
Waktu berlalu sangat cepat,kini mereka yang tak lain adalah kakak beradik tersebut tengah mengumpulkan inti sihir.Sebenarnya Blic kemarin sangat marah pada Carla juga Cal karena berani pergi diam diam apalagi Carla yang membahayakan nyawa putra nya itu dengan pergi ke hutan,Blic merasa saat ini Carla benar benar keterlaluan dan kelewat batas sehingga tentu saja hubungan ibu dan anak itu benar benar hampir rusak kalau saja Cal tak melerai nya.Lalu mengapa Carla masih berada di gua,padahal Blic sudah marah padanya?Tentu karena ia diizinkan,Carla tau batas kok.Ia tak mungkin ke gua hanya dengan kenekatan atau menggunakan cara diam diam seperti kemarin.Blic mengizinkan nya karena rayuan Cal dan Blic pun memberi syarat bahwa ia akan ikut lalu Carla mengangguk antusias menyetujuinya.Tentunya Carla tak akan keberatan justru ia merasa senang karena tak harus meninggalkan Sang ibu di rumah sendirian,dan jadilah mereka disini~
Mereka berdua terus memunguti inti sihir yang berserakan sampai habis,sementara Blic hanya duduk di salah satu batu yang berukuran sedang tak sebesar batu yang Carla tempati kemarin.Blic menatap Carla dan Cal yang sedang sibuk memunguti.
Setelah inti sihir itu tak lagi ada yang berserakan dan tertinggal,Carla melihat benda berkilauan itu ditangan nya.Lagi lagi aura hitam pekat yang awalnya menyelimuti benda berkilau itu perlahan menghilang.Carla menatap nya datar,inti sihir itu berwarna coklat namun masih terlihat indah meski Carla lebih suka inti sihir yang memiliki warna mata sama dengan mata adiknya.Setelah cukup lama memperhatikan,Carla meletakkan inti sihir itu
"Fiuhhh,Sudah kak"Ucap Cal sambil mengelap keringat di dahi nya.Carla mengangguk kemudian ia terlihat berpikir
"Emm...Ditinggal disini saja ya Cal?"Ucap Carla menoleh pada Carius,ia meminta pendapat pada adiknya.Harus di apakan dan dibawa kemana inti sihir ini?Mengingat jika Sang ayah sedang tak ada di rumah,Jadi Carla berpikir untuk meletakkan nya disini saja terlebih dahulu,jika Collyn sudah pulang maka ia akan berbicara pada Sang ayah untuk memilih pilihan yang tepat untuk mereka lakukan kedepan nya
Setelah lama berpikir,Carla pun memutuskan untuk membiarkan inti sihir itu disini.Blic juga tak keberatan atau protes terhadap keputusan Carla tentang sihir itu,ia nampak tidak peduli.Carla segera naik ke atas batu diikuti oleh Cal.
•
•
•
Hari hari berlalu silih berganti,mereka sudah tak lagi asing dengan hutan itu apalagi di sekitaran gua.Karena mereka selalu berada disana,lambat laun pun Blic tak mempermasalahkan kedua anaknya yang sering keluar masuk area dalam hutan.Gua itu sekarang bagai tempat mereka bermain yang baru.Blic pun juga sering kali ikut ke danau setiap Cal dan Carla hendak menuju gua di pagi hari,setelah itu Blic akan pulang sendiri.Meski Carla khawatir namun seperti itulah hari hari yang mereka lalui sehingga Blic,Cal maupun Carla sudah tak lagi merasa ada ancaman bahkan ke danau sekalipun mereka berani hanya dengan satu orang,tak ada lagi kata ditemani jika hanya untuk ke danau.Peristiwa berdarah yang ada di sekitar danau waktu itu pun seolah olah tak pernah terjadi di pikiran keluarga kecil itu.
