ELEANOR

ELEANOR
Memeriksa



"Kenapa?Kenapa kau tidak mau?Apa karena rumah ini adalah kenang kenangan dari Arne semasa ia hidup sehingga kau enggan untuk angkat kaki?"Ucap Blic yang sudah mulai emosi.Blic memang selalu merayu Collyn sejak beberapa bulan yang lalu namun Collyn tetap saja menolak dengan tegas.


Kejiwaan Blic memang sudah tidak waras,hingga ia mulai memimpikan kematian di rumah ini.Dan karena itu pula Blic selalu merasa tidak tenang,ia selalu membujuk suaminya namun tetap gagal.Bahkan Blic sering menggigit kukunya hingga berdarah dan karena itu pula Carla juga sering mengobati ibu nya tapi setiap saat Carla mencoba berbicara pada sang ibu,Blic mulai marah namun untung nya ia masih tidak main tangan pada Carla.Selama berbulan bulan bahkan sudah berganti tahun kejiwaan Blic bukan nya membaik malah semakin memburuk hingga ia merasa cemas dan takut berlebihan pada mimpi yang seharusnya hanya menjadi bunga tidur.


Collyn menatap tajam pada Blic.Carla dan Cal hanya mampu melihatnya,tanpa bisa mengucapkan sepatah kata dari bibir kedua nya.Sejujurnya mereka merasa tidak nyaman atas pertikaian kedua orang tua mereka,namun menyela pun bukan solusi yang baik,bisa jadi malah semakin memperburuk suasana.


Collyn berdiri dari tempat duduk nya meninggalkan ketiganya yang masih mematung di meja makan.


Blic semakin berteriak karena tindakan suaminya yang mengabaikan dirinya.Carla selalu menutup telinga sang adik ketika perdebatan dimulai.


Carla mengajak adik nya pergi ke pohon seperti biasa,Ia berharap adik nya tidak memperdulikan perdebatan kedua orang tua mereka


"...Kemudian sang anak itu mampu menggenggam bintang yang selalu ia dambakan.Tamat~"Ucap Carla mengakhiri dongeng nya.Cal terlentang di pangkuan Carla.


Hening.Benar benar hening


"Kak,Cal sedih...Ibu jadi seperti itu"


Carla mengelus kepala adiknya sambil mendengarkan sang adik berbicara


"Apa memang sakit yang ibu derita teramat menyakitkan?"Tanya Cal polos pada Sang kakak


"...Iya.Ibu sakit,Cal."Jawab Carla


"...Lalu apa Cal juga tidak sakit?Melihat ibu yang mulai tidak waras seperti itu?Cal lebih suka melihat ibu yang cuek dan dingin daripada ibu yang seperti ini"


"Cal takut kak.."Kata Cal sekali lagi dengan air mata yang sudah tumpah,ia menangis dihadapan Carla.


"Cal marah.Cal marah pada mereka yang sudah merebut kehidupan ibu...Hiks,memangnya apa salah ibuku?Sampai sampai mereka membuatnya seterpuruk ini?"


"Hiks...Mereka melihat kita seolah olah kita adalah mainan"


Mata Carla bergetar melihat adiknya yang seperti ini,ia merangkul sang adik dengan sangat erat.


.......


.......


.......


Hari silih berganti,kini mereka sedang melihat lihat tanaman yang mati.Carla memperhatikan dengan seksama,Saat Carla menyentuh tanah,ntah kenapa ia merasa takut.Sejenak Carla dapat merasakan ada beberapa makhluk yang sedang melakukan aktivitas di dalam tanah lebih tepatnya tak jauh dari posisi mereka saat ini,makhluk itu memiliki ukuran tubuh yang sedang dan juga ada banyak.Carla mencoba merasakan lagi sensasi aneh itu,dan sensasi itu tetap sama dan ada.Carla yang cemas tiba tiba pun segera mencari Sang ayah yang berada di ruang senjata.Carla berpikir ayahnya harus tau tentang hal ini!


"Ayahhh"Panggil Carla


"Ada apa nak?Kenapa kamu berlari?"


"...A-Ayah,Carla...Merasakan ada monster disekitar sini"Ucap Carla serius


"Apa?"


