ELEANOR

ELEANOR
Rencana Sang ayah



"A-Ayah turunkan!"


"Tidak apa apa,Biarkan ayahmu ini menggendong mu saat kamu masih kecil seperti ini.Nanti kalau tahun depan pastinya kamu nggak akan mau di gendong ayah lagi nak"Ucap nya sendu


Carla yang mendengarkan perkataan ayah nya pun merasa sedih.Carla membiarkan dirinya di gendong oleh Sang ayah.


Cal sudah duduk di meja makan bersama dengan Blic.Di meja makan itu terdapat banyak sekali makanan,ada daging ya ada daging karena daging yang waktu itu disisakan untuk hari ini.Jadi nya pada saat itu mereka makan tanpa daging sehingga daging nya dimakan pada hari ini


Carla yang melihat itu dan mengerti pun sangat bahagia.Ia tersenyum haru.


Ia sangat senang karena lahir di keluarga yang harmonis seperti ini meskipun ia tidak melihat wajah ibu kandung nya,Tapi ia tidak masalah akan hal itu.Saat ini Carla sangat bahagia.Ia berharap keluarganya akan terus seperti ini sampai nanti~.


Sebuah keluarga yang terdiri dari ayah yang ramah,selalu tersenyum hangat pada keluarganya dan penyayang


ibu sambung acuh dan dingin terhadap Carla yang bernama Blic,Blic sangat dingin dan kadang acuh pada Carla,tapi ia tidak pernah main tangan terhadap gadis kecil itu.Carla sangat menyayangi Blic lebih dari ibu kandung nya...Mungkin.


Dan seorang adik laki laki yang lucu dan periang,yang selalu mengikuti kemanapun Carla pergi.


Kebahagiaan apa lagi yang lebih dari ini?


"Kak,Kakak"Panggil Carius


"Ah,Iya,Cal?"


"Kakak kenapa bengong?"


"Ah tidak.Kakak hanya merasa terharu"


Cal terkekeh.Detik kemudian


'Cup'


Cal mencium pipi sang kakak.Hal itu membuat Carla terkejut.


"Maaf tak ada hadiah spesial,Ini saja ya kak hadiah nya"Ucap Cal yang sudah di posisi semula


Carla memegang pipi nya dan beralih menatap Cal yang saat ini terlihat biasa saja.


Carla segera memeluk adik nya itu


"Aduh,Kakk sudahh.Cal mau makan"ujar Cal kesal karena Carla memeluk Cal begitu erat dan lama


"Ehehehe,Terimakasih ya Cal"Jawab Carla mulai melepaskan pelukanya dari tubuh mungil adik nya


"Wahh...Makanan nya banyakkk"Kata Cal semangat.Mata nya selalu berbinar melihat makanan!


"puftt,Cal air liur mu netes tuh"


Cal segera mengarahkan tanganya ke mulut.


"Uhh,Kakak bohong."Ucap Cal yang saat ini cemberut


Carla dan ayah nya tertawa terbahak bahak,Sementara Blic hanya menggeleng dan tersenyum


Carla mengambilkan makanan untuk adik nya dan dirinya sendiri.Saat semua piring masing masing sudah terdapat makanan,Mereka berempat mulai makan dengan tenang tapi terkadang juga diselangi dengan gurauan


"Blic,2 hari lagi aku akan pergi ke daerah sebelah untuk menukar senjata"Kata sang ayah mulai percakapan dengan istri nya di meja makan itu


"Eh? 2 hari lagi? Kenapa buru buru sekali?"


Cal dan Carla yang tadi bercanda gurau kini terdiam dan mendengarkan percakapan kedua orang tua nya


Carla baru mengerti isi kertas yang ditulis oleh sang ayah waktu itu ternyata membahas tentang barter daerah


"Hmm...Sayang,buah dan sayur yang kita petik tadi kan masih banyak apa perlu ditukar juga?"


