
Mereka berdua sedang membicarakan tentang sifat dan kelakuan Erue yang menyimpang,sedikit aneh bukan?apalagi pandangan Nerkel tentang Erue yang seperti itu.Carla tak berani mengatakan hal ini sebenarnya karena...memang sudah sejak lama Rue ikut belajar tata krama wanita bersama dengan dirinya juga Millia.Jujur saja saat itu Carla terkejut namun ada yang lebih mengejutkannya lagi,Rue memanjangkan rambutnya,ia tak membiarkan siapapun untuk memotong rambut nya waktu itu dan ada lebih banyak lagi...
Selepas percakapan itu,atmosfernya begitu berat...
"Erye,kau sedang tak ingin membeli apapun?"Tanya Carla mencairkan suasana berat ini
"Emm...Tak ada"
"Oh..."Carla terdiam dan menatap depan,ia tak lagi berbicara dan Erye tau akan hal itu
"Kau tau?Aku pertama kali menjadi pemburu saat kecil,dan beberapa hari lagi aku kembali lagi dengan profesiku...bersama kalian"Ucap nya dengan tersenyum sembari menatap wajah Carla
"Kau...suka sekali?"
"Iyaa~"Balasnya sembari tertawa dan Carla menepuk bahu Erye,menampilkan senyumannya yang menawan
"Carla sungguh tak sabar..."Balas gadis itu sembari menampikan ekspresi yang senang seolah olah tak bersabar dalam menunggu detik nya waktu melaju
"Carla,Erye!"Panggil Millia sembari berjalan menuju dua orang yang menepi
"Sudah?"Carla pun berjalan maju,dan ia melihat Millia yang nampak memerah,menampilkan ekspresi gembira.
Cal mengangguk menjawab pertanyaan kakaknya sementara Millia berdehem sebagai jawaban.
"Yang satu itu untuk siapa Cal?"Tanya Carla melihat ada arbanat di tangan Cal yang lain
"Oh ini...Bukan punya Cal kok.Ini punya Rue,kalau nggak dibelikan juga Rue nanti nangis"Jawab nya sembari cengengesan
Carla diam melamun namun kemudian ia menyusul Millia dan berkata "Terimakasih" Hanya satu ungkapan yang Carla ucapkan namun itu terdengar sangat tulus karena berasal dari hati yang terdalam.Ia sungguh berterimakasih pada Millia juga keluarganya dan pada daerah ini.Jika tanpa mereka semua,Carla tak mungkin berada di posisi sekarang dan...Ia lebih tak mungkin lagi melihat senyuman adiknya yang mekar selayaknya bunga seolah olah melupakan tragedi yang pernah menimpa mereka.Mungkin jika tanpa kebaikan,rasa kemanusiaan dan tak mempertimbangkan hubungan bisa saja saat ini kedua kakak beradik itu harus menjalani kehidupan yang susah,sungguh gambaran yang berkali lipat lebih menyedihkan
Millia tersenyum menanggapinya,Kemudian mereka mulai jalan lagi.
Ramai sekali malam itu,tidak,lebih tepatnya memang pada dasarnya sudah ramai.Sepanjang jalan para pedagang berjualan,toko toko pun ramai dan hiru piruk terdengar memekakan telinga namun entah kenapa hati gadis itu nampak tenang,malah terkesan begitu menikmati suasana ini.Carla semakin mengeratkan kain berselempang yang bertugas menjadi penghangat atau pelengkap gaunnya,angin malam begitu menusuk pori pori kulitnya
"Dinginnya~"Seru Millia sembari menggosok telapak tangannya namun ia begitu antusias melihat lihat karena ada beberapa pedagang baru di daerah Nerkel.
Millia berhenti dengan matanya yang terpaku menatap roti yang baru keluar dari kukusan langseng
"Ada apa?"