Rutinitas Cal dan Carla selalu sama,mereka bangun di waktu pagi sebelum matahari terbit,kemudian Carla akan memasak bersama sang ibu dan Cal yang memetik sayur juga buah yang tumbuh di belakang.Setelah selesai,Mereka makan.Lalu mereka akan duduk tenang menunggu Blic menyiapkan tempat persediaan air juga pakaian.Kemudian mandi di danau,Carla juga mandi disana saat pagi hari.Selepas mandi Carla dan Cal akan langsung pergi ke gua dengan membawa minum di botol,mereka berlari dengan perut yang terisi kenyang juga badan yang bersih.Mereka akan bermain sampai tengah hari,saat sudah dirasa waktu untuk mereka pulang,mereka segera meninggalkan gua.Carla tentu tau waktu dan kapan ia harus sampai dirumah,ia harus sudah ada dirumah sebelum matahari benar benar tenggelam alias menjelang malam.Tak lupa juga saat mereka melewati danau,mereka mandi lagi.Dua kali Carla dan adiknya mandi setiap hari nya akhir akhir ini.Dulu sebelum ia pergi ke gua,mereka akan mandi satu kali dan itu cukup membuat mereka senang dan beruntung.Rutinitas ini membuat Carla menjadi terbiasa dan ia juga merasa senang sekaligus bersyukur.Dan...Carla tak lagi merasakan sosok keberadaan wanita itu semenjak pertama kalinya dan hanya sekali ia merasakannya
Hari ini,ntah kenapa Blic terlihat sangat cemas Dari tadi wanita cantik dan anggun itu mondar mandir sambil terus menggigit kukunya.Carla dan Cal yang melihat kecemasan ibunya itu pun tak bisa tinggal diam,mereka yang awalnya hendak pergi ke gua seperti biasa di urungkan melihat Sang ibu yang nampak berbeda dari hari hari sebelumnya.Bagi mereka Blic lebih penting daripada acara bermain nya.Apa Blic mulai kambuh?
Carla berjalan menuju ibu nya diikuti Sang adik di belakang.
"Ibu,Apa ada yang ibu cemaskan?"Tanya Carla.Blic menoleh pada putrinya itu
"Ibu khawatir pada ayahmu itu.Kenapa tak kunjung balik juga?Ia juga tak mengirimi surat"
Carla terdiam sejenak,mencari kata yang pas untuk ia berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Blic
"Ibu,Mungkin ayah hanya sibuk dengan barteran nya dan tak ada waktu untuk menulis surat.Untuk keterlambatan ayah yang telat kembali,mungkin...Ayah sedang bersantai saja bertemu dengan kawan lama seperti ayah yang barter bersama Carla waktu itu.Bukankah kami juga telat kembali?Namun tak ada masalah apapun yang melibatkan nyawa sebagai taruhan di perjalanan"
Blic menoleh pada Carla nampak ia sedang memandang putrinya itu dengan tatapan serius berusaha melihat dengan dalam apa yang Carla bilang itu benar dan mencari apa ada setitik kebohongan disana.Carla tersenyum hangat menanggapi Sang ibu saat ini.Sementara Cal hanya melihat dari tadi percakapan antara kakaknya juga ibunya
"Apa itu benar?"Tanya Blic lirih.Ia mulai tak lagi menggigit kukunya
"Iya benar.Jadi ibu tak usah khawatir pada ayah.Carla yakin,ayah pasti baik baik saja disana"Ucap Carla meyakinkan ibu nya meski ia juga merasa tak yakin pada ucapan nya saat ini.Carla pun juga merasakan kecemasan seperti Blic,ia merasa akan terjadi sesuatu yang besar namun Carla juga tak yakin dengan firasatnya.Tapi untuk saat ini,prioritasnya hanya menenangkan ibu nya dahulu.
"...Benar,Ibu terlalu cemas"Ucap Blic yang sudah tenang
"Nah,Baiklah.Bagaimana kalau Carla mengobati luka di jari ibu sekarang?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ini apa El doang yang ngerasa ceritanya lambat?Mungkin karena terlalu banyak basa basi nya ya...