
Lebih dari sepuluh anak tengah mengejar bola plastik kecil berwarna biru muda, dengan dua orang yang lain yang bertugas untuk menjaga masing - masing gawang. Terlihat belum ada rencana yang matang dalam permainan itu. Pemainnya hanya mencoba untuk merebut bola dari lawan dan menendangnya ke arah gawang lawan tanpa ada keinginan untuk mengoper bola itu ke arah rekannya.
"Jangan terlalu cepat menjadi dewasa ya. Tetaplah menjadi anak - anak manis seperti saat ini. Menjadi dewasa memang pilihan, tapi jika memang bisa memilih lebih baik tetap menjadi anak - anak saja." gumam Thalia sembari menatap anak - anak yang masih asyik mengejar bolanya.
Selama beberapa menit setelahnya, atensi Thalia pun masih terpaku pada anak - anak itu. Sampai ia menyadari, ada seseorang yang tengah mendudukkan dirinya tepat di sebelah Thalia. Sedangkan Thalia yang penasaran pun mencoba untuk melirik dari ujung matanya. Nampak seorang laki - laki dewasa yang terlihat asing bagi Thalia, duduk seraya menatap ke arah dimana anak - anak itu bermain. Laki - laki itu juga nampaknya tak menghiraukan kehadiran Thalia yang tengah meliriknya.
"Bukankah mereka tampak menggemaskan." Laki - laki itu tiba - tiba berujar. Sedangkan Thalia yang merasa tidak sedang di ajak berbicara pun memilih untuk diam dan tidak membalasnya.
Sedangkan laki - laki itu yang merasa tak mendapatkan respon dari sang wanita yang ada di sebelahnya pun mulai mengajaknya untuk mengobrol nya kembali.
"Aku baru kali ini melihat dirimu di sini. Apa kau salah satu warga baru di dekat sini?" tanya laki - laki itu.
Thalia kemudian mengalihkan pandangannya, menatap ke arah laki - laki asing itu, yang ternyata juga tengah menatapnya. "Bukan," sahut Thalia dengan sangat singkat. Dan jujur saja, Thalia merasa sedikit risih di tatap oleh laki - laki di sebelahnya itu.
"Kalau begitu, apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya laki - laki misterius itu penasaran.
"Bukan urusanmu!" Thalia benar - benar tidak habis pikir dengan laki - laki yang ada di sebelahnya ini. Kenapa sangat ingin tahu sekali urusan orang lain. Bukankah itu tidak sopan.
Sedangkan laki - laki itu hanya tertawa setelah mendengar jawaban sarkas dari Thalia. Entah mengapa dia sedikit tertarik dengan Thalia. Menurutnya Thalia itu wanita yang unik.
"Kakak, ayo kita pulang. Aku sudah tidak tahan!" Teriak salah seorang anak kecil berkisaran berusia enam tahun yang tiba - tiba saja berlari ke arah laki - laki itu. Dan terlihat anak itu mencengkram perutnya, sembari menarik salah satu tangan lelaki itu.
"Kau kenapa?" tanya laki - laki itu penasaran saat melihat adiknya yang tengah menahan sesuatu.
"Aku ingin pup. Ini sudah berada di ujung." teriaknya.
Laki - laki itu yang awalnya bersikap tenang, langsung berubah menjadi panik. Dan dengan cepat, laki - laki itu langsung menggendong anak kecil itu yang Thalia duga sebagai adiknya itu ke arah tempat parkir.
Jujur saja, Thalia sekarang merasa sangat lega karena laki - laki pengganggu itu sudah pergi. Ia berharap bisa meneruskan kembali me time nya. Sebelum suara teriakan memanggilnya dengan sangat keras.
"Thalia!!"
* Flashback On *
Angga yang berniat untuk memutar balikkan mobilnya. Tiba - tiba mendapatkan sebuah pesan yang berasal dari anak buah Kakaknya. Dan dengan cepat ia pun langsung membuka pesan itu, yang berisi pesan lokasi dari Thalia.
Dan dengan cepat, Angga pun langsung membuka lokasi dari pesan itu, dan bergegas menancapkan gas mobilnya ke arah lokasi yang telah di tunjukkan.
Tak membutuhkan waktu yang lama, begitu mobilnya berhenti di tempat parkir sebuah taman, Angga pun langsung keluar dari dalam mobil dan mulai berlari untuk mencari keberadaan Thalia.
"Thalia!!" Teriak Angga dengan keras untuk memastikan apakah wanita itu memang benar Thalia atau bukan.
* Flashback off *
Dan benar saja, saat wanita itu membalikkan badannya dapat Angga lihat wajah cantik Thalia yang terlihat terkejut saat melihat kehadiran dirinya. Dengan cepat, Angga lalu langsung berlari ke arah Thalia, dan langsung membawa wanita itu kedalam pelukannya tanpa memperdulikan beberapa pasang mata yang sedang melihat aksinya itu.
"Aku mohon, jangan pergi lagi tanpa memberitahu ku. Kau benar-benar membuatku sangat takut tadi. Untung saja anak buah Kak Logan berhasil melacak keberadaan mu." ucap Angga kemudian semakin mengeratkan pelukannya berbanding terbalik dengan Thalia yang tengah berusaha mengendurkan pelukan kencang dari Angga.
Begitu terlepas dari pelukan Angga. Thalia langsung menarik tangan Angga untuk mendudukkan diri di dekatnya. Ia lalu menangkupkan wajah Angga dengan kedua tangannya. "Maaf," ujarnya.
"Kau tidak perlu lagi meminta maaf, sayang.Semua ini sa-" balas Angga dan langsung di potong oleh Thalia.
"Tidak, dengarkan aku. Aku yang seharusnya meminta maaf atas segala sikapku kepadamu. Aku sadar, jika aku ini benar-benar egois, karena aku sudah membiarkan mu berjuang sendirian dalam hubungan ini. Dan selama ini, hanya kau yang selalu berusaha untuk membuatku merasa nyaman, namun dengan egoisnya aku tak melakukan hal yang serupa untukmu. Ku mohon, maafkan aku. Untuk kelanjutan hubungan ini, aku serahkan semuanya padamu. Jika kau mau mengakhirinya, aku akan berusaha untuk menerimanya dengan lapang dada," ucap Thalia dengan raut wajahnya yang menyesal yang tak luntur dari wajahnya.
Angga yang mendengar ucapan dari Thalia sempat terpaku sejenak, sebelum akhirnya ia mampu untuk mengendalikan dirinya kembali. Ia meraih kedua tangan Thalia yang berada di pipinya dan langsung menggenggam dengan erat kedua tangan Thalia itu.
"Jagan pernah sekalipun mengucapkan kata perpisahan atau apapun yang dapat mengakhiri hubungan ini. Aku tidak ingin jika hal itu benar-benar terjadi.Apa kau sudah paham?" ucap Angga dan Thalia hanya membalas ucapan Angga dengan anggukan.
"Jadi, apa sekarang kita sudah berbaikan?" tanya Thalia dengan hati - hati.
Tanpa menjawab ucapan dari Thalia, Angga langsung menarik tubuh Thalia dan menyatukan kedua bibir mereka selama beberapa saat sebelum akhirnya melepaskannya kembali.
"Apa sekarang kau sudah mendapatkan jawaban," tanya Angga yang lagi - lagi hanya di balas dengan anggukan oleh Thalia. Dan terlihat pula wajah Thalia yang tampak memerah karena menahan malu.
"Terima kasih, Angga." ucap Thalia dengan senyuman manis yang menghiasi wajah cantiknya itu.
****
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....