ELEANOR

ELEANOR
akhir cerita masa kecil



"MILLL"Lagi lagi Carla menyahuti nya.Kereta kuda itu semakin kencang ke arah kakak beradik itu berada


"Kak,apa kita akan turun?"Tanya Cal


"Tidak"Jawabnya datar,Cal tak mengerti namun ia hanya mematuhi saja


Suara langkah kuda dan roda kereta semakin terdengar hingga begitu cepat mereka hendak sampai di pohon,tempat Carla berada.Dengan penuh kegilaan,Gadis berumur 10 tahun itu segera mencakup badan adiknya dan turun begitu saja tepat saat kereta kuda itu melintas dibawah pas


'BRAKK'Terdengar bunyi keras dan suara teriakan melengking dari seorang gadis bersurai coklat


"Kyaaaaaa!!!"


"Stt"Carla dengan santai meletakkan jari telunjuk di bibirnya sembari menatap gadis itu dengan pandangan jahil.Bersamaan Carla terjun dari pohon ke kereta kuda,begitu pula dengan pak kusir yang menarik kudanya agar berhenti


"Haah...hah...Gilaa" Semua orang di kereta kuda itu bernafas dengan memegang jantung mereka yang hampir copot begitupun dengan Cal yang saat ini terpontang panting tak mengira kakaknya akan terjun dari ketinggian pohon.Bagaimana jika seandainya Carla salah dalam menghitung jarak kereta kuda itu dan tempat ia akan jatuh,jika salah bukankah resiko nya sangat tinggi?


Tak semua orang berani melakukan itu dengan main main bahkan taruhannya kaki,rasanya kenekatan Carla harus diperbaiki!


Millia terdiam kesal "Gila!Kau gila ya?terjun dari pohon setinggi itu...Untung saja kereta kuda ini tak rusak"Maki nya seraya menepuk bahu Carla


"Ugh...Bisakah kau sedikit lembut pada Carla Mil?"Keluh Carla sembari mendudukkan adiknya di kereta kuda itu


"Hum"Millia terlihat membuang muka dan Carla hanya mampu meringis melihatnya


"Oh ya sebelum itu...Apa yang sebaiknya Carla ucapkan ya untuk teman lama yang baru berjumpa?"Ucap Carla tersenyum melihat sahabat nya yang lama tak bertemu,Millia menoleh ke arah Carla dan terdiam


Carla semakin melebarkan senyumannya"Hai Mil,Lama tak jumpa!"


"Hah...aku rindu padamu"Balasnya seraya memeluk Carla erat.Kemudian mereka bercakap cakap dengan riang,sejenak Carla juga menoleh ke arah sosok yang tengah menangis dan disampingnya terlihat seseorang menenangkan sosok kecil itu.Carla tak tau siapa gerangan kedua sosok itu karena efek malam yang gelap dan bayang bayang pohon membuatnya kesulitan melihat wajah kedua sosok tersebut


Carla menoleh pada Millia meminta jawaban akan tetapi Millia tersenyum dan menjawab satu kata saja"Vroth" begitulah ucapannya dengan berbisik,hampir tak terdengar.


Carla membuka kantong yang berisi kentang kentang,ia memakannya sembari menawari pada yang lain.


"Mil?"Carla menyodorkan kentang itu pada Millia namun ia menggeleng


"Hmm...Kamu dapat darimana makanan di tengah hutan?"Tanya Millia heran dan apa jawaban Carla?


Dengan santai ia menjawab"Mencuri".Hanya satu kata yang Carla keluarkan namun sontak hal itu membuat orang yang mendengarnya melotot terutama Millia.Mencuri?Di hutan seperti ini dan lagi habis ada peristiwa pembantaian,sudah jelas bahwa Carla mencuri makanan milik orang orang yang sudah tiada.


Ia pun menawarkan kentang tersebut pada paman Gioza


"Tidak usah kamu makan saja nak!"Jawab nya dan Carla mengangguk


"Paman,kenapa paman bisa ada disini?"Tanyanya memulai percakapan pada paman Gio


"Oh,sebenarnya sebelum kejadian ini,Collyn surat menyurat dengan ku juga dengan senior Gavin.Mungkin ia merasakan firasat namun sayangnya kami terlambat,melihat dirimu dan Carius yang hanya berdua kemari pasti seniorku itu sudah tiada ya"Jawab paman seraya tersenyum sendu lalu menoleh pada Cal yang tengah meringkuk


"Tak kusangka aku bahkan tak bisa melihat sosok senior yang kuhormati untuk terakhir kali nya...aku juga tak mampu memberikan sebuah pemakaman yang layak untuk senior berpangkat tinggi itu"


Carla hanya diam mendengarkan perkataan sendu dari paman Gio.Waktu berlalu dengan sangat cepat,terakhir kali mereka bertemu yaitu saat Carla berumur 9 tahun dan kini ia sudah lebih dari 10 tahun.


