
"...Baju?"Cal menoleh pada Carla juga Collyn
"Emm...Ini,Ini gaun?"Tanya Cal lagi,apapun baju yang bawahannya rok biasa disebut dengan gaun
"Gaun?...Wah serius!Emm...Tapi kalau ini untuk ibu,Carla rasa kekecilan"
"Hmm~Ayah,Apa ayah tak melihat ukuran badan ibu?"Kali ini Cal yang berbicara.Kakak beradik itu menoleh pada ayahnya yang saat ini tengah menatap sambil tersenyum.
"Benarkah?Ayah rasa gaun itu cocok di badan ibu kalian"Balas Collyn yang tentu membuat Carla dan Cal menampilkan ekspresi tak percaya
Cal menoleh pada Blic yang saat ini tengah mencuci piring kemudian ia melihat gaun yang ada ditanganya,berulang kali Cal melakukan itu,sungguh menggemaskan Carius saat ini begitupun dengan Carla namun ia tak secengo adik nya
"...Ayah tak liat?Jelas sekali gaun ini kecil.Tak mungkin pas di badan ibu yang besar"
"Hmm~Tidak kok,Gaun itu pasti cocok"Kata ayah sekali lagi,nampak ia berusaha menahan tawa
"Ugh,Ibu!Coba gaun ini"Cal berjalan ke arah ibunya sembari memberikan gaun itu kepada Blic
Blic tentu heran,bagaimana gaun sekecil itu muat di tubuhnya .Collyn yang tak mampu menahan tawa pun akhirnya menyemburkan tawa renyahnya
"Ahahahahahaha"Mereka semua seketika menatap Collyn yang tak henti hentinya tertawa,tawa nya pun disusul dengan Carla yang juga tertawa
"Aduh~Putraku,tentu itu tak akan muat pada Ibumu,Sayang~"
"...Ihhhh,jadi ayah bohong?"
"Iyaaa~"Jawab Collyn sembari menyeka matanya yang berair.Cal mejadi cemberut seketika,muka nya benar benar masam
"Huh!Lalu gaun ini untuk siapa?"
"Hmm~Menurut mu untuk siapa,nak?"
"Emm...Kakak?Tidak,Tidak mungkin kan?Kakak tak pernah memakai gaun jadi ini tak mungkin untuk kakak"
"Kenapa tak mungkin?"
"Hah?Jadi beneran ini gaun untuk kakak?"Tanya Cal sambil melihat lekat pada Carla
"Benar~"
"Ehh?Untuk apa Carla gaun?"Kali ini orang yang bersangkutan lah yang berbicara
"Untuk hadiah hari lahir sebelum,sebelum,dan sebelum nya.Ayah tak pernah kan memberimu hadiah"
"Ah...Emm,terimakasih ayah"Ucap Carla sembari tersenyum memeluk erat gaun itu,ntah sejak kapan gaun tersebut sudah berpindah tangan
"...Sebuah mukjizat!Cal tak pernah tau kakak memakai gaun?Jadi sekarang kakak mau memakai gaun seperti ibu?"Cal yang mematung sedari tadi pun bertanya dengan ekpresi tak percaya di wajahnya dan Carla menganggukkan kepala sebagai jawaban
"....Tapi,Mungkin besok Carla pakai.Bukan sekarang"Carla berbicara dengan nada malu malu dan juga sangat lirih.Sungguh Cal baru melihat sisi imut kakaknya yang seperti ini,Cal pun ikut tersenyum melihatnya
Cal kemudian ingin melihat lagi tapi benda benda nya ternyata sudah habis.
"Ah~Habis"
"Wajar lahh~Ini saja ayah barter sudah sangat banyak"Kata Carla dan Cal mengangguk paham kemudian Cal menoleh ke arah samping,terlihat sebuah balok dari kayu yang ntah apa isinya
"Ayah,itu apa?"
"Oh itu~daging dan juga bahan pokok lainnya"Jawab Sang ayah
"Oh~"Keduanya ber'oh'ria setelah paham.Namun,Cal merasa ada yang kurang,apa ya?...Oleh oleh!MANA PERMEN YANG DIIYAKAN AYAHNYA SEBELUM BERANGKAT BARTER???
Kali ini mereka tak menuju gua namun ke tempat biasanya,yups~Ke pohon rindang kesayangan mereka.
Cal berlari menuju pohon sambil membawa sebuah buku juga alat warna tadi.Sesampainya disana Cal langsung duduk begitu saja
"Haihh~Sejuknyaaa~"Seru Cal sementara Carla sedang melihat daun daun atas
"Ada apa kak?"
