
hari ini Lea pulang dengan hati gembira...
kelulusan SMA tadi mendapat nilai yang memuaskan..
lea juga mendapatkan beasiswa kuliah di jakarta
walaupun neneknya tidak bisa hadir di acara perpisahan SMA nya namun lea tak masalah, ia memaklumi karena neneknya memang sedang sakit.
dia tidak sabar memberitahu kabar gembira ini. neneknya pasti bangga dengannya
dia sedang menunggu angkot untuk pulang, memakai kebaya membawa piala dan juga penghargaan , seharusnya dia pulang dengan mobil seperti teman temanya yang pulang dengan mobil bersama orang tuanya.
tapi dia tidak pernah mengeluh, walaupun terkadang terselip rasa iri didadanya.
tapi ia tepis lagi, ia tak mau membuat kedua orang tuanya sedih diatas sana melihat anaknya seperti ini.
"hai Lea, mau pulang ya? aku anter ya"
ucap radit yang mengagetkan lamunan lea.
radit menaruh hati pada lea sejak kelas satu pertama mereka satu kelas. radit memandang Lea begitu berbeda dengan gadis gadis lain yang menurutnya manja, tapi lea berbeda dia gadis tangguh yang tak malu kesekolah menggunakan sepeda disaat teman teman sebaya diantar menggunakan mobil atau membawa motor sendiri ditambah lagi lea gadis yang cerdas.
biasanya ia tak punya kesempatan untuk mengantar lea pulang karena lea membawa sepeda beda kali ini ia menyunggingkan senyum karena lea tak membawa sepeda dan ia tampak kerepotan dengan barang bawaanya.
"astaghfirullah... adit kamu ngagetin ih..."
"lagian kamu ngelamun dipinggir jalan, diculik baru tau rasa ntar "
"ih... sapa juga yang mau nyulik aku"
"aku contohnya hahahahaha"
ucap radit dengan tertawa "udah buruan naik aku antar kamu pulang "
"tapi... " ucap lea tampak ragu karna menggunakan kebaya
"udah buruan naik "
"ok dech.... jangan kencang kencang ya dit "
"pegangan makanya aku mau ngebut nich"
goda radit
"radit.... aku turun nich kalo kamu ngebut ngebut "
"iya iya engga, udah siap nona ?"
"udah"
radit tampak menyunggingkan bibirnya karena akhirnya dapat kesempatan mengantar pulang pujaan hatinya meskipun ini kesempatan terakhir karena selama tiga tahun baru kali ini ia bisa mengantarkan lea pulang dengan motornya walaupun dia sering membuntuti lea dibelakangnya dengan motor saat lea pulang dengan mengayuh sepedanya.
sejak tadi ia tak berhenti menyunggingkan bibirnya.
sesekali ia mengerjai lea dengan menambah kecepetan motornya sehingga membuat lea mendekapnya dan memukulnya karena kaget dan takut terjatuh. "dasar radit sialan " umpat lea
radit memelankan motornya agar bisa berlama lama dengan pujaan hatinya, sejak tadi ia mengamati kecantikan lea dari balik spion... serasa tak rela melewatkan pemandangan cantik yang jarang ada dimotornya
~
~
~
"udah sampai tuan putri"
ucapnya pada lea saat sampai didepan rumah lea. tapi keheranan mennyeruak dipikirannya kenapa tetangganya ramai sekali dirumahnya.
perasaanya tidak enak
ia cepat cepat turun bahkan lupa mengucapkan terima kasih pada radit.
radit yang juga dibuat heran ikut turun dan melepaskan helmnya.
"ada apa ya "
lea jalan tergesa gesa masuk kerumahnya
."bibi endang ada apa ko rame rame di rumah lea? "
tanya lea pada bi endang yang sedang menunggunya dipintu rumah
"nak lea kamu yang sabar ya , hiks hiks hiks"
lea tampak terpaku perasaanya tidak nyaman seperti ia akan mendapatkan berita buruk
"kenapa bibi menangis? "
"nenekmu lea hiks hiks hiks nenekmu su..dah me..ning..gal tadi siang selepas sholat dzuhur "
lea terpaku , apa maksudnya ini bahkan ia belum memberi tahu kabar gembira hari ini pada nenek kesayanganya tapi kenapa nenek malah pergi.
"ti...dak....mung....kin...."
lea menutup mulutnya , ia tidak percaya dengan semua ini... lea jatuh tertuduk kakinya serasa lemas tak bisa menompang berat tubuhnya
radit yang dibelakangnya langsung ikut terduduk, mencoba menenangkan lea yang sedang menangis ...
