
Jam dinding kini telah menunjukkan pukul 10 pagi. Thalia bergegas pergi meninggalkan kamar untuk mencari keberadaan Angga. Ia berniat untuk menaiki tangga menuju ke arah lantai dua. Namun ternyata, Angga sudah terlebih dahulu berdiri di ujung tangga sambil menatapnya.
"Kenapa kau tidak beristirahat? Bagaimana dengan demam mu, apa sudah lebih baik?" tanya Angga beruntun.
"Aku sudah merasa lebih baik, demamku juga sudah turun." sahut Thalia.
"Lalu kenapa kau ada di sini?" tanya Angga yang terheran.
"Ah, aku mencari mu. Karena ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan." ujar Thalia tergugup menatap lekat Angga.
Thalia menundukkan kepalanya sejenak, lalu mengambil nafas dan menghembuskannya. Dengan perlahan ia kembali menatap Angga yang ternyata sudah melangkah dan berhenti 4 anak tangga di atasnya.
"Aku ingin berterima kasih karena telah menolongku. Tanpa bantuan darimu, aku tak mungkin bisa terlepas dari Kakakku. Dan juga, aku berniat untuk pergi dari Villa ini. Terima kasih karena telah menampungku dan merawat ku. Aku berhutang sangat besar kepadamu." tutur Thalia sembari membungkukkan badannya ke arah Angga.
Jujur saja, Angga cukup sangat terkejut mendengar penuturan dari Thalia yang berniat untuk pergi. Entah mengapa hatinya langsung menolak keinginan Thalia untuk pergi darinya.
"Memangnya kau ingin pergi kemana? Tidak ada tempat yang aman untukmu selain di sini?" ujar Angga dengan nada datarnya yang membuat Thalia terkejut. Karena baru kali ini ia mendengar Angga berucap dengan nada yang seperti itu.
"Mungkin aku akan pergi dari kota ini. Aku ingin pergi ke sebuah desa yang berada di pinggiran dan menyewa sebuah kontrakan kecil di sana. Dan aku ingin membuka usaha kecil-kecilan." jelas Thalia kepada Angga yang masih menatapnya.
"Tidak. Kau akan tetap di sini. Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari sini." ucap Angga.
Thalia benar - benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Angga. Ia hanya ingin pergi meninggalkan Angga, agar mereka tidak mendapatkan masalah dari Kakaknya nanti.
"Tapi kenapa?" tanya Thalia yang terheran.
Angga kemudian melangkah mendekat ke arah Thalia dan langsung memeluknya dengan erat.
"Aku membutuhkanmu untuk diriku sendiri." gumam Angga yang membuat Thalia membelalakkan matanya, begitu mendengar gumaman dari Angga yang terdengar ambigu di telinganya.
***
Keenan sedang mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang tinggi membelah jalan - jalan di kota L menuju sebuah rumah besar tempatnya di besarkan. Dan ia berhenti tepat di depan rumah besar itu dengan mengeluarkan suara decitan rem, yang memekakkan telinga, yang membuat seisi rumah menoleh keluar.
"Thalia!" Teriak Keenan begitu memasuki pintu rumah.
"Keenan, apa - apaan kamu ini?" tanya Vina dengan marah kepada sikap anaknya yang tidak sopan memasuki rumah. Berteriak - terik dan membanting pintu. Belum lagi suara mesin mobilnya yang membuat kebisingan di pagi hari.
"Thalia dimana, Bunda? Cepat kembalikan Thalia?!" Ucap Keenan pada Vina tanpa ia menyapa atau memberikan salam pada Ibunya.
"Apa yang kamu bicarakan, Ken? Bukankah semalam Thalia ada bersamamu? Kamu sendiri yang memberitahu Bunda kemarin?" tanya Vina pada Keenan bingung dengan situasinya saat ini ketika anak tirinya itu malah menanyakan keberadaan adiknya, karena yang Vina tahu jika Thalia sedang menginap di rumah Keenan.
"Bohong! Bunda pasti tahu kan dimana Thalia, kan?"
"Keenan! Sopanlah sedikit ketika sedang berbicara pada Bundamu!" Bentak Tristan pada putra satu - satunya.
"Keenan berhak marah. Karena Keenan tahu, kalian berdua pasti yang sudah menyembunyikan Thalia, kan?"
