiri dan mengambil tali untuk diikat nantinya
"Ibu!Aku pergi dulu ya!Mau cari kayu bakar untuk dijual nanti"Teriaknya sembari melambai pergi dengan menenteng tas rotan di punggung nya dan tali di tangan kiri nya
"Hati hati!"Balas seseorang dari dalam rumah
beberapa jam kemudian
"Hah,Huft,Huft"Anak itu hendak balik setelah mencari kayu bakar yang ia letakkan di punggung nya
"Padahal hanya segini,tapi aku sudah lelah.Nampaknya system hanya sia sia saja di tanganku"Ujarnya kelelahan,ia mengusap peluh keringat yang mengucur deras di dahi anak itu
Ia mendongak menatap langit,silauan cahaya sang surya membuatnya menutup mata dengan tangan yang ia arahkan ke atas,Sejenak ia terpaku saat melihat kertas mainan yang terbang di langit.
Di lain tempat~
"Kakak,Ibu!"Seru seorang anak berlari memasuki gang kecil,wajahnya yang berdebu dan memakai pakaian yang lusuh dengan membawa roti ditangannya
"I-Ibu,Mormor membawa roti untuk kakak dan juga ibu"Serunya sekali lagi
Seorang wanita paruh baya menoleh pada putranya,ia saat ini sedang merawat putra pertama nya.Lingkungan yang kumuh dan tempat tinggal yang jauh dari kata bersih,sungguh miris melihat bagaimana 3 manusia itu hidup
"Kamu...mendapatkannya dari mana sayang?"Tanya nya lirih dan sendu,terlihat anak kecil itu menyembunyikan luka di tangannya dan sekitar leher
"Tenang ibu,Mormor mendapatkannya dengan mengambil dari...sampah"Jawabnya
"...Kau jangan mencuri ya nak,jangan seperti kakakmu yang sekarang terbaring lemah disini"Ujarnya dengan sendu
"I-Ibu,Ini makanlah bersama kakak"
"Iya..."Sang ibu hanya membalas dengan lirih tak bertenaga.Sementara anak itu terlihat gusar menatap kakaknya
"Ibu,bagai...bagaimana keadaan kakak?"Tanya nya dengan ragu
Sang ibu tak menjawab namun ia tertunduk menatap putra sulungnya,buliran demi buliran bening pun akhirnya menetes dari pelupuk Sang ibu,ia tak kuat menahan rasa sedih yang teramat dalam.Anak itu mendekati ibunya dan kakaknya
"Ibu!"Panggil nya sekali lagi,Tanpa basa basi Sang ibu memeluk putra ke dua nya dengan terdiam
"Tahun 1302,Musim kemarau...kakak mu telah berpulang pada penciptanya.Ia sudah bebas dari rasa sakit yang menggerogotinya juga dari kehidupan yang keras ini"
"...Ibu,Apa ini artinya kakak sudah tak merasakan sakit lagi jika ia sudah disisi tuhan?"
"Iya..."
Sebuah pesawat kertas melintas dan pergi dengan membawa kesedihan dari kisah mereka...
'Srethhh'Mengerikan,Seorang gadis kecil yang diseret paksa olah orang berbadan besar di belakang nya.Gadis itu tak berhenti mengeluarkan air mata nya,ia sudah dari tadi berteriak memohon ampun dan memanggil kedua orang tua nya namun tak sudi sedikitpun mereka menoleh pada nya.Kuku jari tangannya nampak rusak tergores sebagai bentuk perlawanan nya saat ini
Dengan kasar orang orang berbadan besar itu membuat nya berdiri dan kedua tangannya di seret,ia kembali menangis dan berteriak
"IBUUUU,AYAHH!!!"Tangisannya semakin kencang saat ia akan dimasukkan ke sebuah bangunan besar dan suram...Dengan tega hati,orang orang yang menyeretnya mendorong gadis itu untuk masuk
'BLAAMMM!!!'Pintu tertutup setelahnya
Dan...pesawat itu terbang bebas membawa kisah kisah mereka yang akan dimulai
Mereka akan bertemu suatu saat nanti...ntah sebagai kawan atau sebagai lawan?