"lea kamu yang tabahya, ayo bangun nenekmu pasti sedih melihat kamu seperti ini "
ucap radit menenangkan lea sambil memegang pundaknya dan mencoba menuntun lea ke dalam rumah
lea berjalan lemas tampak diruang tamu neneknya sudah terbungkus kain kafan di ruang tamu dan dikelilingi orang orang yang yang sedang mengaji.
radit yang tak kuasa melihat lea seperti itu juga ikut meneteskan air mata
"nenek lea dapat beasiswa nek, nilai lea juga bagus bagus nek, semua hanya ingin kutunjukan pada nenek kenapa nenek tidak mau melihatnya sama sekali hiks hiks hiks....
kenapa nenek ninggalin lea sendirian nek, lea ama siapa nek? hiks hiks hiks "
"lea kamu yang sabar ya, ikhlasin nenekmu pergi, nenekmu pasti sedih liat kamu begini "
ucap radit menenangkan lea disampingnya
"nak lea ayo ganti baju dulu nak lea.. nenekmu akan segera dimakamkan "
bi endang menuntun lea ke kamarnya untuk berganti baju karena saat ini lea masih menggunakan kebaya
~
~
~
~
~
pemakaman neneknya sudah selesai 2 jam yang lalu, radit juga sudah berpamitan untuk pulang, sekarang lea sedang menangis dikamarnya rasanya ia masih belum percaya neneknya sudah pergi meninggalkan selamanya.
para tetangganya masih berada dirumahnya terutama keluarga bi endang yang memang tetangga terdekatnya, mereka bergotong royong dari mulai memandikan, acara pemakaman dan tahlilan malam ini dan tujuh hari kedepan. mereka berempati karena lea anak yatim piatu sudah tidak memiliki sanak keluarga lagi.
bi endang mengetuk kamar lea
tok tok tok
" nak lea apa kamu didalam? boleh bi endang masuk? "
lea menghapus air matanya dengan mengusapkan lengannya pada matanya
"iya bi... sebentar"
bu endang masuk dan duduk ditepi ranjang
"nak lea ada yang mau bibi sampein ke nak lea "
"soal apa bi ?"
bi endang tampak menimang nimang memilih kata yang tepat untuk disampaikan ke nak lea
"nak lea sebulan yang lalu nenekmu menitipkan sesuatu pada bibi "
"menitipkan apa bi ?"
tanyanya nampak penasaran dan menatap sebuah kotak yang sedang dipegang bi endang
"em... ini titipan dari nenekmu, ada buku tabungan untuk keperluan nak lea, ada sebuah kalung dan juga sebuah surat "
lea menangis tersedu sedu menerima kotak itu , dadanya begitu sakit , seolah neneknya sudah mempersiapkannya sebelum pergi meninggalkan selamanya
"hiks hiks hiks nenek.... kenapa nenek pergi ninggalin lea nek?"
"kamu yang sabar ya nak lea "
lea masih menyendiri dikamarnya , setelah acara tahlilan selesai lea memilih masuk ke kamarnya. beberapa tetangganya masih berada dirumahnya tidak tega membiarkan lea sendirian masih dalam keadaan berduka.
bibi endang dan juga keluarganya juga yang mewakili menerima tamu yang datang untuk berbelasungkawa
lea masih teringat pagi hari tadi sebelum dirinya berangkat ke acara perpisahan disekolahnya.
"kamu cantik banget lea, seperti putri kerajaan "
ucap neneknya melihat cucunya tampil mengenakan kebaya berwarna merah marun dan sedikit polesan make up
tubuhnya yang tinggi dan langsing dan kulitnya yang putih tak seperti orang desa pada umumnya
dia terlihat seperti model dan artis artis di ibukota.
dia mendapat julukan kembang desa
"ah nenek bisa aja, lea kan jadi malu "
'kamu cantik seperti ibumu lea' gumam neneknya dalam hati
"maafin nenek ya lea ga bisa ikut ke acara
perpisahan kamu , semoga acaranya lancar dan semoga kelak kamu menjadi orang yang sukses membanggakan nenek dan semua orang , sekali lagi maafin nenek ya lea kalau nenek selama ini belum membahagiakan lea "
ucap neneknya sambil memeluk lea dan menangis entah apa yang dirasakan seakan ini adalah pelukan terakhirnya
lea tersadar dan semakin terisak mengingat momen terakhir dengan neneknya tadi pagi
"hiks hiks hiks hiks hiks hiks hiks "
~
~
~
~
~
~