ELEANOR

ELEANOR
Gua



"A-Apa itu tadi?Carla tak merasakan nya saat pertama kali namun Carla baru merasakan nya saat ini?"Pikir Carla


Namun beberapa menit kemudian,Carla sudah tidak merasakan keberadaan sosok itu lagi.Ya~Sebenarnya saat sosok wanita itu terbangun dari tidurnya disaat itu pula Carla merasakan keberadaan nya namun saat sosok itu mulai tertidur lagi,keberadaan nya pun menjadi samar.Wanita itu mulai membuka mata dengan terbelalak saat ia merasakan ada yang tau dengan keberadaan nya namun kali ini wanita itu tidak terbangun dengan tubuh yang berdiri melainkan hanya matanya yang terbuka tapi tubuhnya tetap dalam posisi tidur.Wanita itu mulai mengernyit dalam kemudian ia meringis.


Sementara Carla saat ini sudah tak lagi merasakan keberadaan wanita itu,Cal menarik narik baju Carla karena ia merasa Sang kakak tengah melamun.Carla pun tersadar karena tarikan kecil dari Cal


"Ah...Maaf Cal,kakak melamun.Oh ya,apa kaki Cal sudah tidak sakit lagi?"Tanya Carla pada adik nya


"Sudah tidak lagi kak"Jawab nya


Carla mengangguk paham


"Apa kamu bisa berdiri?"


"Emm...Bisa tapi Cal sedikit kesulitan untuk berlari.Kaki Cal sudah tidak sakit lagi tapi masih kram rasanya"Jawab Cal,ia menunduk bersalah


Carla menepuk pelan kepala adiknya,ia tersenyum,kemudian berkata "Apa perlu Kakak gendong dek?"


Sontak hal itu membuat muka Cal memerah karena malu


"Eyy~Apa kamu sedang malu?"


"T-Tidak.Untuk apa Cal malu?"Balas Cal dengan nada yang sungguh menggemaskan di telinga Carla


"Sudah tidak usah malu,sini kakak gendong.Kita harus pulang sebelum matahari tenggelam"


"Emm..."Cal berpikir sebentar kemudian ia mengiyakan digendong Sang kakak.Carla jongkok agar Cal bisa naik ke punggung gadis kecil itu,setelah selesai Carla berdiri dengan tangan memegangi tubuh adiknya


"Cal peluk kakak erat!awas terjatuh ya"Ucap Carla memeringati adiknya.Mendengar perkataan Sang kakak,Cal segera mengeratkan pelukan nya di leher Carla,Carla tersenyum begitu lebar.Pemandangan ini akan tercetak jelas saat mereka berdua sudah dewasa


Ia mulai berjalan dengan Cal di punggung nya.Meski berat karena harus menggendong Sang adik dan membawa senjata nya namun Carla tak menyerah begitu saja,ia tetap akan menggendong adiknya sampai tujuan karena hal itu pula Carla tak bisa lari secepat tadi


"Berat"Ucap Carla tanpa sadar dan hal itu membuat Cal mengernyit kesal.Sungguh!


"Dih,kalau berat ya turunkan aja Cal disini.Biar Cal jalan sendiri!"Kata Cal dengan ketus


"...Cal,kamu ngambek?"Tanya Carla sedikit menoleh pada adiknya.


"Nggak tuh"


"Wah...Kamu beneran ngambek ya"Carla sedikit tertawa saat menyadari Cal sedang kesal pada nya hanya karena 1 kata yang terucap.Sensi amat menurutnya,prasaan yang biasa dikatai berat itu perempuan deh dan bakal marah pastinya.


"Sudah Cal bilang,nggak ya nggak"Bantah Cal yang tetap kukuh pada perkataan nya.Bibir Cal sedikit maju tanda bahwa ia sedang tak dalam emosi yang baik


"Eyy~Sudah ketahuan tapi masih ngelak"


"Cal tau?Meski Cal berat,akan tetapi kakak tetap akan menggendong Cal di saat Cal tak mampu menggerakkan kaki untuk berjalan...Kecuali kalau,Badan Cal sudah besar dari kakak,sudah pasti kakak tak akan mampu menggendongnya haha"


Cal hanya diam mendengarkan perkataan kakaknya namun selepas ucapan hangat dari Sang kakak,Cal tersenyum meski Carla tak tau ekspresi adiknya saat ini.Rasa haru menjadi pelengkap dalam hubungan kasih sayang kedua kakak beradik itu.