...~~~...
Pagi telah tiba,Saat ini Carla berniat ke bibi Nia untuk mengecek lagi apa ada yang perlu dibutuhkan saat acara doa.Kemarin,Millia mengajaknya untuk ke bibi Nia namun Carla memilih untuk menghabiskan waktu dengan mengecilkan pakaian adiknya
Sebelum itu,Carla yang telah selesai makan pagi bersama Millia dan keluarganya tak lupa dengan Cal yang juga makan di meja yang sama.Carla saat ini tengah berjalan menuju tempat latihan,ia ingin memastikan bahwa adik nya berlatih dengan baik dan tak membangkang.
Dari kejahuan,Carla melihat Sang adik berlatih serius dengan pelatih keluarga...Pelantikan akan terjadi beberapa hari lagi,Cal sudah mulai serius dalam berlatih.Ia tak lagi main main seperti bolos di jam latihan...Ahahaha,tau keadaan juga anak itu
Tak lama Carla memandanginya,Ia segera berbalik karena sudah waktunya ia pergi ke tempat suci bersama Millia
Sesampai nya di tempat suci,terlihat orang orang berlalu lalang untuk berdoa.Millia menuju pastor bersama Carla disana
Seorang laki laki yang masih lumayan muda kira kira berusia 30 tahun dan berpakaian layaknya pastor
Millia dan Carla sedikit heran pasal nya kerena mereka tak menemukan pastor tua yang biasanya,melainkan pastor yang terlihat masih muda.Mereka membungkuk bersamaan sembari mengucapkan salam
Millia terlihat bercakap cakap dengan pastor itu,ya dia adalah gadis yang mudah akrab sementara Carla hanya diam di posisi yang tak jauh dari Millia namun juga tak begitu dekat,ia melihat orang orang berlalu lalang.
'Tep'Carla tersentak saat melihat Millia sudah berada dibelakang nya dengan menepuk pelan bahu nya
"Dimana pastor yang biasanya?"Tanya Carla
"Beliau tak hadir dan digantikan oleh pator muda itu"Jawab Millia
Mereka terdiam sejenak namun kemudian sebuah teriakan menyadarkan mereka dan berbalik ke arah sumber suara
Terlihat Bibi Nia berjalan tergesa gesa ke arah Millia dan Carla.Sesampainya diantara mereka,wanita itu mulai berbicara.
"Gadis Millia,apa kamu sedang tak sibuk kemari?Jika tidak kamu bisa pergi bersama kami dan beberapa rombongan kecil untuk menjenguk pastor"Ucap nya sembari tersenyum
...Apa lebih baik menggunakan kata 'Nak' Ya?Tidak,Tidak.Bibi Nia tak terlalu tua jadi akan lebih baik apabila ia memanggil dengan sebutan 'Dik'?Namun rasanya kurang pantas karena Millia dari keluarga terpandang?
"...Ah,Iya.Kami sedang tak sibuk"Jawab Millia tenang
"Nah,Bagus sekali~Tolong ikuti aku"Bibi Nia berbalik menuju orang orang yang sedang bergerombol.Tanpa basa basi,Millia menggandeng tangan Carla untuk ikut
"Ah!Untuk Carla.Bisakah kamu membelikan lilin untuk acara doa nanti,Bibi lihat saat mengecek kembali barang barang tadi nampaknya bibi lupa belum membeli lilin"Pinta nya berbalik menghadap kedua gadis itu
Millia terlihat sedikit keberatan pasalnya jika ia ikut menjenguk pastor dan Carla membelikan perlengkapan seperti kata Bibi Nia,itu artinya mereka akan berpisah sebentar dan lagi...Tanpa Millia,apa Carla akan membeli lilin itu sendiri?
"Ah...Em,anu Bibi-"Millia berbicara dengan gusar