Ia menelan kentang yang ada dimulutnya dalam dua kali kunyahan,kemudian gadis itu menatap sang paman dengan pandangan datar"Paman,apa yang harus Carla lakukan untuk bertahan hidup setelah ini?"


Ketika ia bertanya seperti itu,dedaunan pohon meringkuk menutupinya membuat bayangan berada pas pada posisi Carla,dipadukan dengan warna matanya yang terlihat kemilauan saat itu.Hanya dari pandangan,orang orang akan tau betapa kuat tekad Carla yang tak akan bisa dirubah...


Carlatte Armond,anak itu bertanya pada orang yang lebih mengetahui kehidupan dan caranya tetap hidup di dunia yang keji.


Paman Gio terkejut akan pertanyaan gadis kecil yang menjadi lawan bicaranya,anak ini...benar benar serius bertanya seperti itu?Dari matanya yang tak main main,Carlatte benar benar menerima perubahan hidupnya.Meski nantinya ia akan bekerja segiat mungkin hanya demi upah dan sepotong roti untuk dirinya dan adiknya.Ia akan melakukan itu!Apapun caranya!


Paman Gio melembutkan wajahnya,ia menepuk rambut Carla beberapa kali hingga akhirnya tersenyum.Carlatte melirik ke atas,yaitu pada wajah paman Gioza dengan ekspresi bertanya tanya.


"Mungkin...Kalian akan mendapatkan belas kasih dari kepala keluarga Krysi"Laki laki dewasa itu tak memberikan cara bertahan hidup melainkan menjawab sedemikan rupa.Sementara Carla...hanya terdiam mencerna


Lion terlihat bersender menatap Cal yang tengah meringkuk dengan tatapan kosong "Hei,Carla!Apa adik mu itu baik baik saja?"Tanya nya.Sontak hal itu membuat Carlatte menoleh ke arah adiknya


Isakan tangis terus terdengar dari sosok kecil paling pojok kereta itu,Carla pun berjongkok dan mengulurkan tangannya yang memegang beberapa kentang


"Hai dik,kau mau kentang?"Tanya nya dengan lembut dan disambut dengan isakan tangis yang lebih besar,tentu hal itu membuat Carla semakin heran


"Hiks,Kak...Carla"Isak nya seraya memeluk tubuh Carla.Carla tersentak mengetahui sosok kecil ini


"Rue?"Ya~ dia adalah Erue.Carla baru sadar dengan jawaban Millia yang menjawab 'Vroth'.Tangisan itu begitu melengking dan menyayat sanubari terdalam,sungguh memilukan!Sebuah isakan menyedihkan yang tak berhenti dari tadi dan menjadi alunan di malam yang dingin.Carla mengelus kepala Erue,mungkin daripada Cal...Erue lebih terkena mental nya dan jauh lebih terluka namun rasa sakit mereka tak pantas untuk dibandingkan.


"Apa kamu mau?"Tanya Carla lembut dan lirih pada sosok itu.Tak tanggung tanggung,ia menawari kentang pada sosok yang tak ia kenal


"Tidak,terima kasih"Jawab nya dan kali ini Carla merasa yakin bahwa ia tak tau menahu soal siapa sosok didepan nya ini.


Malam itu semua terselesaikan.Ada yang menangis tak henti henti,ada yang menghibur,Dan ada yang berdiam dengan tatapan kosong.Tak semua orang dapat mengikhlaskan dengan mudah tragedi yang menimpanya sehingga merenggut orang orang tersayang,butuh banyak waktu untuk mereka bisa menerima dan tentunya mereka harus saling bahu membahu,menjadi tumpuan untuk tetap hidup dengan pikiran yang normal


Menjadi waras itu pilihan dan berharga bahkan setelah tragedi ini,akan ada orang yang menjalani sisa hidup dengan kosong,mati pun pasrah tapi ada juga yang menjadikan kejadian ini sebagai ajang balas dendam dan juga menumpahkan rasa sakit di kemudian hari.


'Mereka' merenggut semua nya dari manusia,semua nya...Hingga tak tersisa


***


...'TAMAT ~'...


.......


.......


.......


Nggak,maksud El...masa kecil Carla?Tamat.


Nih,El kasih visualnya!


...Collyn Armond...



...Arne...




...Blic Arrge...



(Ini hasil dari rambut Blic yang dipotong Arne dan...Kemarin,El berusaha cari banget loh visual perempuan yang sekiranya mirip Carius,Dari warna matanya lumayan mirip kok yaa walaupun rambutnya beda)


...Carius Armond (Sewaktu kecil)...



(Rada'Buriq yaaa?Yaodah nggak papa :v )


...Carlatte Armond(Sewaktu kecil)...



(BTW,Disini Carlatte Armond keknya nggak mirip sama Arne dan Collyn...)


Ok,TERIMAKASIH...Dan...Oh ya,ada beberapa kalimat yang El benahi di chapter chapter sebelumnya jadi alangkah baiknya kalian membaca ulang


...Sampai jumpa😉👋...