'Tap' Saat ini Carla dan Cal sudah sampai di depan pintu gua.Carla memasuki gua dengan hati hati


"Wah~" Satu kata takjub terucap dari bibir gadis kecil itu.Mulut Cal sampai menganga melihat keindahan dalam gua ,Bagaimana tidak?Gua tersebut gelap namun penerangan muncul dari lubang besar yang Carla buat waktu itu,sehingga menerangi sebuah batu besar dibawah pas lubang tersebut ditambah kilauan dari inti sihir


Sungguh indah.


Cal segera turun dari punggung kakak nya,ia berlari melihat lebih dekat keindahan yang baru pertama ia lihat.Carla juga terpukau sama seperti Cal


"Wah~Indahnya.Cal tidak menyesal datang kesini hihihi"


Carla hanya tersenyum memandang adiknya,kemudian ia mengalihkan pandangan nya ke arah batu besar tepat di bawah lubang itu


Carla berjalan naik ke atas batu,kadang kala ia sedikit tergelincir namun Carla mampu merespon dengan cepat sehingga ia tidak terjatuh langsung ke tanah.Saat sudah mampu menggapai,Carla segera duduk dengan tenang di atas batu.Cahaya menerpa wajahnya yang masuk melalui lubang besar itu.


Cal melihat kakak nya yang terlihat seperti sebuah lukisan.Ia terpaku melihat Sang kakak tersenyum menghadap arah cahaya dengan rambutnya yang diterpa angin dengan pelan.


"Kakk"Panggil Cal menyadarkan Carla.Cal kemudian berdiri dan meletakkan inti sihir yang berada di tangan nya pada tempat semula.


"Ah...Cal,mau duduk disini?"Tanya Carla dengan tersenyum menampakkan giginya,warna mata dan juga cahaya matahari membuat nya nampak bersinar


Carius mengangguk.Setelah itu Carla mengulurkan tangan nya pada sang adik sebagai alat pegang untuk naik


"Pegang tangan kakak,Cal!"Ujar Carla.Cal mengangguk kemudian menggapai uluran kakak nya.Sama seperti Carla,Cal juga sedikit kesusahan namun berkat tumpuan dari Carla,Cal mampu naik ke batu itu.


"Wahh~Indah kakk...Emm...Sepertinya sudah mau sore ya?"Tanya Cal sambil menoleh ke arah Carla.Carla mengangguk menanggapi pertanyaan adik nya


"Nah karena sudah mulai memasuki waktu senja,Ayo Cal kita pulang!"Ajak Carla


"Haihh...Barusan Cal duduk tapi sudah disuruh berdiri lagi"


"Hihi,mau bagaimana lagi kan.Besok saja kita kesini lagi"


Mendengar perkataan Carla,tentunya Cal bersemangat menanti hari esok.Ia menggangguk dengan antusias.Carla turun lebih dahulu dari atas batu agar ia bisa menjadi tumpuan untuk adiknya yang turun setelah Carla.


Carla melihat sekeliling nya saat mereka sudah turun dari batu.Terlihat banyak nya inti sihir yang berserakan namun karena hari sudah mulai memasuki waktu sore sehingga membuat mereka tak bisa untuk mengumpulkan inti sihir itu menjadi satu.Pada akhirnya Carla membiarkan inti sihir itu berserakan.Toh besok mereka akan kesini jadi sebaiknya di kumpulkan saja besok,pikirnya saat itu.


Carla segera menggandeng tangan Cal untuk keluar dari gua.Mereka berlari dan terus berlari hingga memakan waktu berjam berjam hanya untuk keluar dari batas dalam hutan synántisi.Cal sudah tak lagi merasakan kram pada kakinya.


Saat sampai di danau,mereka meminum untuk menghilangkan dahaga karena air di botol kayu yang Carla bawa sudah habis.Tak cukup lama,setelah itu mereka mulai berlari dengan cepat agar tak terlalu menghabiskan waktu saat sampai dirumah