"Ini beneran,Carla merasakan itu dari dalam tanah"


"...Baiklah,Tidak usah khawatir.Sekarang Carla boleh kembali"


"Iya,Ayah tau jadi tidak usah cemas.Pergilah nak!"


Carla mengangguk kemudian pergi dari ruang persenjataan.


Sang ayah hanya menatap dalam diam kepergian putrinya


"Hah...Lebih baik aku akan mencari tempat persembunyian nya nanti"Kata ayah


Carla yang sudah meninggalkan ruang senjata pun menghampiri Cal karena melihat Cal yang tengah melamun dan duduk dikursi depan


"Baaaaa"Carla mengagetkan Cal seperti yang Millia lakukan pada Carla.


"Uwaaaa!!!"Teriak Cal kaget bahkan hampir terjatuh kalau Carla tidak sigap menangkapnya


"Ishhh...Kakak ini,tidak bisa kah biarin Cal tenang gitu?"


"Wahh~Benar benar ya omongan nya tidak bisa disaring"Ucap Carla membalas perkataan adiknya yang ketus.Ntah sejak kapan Cal seolah olah ngajak perang dengan Carla.


Cal mengerucutkan bibirnya.Kemudian mereka saling beradu percakapan tapi kadang kala mereka tertawa.


Setelah menyelesaikan makan malam ny,Carla mengajak adiknya untuk tidur.


Sementara dilain sisi,Collyn sedang mempersiapkan obor juga senjata nya tak lupa ia memakai jubah.Blic yang mendengar suara pun akhirnya terbangun dan mendapati sang suami bersiap untuk pergi ke suatu tempat


"Kamu mau kemana?"Tanya Blic dengan tenang


"Maaf membuatmu bangun.Ada hal yang harus aku periksa.Tolong jaga anak anak Blic,aku akan kembali bagaimana pun caranya"Ucap Sang ayah


Blic menarik jubah suaminya saat Collyn beranjak pergi


"Memangnya kamu mau kemana?"Tanya Blic yang mulai cemas


"Sudah kubilangkan ada yang harus kuperiksa,ini sangat penting untuk kelangsungan hidup kita ditempat ini"Jawab nya


Blic pun perlahan lahan melepaskan genggaman nya dari jubah sang suami.Ia tau,ia tidak akan bisa melarang Collyn.


"Kembalilah dengan selamat.Anak anak membutuhkan kita,Sayang"Ucap Blic.Collyn mengangguk sebelum pergi.


Sang ayah keluar dari pagar pembatas rumah menuju hutan sambil membawa obornya juga senjata di pinggang


'Tap tap tap tap tap' Ia berlari masuk hutan


Sekitar 5 jam setelahnya,Collyn berhenti dari larinya,ia tau ia mulai memasuki hutan.Collyn mulai berjalan dengan berusaha tidak mengeluarkan suara sambil sesekali memotong tumbuhan yang menghalangi jalan nya.Suasana malam hari menambah kengerian dalam hutan itu,tidak ada penerangan selain obor yang ia bawa,bahkan bulan pun seolah olah tertutup dan tak terlihat.


Dulu,saat semasa Collyn masih muda dan Arne belum mati,mereka sering kali berlalu lalang di hutan bahkan hingga ke bagian terdalam namun setelah lewat beberapa tahun,Collyn sadar kini hutan yang selalu ia lewati tanpa ada ancaman sudah tak lagi sama seperti dulu.Hutan ini tak lagi aman.


Collyn berjalan terus menerus hingga fajar mulai tiba.


"Hah...Fajar mulai nampak tapi aku belum menemukan tempat mereka"Ia menghela napas lelah.Berjalan terus menerus di hutan dan harus selalu siaga sampai matahari terbit,sungguh menguras tenaganya.Kini tenaga sang pemburu tingkat tinggi itu kian menipis karena faktor usia dan juga faktor pensiunan dalam bertarung.


'Srettt' Collyn memotong tumbuhan yang menjalar begitu tinggi dan lebat,kemudian nampak lah sebuah gua yang tertupi oleh rimbunan tanaman.