"Oh,soal itu...Hmm,Aku akan memikirkanya"Jawab sang ayah,Blic mengangguk


"Oh ya,aku juga akan membawa Carla ikut bersamaku"Sontak hal itu membuat ketiga nya terkejut


"APA?"Teriak Blic menggebrak meja makan hingga membuat yang lain terkesiap


"Hm?Kenapa?"Tanya ayah


"I-ini...Kamu tau kan daerah sebelah itu melewati hutan hutan dan sungai.Bagaimana bisa kamu membawa anak kecil yang baru genap berusia 9 tahun untuk kesana"


"Lagian kesana tidak ada kendaraan jadi harus berjalan kaki menuju daerah itu.Bagaiman jika Carla nanti capek?Anak kecil seperti itu tidak akan kuat mengalami perjalanan yang berat,sayang."Ucap Blic sekali lagi


"Tenang lah Blic.Sudah waktu nya Carla harus melihat dunia luar bukan hanya tinggal dan mati disini"


"Tapi Carla masih anak anak"


"Diluar sana bahkan ada yang seusia Carius sudah harus berjuang hidup dengan memegang senjata"


"Sayang,Tidak ada jaminan jika diperjalanan tidak menemui monster."


"Aku tau,tapi kamu tenang saja karena ada aku ayah nya"


"Tapi.."


"Huft,sudah lah Blic.Carla sudah sangat besar jika dibandingkan dengan petarung anak kecil di luar sana.Jangan terlalu khawatir"


"Apa?Petarung?Tunggu!Jangan bilang kamu mau membuat Carlatte dan Carius nantinya jadi pemburu monster sepertimu?"Ujar Blic yang sudah nampak marah


"Hmm...Ntahlah,tergantung nanti"


"Cukup,sayang.Jangan membuat mereka harus hidup sama dengan jalan mu"


"Blic,mereka pada akhir nya harus keluar,Mau berumur masih sangat muda atau sudah tua.Mereka,Anak anak ini harus melihat dunia luar.Aku tidak ingin putra putri ku harus hidup dan mati terkurung disini.Aku rasa mereka pantas berteman lebih luas di dunia luar dengan lain nya,bukan malah hanya berada di rumah dengan saudara sendiri."Ujar Sang ayah tegas


"Lihat anak anak kita,Blic.Mereka selama ini tidak pernah melihat dunia luar.Carla maupun Cal hanya pergi paling jauh ke danau.Mereka melihat spesifik monster monster di buku yang kubawa,Tapi mereka tidak pernah melihat secara asli.Aku ingin mereka melihat dunia yang sesungguh nya itu sangat luas...meski dunia itu kejam."Ucap ayah


Blic tidak percaya pada suami nya saat ini,bagaimana bisa suami nya ingin membuat anak anak mereka menjadi pemburu.Bukan kah itu sama saja menjadikan mereka makanan untuk monster dan siluman?


"Blic,Kita tidak akan bisa terus menerus hidup dengan nyaman seperti ini.Pasti akan ada saat nya kita hidup berpindah pindah lagi."


"Tapi...Tapi kan kita sudah selama 8 tahun tinggal disini dan tidak ada bahaya apapun.Mengapa kita harus pindah?"


"Tidak ada yang tau kan di masa depan nantinya terjadi apa.Bisa saja 2 tahun ke depan atau bahkan 1 tahun kedepan nya akan ada bahaya yang mengharuskan kita meninggalkan rumah yang sudah kita tempati selama ini"Jawab Sang Ayah


"Ughh...Iya,itu bisa saja terjadi"Jawab Blic tidak bisa mengelak


"...Jadi aku akan mengajak Carla pergi denganku ke daerah sebelah,Agar nanti nya Carla tidak terlalu terkejut akan dunia luar"Katanya yang sudah pasti


"Lalu...Suatu saat aku juga akan mengajak Carius"Ucap ayah beranjak pergi dari meja makan


Carla dan Cal hanya mendengarkan percakapan itu,dan juga segera menuju kamar masing masing