"Bagaimana mungkin kamu bisa menuduh Bunda dan Papa seperti itu, Ken?"
"Katakan dimana kalian sudah menyembunyikan, Thalia?" tanya Keenan sekali lagi dengan penuh emosi.
"Bohong!" Bentak Keenan sambil berjalan menuju ke arah lantai dua.
"Thalia! Thalia!" Panggil Keenan sambil ia setengah berlari mencari Thalia di lantai dua. Dan Keenan juga memeriksa setiap kamar berharap dia bisa menemukan Thalia di salah satu kamar tamu.Namun hasilnya pun nihil. Keenan sama sekali tidak bisa menemukan keberadaan Thalia.
"Keenan hentikan! Jangan berteriak - teriak seperti itu!" Ujar Tristan pada putranya yang kini sudah kembali turun ke lantai satu.
"Ceritakan, sebenarnya apa yang sudah terjadi, Ken? Bukankah semalam kau bersama dengan Thalia? Dan sekarang Thalia ada dimana jika kau juga sedang mencarinya seperti ini?!" Tanya Vina, yang kini khawatir dengan keberadaan putrinya.
"Ken, jangan bilang kau melakukan hal bejat itu lagi pada adikmu sehingga dia memilih pergi. Apa benar yang Papa katakan ini?"
"Maafkan aku." ucapnya lirih.
"Dasar anak kurang ajar!" Teriak Tristan kemudian dia langsung memukuli putranya.
BUGH.. BUGH.
Dan tidak tanggung - tanggung, Tristan memukuli putranya hingga membuat Keenan tersungkur di lantai.
"Hentikan Pa, jangan pukul Keenan lagi!" Teriak Vina saat melihat suaminya memukuli putranya di tambah lagi dengan Keenan yang sama sekali membalas setiap pukulan yang di berikan oleh Ayahnya.
Tristan menghembuskan nafas kasar. Dia pun langsung menghentikan pukulannya pada putranya itu "Bagaimana aku tidak marah, jika putra brengsek ku ini, dia yang sudah merusak masa depan adiknya sendiri."
"Apa maksud ucapanmu, Pa?" tanya Vina yang masih belum mengerti akan situasinya.
"Bunda, sebenarnya aku yang sudah merusak masa depan Thalia dengan merenggut kesuciannya. Tidak hanya itu, aku juga selalu memaksa Thalia untuk menjadi milikku."
Mendengar pengakuan dari Keenan. Vina kaget bukan main. Ia menggeleng - gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin. Kenapa kau tega melakukan hal itu pada adikmu. Padahal Bunda sangat mempercayaimu untuk menjaganya tapi kenapa kau berbuat hal yang sebejat itu pada adikmu, hah? Kenapa kau tega melakukan itu. Jika dari awal Bunda tahu, Bunda tidak akan pernah mau mempercayakan Thalia padamu." ucap Vina dengan isakan tangisan hatinya begitu sakit saat mendengar ucapan dari Keenan.
"Itu karena aku sangat menginginkan Thalia menjadi istriku, Bund. Jadi aku-"
Belum sempat Keenan menyelesaikan ucapannya "Cukup. Lebih baik kau pergi, Ken. Papa sedang tidak ingin berdebat denganmu lagi."
Keenan pun langsung melangkah keluar dari rumahnya. Melihat kepergian Keenan kini Vina langsung menatap tajam ke arah suaminya.
"Kenapa selama ini Papa merahasiakan hal yang sepenting itu padaku! Kenapa, Pah? Lalu dimana keberadaan putriku sekarang, Pa? Kemana dia pergi? Putriku pasti selama ini sangat ketakutan?" ucap Vina, yang kini memukul - memukul dada suaminya melampiaskan segala kekesalannya.
******
Hay... hay! Kalian yang sudah baca Bab ini jangan lupa kasih likenya dong untuk author.D
Kalau ada yang mau ngasih 🌷atau ☕ juga boleh kok hehehe. Seperti biasa author juga mau mengingatkan pada para reader ku. Yuk, kasih sajen votenya untuk author. Komentarnya juga jangan sampai lupa yah~
Author selalu menunggu komenan dari kalian loh😁
Makasih...
Bersambung....
Terima kasih sudah membaca. Maaf jika masih banyak typho.