"Emm...Roti itu terlihat sangat hangat"Ucap nya
"Wahhh...Roti hangat!Pasti enak sekali untuk dimakan saat dingin"Terang Cal yang sudah menghabiskan arbanatnya
"...Carla,mau coba?"Tanya Millia dengan nada mengajak
"Emm...Tidak apa?"Carla bertanya dengan canggung,ia tau dan harus sadar diri.Disini dirinya hanya menumpang meski paman Gavin dan keluarga Millia sudah menjamin kebutuhan dan uang untuk dirinya dan adiknya namun tetap saja Carla tak enak,ia dan adiknya tak memiliki uang atau barang apapun sehingga hal itu semakin membuatnya tak nyaman berbeda dengan Erye.Semakin ia tumbuh besar,semakin mengerti pula ia akan hal itu.
"Memangnya kenapa tak boleh?"Tanya Millia balik,tanpa menunggu balasan dari temannya,Millia berjalan dan membeli roti kukus.Seperti waktu itu,Millia memberikan sebuah benda berukuran kecil sebagai alat pembayaran dengan atas namanya.Millia membeli 5 roti,ia memberikan 2 roti untuk Carla.Millia memberikan pada Cal dan Carla dengan cara baik baik berbeda pada saat ia memberikannya pada Erye
Ia melemparkannya pada Erye tanpa melihat dimana posisi Erye saat ini tentu hal itu membuat Erye segera sigap menangkapnya agar tak terjatuh namun karena arah kue itu berbanding terbalik dengan posisi nya membuat laki laki itu tersentak akibatnya kue yang sudah terkena beberapa jarinya pun meleset jatuh dan...
'Pluk'Jatuh tepat pada tangan Carla
"Hah...Fiuh"Semua bernapas lega kecuali Millia yang tak berbalik.Sungguh adegan roti jatuh yang mendramatis
"Bodoh kali' lah kau ini"Cerca Carla sembari menatap pada laki laki itu.Sebenarnya tentu bukan salah Erye karena tak bisa menangkapnya karena posisi arah roti itu dengan posisi nya tak searah.
"Millia!Tak baik melempar lempar makanan"Kata Carla pada Millia dan perkataan tersebut membuat Millia berhenti dan menoleh
"Eh?Jatuh?"Tanya nya dengan polos
"Tidak,tapi kau melemparnya jauh dari posisi Erye.Jika roti ini jatuh,bukankah sangat sayang?"
"Ah!Aku minta maaf.Aku sungguh tak tau bahwa lemparan ku salah...lagian,Erye begitu bodoh tak bisa menangkapnya dengan benar"
Erye yang mendengar hal itu pun kesal sekali dengan Millia "Hei,itu aku lagi tak siap tau,aku juga tak menyangka bahwa kau akan membelikan ku roti"
"Hilihh...Banyak alasan!"Setelah berucap seperti itu Millia dengan segera menggandeng tangan Carla untuk menjauh sementara Erye mematung melihat tempat membeli arak,dimana tempat itu saat ini tengah dikelilingi orang orang muda nan tua yang suka mabuk mabuk an.Carla yang melihat hal itu pun mengernyit heran,mengapa tak kunjung melangkah?kemudian Carla mengikuti arah pandang Erye yang melihat tempat yang menjerumuskan ke arah buruk itu pun dengan segera Carla melepaskan gandengan Millia.
Carla menarik tangan Erye "Jangan berniat untuk minum minum!"Ucapnya singkat dan padat kemudian tak lupa mengajak adiknya untuk terus melangkah.Erye hanya membiarkan gadis itu menggandengnya
Mereka berjalan dan terus berjalan dengan membeli banyak makanan,ditengah jalan mereka berhenti saat melihat kerumunan orang yang tengah duduk melihat suatu pertunjukan.
Mereka berempat terdiam melihat pertunjukan ditengah jalan itu,pertunjukan yang sederhana namun mampu memicu banyak orang melihat.
Carla dan Erye mengambil ancang ancang untuk duduk langsung di tanah tanpa alas,sementara Cal saat ini masih terpaku dengan mulut yang terus sibuk mengecapi
"Cal,Kemarilah!"Pinta Carla
"Ah!Pela-"Millia yang berniat memanggil pelayannya agar menyiapkan kursi untuk mereka pun terputus karena mendengar ucapan sahabatnya