"Memastikan kalau tak ada ulat bulu"Jawab nya padat
"Hilihh,Cal lupa ya?Kayaknya 1 tahun lalu ada anak yang kejatuhan ulat bulu saat bersantai di bawah pohon,terus anak itu menangis pada ibu dan kakaknya karena tak kuat menahan rasa gatal di lehernya.Menurut Cal,Coba tebak siapa anak itu~?"Ucap Carla menggoda adik nya sambil mengingat kenangan lama
Ya~Pernah ada kejadian seperti itu,tepatnya di musim...Em,musim apa ya?Ntahlah.Namun bukan hanya satu kali saja ia terkena gatal ulat bulu,dulu saat Cal ingin belajar memanjat pohon bersama kakaknya,Ia datang dengan semangat yang berkobar untuk bisa memanjat namun kemudian anak kecil itu pula masuk ke dalam rumah dengan buliran bening yang menetes terus menerus dan tentu nya hal itu yang membuat Carla merasa bersalah pada adiknya juga pada Blic karena tak mendengar larangan nya.Oke,Stop!
Cal memajukan bibirnya tanda ia sedang cemberut saat ini
"Berhentilah mengingat masa lalu kak"
"Lagian itu karena Cal begitu tampan jadinya ulat bulu pada suka sama Cal"Ucap anak kecil itu.Nah kenarsisannya mulai muncul!
"Benarkah~?"Tanya Carla sambil mengangkat alisnya menatap Cal
"Itu benar"
"Hahahaha baiklah~kakak akan percaya"Ucap Carla mengakhiri percakapan itu
Carla kemudian duduk di samping Cal yang saat ini tengah sibuk menggambar sesuatu di kertas yang ia bawa.
Beberapa jam kemudian,ia mulai mewarnainya.Carla hanya melihat saja,ia tak melakukan aktivitas apapun selain menemani adik nya
"Sudah selesai belum Cal?"
"Bentar!Jangan liat!"
"Iya~"
"Emmm..."Cal nampak berpikir saat Carla melihatnya.Kemudian Cal melihat ke atas lebih tepatnya arah langit,Cal termenung lagi
"Ada apa Cal?"Tanya Carla melihat adiknya kebingungan
"Kak,Langit itu warna putih atau biru?"
"Hmm?Biru...lah"
"Ohh~"
"Perasaan Carla biru...Mungkin kalau awan nya itu putih"Ucap nya lagi lalu menoleh pada Cal yang saat ini kembali sibuk meneruskan gambaran nya
Sekian lama,Carla menunggu tibalah saat Cal sudah selesai
"Nih!Lihat,kak.Gambaran Cal"Ujar Cal sembari memperlihatkan hasil kerja nya pada Sang kakak
Carla tertegun melihat gambaran adiknya.Bagaimana tidak?disana tergambar sebuah pemandangan langit yang luas,bunga bunga bermekaran,dengan rumah rumah yang mengelilingi nya dan yang terakhir Cal berdiri menghadap belakang seolah olah melihat pemandangan indah itu,disampinya ada Carla yang juga tersenyum.Ntah kenapa Carla melihatnya seperti sebuah peradaban
"Cantiknya~"Tanpa Carla sadari ucapan itu meluncur begitu saja dari mulutnya
"Benarkah?"Tanya Cal dengan binar di mata nya
"Iya benar,Cal"Jawab Carla sembari mengelus kepala adiknya
"Cal senang kak!Emm...Cal mau nempelin ini di kamar Cal,ah~"Seru Cal kemudian berdiri menuju rumah
Carla tersenyum melihat adiknya yang perlahan menjauh,Namun kemudian senyuman itu terlihat begitu menyedihkan juga tatapannya nampak sendu
'Tes...'Buliran bening keluar dari pelupuk mata gadis itu
"Hiks,hiks"Ia menahan isakannya dengan tangan yang di letakkan di mulut dan...badannya bergetar
Jika kalian bertanya mengapa Carla menangis?Carla mengingat pemusnahan di daerah kemarin,ia sungguh takut,merasa miris melihat pemandangan mengenaskan
Kaum kaum itu membantai kaum manusia dengan begitu kejinya,desa yang sudah berdiri selama belasan atau puluhan tahun bahkan mampu hilang dalam sekejap.
Carla takut,sungguh!Ia kemarin kemarin tak menangis begitu juga dengan Cal,Blic dan Collyn.Mereka sekeluarga seakan akan pasrah akan kematian,karena begitu lah dunia ini.
Melihat kematian,mayat dan darah yang berceceran tentu membuat gadis kecil itu terguncang secara mental dan sepertinya Cal juga...Namun,mereka hidup seperti orang normal...seolah olah tak pernah melihat semua itu.Mereka menutup mata atas semua hal mengerikan yang pernah mereka lihat.
Apalagi saat Carla menyetujui usulan Blic untuk lari,tentu hal tersebut membuat Carla merasa gila karena melupakan kemanusiaan nya namun ia juga tak sepenuhnya merasa bersalah atas keputusannya
Saat Carla melihat gambaran Cal yang merujuk pada peradaban tentu membuatnya tak mampu untuk menahan tangis